Bulan Terbelah

Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di Bumi. Tapi, aku sudah tak tahan dan ingin segera pulang.

Apalagi kalau bukan gara-gara tingkah manusia yang makin semrawut dengan tingkah konyolnya itu.

"Bagaimana caraku pulang jika bulan masih terbelah seperti ini?" kataku menatap bulan berharap purnama cepat datang.

***

Sepanjang perjalananku menikmati hukuman tinggal di Bumi, aku berjalan menyusuri segala tempat yang tanahnya ingin ku pijaki.

Aku berharap bertemu pemuda tampan yang berhati emas, lalu ku ajak ke Bulan untuk menikah denganku. Tapi, berkali-kali yang ku temui hanya laki-laki hidung belang yang berlindung di balik topeng polosnya.

"Sendirian, Neng? Rumahnya di mana biar saya antar," katanya padaku malam itu.

"Kau pikir aku tak tahu isi hatimu? Sudah jelas kau akan membawaku pergi ke rumahmu dan membuatmu mampu bersenda gurau dengan tubuhku. Laki-laki bajing*an," gumanku dalam hati.

"Ah, tidak. Terima kasih. Sebentar lagi kencana saya datang."

Bodohnya laki-laki itu tidak sadar aku membodohinya. Mana mungkin tengah malam begini ada kereta kencana datang? Selain otak mesum, otaknya kosong juga.

Setelah laki-laki itu hilang bersama bayangannya, kini aku sendiri dan bingung akan pergi ke mana lagi.

Tiap aku pergi ke hutan, hanya ada manusia yang memusnahkan pohon besar-besaran. Tiap aku pergi ke pantai, hanya ku lihat gunungan sampah sebagai pemandangan. Tiap aku pergi ke kota, hanya ku lihat keributan dan kebisingan para manusia. Tiap aku pergi ke desa, aku lihat tangis anak-anak gadis yang terbunuh mimpi-mimpinya.

"Aku ingin sekali membantu mereka. Tapi, aku sadar bukan ranahku untuk memporak-poranda garis takdirnya."

***

Setelah bulan dan matahari saling bergulir menghiasai langit, tiada ku sangka beberapa hari lagi purnama datang. Ini artinya hukumanku akan selesai dan aku akan pulang bertemu dengan sahabatku Kumang.

"Aku juga merindukan mereka, orang tuaku. Tapi, kenapa mereka membiarkanku tinggal di sini sendirian jika mereka menyayangiku?" Ingatan itu membuatku kembali meneteskan air mata.

"Hukumanmu akan selesai. Namun sebelum itu, tinggalkan jejak bulanmu di sini," kata langit.

***

Sepanjang hukuman aku habiskan sisa waktuku di goa dan belum melakukan apa-apa. Mungkin ini peringatan untukku agar segera melakukan penebusan dosa.

Karena di Bulan aku berlaku semena-mena pada budak wanita, maka kini tugasku adalah membantu wanita.

Aku pergi ke desa di seberang sungai. Ku ketuk pintu rumah gadis yang mimpinya tenggelam.

"Malam. Apa ada orang?"

Dia membukakan pintu dan membiarkanku masuk.

"Kau tinggal sendiri?" tanyaku.

"Tidak. Aku tinggal bersama ibuku. Tapi, maaf beliau sedang sakit jadi tidak bisa menyapamu," jawabnya.

"Kenapa kau lakukan itu?" tanyaku tiba-tiba.

"Apa?" Dia pun bingung dengan apa yang ku maksud.

"Kenapa kau menjual dirimu?"

Dia terkejut bukan kepalang. Terlihat dari mata melototnya dengan wajah penuh heran.

"Bagaimana kau bisa tahu?"tanyanya padaku. "Aku hanya gadis desa yang tak punya pendidikan tinggi seperti gadis di luar sana. Bagaimana aku bisa menghidupi ibuku dan mengurus pengobatannya. Aku harus melakukan ini untuknya," lanjut dia.

"Ku mohon berhentilah. Jual semua perhiasan dan emas ini untuk penghidupanmu. Kau jauh lebih berharga dari apapun."

"Tapi, kau ini siapa?"

"Aku Gadis Bulan".

Bersama dengan purnama, ragaku melebur bersama cahayanya. Misiku selesai. Aku berharap semua wanita di Bumi ini melindungi mahkotanya.

1 disukai 1 komentar 502 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Dia Cang e atau Tinkerbel? Atau senasib sama Cut patkai yang dihukum di bumi?
Saran Flash Fiction