Temanimu Melepas Nada Masa Lalu

Kamu duduk di kursi kayu tua, memandangi langit dan lautan. Tanyaku, sampai kapan terus tangisi teriakan masa lalu? Apa aku menyelamatkanmu hanya untuk melihatmu bersedih?

Kamu mungkin tercipta tanpa mengenal nada. Namun, kamu mengenal warna, syukurilah.

Jemarimu menguntai kata, berucap sudah saatnya melepas nada penyesalan. Aku setuju.

Ingatlah kejadian di pantai ini sebagai kenangan. Lima untaian nada dari lima nyawa masih terdengar karena pertolonganmu. Apa lagi yang kamu sesali. Tidak semua penumpang kapal itu bisa kamu selamatkan.

Dan jangan berterima kasih padaku telah menyelamatkanmu yang bodoh, menantang takdir tanpa peduli nyawa. Aku hanyalah seekor anjing kampung yang kamu anggap keluarga.

7 disukai 3 komentar 1.7K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@gitafarhah21 : terima kasih ^^
@gitafarhah21 : terima kasih ^^
singkt, padat, jelas
Saran Flash Fiction