HOPE

Tak pernah aku sangka-sangka dalam hidupku akan kembali bertemu dengannya lagi. Wanita yang sudah mencuri hatiku seketika dengan segala tingkahnya yang konyol. Panggil saja aku Rian, siswa SMA tingkat akhir yang sebentar lagi akan menanggalkan status SMAnya.

Kira-kira beberapa waktu lalu aku membolos sekolah dan pergi balapan dengan anak geng motor kota sebelah. Saat itu aku sedang dalam keadaan stress dikarenakan orangtuaku yang baru saja bercerai. Aku menggunakan pakaian kasual mengendarai motor ninja hitamku bersama beberapa teman-teman tongkronganku. Sebelum menuju lokasi balapan aku tidak senagaja menyerepet seseorang di jalan. Ditengah keramaian orang-orang yang akan menghakimiku karena menyerempet seorang nenek dan cucunya yang hendak menyebrang. Dia muncul dihadapanku dan berkata,"Ya ampun, bapak-bapak, ibu-ibu ayo kita segera tolong nenek dan cucunya dahulu daripada menghakimi dia dahulu korban lebih membutuhkan pertolongan." "Ah, benar-benar. Ayo kita bawa nenek dan cucunya segera," pungkas salah satu bapak yang turut mengangkat nenek dan cucunya.

Aku turut ikut bersama wanita tersebut ke rumah sakit untuk mengobati luka-luka mereka. ketika aku menunggu di ruang tunggu dia menghampiriku dan mulai mendesah "huhh" melirik menatap tanganku yang terluka. "kau ini, bukankah kau juga terluka. Sebaiknya kau ikut mendapatkan perawatan sama seperti mereka", ujarnya menarik tanganku. Meski begitu aku menolak untuk diobati dan dia pergi meninggalkanku. Sejenak aku menutup mata merenungi semua yang terjadi. Wanita itu kembali membawa kain kasa dan peralatan pembalut luka lainnya. Meski aku mencoba menolak, dia terus bersikukuh mengobati lukaku.

Setelah usai membalut lukaku, kami terduduk sejenak menunggu nenek dan cucunya selesai diobati. Aku lirik kesamping melihat wajah wanita yang berdiri disampingku. Sekilas dari wajah dan penampilannya sepertinya dia adalah seorang mahasiswi. Disaat wajahnya menghadap kearahku, aku sontak terkejut betapa manis senyumnya ketika dia berkata,"Maaf, aku harus buru-buru untuk interview. Tolong sampaikan salamku pada nenek dan cucunya yah." "Ahh, ya..." Saat aku sadari dia sudah pergi. Ruangan tempatku menunggu jadi terasa sunyi kala itu. kemudian aku menengok nenek dan cucunya untuk melihat keadaan mereka seraya meminta maaf karna kesalahanku membuat mereka terluka. Lalu untuk melunasi uang pengobatan, terpaksa aku menjual motorku kepada penggadai cepat karena aku masih sekolah dan tak memiliki kartu untuk dijadikan jaminan dan lagi agar tak ada yang tau bahwa aku masih sekolah. untungnya pembayaran uang muka dan pendaftaran sudah diurus oleh wanita itu. Uang hasil gadai motor aku bayarkan untuk melunasi biaya pengobatan dan sebagian aku berikan kepada nenek sebagai uang kompensasi. Seharian berada dirumah sakit membuatku lelah, dengan sisa uang yang aku punya aku pulang kerumah menggunakan kendaraan umum ntuk pertama kalinya. Setibanya dirumah aku nyalakan lampu kamar dan mengenang kejadian tadi. Ntah mengapa aku selalu terbayang senyum wanita itu bahkan ketika aku tertidur aku memimpikanya.

seminggu telah berlalu, hari ini aku dikejutkan dengan pertemuan kami kembali, tidak tanggung-tanggung aku bertemu dengan dia di sekolah ketika ada bimbingan di kantor Konseling. ya, dia ada dihadapanku. Namanya adalah Annelin putriana guru bimbingan konseling baru di kelasku.

Harapanku untuk bertemu dengannya kembali telah terkabul. Namun, kenapa kami selalu dipertemukan di tempat dan suasana yang selalu rumit. hahhhh.... keluhku dalam hati

156 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction