Anak Kecil dibalik lemari

Angin malam berhembus pelan dari pepohonan Pinus yang luas didepan rumah peninggalan era Belanda. Hujan rintik malam itu menambah sunyi malam yang terasa mencekam. Malam ini terasa dingin.

Geo duduk diatas kursi menghadap laptop tuanya yang menyala, pikiran rancu tak tau kemana. Perasaan hati sedikit tak tenang, bukan karena apa. Hari ke empat tinggal disini, rumah tua yang ini membuat hati dan isi kepalanya terus aja tak tenang. Rasa takut itu datang perlahan menyusupi dirinya sendiri.

"Dibawah pohon Ketapang", pikirnya, mengingat dimana ia harus mengingat letak dan dimana para penghuni-penghuni dibalik kegelapan itu.

"Taman belakang-", mata masih terpejam ketika ia melihat sesuatu gambaran di mata bathinnya sendiri.

Dan,

"SIAL!".

Geo, menyadari sesuatu yang bersembunyi dan diam-diam mengawasi gerak-geriknya.

"Dibalik lemari", ucapnya. "Anak kecil itu-...". Geo menelan ludahnya sendiri, keringat dingin mengucur dari dahinya. Pelan-pelan ia membuka matanya.

"broeder-". Anak laki-laki berambut pirang berjalan pelan menatapi Geo yang baru saja menemukan dirinya.

2 disukai 3.2K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction