Erika

Pertama kali mengenalnya aku sudah jatuh cinta, bisa dikata dia lah cinta pertamaku. Gadis itu bernama Erika. Dengan pesona yang ia punya, aku terpedaya, kemudian terperangkap dalam penjara cintanya. Begitu pun sebaliknya. Ternyata cintaku berbalas, ragaku bersemangat, asaku membara, masa depanku hanya miliknya.

 

Pada masa itu kami sering menghabiskan waktu berdua. Ia suka bercerita mengenai kegiatan yang ia lalui setiap hari atau hal yang disukainya dan tak pernah kehabisan cerita walau hanya sekedar bercengkerama tentang penjaga toko makanan yang biasa ia lewati setiap pagi. Ia juga suka bercerita mengenai musim yang paling ia suka, yaitu musim hujan, dimana dalam berjam-jam ia tak pernah bosan melihat guyuran air jatuh turun ke bumi. Aku pun tak pernah merasa bosan mendengarnya mungkin karena aku selalu menatap matanya dengan penuh cinta, begitu pun sebaliknya.

 

Ia sangat mencintaiku sampai-sampai pernah terlintas kata darinya,” Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu,” Aku begitu terharu. Hubungan kita ternyata lebih dari sekedar kisah kasih romansa remaja. Sampai kami membahas masa depan dan aku tersadar bahwa takdir sedang menjalankan usahanya. Ia berasal dari keluarga kaya raya sedang aku hanya rakyat jelata. Namun cintanya tetap teguh dan setia, dibuktikan dari keinginannya untuk tetap bersama dalam suka dan duka. Sampai ketika aku sebegitu pengecutnya telah meninggalkan dirinya dan aku telah kalah oleh kenyataan yang membelenggu.

 

Kemudian aku menikah dengan perempuan lain yang menurut keluargaku setara. Aku tahu aku tidak mencintainya namun apa mau dikata, itulah realita. Sampai ketika aku tahu bahwa Erika masih setia menungguku. Bahkan ia hadir dihari pernikahanku begitu pun hari ketika anak pertamaku lahir. Ia benar-benar perempuan yang tegar dan setia.

 

Bertahun-tahun berlalu, bahkan anak-anakku telah dewasa, aku kembali merenungkan cinta sejatiku. Sampai aku tahu bahwa Erika masih hidup sendiri menantikan cinta sejati datang kembali padanya. Kali ini aku berniat memberanikan diri untuk menentang arus kehidupan dan merengkuh apa yang dulu telah hilang.

 

Akhirnya kami bertemu kembali dalam suasana musim hujan yang disukainya. Ia masih sendiri sama seperti ketika aku meninggalkannya. Kecantikannya tidak pudar, begitu pun tatapan matanya padaku, masih sama seperti dahulu. Dan aku tahu bahwa masih ada rasa cinta yang tersisa untukku.

 

Kami bercengkerama layaknya pada masa itu. Aku mengatakan bahwa aku menyesal dengan kehidupanku sebelumnya dan memutuskan meninggalkan keluargaku demi dirinya. Pada awalnya ia hanya membisu sampai terlontar kalimat dari mulutnya.“ Aku lebih baik hidup sendiri daripada hidup dengan orang yang tidak aku cintai,”

“ Kita bisa memulainya kembali,” balasku.

“ Cintaku tidak berubah sejak dulu, asal kamu tahu,” ia menatap mataku dengan tajam,” tetapi cintaku tak membutuhkan waktu selama ini, camkan itu.”

 

Erika tersenyum dan berbalik, lalu pergi tanpa menoleh kembali. Keyakinannya sangat kuat begitu juga dengan cintanya. Hanya saja aku telah menyia-nyiakannya.

 

 

 

 

2 disukai 1.4K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction