Air Susu Ibu

Bayi mungil itu terlihat begitu lucu. Tangisannya pecah, wajahnya merona merah. Orang-orang tersenyum bahagia menyambut kelahirannya.

“Suster! Mungkin bayiku lapar,” kata sang Ibu masih sambil menahan rasa sakit usai melahirkan. Ada rasa bahagia kala mendengar tagisan sang buah hati yang telah sembilan bulan sepuluh hari tumbuh dan bersemayan di dalam rahimnya. Kini ia telah lahir ke dunia. Namun hatinya tak bisa tenang mendengar tangisan itu. Memang tak ada hati seorang ibu yang bisa tenang mendengar tangisan anaknya.

"Tolong bawakan bayiku ke mari, biar saya susui,” ucapnya lagi kepada suster perawat yang sedang menangani bayinya.

Tak lama kemudian sang bayi mungil akan diberikan kepada ibunya. Sang Ibu segera hendak memeluk, menggendong dan menyusui bayinya. Matanya berkaca saat melihat buah hatinya yang telah lahir, kala menyadari bahwa dia pun kini telah lahir manjadi seorang ibu.

Dia hendak bangkit seraya mengulurkan tangannya menyambut sang bayi dari tangan perawat.

“Aukh ...! Pekik ibu muda itu sambil menahan sakit di perut bagian bawahnya. Dia mencoba bangun namun seluruh tubuhnya terasa lemas dan gemetar.

Dalam kondisi berbaring dia sungguh tak bisa mengangkat tubuhnya untuk bangun dan menggendong anaknya.

“Kalau habis operasi seperti itu, Bu. Belajar bangunnya harus pelan-pelan. Baru bisa bergerak normal lagi kurang lebih 2x24 jam setelah operasi. Bayinya disusui sambil berbaring saja ya, Bu,” kata perawat tersebut menjelaskan.

Kemudian perawat itu membantu sang ibu untuk dapat menyusui bayinya sambil berbaring. Namun bayi belum berhasil menyusu. Ternyata menyusui tak semudah yang dibayangkan dan dikatakan orang-orang, batin sang ibu baru itu. Namun dia tetap tak menyerah demi anaknya.

 

Dua hari kemudian.

 

“Dokter! Asi saya sedikit, saya khawatir tidak mencukupi, bayi saya laki-laki, lapar terus sepertinya,” keluh sang ibu ketika berkonsultasi dengan dokter.

“Jangan khawatir, Bu. Asi akan berproduksi sesuai dengan jumlah yang dikonsumsi bayi. Bila bayi sedikit menyusu, maka produksi asi sedikit, namun bila bayi terus berusaha disusui terus maka produksi asi akan semakin banyak dan berlimpah,” ucap dokter memberi semangat.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ibu muda itu selalu ingat perkataan dokter. Pernah suatu hari dia merasa bayinya masih lapar sementara air susu masih kurang, dia tetap tenang dan selalu yakin untuk tetap memberi asi. Ternyata memang benar terbukti, semakin banyak asi dikeluarkan akan memicu semakin banyak produksi asi hingga berlebihan dan bahkan berlimpah. Pada akhirnya sang ibu sukses menyusui bayi laki-lakinya hingga 6 bulan, tanpa tambahan susu formula dan makanan lain. Seperti anjuran dokter.

~

Begitulah dalam kehidupan ini, sering kita jumpai proses seperti air susu ibu itu. Semakin banyak yang dikeluarkan akan semakin banyak yang dihasilkan. Semakin banyak memberi, semakin banyak yang akan diterima bahkan dilipatgandakan oleh-Nya.

Begitulah ketentuan Allah yang begitu indah.

***

669 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction