Zaara

Langkahku gontai, menuju sekolah yang sudah lama kutinggalkan. Tepat sebulan yang lalu. Air mata masih saja menetes mengingat orang yang aku kasihi, “Abi”

Kring!

Suara itu menyadarkanku, aku segera berlari mengejar waktu dan seakan berkejaran dengan pintu gerbang sebelum ditutup.

“Assalamualiakum,” ucapku masih terengah-engah.

“Waalaikumusalam,” jawabnya.

“Pak, buka gerbangnya, Pak! Saya mohon.”

Ia hanya menunjukkan jam yang kini jarum panjangnya menuju ke angka satu. Rupanya semakin banyak pula langkah kaki yang terhenti di depan pagar besi.

“Silakan masuk!”

“Hai, dia Zaara, orang yang saat ini ramai diperbincangkan. Harusnya untuk wanita sealim dia tak pantas untuk terlambat.” Bisik seseorang di belakanagku.

“Oh, Zaara yang ayahnya meninggal di masjid yang kena bom itu. Denger-denger ayahnya dia yang melakukan bom bunuh diri. Aku rasa memang dia juga ikut aliran yang salah deh. Dilihat dari matanya saja dia menyeramkan.” Sambung temannya.

“Wah kalau gitu kita harus menjauhinya, barangkali dia sudah memasang bom bunuh diri." Sahut siswi lain.

“Hei! Apa yang kalian bicarakan hah? Kalau berani bicara di depan jangan di belakang!” teriak seseorang.

Azizah? Kenapa dia membelaku, bukankah selama ini dia yang paling menolak setiap pendapatku, dan apa yang aku lihat sekarang. Dia mengenakan jilbab? Masya Allah. Air mataku kembali menetes, ini semua seakan obat dari laraku.

Aku teringat ketika ia membuatkan pertanyaan tersulit untukku...

“Kenapa setiap agama memiliki kekuatan tersendiri? Misalnya agama lain berdoa, kemudian doanya dikabulkan. Bukankah hal ini akan menyebabkn mereka lebih sulit untuk mencari kebenaran? Mereka akan semakin yakin dengan tuhannya bahwa tuhannya lah yang paling benar karena setiap doanya dikabulkan.”

Saat itu aku merasa bahwa dia telah meragukan keesaan Allah sehingga aku marah padanya dan...

“Astaghfirullah, Azizah! Kamu meragukan kebenaran islam dan kau seolah-olah menganggap bahwa Allah itu punya sekutu?”

“Inna fī khalqis-samāwāti wal-arḍi wakhtilāfil-laili wan-nahāri la`āyātil li`ulil-albāb"

Aku hanya terdiam, aku melihat sebuah air bening yang menggenang di matanya. Sungguh aku merasa sangat berdosa karena telah menghakiminya.

“Azizah??” sapaku terkejut.

Ia tersenyum melihatku. “Maaf selama ini aku mengira ajaranmu sesat, karena itu aku menyelidiki setiap apa yang kamu katakan apa itu benar atau salah hingga akhirnya aku kembali mengaji dan aku sendiri mendapatkan hidayahnya.”

“Azizah.” ucapku diiringi dengan air yang mengalir dari sudut mataku,

“Abi meninggal sebulan yang lalu dan aku hanya ingin menghindarkannya dari api neraka, aku hanya menjaga auratku karena aku adalah tanggung jawabnya. Dan soal yang kemarin kau tanyakan, surat yang kamu bacakan adalah jawabannya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. Baginya orang yang memikirkan tentang penciptaan Allah maka mereka adalah orang yang akan mencari kebenaran. Karena sebab-sebab turunnya ayat tersebut adalah ketika orang-orang Quraisy bertanya kepada Rasulullah saw ia menjawab ‘berdoalah kepada tuhanmu untuk mengubah bukit shafa dan marwah menjadi emas untuk kami.’ jadi betapa maha adilnya Allah yang mengabulkan doa hambanya, entah itu muslim atau non muslim. Dan keadilan lainnya adalah Allah telah mengutus nabi Muhammad SAW untuk semua umat manusia, dan islam pun dimana saja pasti ada. Bukankah itu keadilan buat mereka yang memikirkan tentang ciptaan Allah?” jawabku.

5 disukai 3 komentar 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Semoga aku dapat hidayah juga.
Hadir
Hadir. Pertama.
Saran Flash Fiction