Wo Ai Ni

Tembok China sepanjang 20 ribu kilometer, peninggalan Dinasti Han dan Ming, dikelilingi perbukitan hijau, membentang luas dari pelabuhan laut Shanhaiguan di laut China, provinsi Gansu.

Berdiri sedih Yungmi, kedua tangannya berpegangan tembok bercampur serpian debu. Raut wajahnya sedih perhatikan perbukitan hijau di hadapannya. "Gua ngak yakin, Aliong bakalan sampai kesini. Yang ada Aliong cuman takut sama Mama dan Papanya bakalan jodohin dia sama gadis pilihan" lirih sedih Yungmi makin putus asa.

Siang makin diterpa sejuknya udara dingin pegunungan provinsi Gansu. Perkampungan tidak terlalu luas, namun padat penduduk beratap langit cerah dengan hembusan angin sejuk. "Tapi Tante, Aliong sangat cinta sama Yungmi, sampe Aliong datang kesini cuman mau nyatain cinta Aliong sama Yungmi" akui Aliong ternyata sudah ada di rumah Yungmi. Aliong sedang berbicara dengan Amei, Mamanya Yungmi.

Terlihat bingung dan panik Afuk dan Eeng berjalan seperti sedang mencari seseorang yang katanya akan membantunya. Tapi nyatanya semua tas dan dompet berisi pasportnya hilang. "Ini semua gara-gara Yungmi, Pa" kesal Eeng nyalahin Yungmi. "Mama, jangan nyalahin Yungmi terus. Kan Mama juga yang keras kepala, mau jalan-jalan kesini sekalian nyari Aliong" bantah Afuk menahan marah.

"Om, Tante?" bingung Yungmi berdiri perhatikan Afuk dan Eeng terduduk ditepian jalan. "Yungmi?" cepat bangun Afuk dekati Yungmi melirik Eeng tetap duduk sinis. "Om, Tante di sini?" tanya bingung Yungmi. "Tas dan dompet kami berdua hilang dicuri orang" jawab Afuk melirik kesal Eeng beranjak bangun berdiri di samping Afuk. "Disini, kita tidak boleh mudah percaya dengan siapapun" ujar Yungmi perhatikan tangan kanan Eeng pegangi perutnya. "Krucuk" suara lapar dari perut Eeng.

"Ya apalagi dengan kamu! Kami juga ngak boleh terlalu percaya! Bisa saja kamu bohongi kami berdua! Makanya kamu sengaja'kan sembunyikan Aliong dari kami berdua, agar kamu minta tebusan!" tuduh Eeng. "Ma!" bantah Afuk. "Itu ada kedai mie, pastinya Om dan Tante lapar" ajak Yungmi.

Afuk makan lahap, tapi Eeng malu-malu makan mie. Terkadang Eeng makan saat Yungmi tidak memperhatikannya. "Laoban xiawu hao" sapa pelayan menundukkan kepalanya pada Yungmi. "Boss?" sahut bingung Eeng.

Eeng rada kesal karena Afuk masih berbicara dengan pelayan tunjukan toko sepanjang jalan ternyata miliknya Yungmi. "Lama bangat, Pa?" cepat Eeng tarik tangan Afuk jalan akan tinggalkan Yungmi hanya tersenyum.

"Jadi, toko sepanjang jalan itu punya Yungmi?" penasaran berapa kali Eeng tanya Afuk cuman terdiam. "Kita udah salah nuduh Yungmi, Ma. Ngak bakalan Yungmi sembunyiin Aliong dan minta tebusan sama kita. Ternyata orang tua Yungmi salah satu orang terkaya di sini" merasa malu Afuk terduduk perhatikan wajah bersalah Eeng berdiri di hadapannya.

"Aliong?" bingung Yungmi lihat Aliong sedang berbicara dengan Amei didalam rumah. Aliong langsung beranjak bangun dekati Yungmi. "Aku ngak peduli sampai dimanapun akan kukejar cintaku, walau sampai kenegeri China. Wo Ai Ni, Yung" ucap Aliong mengecup tangan kanan Yungmi tersenyum, berdiri Afuk dan Eeng didepan pintu. "Papa Mama?" Aliong cepat hampiri Afuk dan Eeng peluk Aliong. "Aliong maaf'in Mama ya. Mama udah salah paham nuduh Yungmi macam-macam"merasa bersalah Eeng cepat peluk Yungmi. "Kapan besan kita nikahin Yungmi dan Aliong"ujar Amei tersenyum, Eeng malu hati perhatikan rumah besar milik Yungmi.

2 disukai 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction