Salwa

"Kak kalau kita di usir pergi, mau tinggal di mana?" sedih bercampur ketakutan Rio, anak panti memeluk Salwa, gadis penyabar mendorong minggir Rio. "Kalian semua tenang dan berdoa saja, semoga panti kita tetap aman" Salwa tenangkan Rio dan anak berdiri didepan panti yang segera dihancurkan. Tampak bangunan panti memang sudah rusak, sebagaian bangunanya miring kesisi kanan dan ada berapa jendela kaca pecah.

Pekerja Marvin sudah siap-siap akan pecahkan kaca. "Tunggu! Apa kalian tidak punya hati? Kalian lihat mereka, jika kalian tetap hancurkan bangunan panti itu, pastinya anak-anak akan terlantar! Dimana hati nurani kalian?!" makin emosi Salwa tunjuk panti dan anak-anak.

Para pekerja hanya berdiri saling melirik, tangan mereka sudah siap-siap pegang alat berat. Mungkin para pekerja mulai merasa kasihan melihat Rio dan anak-anak sedih.

"Hak kamu apa melarang pekerja saya untuk tidak merubuhkan panti itu!" sinis Marvin, lelaki egois turun dari mobil mewahnya. "Saya masih punya hak atas tanah dan panti itu!" sahut Salwa berdiri hadapan dengan Marvin tersenyum sinis. "Mana buktinya, jika tanah dan panti ini milik kamu?" sinis Marvin melirik Salwa terdiam. "Kalian kenapa diam saja! Cepat hancurkan panti itu!" bentak Marvin pada para pekerja mulai menghancurkan bangunan panti.

"Kak" sedih Rio memeluk Salwa sedih perhatikan bangunan panti mulai di rubuhkan pekerja. "Apakah saat ini perasaan hatimu semakin di gelayuti keegoisan dan kekuasanmu, sampai kamu tega tidak punya perasaan dengan anak-anak itu! Dimana ketulusanmu saat anak-anak itu bertanya, dimana meraka akan tinggal? Adakah sedikit ketulusaan dari hatimu yang sudah di baluti keegoisanmu itu!" terdiam Marvin perhatikan anak-anak panti memeluk Salwa. Bangunan panti sebagian hancur tidak berbentuk, hari mulai datang gelap. Terdengar suara Adzan Magrib berkumandang. "Anak-anak kita Sholat Magrib dulu" ajak Salwa melirik Marvin berdiri terenyuh perhatikan bagunan panti sudah makin rata dengan tanah.

Rio jadi Imam sholat Magrib, Salwa dan anak-anak panti makin terenyuh sedih saat di sela doa mereka memohon pada Allah. Jika mereka semuanya, hanya ingin memiliki lagi panti asuhan. Terdiam terduduk dalam mobil mewahnya, Marvin terenyuh kedua matanya merona berkaca merah perhatikan Salwa, Rio dan anak-anak bersedih lagi saling menguatkan.

"Pak, kasihan anak-anak itu. Hari makin gelap, malam pastinya bikin mereka bakalan kedinginan dan mereka mau tidur di mana? Panti yang selama ini tempat mereka berteduh dari dingin, malam dan panas. Sekarang sudah rata dengan tanah" tutur prihatin salah satu pekerja yang baru selesai Sholat Magrib.

"Mau apa kamu kesini? Masih kurang puas? Masih mau mengusir saya dan anak-anak itu?!" sinis Salwa. "Om jangan usir kami lagi. Kami sekarang tidak punya tempat berteduh lagi, karena panti itu sudah hancur" tunjuk Rio kearah panti terbalut gelapnya malam samar terlihat.

Marvin cepat beranjak pergi menghampiri para pekerja, Salwa perhatikan Marvin sedang membicarakan sesuatu dengan para pekerja. Tidak lama kemudian, para pekerja memasang tenda darurat. "Kamu ngapain pasang tenda itu? Kamu mau bermalam di tenda itu?" bingung Salwa tunjuk tenda. "Tenda itu untuk anak-anak bermalam. Maaf'kan saya, karena keegoisan saya sampai rasa ketulusan saya hilang. Saya akan kembali bangun panti buat kamu dan anak-anak itu" tersenyum Salwa perhatikan Marvin memeluk Rio dan anak-anak panti.

1 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction