Buku Harian Tanpa Kata

"Iihh bagaimana si kamu, Nirmala! Masa hitung stok batik saja sampai salah! Kalau terus-terus begini, Ibu bisa rugi tahu! Huhhh!"kesal Wati, Ibu mertuanya Nirmala. "Kamu juga Bian, kan Ibu sudah bilang ngapain kamu nikahi Nirmala. Dia itu ngak bisa baca tulis apalagi berhitung!"sambung Wati makin sewot melempar berapa helai batik kewajah Nirmala sedih.

"Ya Ibu harus sabar juga ngajarin Nirmala berhitung"kilah Bian merapihkan daster. Sedih Nirmala beranjak masuk kedalam kamar. "Kamu ngaco deh Bian. Masa Ibu di suruh ngajarin istri kamu berhitung baca dan tulis!"bantah Wati makin jengkel. "Sudah, sudah Bu. Nanti aku yang akan ngajarin Nirmala deh. Ibu sudah minum obat darah tingginya belum?"Bian terdiam duduk di sopa menahan marahnya. Wati cuek tidak menjawab langsung masuk kedalam kamar.

Sedih Nirmala terduduk di kursi berhadapan cermin. "Uhhh kenapa juga dulunya aku ngak sekolah. Kalau di suruh sekolah sama Ayah dan Ibu, aku selalu bolos. Jadi begini sekarang, aku ngak bisa baca tulis, apalagi berhitung"gerutu sedih Nirmala perhatikan wajahnya di cermin. Tangan kanan Nirmala tarik handle laci meja terbuka, di ambilnya buku harian. Berapa kali buku harian di bolak-balik lembarannya masih kosong. Tangannya kananya ambil pensil, tapi hanya getaran pulpen terlihat.

"Ahhh! lama-lama aku ngak sanggup punya mantu yang bodoh! Masa udah seumur gitu tidak bisa baca tulis apalagi berhitung! Uhhhh! Loh, loh kenapa ini?"emosi menggerutu kesal Wati di dalam kamar, tiba-tiba mulut kirinya menyok dan setengah badannya tidak bisa di gerakan. "Bi, Bian..."teriak di paksakan dari mulut Wati. "Ibu?"terkejut Bian masuk cepat baringkan Wati di atas ranjang saat akan terjatuh.

Terbaring sakit storke Wati di atas ranjang, sinis wajahnya saat Nirmala menyuapi makan. "Habis ini minum obat ya, Bu"ujar Nirmala tersenyum bercampur lelah tergurat di wajahnya.

Hari demi hari Nirmala tidak lelahnya merawat Wati sedang sakit. Lalu siangnya Nirmala berangkat ketoko membantu Bian berdagang batik. Bian terkadang sedih perhatikan Nirmala berusaha belajar berhitung, membaca dan menulis. Nirmala terkadang hanya membalas senyuman, saat pembeli menyindir Bian punya istri buta hurup, saat Bian sedang mengajari di saat waktu luang.

Tidak kenal lelah Nirmala terus berusaha belajar membaca, tulis dan berhitung. Walau dirinya lelah Nirmala tetap merawat Wati mulai berangsur-angsur sembuh. Wati mulai ada rasa empati pada Nirmala.

"A, ku. Aku"tersenyum terbata-bata Nirmala mulai bisa membaca menulis di buku hariannya. Tersenyum Bian mengintipnya dari depan pintu.

"Kamu sakit, Nir?"panik Bian mengusap kening Nirmala pucat wajahnya. Masuk Wati menghampiri Nirmala terbaring di atas ranjang. Wati sedih duduk di samping Nirmala tersenyum. "Maaf'kan Ibu Nir, karena ucapan Ibu bikin kamu kecewa dan marah"sedih Wati merasa bersalah. "Ibu tidak bersalah, justru aku yang, sudah bikin Ibu jadi kecewa dan jengkel"tersenyum Nirmala raih tangan kanan Wati saat mengelus wajahnya.

"Bian ambilkan buku harian itu"Nirmala tunjuk buku harian di atas meja, di ambil Bian berikan pada Nirmala. "Aku punya sesuatu buat Ibu" Nirmala berikan buku harian pada Wati. "Aku sayang Ibu, aku minta maaf sudah bikin Ibu kecewa dengan kebodohanku"sedih Wati membaca buku harian. Wati memeluk Nirmala tersenyum melirik Bian berdiri terharu sedih di samping ranjang.

4 disukai 1 komentar 1.3K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction