Cerita Si Ucok

Baju Ucok sudah basah kuyup. Bukan basah akibat hujan atau pun cebur di parit. Melainkan basah karena keringat. Pagi tadi dia sudah ke ladang sendirian, mengutip cabe merah dan cabe rawit. Mamaknya, Salmah sengaja tidak ke ladang. Dia lebih memilih pergi arisan bersama inang-inang yang lain.

"Oi nasib-nasib. Tamat SMA pun masih di desa aja." kata Ucok sambil mengibaskan topi ke wajahnya.

"Ya gak apa-apa lah bang. Hidup ini terkadang memang tak seindah ekpedisi." saut Alan.

"Ekpedisi-ekpedisi. Ekspetasi wak." ke duanya tertawa sambil meratapi nasib mereka yang gini -gini saja setelah lulus dari SMA.

Dulu pikirnya setelah tidak sekolah, hidupnya akan bahagia dan merdeka sentosa. Karena tidak perlu bangun pagi dan mandi air yang super dingin.

Tapi sekarang tidak ada bedanya, aktivitas paginya di mulai dari repetan mamaknya, "Kerjaanmu tidur saja ya Ucok! Gak kau tengok ladang mu itu udah ijo semua."

"Ijo...Ijo apa mak. Namanya juga tumbuhan, mengandung klorofil..." belum selesai ucok menjelas Klorofil, mamaknya sudah menyaut.

"Melawan aja lah kau ya Ucok. Melawan terus!"

Ucok membuka rantang yang dibawanya dari rumah. Rupanya mamaknya membekali ucok daun ubi rebus, sambal belacan, sepotong ikan asin tamban dan tentu saja hal yang paling wajib nasi putih.

"Mantap bah." ucap Ucok.

Apapun yang dibawakan mamaknya pasti terasa nikmat-nikmat saja saat perut keroncongan, apalagi ketika diladang seperti ini.

"Ini nanti ku bangun, Ucok School. Di sana ada tamannya. Ada kolam renangnya." Ucok menunjuk asal hamparan ladang cabe di hadapannya, sambil melahap daun ubi rebus masakan mamaknya.

"Tak masalah mengkhayal, toh gratis. Tak apa, tak melanjutkan kuliah, asalkan melanjutkan bernapas." ujarnya.

4 disukai 1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction