Pandora

Aku telah lama mengenal Anastasia dan Igor. Mereka sudah menikah selama lima tahun. Meskipun belum kunjung dikaruniai anak, rumah tangga mereka harmonis. Mungkin karena mereka pasangan yang amat serasi. Anastasia—atau Tasya—adalah teman sekolahku di SMP dan SMA. Sejak remaja ia sudah ditaksir banyak teman lelakinya karena kecantikan dan kecerdasannya. Memasuki masa kuliah, kami bersimpang jalan. Aku mendaftar di jurusan kedokteran sementara Tasya melanjutkan studi di sekolah teknik. Di sana ia bertemu dengan Igor, seorang laki-laki yang rupawan dan berprestasi. Ketika mereka mulai berpacaran, aku pun berkawan dengan Igor. Kebetulan kami berdua penggila bola basket. Di waktu senggang, kami beserta teman-teman di komunitas basket menyewa lapangan dan bermain hingga kehabisan napas.

Aku tak pernah melihat ada friksi di antara mereka, apalagi menyangkut anak. Igor sendiri bilang mereka tak ambil pusing soal momongan. Senang jika ada, tiada pun tak mengapa. Karena itu, ketika Tasya mengunjungi ginekolog di rumah sakit tempatku bekerja seorang diri, aku langsung bertanya ke Igor ketika ada kesempatan bermain basket.

“Kenapa kau tidak mengantarnya?”

“Dan kenapa dia tidak bilang ke aku? Aku bisa membantunya selama di rumah sakit.” Pertanyaan yang kedua lebih kuarahkan kepada diriku sendiri.

Igor tak pernah menjawab pertanyaanku. Ia tenggelam dalam lamunannya. Tatapannya keras seperti akan membunuh seseorang. Ia yang biasanya paling bersemangat bermain hingga akhir memutuskan berhenti setelah satu babak. Kami lanjut bermain sementara Igor pulang dan tak pernah muncul lagi di lapangan.

Sebulan berselang, aku mendengar kabar perceraian Tasya dan Igor. Tasya akhirnya mengakui kehamilannya setelah Igor menanyainya langsung. Aku dengar dari tetangga mereka yang dimaksud dengan menanyai adalah berteriak-teriak dan membanting barang. Igor muntab. Tasya tak punya keberanian yang tersisa untuk membantah. Mereka selama ini menyembunyikan kenyataan bahwa Igor mandul. Mereka seharusnya tak bisa punya anak biologis.

Aku tak menyalahkan Igor. Siapa pun pasti murka jika dikhianati, terutama oleh orang yang mereka percaya bertahun-tahun. Aku menyalahkan diri sendiri. Perselingkuhan Tasya adalah penyebab utama perceraian mereka, namun mulutku yang memantik api yang membakar habis mahligai pernikahan mereka. Aku tak yakin Igor pernah memberi tahu Tasya dari mana ia tahu rahasia itu, tapi aku yakin itu tak menghalangi Tasya untuk tahu siapa biang kerok ini semua. Kabar itu sampai ke telinga komisi etik dan disiplin kedokteran. Aku diberi sanksi skorsing karena melanggar kesepakatan konfidensialitas antara dokter dan pasien. Kuterima sanksi itu meskipun secara teknis aku tidak membocorkan rahasia pasienku sendiri.

Setelah dihukum tidak boleh berpraktik sementara, aku memanfaatkannya untuk mencari Tasya. Aku menemuinya di rumah orang tuanya. Dengan muka cemberut, ia bilang tak ingin berbicara di depan orang tuanya sehingga ia mengajakku ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, raut mukanya berubah. Ia tersenyum dan memelukku. Aku membalas pelukannya. Bagaimana tidak, aku sudah tidak bertemu dengannya sejak ia datang ke rumah sakit sebulan lalu. Aku rindu sekali. Kepada Tasya dan anak kami yang bersemayam di rahimnya. Tasya telah mencurahkan kegamangannya kepadaku karena Igor tak dapat menghadirkan anak untuknya. Aku, salah satu lelaki yang mencintainya sedari dulu, menawarkan ruang untuk berbicara. Bahu untuk bersandar. Dan, entah dimulai dari mana, benih untuk kandungannya.

9 disukai 2 komentar 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@gitafarhah21 : Wah, terima kasih Mbak.
bagus pengungkapan ceritanya, suka pas dari awal kalimat bikin nagih baca ampe akhir. penulisnya udh luwes nulis ceritanya, jadi nyaman gak ada kaku ,, ceritanya alurnya juga mantap
Saran Flash Fiction