Cerita di Malam itu

Percakapan basa-basi demi mengambil hati itu mulai terasa hambar dan membosankan. Sudah lelah bibirnya menyungging senyum dengan terpaksa. Telinganya pun terlalu malas untuk terus fokus mendengar kata yang sepertinya manis, tetapi terasa memuakkan.

Yah, Bagaimanapun juga tetap harus ia lakukan. Ada batas kesopanan yang harus ia jaga kepada sang ibu serta calon suami barunya itu. Seorang duda, dengan gadis kecil yang mau tak mau harus ia akui keimutannya.

Sayang, keimutan gadis mungil yang mungkin akan menjadi adiknya itu, tidak mampu mengurangi rasa mengganjal dalam hatinya. Bukan ia tidak rela ibunya menikah lagi. Hanya saja rasanya menyakitkan, seakan ada yang telah dirampas dari dirinya.

Ia benci harus membayangkan ada orang lain yang akan menjadi prioritas ibunya. Ia juga bingung, harus ia panggil apakah lelaki itu nanti. Sebutan ayah, atau berbagai kata yang memiliki arti sama adalah kata yang sakral baginya. Kata-kata tersebut bukanlah sekedar kata panggilan, melainkan gelar yang ia sematkan hanya untuk ayahnya. Dulu, Sebelum ia dikhianati.

Kembali ia menatap Smartphone ditangannya. Sekedar mencoba menyibukkan diri atau setidaknya agar terlihat sibuk. Sehingga ia bisa bebas bercengkrama dengan pikirannya sendiri dan mengistirahatkan seluruh otot wajahnya, yang ia paksa agar terlihat senang 2 jam terakhir ini.

Berharap malam ini akan segera berakhir. Baik atau buruk.

8 disukai 3 komentar 1.5K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
dalem. 😭 tapi apakah endingnya seperti ini? atau belum dirubah setelah dikurasi?
@wardaniendang : Untuk saat ini iya kakak, mungkin akan ada revisi setelah kurasi. Terima kasih komentarnya ❤
lah endingnya ini aj kk?
Saran Flash Fiction