Saat apa yang ada di kepala tak lagi punya filter...
UNFILTERED
“Hah…” Karin mengatur napasnya. Ia baru saja berlari dari gerbang kampus menuju gedung jurusannya. Diliriknya jam yang melingkar di tangannya, pukul tujuh lewat lima puluh menit. “Masih ada sepuluh menit lagi buat ke kelas.”
“Karin!” Seseorang memanggil namanya, Karin pun menengok ke belakang mencari sumber suara.
Dilihatnya seorang gadis yang sama-sama membawa tas, berlari kecil ke arahnya.
“Mina?” gumam Karin sambil memandang gadis itu.
'Ternyata seorang Mina bisa telat dateng juga'. Batin Karin sambil tersenyum menatap Mina yang berdiri di depannya.
Mina mengangkat alis dan melebarkan matanya, ia lalu tertawa kecil. “Iya nih kemarin gue ketagihan nonton drakor sampai begadang, padahal ada kelas pagi.”
Karin terdiam kebingungan.
“Yuk ah Rin, tujuh menit lagi, nanti telat.” Mina meraih tangan Karin, mengajaknya masuk ke dalam gedung.
Kok Mina bisa tau apa yang gue pikirin?
#
Bel kampus tanda pergantian mata kuliah berbunyi. Memasuki semester lima, jadwal kuliah Karin dan teman-temannya tak lagi seragam. Ada yang sibuk pindah ke kelas berikutnya dan ada yang bersantai karena kelasnya kosong.
“Udah sarapan Rin?” tanya Mina yang sibuk membereskan barang-barangnya.
“Belum.” jawab Karin sambil memasukkan laptop dan buku catatan ke dalam tasnya.
Mina pasti ngajakkin gue beli nasi, terus nanti siang ngajakkin lagi gue order makanan. Gimana gue bisa hemat coba?
“Karin?” Mina menatap Karin heran. Ia sudah memakai tasnya dan berdiri di depan meja mereka.
Karin menengadahkan kepala, menyimpulkan senyum lalu bangkit berdiri. “Ayo!”
#
Karin dan Mina berjalan menuruni anak tangga menuju lantai 1 gedung jurusan.
"Eh seriusan??"
Saat mereka tiba di koridor lantai 1, terdengar suara keriuhan dari lima orang mahasiswi cantik yang sedang berkumpul dan asyik mengobrol.
“Serius! Apa kalian mau liat chatan gue sama bang Genta?” ujar seorang gadis yang terlihat paling cantik di antara kelimanya.
“Kita percaya kok Nay. Cewek cantik populer kayak lo, siapa coba yang nggak naksir?” puji gadis lainnya.
Karin yang mendengar percakapan mereka dari anak tangga terakhir, memutar bola matanya malas. Mulai caper pasti si Naysilla.
“Apa sih kalian, gue biasa aja tau. Emang suka iseng aja tuh kating-kating.” Gadis bernama Naysilla itu berusaha mengelak sambil melempar ponselnya pelan ke atas meja. Matanya tak sengaja bertatapan dengan Karin yang lewat di sebelah perkumpulan itu.
'Dasar pick me, berasa jadi paling pusat dunia'.
“Apa maksud lo?” Naysilla setengah berteriak, menyebabkan suaranya menggema di sepanjang koridor.
Karin terus berjalan di samping Mina tanpa mempedulikan teriakannya.
Tiba-tiba suara langkah kaki mendekat ke arah Karin. “Heh! Gue ngomong sama lo!”
Karin menoleh ke belakang. Naysilla tengah menatapnya tajam dengan jari telunjuk yang mengarah padanya.
'Kenapa nih cewek tiba-tiba marah sama gue?'
Naysilla mengernyitkan keningnya heran. “Hah? Lo tadi ngata-ngatain gue, sekarang lo nanya kenapa gue marah sama lo?!” Ia menatap Karin kesal. “Lo stres ya?”
Karin terdiam sebentar lalu ia tersadar. Masa? Dia..
“Udah Rin, biarin aja.” Mina langsung menarik tangan Karin, meninggalkan Naysilla yang masih merutukinya dari koridor.
#
Karin mengedarkan pandangan, memandang sekitar bilik ATM di kampusnya.
“Karin?” Seorang mahasiswa muncul di hadapannya. Laki-laki itu menatapnya hangat dengan tangan kiri yang dimasukkan ke saku celana.
“Eh Yudho?” Karin memperhatikan laki-laki itu. 'Dia cuma pakai kaos item sama celana jeans aja udah ganteng'.
Yudho sedikit tersentak, lalu sebuah senyuman tercipta di wajahnya. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Makasih.”
Karin dibuat bingung oleh kata-kata Yudho, namun gerakan Yudho yang tiba-tiba berdiri di samping Karin membuat jantungnya berdebar tak karuan.
“Lo mau ngambil uang?” tanya Yudho sambil menatapnya kembali.
“Nggak, gue lagi nunggu Mina.” Karin yang ditatap berusaha terlihat biasa saja.
'Duh suara jantung gue kedengeran nggak ya? Mana dia deket banget lagi, gue nggak boleh salting'.
Sedetik kemudian raut muka Yudho berubah kaget, ia melangkah mundur. Gerakannya langsung disadari oleh Karin.
Karin tersadar kembali, napasnya terhenti seketika. Jangan bilang-
Ia langsung berlari pergi, meninggalkan Yudho dalam kebingungan.
#
Mina : Karin lo dimana?
Mina : Kata Yudho tadi lo tiba-tiba pergi.
Mina : Lo nggak apa-apa?
Karin membaca pesan dari Mina dengan tangan gemetar. Napasnya naik-turun dan raut mukanya cemas.
Kenapa? Kenapa semua orang tiba-tiba bisa baca pikiran gue?!
Karin menarik napas dalam. Dipandangnya suasana perpustakaan kampus yang kosong. “Kejadian awalnya pas gue...”
Karin berusaha merangkai kejadian yang dia alami satu persatu, supaya ia bisa dengan jelas menemukan jawabannya.
Kreeet, suara pintu yang terbuka itu sukses membuat Karin terperanjat. Dilihatnya seorang mahasiswa masuk ke dalam perpustakaan. Saat mahasiswa itu menyadari keberadaannya, Karin langsung membuang pandangan dan mengambil sebuah buku.
Gawat, dia anak jurusan bukan sih? Berarti sekarang dia bisa baca pikiran gue?
Mahasiswa tadi melawatinya begitu saja, mengabaikan Karin yang menutupi wajahnya dengan buku.
“Eh?” Karin mengerutkan dahi. "Tadi... dia nggak balik liatin gue?”
Karin melebarkan matanya, kemudian mulutnya menganga. Jawaban dari teka-teki yang sedang ia pecahkan, akhirnya ditemukan.
#
Yang penting gue nggak natap mata orang, semua bakal aman.
Karin melangkahkan kakinya mantap memasuki kelas terakhirnya di sore ini. Ia berusaha sekeras mungkin tak menatap mata orang lain, bahkan Mina yang sedari tadi memanggilnya pun ia abaikan.
Ke Mina : Min, gue lagi kurang enak badan.
Ke Mina : Gue duduk di bangku belakang dulu ya.
Ia mematikan layar ponsel dan menyimpannya di meja tepat ketika sang dosen memasuki ruang kelas.
Sepanjang kelas, Karin hanya menatap layar infokus yang menampilkan materi. Ketika ada yang mengajaknya bicara pun, ia hanya menjawab seadanya tanpa menatap kembali mata orang tersebut. Ia berusaha sekeras mungkin untuk fokus pada materi dan mengosongkan pikirannya.
"Karin!"
Suara sang dosen itu secara otomatis membuat Karin terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Betul kan itu kamu? Saya cari kamu loh Karin, biasanya duduk di depan." Dosen itu tersenyum sambil terus menatap Karin.
Karin membeku di tempat, matanya berusaha menatap ke arah lain. "Materi hari ini, interaksi antar sesama, hubungan parasosial..." Ia terus bergumam, memenuhi kepalanya agar tak berpikir hal lain.
"Karin?" panggil dosen itu lagi.
'Ah sial! Kenapa sih dari sekian banyaknya mahasiswa, harus gue yang dipanggil?'
Karin tersentak dengan apa yang terlintas di pikirannya, dengan perasaan takut ia memandang wajah dosen itu. Dosen yang selama ini selalu ramah dan baik padanya, kini menatapnya dengan raut muka tak percaya.
"Kamu nggak mau ibu panggil Karin?" tanya dosen itu nanar.
Karin meneguk ludahnya kasar, perasaan bersalah menghantuinya. Ia melihat sekeliling, semua orang menatap ke arahnya dengan raut muka kecewa.
"Karin? Kenapa kamu nggak jawab?" Dosen itu masih menunggu jawabannya. "Karin?"
#
"Karin? Karin?"
"Hah!" Karin terlonjak, ia terbangun dari tidurnya.
Matanya memperhatikan sekeliling. Adik laki-laki yang duduk di sampingnya, asyik mendengarkan musik sementara ibunya yang duduk di depan, menatapnya khawatir.
"Kamu kenapa Kak?" tanya ibunya.
Karin yang setengah panik tak menghiraukan pertanyaan ibunya, ia masih sibuk melihat sekeliling untuk memastikan keadaan.
Matanya bergerak menatap ke arah spion pengemudi. Di spion itu, terlihat ayahnya yang tengah menyetir membalas tatapannya dengan hangat. Karin pun mengalihkan pandangan, menatap jalanan di luar jendela mobilnya. Ia menghela napas lega.
'Huh, untung cuma mimpi. Bisa gila gue kalau itu kenyataan.'
Karin akhirnya menarik senyum lega, sambil masih memandang ke luar jendela.
"Emang mimpinya segila apa Kak?"
Seketika seluruh tubuh Karin membeku mendengar pertanyaan ayahnya.
***