Kehidupan kampus bagi para mahasiswa baru di Universitas Rasa Kota telah dimulai. Mahasiswa dari setiap jurusan telah berkumpul di aula tempat diselenggarakannya upacara pembukaan mahasiswa baru oleh Rektor Universitas Rasa Kota. Suasana yang riuh dan wajah-wajah antusias tampak memenuhi aula.
"Perhatian untuk semuanya, upacara penerimaan mahasiswa baru akan segera dimulai." Ujar MC yang menjadi penanda bagi seluruh mahasiswa untuk diam.
Di tengah keheningan itu, seorang pemuda berlari kecil menuju tempat duduk mahasiswa baru jurusan sastra. Wajah simetris dengan hidung mancung dan rahang tegas, kulitnya putih bersih serta tubuh yang tinggi dan tegap, membuat semua mata meliriknya. “Apa masih ada kursi kosong?” Ujarnya.
Tanpa aba-aba para mahasiswi langsung berusaha mencari kursi kosong di jajaran tempat duduk mahasiswa di depan mereka dan menunjukkan padanya. Pemuda itu pun tersenyum dan berjalan ke arah depan meninggalkan para mahasiswi histeris dalam keheningan.
#
“Eh, lo semua liat gak tadi cowok ganteng yang dateng telat?”
“Iya, iya liat. Gila ganteng banget!”
Obrolan itu berhasil memecah kecanggungan antara mahasiswi baru jurusan sastra yang tengah beristirahat menunggu sesi selanjutnya di gedung jurusan.
“Btw, kenapa dia belum keliatan ya? Harusnya bareng anak-anak cowok kan?” Sikha, mahasiswi yang memulai obrolan tadi mengedarkan matanya mencari sosok yang tengah diperbincangkan.
“Eh itu bukannya dia ya?” Salah satu temannya menunjuk ke arah pintu yang langsung berhadapan dengan tangga, menampilkan sosok pemuda tampan yang berjalan santai ke arah ruangan.
Tak ada mata yang tak memperhatikannya, perempuan bahkan laki - laki pun memandanginya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Perhatian itu membuat pemuda itu semakin percaya diri, dia memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana dan merapikan sedikit rambutnya dengan tangan kanannya.
Bak gula yang dikerubungi semut, pemuda itu langsung disambut sapaan dari para mahasiswi dan mahasiswa yang juga ikut penasaran dengannya.
Sikha langsung mengambil kesempatan emas dengan duduk di depannya. “Kenalin gue sikha, tadi gue sama temen-temen yang bantu nyariin lo kursi pas di aula.” Ia mengulurkan tangannya.
Pemuda itu menatapnya tanpa menyambut uluran tangannya. “Gue Zayden.”
#
Sejak hari penerimaan mahasiswa baru, nama Zayden selalu jadi topik hangat baik di lingkungan jurusan sastra maupun di jurusan lain. Dia mendapat julukan 'a fresh guy’ bukan hanya karena penampilannya tapi juga karena dia adalah seorang mahasiswa baru. Dengan cepat Zayden langsung menjadi primadona kampus, teman seangkatannya, senior bahkan dosen pun terpana melihatnya.
Kelas Pengantar Linguistik Umum tengah berlangsung sore ini, beberapa mahasiswa tampak menahan kantuknya, ada yang diam-diam bermain ponsel dan ada pula yang sibuk berbisik satu sama lain. Sepertinya sang dosen mulai menyadarinya, ia mengedarkan pandangan mencari seseorang yang bisa ia jadikan 'umpan' di situasi ini.
"Kamu!" Ia menunjuk salah satu mahasiswa, beberapa mahasiswa yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing sedikit terkejut dan berpura-pura fokus memperhatikan. "Itu kamu yang pakai kemeja hitam."
Zayden tersenyum simpul, "Saya pak?" Ia menjawab sembari berdiri, membuat teman-teman di belakangnya tak bisa melihat apa-apa karena tubuhnya yang tinggi.
"Iya kamu, sini maju ke depan." Satu kalimat yang langsung membuat seisi kelas riuh. Melihat Zayden berjalan dan berdiri di depan adalah pemandangan yang sayang untuk dilewatkan bagi para mahasiswi, sementara mahasiswa laki-laki asik berbisik membincangkannya.
Setelah membantu dosen di depan, Zayden kembali ke kursinya. Tatapan kagum dari teman-temannya membuat ia bahagia dan puas, ia terus tersenyum dengan percaya diri sampai ada sesuatu yang menganggu pandangannya.
"Itu orang gak liat gue sama sekali?" Batinnya sambil memperhatikan seseorang dengan hoodie abu-abu yang hanya fokus memperhatikan dosen di depan.
#
Zayden mempercepat langkah kakinya mengikuti seseorang di depannya. Rasa kesal dan penasaran yang menghinggapi membuatnya terpaksa menguntit teman sekelasnya, dia hanya ingin memastikan bahwa orang itu mengetahui kalau dia memiliki teman yang populer di kelasnya. Benar, selama ini Zayden hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan perhatian yang di terimanya sehingga ia tidak pernah memperhatikan orang lain.
Orang itu tiba-tiba berhenti. Zayden langsung mengambil ancang-ancang untuk mendekati orang itu dari belakang, "Bro." Dia kaget saat membuka penutup hoodie orang itu. "Eh cewek ternyata."
Orang itu terkejut kemudian memicingkan mata menatapnya sinis. Ia berlalu meninggalkan Zayden sambil menutupi kepalanya dengan hoodie kembali.
#
Sejak hari itu Zayden dibuat penasaran oleh sosok gadis itu. Awalnya dia berpikir gadis itu memiliki penyakit mata yang membuat dia tidak bisa menatapnya kagum seperti mahasiswi lain, tapi semakin dia memperhatikannya, gadis itu memang selalu bersikap aneh. Dia selalu duduk di kursi paling belakang yang membuat keberadaannya tidak disadari oleh mahasiswi lain yang biasa duduk di depan, dia juga selalu menutup kepala bahkan wajahnya entah itu dengan hoodie, topi atau masker. Zayden juga tidak ingat dengan rupa gadis itu karena dia langsung pergi begitu saja saat ia mengagetkannya di hari itu. Gadis itu juga hanya berbicara seadanya dengan orang yang kadang duduk di sebelahnya karena terlambat masuk kelas di tambah lagi dia selalu keluar kelas duluan.
Dan pagi ini Zayden mendapatinya sudah berada di kelas di saat belum ada mahasiswa lain. "Dia udah dateng." Batinnya sambil melirik gadis itu.
Hari ini Kajur (Ketua Jurusan) meminta Zayden datang lebih awal karena akan bersiap untuk photoshoot promosi jurusan yang akan dicetak menjadi brosur dan banner nantinya. Di tahun-tahun terakhir, jurusan sastra memang sepi peminat sehingga ini merupakan peluang emas yang tak mungkin dilewatkan.
"Ekhem," Zayden berdehem sambil berjalan mendekati kursi gadis itu. Gadis itu tampak tak menggubrisnya sama sekali, ia masih menelungkupkan kepalanya ke bawah. "Lo tidur?" Zayden telah sampai di kursi gadis itu.
Tiba-tiba terdengar suara riuh di pintu kelas. “Wah zay udah di kelas aja pagi-pagi gini!" Suara Sikha melengking memenuhi kelas, ia datang bersama kedua temannya dan membuat Zayden membeku di tempat. "Eh zay jangan ganggu calla, ini jam dia tidur."
"Calla?" Ucap Zayden pelan, dia beranjak dari tempatnya berdiri. "Gue ada photoshoot promosi jurusan."
"Wah gila! Primadona kampus dari kelas kita nih!" Sahut salah satu temannya Sikha.
Sikha berlari kecil ke arah Zayden kemudian menepuk-nepuk bahunya pelan. "Gila udah jadi wajah jurusan aja! Dimana nih photoshoot-nya? Mau dianterin ga?"
Zayden tersenyum, “Boleh.” Ia memandang kaca jendela lalu merapikan rambutnya kemudian melangkah keluar kelas diikuti Sikha dan kedua temannya.
Gadis itu, Calla menengadahkan sedikit wajahnya menatap teman-temannya yang berlalu pergi.
#
Suasana kelas pagi ini tampak sama seperti biasanya, beberapa mahasiswa laki-laki tengah mengobrol sambil melempar cibiran satu sama lain, sebagian mahasiswi asik bergosip ria, ada yang sibuk dengan ponselnya, dan ada juga yang tertidur dengan tas sebagai bantalnya.
Suara kletak-kletik high heels terdengar semakin nyaring mendekati ruangan kelas. KM (Ketua murid) langsung memberi sinyal kepada teman-temannya, tanpa komando mereka secara serempak langsung duduk rapi di kursinya masing-masing.
“Pagi semua.” Seorang dosen wanita memasuki kelas, tak ada yang berbeda dari penampilannya dengan dosen lain hanya saja ia cukup ‘ditakuti’ oleh para mahasiswa jurusan sastra. “KM apa semua sudah datang?”
KM langsung berdiri memperhatikan sekelilingnya, “Sudah bu, sudah lengkap.” Ia menjawab dengan yakin.
“Oke kalau begitu tidak perlu ibu absen ya.” Dia mengambil buku absen dan memberikannya ke salah satu mahasiswa di jajaran kursi depan. Tanpa perlu diberi tahu mahasiswa itu langsung mengambil buku absen, mengisinya, lalu menyerahkannya ke teman sebelahnya.
“Pertemuan terakhir sebelum ujian kita bahas apa ya?” Dosen itu melemparkan pandangan ke wajah-wajah yang tampak tegang di depannya.
“Membahas gaya sastra bu.” Sahut KM cepat, dosen itu membalas dengan menaikkan alisnya kemudian tersenyum tipis seolah berkata ‘jawabannya kurang tepat’.
“Menganalisis gaya sastra sesuai konteks zamannya.” Sikha tak mau kalah tapi iya yakin jawabannya benar. Dosen itu tersenyum puas.
“Oke karena kamu benar, kamu punya privilege hari ini.” Dosen itu berjalan ke arah papan tulis dan menuliskan sesuatu. Kemudian dia berdiri menghadap mahasiswanya. “Coba Zayden bacakan ini.”
Zayden yang sedang asik memandangi wajahnya di kaca jendela tampak kaget. “Saya bu?” Dosen itu mengganguk, Zayden tersenyum senang sementara teman laki-lakinya tampak dongkol. Awalnya mereka biasa saja dan menganggap hal itu wajar karena fisik yang dimiliki Zayden, tapi lama kelamaan itu membuat mereka kesal. “Kritik teks.” Ucapnya lantang.
“Kira-kira apa yang akan kita bahas?” Dosen itu melempar pertanyaan kepada Zayden.
“Ehm..” Zayden melirik sedikit teman-temannya, Sikha tampak memberi kode. “Kritik teks dengan gaya sastra sesuai zaman?” Ia pun tak yakin dengan jawabannya.
“Kamu cuma gabungin jawaban teman-teman kamu ya?” Dosen itu tersenyum masam. “Oke saya mau tanya ke yang nilai ujiannya minggu lalu 100.” Ia beranjak ke mejanya dan mengecek map yang ia bawa. “Calla?”
Suasana kelas yang tegang berubah menjadi canggung, tak ada satu pun teman yang berusaha melirik ke arah Calla. Sosoknya yang aneh sudah menjadi rahasia umum kelas.
"Saya disini bu." Ucap Calla pelan dari kursi paling belakang, hanya karena tidak ada satu pun yang bersuara membuat suaranya bisa sedikit terdengar sampai ke depan.
"Menurut kamu kritik teks di mata kuliah kita tentang apa?"
Calla membuka mulutnya dan berusaha menjelaskan seperti apa yang telah ia pahami, namun suaranya benar-benar tidak terdengar meski dosen itu sudah berusaha menajamkan telinganya.
"Bisa kamu berdiri?" Ujar dosen itu tak sabaran. Calla menelan ludahnya, jantungnya berdegup kencang, ia benar-benar tidak suka jadi pusat perhatian.
Setelah memastikan tidak ada satu pun teman yang melihat ke arahnya, Calla membuang napasnya pelan. "Menurut saya dalam mata kuliah Filologi, kritik teks adalah metode penelitian naskah kuno untuk merekonstruksi teks asli seakurat mungkin dengan membandingkannya dengan berbagai naskah serupa."
Dosen itu berdecak kagum. "Bagus." Kemudian ia bertepuk tangan. "Kasih applause dong buat teman kalian ini."
Seisi kelas langsung ramai dengan tepuk tangan, entah mereka benar-benar memberi tepuk tangan karena kagum atau hanya meledek. Meskipun bersikap aneh Calla termasuk mahasiswa yang pintar di kelasnya, namun karena sikapnya itu, tidak ada yang mau belajar bahkan berteman dengannya.
Setelah menjelaskan tadi Calla langsung duduk kembali di kursinya, ia langsung menutupi wajahnya dengan masker, sekarang pun ia tidak nyaman mendengar teman-temannya bertepuk tangan untuknya bahkan sampai berusaha meliriknya. Sebenarnya saat menjelaskan tadi ada satu orang yang berusaha untuk mangamati wajahnya, hanya saja tidak disadari oleh Calla karena jarak tempat duduknya yang jauh.
Dosen itu mengetukan pulpennya ke meja tanda seisi kelas harus diam. "Pembahasan kali ini saya ingin kita melakukannya full dengan praktik." Ia kembali menatap mahasiswanya. "Dan akan dilakukan dengan kelompok yang terdiri dari 2 orang."
Seisi kelas langsung melirik satu sama lain, antara kaget dan cemas.
Dosen itu berjalan ke arah meja mahasiswa di jajaran kedua. "Kelompok dan anggota sudah saya tentukan." Terlihat muka kekecewaan dari para mahasiswa. "Tapi karena ada sedikit perubahan dan ada yang punya privilege di hari ini, jadi kita tentukan bersama-sama."
Kelas menjadi sedikit riuh, ada yang bersorak pelan, tersenyum satu sama lain dan sebagian mengenggam erat tangan temannya berharap menjadi satu kelompok.
"Sikha ya tadi?" Dosen itu memastikan penerima keuntungan di kelas pagi ini adalah orang yang benar.
"Ya bu." Sikha menjawab mantap.
"Kamu boleh pilih mau sekelompok dengan siapa."
Mata Sikha berbinar, ia melirik Zayden sekilas. Ini adalah kesempatan yang ia impikan sejak lama. "Saya mau sekelompok deng-"
"Sebentar Sikha." Dosen itu berjalan kembali ke mejanya kemudian mengecek kembali mapnya. "Tadi saya bilang ada sedikit perubahan ya?" Ia menatap mahasiswanya sebentar. "Zayden saya kelompokkan dengan Calla. Sisanya kita tentukan bersama kecuali untuk Sikha."
Bak disambar petir, Sikha tak bisa berkata apa-apa, lidahnya kelu, mulutnya sedikit terbuka. Tapi apa daya keputusan dosen itu sudah pasti tidak bisa diganggu gugat.
#
"Sialan!!" Sikha setengah berteriak. "Bu Mirna bilang gue dapet privilege, privilege apaan?!"
"Sabar sik." Ujar temannya menenangkan. Sudah hampir setengah jam Sikha mengamuk seperti ini.
"Udah bagus gue yang sekelompok sama Zayden, Zay pasti lebih nyaman sama gue daripada si aneh itu!" Sikha mendengus untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa lagi si Zayden malah diem aja gak protes!"
"Siapa coba sik yang berani protes sama bu Mirna?" Sahut teman yang satunya, Sikha berdecak kesal.
#
Sudah dua minggu berlalu sejak penentuan kelompok berlangsung, yang artinya sudah dua minggu pula tugas mata kuliah Filologi berjalan. Selama ini Calla hanya mengerjakan tugasnya sendiri, sementara Zayden sibuk dengan promosi jurusan dan kegiatan himpunan. Tapi itu tak menjadi beban bagi Calla karena ia lebih suka bekerja sendiri daripada harus berinteraksi dengan orang lain.
"Zayden!"
Suara kletak-kletik high heels mendekat ke arah Zayden yang akan menuruni tangga. Tanpa melihat pun ia tahu itu siapa.
"Gimana tugas kritik teksnya?" Tanya bu Mirna penasaran.
Zayden membelakakkan matanya, ia benar-benar lupa akan tugas itu. "Calla-"
"Ya dua minggu ini saya hanya mendengar progres dari Calla. Minggu lalu kamu sibuk jadi model jurusan, kemarin kamu sakit." Bu Mirna menyilangkan kedua tangannya di dada sambil tersenyum tipis ke arah Zayden. "Saya ingin kamu berdiskusi dengan Calla, bukan dia kerja sendiri."
Sindiran itu sukses membuat Zayden terhenyak sambil menatap bu Mirna yang berlalu meninggalkannya. Ia memang tidak menyukai tugas, tapi tidak pernah sampai melupakannya. Ia berpikir mungkin ini juga karena Calla tidak pernah mengingatkan atau berusaha menghubunginya.
"Si askan tau gak ya?" Ia mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Woy KM, gue minta nomor Calla dong!"
Terdengar suara di ujung telepon yang diikuti tawa.
"Mana ada sialan! Tadi bu Mirna nodong gue soal tugas, lo aja sono ngapelin dia." Zayden mendengarkan jawaban di ujung telepon. "Cari sekarang terus kirim ke gue, nanti gue traktir lo besok." Ia menutup teleponnya.
#
'Cal, gimana tugas kritik teks?
- Zayden'
Calla membaca pesan yang masuk ke ponselnya, ia kira Zayden sudah melupakan tugas kelompoknya. Dia mengabaikan pesan itu dan kembali mengerjakan tugas. Hari kamis ini hanya ada dua kelas yang harus diikutinya sehingga ia memiliki banyak waktu luang di kampus, ia menggunakannya untuk mengerjakan tugas-tugas yang tidak bisa ia selesaikan di rumah.
Bip! Satu pesan baru masuk ke ponsel Calla, ia mengeceknya malas.
‘Lo dimana sekarang?’ Pesan dari nomor yang sama.
Calla melirik jam dinding yang ada di depannya, pukul 16.00. Ia berpikir apa mungkin Zayden mau mengerjakan tugas dengannya, buru-buru ia mengambil masker di tasnya dan memakainya.
‘Perpustakaan lantai 2’.
Zayden melirik notifikasi pesan di ponselnya, ia pikir Calla akan mengabaikan pesan darinya. Dia beranjak mengambil tasnya yang ada di ruang himpunan, karena kelas terakhir selesai pukul 14.00 dan akan digunakan untuk kelas selanjutnya, ia pun menyimpan tasnya di ruang himpunan supaya tak perlu repot membawanya kemana-mana. Karena populer, Zayden tidak diperlakukan seperti junior lain di jurusan, ia bahkan sudah sering keluar masuk ruang himpunan seperti seniornya.
“Zay pas banget lo dateng, bisa bantu gue ga?” Seorang senior menyambutnya saat membuka pintu ruang himpunan.
“Bantu apa bang?”
“Gue mau ngajuin proposal kegiatan ke Kajur, terakhir gue ditolak, bisa kali lo bantuin nge-lobby.” Senior itu menaikkan alisnya. “Lo kan wajah baru jurusan.”
Zayden mendecak sebal, tapi karena senior itu memujinya itu membuatnya dengan senang hati membantu.
#
Calla melirik jam dinding di perpustakaan, pukul 18.30. Sudah hampir tiga jam berlalu, meski tak sepenuhnya ia menunggu karena sembari mengerjakan tugas lain tetap saja itu membuatnya kesal.
“Balik aja gue.” Batinnya. Ia memasukkan buku, laptop dan alat tulis ke dalam tasnya. “Ah!.” Ia menyenggol gelas kopi di mejanya yang sukses menyiram maskernya hingga basah. Ia pun memakai tasnya dan beranjak pergi dari perpustakaan sambil membuang maskernya ke tempat sampah.
Suasana kampus di petang hari cukup gelap karena hanya ada beberapa penerangan, ditambah lagi hanya sedikit mahasiswa yang berlalu-lalang. Hal itu menjadi keuntungan bagi Calla karena ia tidak suka keramaian, ditambah lagi ia tidak perlu menutupi wajahnya.
Calla sudah sampai di tempat parkir kampus, ia mencari motornya di antara motor-motor yang tersisa. Saat akan memasukkan kunci motornya, ia merasakan ada seseorang yang berlari ke arahnya.
“Calla!” Suara itu terasa sangat familiar.
Tangannya terhenti, Calla sedikit menunduk supaya rambutnya bisa menutupi sebagian wajahnya. Maskernya basah, ia tak membawa topi dan tak memakai hoodie, ia sama sekali tak berani melirik ke sumber suara.
“Lo gak denger ya?” Suara itu semakin dekat. “Tadi gue sibuk jadi lupa.” Suara itu sampai di samping Calla.
“Iya gak apa-apa.” Calla langsung memunggungi orang itu. “Gue duluan ya.” Ia hanya ingin orang itu pergi.
“Hah.” Orang itu mendengus kesal. “Gue Zayden loh! Populer di jurusan lo! Lo gak bisa ya liat muka gue?!” Ia memaki. “Gue udah tau muka lo kayak apa, gak perlu ditutupin!”
Calla terkejut, ia langsung menatap orang di sampingnya. “Kapan lo liat?” Ia melotot.
“Tadi pas-” Orang itu, Zayden lebih terkejut akan apa yang ia lihat. Ia bohong kalau ia sudah jelas melihat wajah Calla tadi, karena yang ia lihat hanya hidung dan sedikit pipinya dari kejauhan. Sekarang ia terpaku menatap apa yang ia lihat.
Calla menyadari hal itu, ia langsung menyalakan mesin motornya. “Nanti bagian tugas gue chat.” Ia berlalu meninggalkan Zayden yang masih berdiri mematung.
#
“Kok bisa?” Itulah pertanyaan yang selalu dilontarkan Zayden dalam hatinya saat melihat Calla. “Kenapa harus ditutupin?” Pertanyaan itu juga berulang kali ia pikirkan. Sejak hari itu Zayden dan Calla tetap tidak pernah bekerja kelompok bersama, mereka hanya berkomunikasi lewat pesan bahkan Calla pun enggan dekat dengannya.
Tak! Ujung pulpen berhasil mendarat di kepala Zayden. Ia mendongkak melihat siapa yang melakukannya. Bapak dosen sudah berdiri tepat di depan mejanya.
“Ganteng-ganteng doyan melamun!” Bapak dosen itu tampak kesal. “Dari tadi dipanggil!”
“Maaf pak saya lagi banyak pikiran.” Zayden terkekeh.
“Mikirin tugas apa mikirin pacar?” Ledek bapak dosen itu.
“Tugas pak.”
“Bohong pak!” Sahut Askan, KM cepat.
“Udah kamu jangan ikut-ikutan!” Bapak dosen itu sekarang gantian menyerang Askan. “Jangan ada yang berani melamun lagi di mata kuliah saya. Sekarang perhatikan ke depan semuanya!”
Dari kejauhan, Calla memperhatikan Zayden tajam. Sorot matanya menandakan kekesalan, kekecewaan dan kekhawatiran. Selama ia tetap menjaga jarak dan Zayden tutup mulut semua akan baik-baik saja pikirnya.
#
Hari ini Zayden berniat untuk mengerjakan tugas bersama Calla, ia tidak peduli jika Calla akan bersikeras menolaknya. Ia ingin menanyakan hal yang ia pikirkan selama ini dan memastikan bahwa Calla benar-benar melihat wajahnya, ditambah lagi minggu depan adalah presentasi tugas kritik teks. Meskipun hanya Zayden yang akan presentasi di depan, tetap saja ia butuh arahan dari teman sekelompoknya.
Saat sedang memasuki gedung jurusan mata Zayden berbinar, ia langsung berlari. “Calla.”
Calla terkejut, buru-buru ia merapikan penutup hoodie-nya. Lalu melirik Zayden sekilas seakan bertanya, ‘kenapa lagi?’
“Minggu depan presentasi kritik teks, gue belum ada persiapan apa-apa.”
“Nanti gue share PPT-nya, gue tambahin lo jadi collaborator jadi lo bisa comment bagian mana yang lo gak ngerti.” Calla melanjutkan lagi langkahnya.
“Gak bisa!” Zayden setengah berteriak, itu cukup mengagetkan Calla. “Gue gak bisa kerja kelompok kayak gini terus! Bu mirna suruh kita diskusi!”
“Kan diskusi bisa lewat online.”
“Gak bisa!” Zayden mulai kesal. “Kalau kayak gini harusnya lo bilang dari awal ke bu mirna kalau lo cuman bisa kerja sendiri!” Dia menyusul Calla dan berjalan melewatinya.
Calla membuang napas. “Oke.”
#
Permintaan Zayden benar-benar dikabulkan oleh Calla, sore ini mereka berdua tengah mempersiapkan presentasi kritik teks di perpustakaan. Sebenarnya hanya Calla yang sibuk dengan laptop dan catatan presentasinya, sementara Zayden asik tebar pesona dengan para mahasiswi di perpustakaan.
“Jadi apa yang udah lo siapin?” Calla menatapnya kesal.
“Kenapa sih harus pakai masker?” Zayden balik bertanya.
“Lo kalau gak niat nyiapin presentasi mending pulang aja deh.”
“Gue udah siap bantuin lo dari tadi, tapi lo aja gak mau liat muka gue.” Protes Zayden.
Calla menatapnya, Zayden tersenyum simpul sebentar lagi ia akan mendengar pujian dari Calla. Tapi hanya tiga detik tatapan Calla berubah menjadi tatapan sinis. “Lo cukup presentasi aja.”
“Ck!” Zayden mendecak sebal. “Lo emang gak bisa ngeliat potensi gue-”
Ponsel Calla tiba-tiba berbunyi, ada panggilan masuk. Ia sedikit terkejut melihat nama yang tertera di ponselnya, ia beranjak pergi dari tempatnya.
“Halo mah?” Ucap Calla pelan.
Terdengar jawaban di ujung telepon.
“Hah?” Mata Calla membesar. “Mamah udah di gerbang kampus?”
Setelah mendengar jawaban di ujung telepon ia langsung kembali ke tempatnya tadi dan membereskan barangnya. “Gue harus pulang sekarang.”
“Tiba-tiba?” Zayden memperhatikannya yang tampak panik.
“Iya.” Calla menutup tasnya. “Nanti kita obrolin lagi di chat.” Ia berlalu pergi.
Zayden memperhatikan Calla yang pergi menjauh kemudian mengalihkan pandangannya ke atas meja. “Emang matkul linguistik umum ada tugas?" Dia membuka buku yang tergeletak di atas meja itu, dia penasaran apakah ada tugas yang ia lewatkan. Namun ia malah mendapati selembar uang seratus ribu di antara halaman buku. "Nyimpen uang kok disini?" Batinnya.
Zayden mengernyitkan kening kemudian matanya melebar, buru-buru ia membereskan barangnya dan tak lupa membawa buku itu pergi. Ia berlari dari perpustakaan ke gerbang kampus. "Jangan-jangan gue dikerjain terus dituduh maling." Pikirnya.
Di depan gedung fakultas Zayden akhirnya melihat sosok Calla, ia berlari mendekatinya yang sebentar lagi akan melewati gerbang kampus. "Calla!" Teriaknya.
Calla yang mendengar itu langsung menoleh ke sumber suara, ia memperhatikan Zayden bingung namun langsung mengerti saat melihat buku yang dibawanya.
"Lo mau ngerjain gue ya?" Protes Zayden mendekatinya.
Tanpa aba-aba, Calla langsung mengambil buku itu. "Maka-"
"Ini siapa Calla?" Seorang wanita berumur 40-an berdiri tepat di belakang Calla. "Teman kamu? Ganteng ya." Wanita itu mengamati Zayden.
Mendengar itu Zayden langsung senang. "Zayden tante." Ia melemparkan senyuman pada wanita itu.
Sementara itu, Calla menelan ludahnya kasar, tangannya gemetar, matanya melirik ke sana kemari.
"Ditunggu ya kedatangannya Zayden." Kalimat itu sukses membuat Calla tersentak, apa yang telah ia lewatkan sampai obrolannya sudah sejauh itu.
"Siap tante!" Zayden tersenyum lebar pada wanita itu.
Wanita itu mendekati Calla dan berbisik, "Ayo pulang, obrolan kita menarik."
#
"Kamu udah lupa ya sama permintaan mamah?" Wanita tadi, mamah Calla membuka obrolan di tengah keheningan.
Calla tak berani menatapnya. "Engga mah." Ucapnya lirih.
"Tapi bisa ya punya temen, temennya cowok lagi." Mamahnya membuang napas kasar. "Mulai tebar pesona ya kamu?"
Calla menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangannya. "Jadi tadi pagi minta dianter ayah itu karena pulangnya mau bareng cowok?"
Calla menoleh, "Bukan mah." Ucapnya tegas. Padahal ayahnya tadi pagi sampai menyempatkan mengantarnya karena ingin sarapan bersama, tapi karena Calla hampir terlambat, ayahnya hanya memberinya uang yang tak sempat ia masukkan ke dompet.
#
Sejak obrolan di mobil tadi, Calla belum bicara lagi dengan mamahnya. Terlebih lagi di dalam rumah ini hanya ada mereka berdua karena ayahnya Calla yang harus lembur.
Calla menekukkan lututnya, sementara lipatan tangannya menutup sebagian mukanya. Ia mulai menitikkan air mata, tetesan demi tetesan mengalir di pipinya. Sudah hampir 5 tahun ia hidup menyendiri seperti ini, tidak punya teman bahkan jarang berinteraksi dengan orang lain.
Mamah Calla memiliki paras yang sangat cantik dan itu diturunkan kepada Calla putri semata wayangnya. Sepanjang hidupnya, mamah Calla selalu menerima pujian. Semua orang terkesima dengan kecantikannya, namun dibalik itu ia menderita NPD (Narcissistic Personality Disorder) yang hanya diketahui oleh suaminya, Ayah Calla.
Setelah melahirkan Calla, pujian pun tetap berdatangan untuknya, semua memuji paras anaknya yang cantik sepertinya. Tapi itu semua berubah sejak Calla memasuki usia belia tepatnya di kelas 2 SMP, ia mendapati seorang anak laki-laki berusaha menyatakan perasaan pada Calla. Rasa kesal dan iri memenuhi hatinya, ia berpikir anaknya cantik karenanya dan semua perhatian yang diterima anaknya seharusnya untuknya. Malam itu juga ia meminta Calla mulai menjaga jarak dengan teman-temannya dengan dalih ia akan dipindah sekolahkan.
Calla yang penurut mulai menjaga jarak dengan temannya, menurutnya hal ini dilakukan supaya teman-temannya tidak sedih ketika ditinggalkannya. "Mamah memang perhatian." Pikirnya. Namun sampai di penghujung kelas 3, Calla tak kunjung dipindahkan, yang ada dia malah kehilangan beberapa temannya karena merasa Calla berubah. Hal itu terus berlanjut sampai dia masuk SMA, bahkan di SMA mamahnya memintanya untuk selalu menggunakan masker dan berinteraksi seadanya dengan siapa pun. Ayahnya yang mulai menyadari hal itu, akhirnya mengajak Calla bicara berdua.
"Calla." Ayahnya mengelus kepala Calla. "Kamu gak apa-apa?" Pertanyaan itu sukses membuat Calla terisak.
"Ayah, calla bingung kenapa calla harus kayak gini, calla sekarang belum punya temen di SMA, semua ngira Calla punya penyakit karena pakai masker terus."
Ayahnya menatapnya nanar. "Sabar ya sayang." Ia terdiam sejenak. "Ini demi mamah kamu."
"Mamah emangnya kenapa yah? Kenapa mamah selalu minta hal yang aneh?"
Ayahnya membuang napas pelan. "Mamah lagi punya penyakit, sebentar lagi mau dirawat, kamu tunggu 1 tahun lagi ya."
Ternyata 1 tahun kemudian ayah Calla malah terlilit hutang, tidak besar tapi uang yang asalnya akan digunakan untuk biaya perawatan istrinya jadi terpakai, sehingga ucapannya waktu itu hanya janji belaka. Pada akhirnya sampai lulus SMA pun Calla tidak memiliki seorang teman.
#
Hari ini adalah hari presentasi berlangsung. Semua mahasiswa tampak sibuk mempersiapkan bahan presentasi terbaiknya.
"Pagi semua." Kehadiran bu Mirna di ambang pintu mengagetkan semuanya.
Askan memberi sinyal kepada teman-temannya. "Pagi bu." Ucap Askan diikuti seisi kelas yang telah duduk rapi.
"Oke sesuai kesepakatan, hari ini ibu anggap kalian hadir kalau kalian sudah presentasi. Jadi siapa yang mau duluan?"
"Saya bu!" Seorang mahasiswa mengacungkan tangannya. Semua meliriknya, sementara Calla menatapnya kaget.
"Ibu gak nyangka kamu sesemangat itu Zayden." Zayden melihat ke arah Calla, kemudian berdiri dengan penuh percaya diri. Sementara Calla berjalan gontai dari kursinya.
"Zayden yang presentasi kan?" Tanya bu Mirna saat keduanya sampai di depan.
"Iya dong bu." Zayden terkekeh. Ia pun melangkah ke depan sementara Calla menyambungkan laptopnya ke layar proyektor.
Bu Mirna berdiri di sebelah Calla dan berbisik, "Calla saya tau kamu cantik, kamu harus PD kayak Zayden."
Calla membenarkan maskernya. "Saya lagi flu bu."
Dari kejauhan Sikha dan teman-temannya memperhatikan mereka.
"Kenapa gak Calla yang presentasi? Dia kan pinter." Sahut salah satu temannya Sikha.
"Lo gak liat dia? Mana bisa dia presentasi dengan penampilan kayak gitu. Masih untung sih gak harus sebelahan sama Zay." Sikha tertawa kecil, diikuti kedua temannya.
#
Calla berjalan ke tempat parkir mencari motornya. Ia sangat senang karena bu Mirna memuji hasil presentasi buatannya, meski ia sempat kepikiran dengan apa yang dikatakan bu Mirna di kelas tadi.
Tiba-tiba sebuah motor sudah ada di sampingnya, orang di motor itu membuka penutup kacanya. "Ayo cal!"
Calla mendengus kesal. "Presentasinya udah beres."
Orang tadi yang ternyata Zayden mematikan mesin motornya. "Justru karena akhirnya gue dipuji pinter, gue jadi semangat ke rumah lo!" Calla mengernyitkan dahi. "Lo tau kan biasanya gue cuman dipuji gan-"
"Ke rumah gue?"
"Loh? Kan nyokap lo yang ngundang gue minggu lalu. Dia mau bantu gue masuk agensi model."
"Bohong." Batinnya, ia tersenyum getir.
"Tapi gue gak tau jalan ke rumah lo." Zayden memberi kode untuk segera bergegas.
Calla menarik napas dalam kemudian berjalan ke arah motornya, hari ini ayahnya lembur dan pastinya akan pulang malam.
#
Motor Calla dan motor Zayden berjalan beriringan dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Calla lebih dulu masuk memarkirkan motornya, sedari tadi pikirannya berkecamuk memikirkan segala hal yang mungkin akan terjadi.
"Gue parkir dimana nih?" Suara Zayden membuyarkan pikirannya.
"Disini." Calla menggeser sedikit motornya. "Dia pasti bakal pulang sebelum ayah dateng." Batinnya.
Ceklek, suara pintu terbuka. "Zayden!" Mamah Calla menyambut kedatangan Zayden dengan senyuman sangat lebar.
Calla membuang muka, sebenarnya ia ingin langsung pergi ke kamarnya dan beristirahat tapi ia harus jadi 'pengawas' di sore ini.
"Kamu pulang kuliah aja masih seger gini ya."
Zayden tertawa bangga. Satu hal yang Calla tau, Zayden tidak pernah berterima kasih ketika dipuji oleh siapa pun.
Mereka bertiga memasuki rumah, mamah Calla ternyata sudah menyiapkan berbagai cemilan di atas meja. Ada juga cermin di atas meja, sebenarnya bukan hanya itu, setiap sudut rumah Calla terdapat cermin bukti betapa terobsesinya mamah Calla dengan parasnya.
"Tante bener mantan model sih." Ujar Zayden melihat sekitarnya dan langsung merapikan rambutnya.
"Ah masa?" Mamah Calla tertawa senang. "Emang sih tante secantik itu."
Bau gosong menghampiri hidung Calla. "Mah, mamah manggang apa?"
Mamah Calla terlonjak kaget, "Ya ampun browniesnya!" Ia berlari pergi meninggalkan Calla dan Zayden.
Calla memperhatikan Zayden yang sedang asik menatap wajahnya dengan cermin di atas meja tadi. Sebenarnya sudah sejak lama Calla menyadari satu hal, terutama setelah dia berusaha mencari tahu penyakit mamahnya. Mamahnya bukan memiliki penyakit namun kelainan, kelainan yang sama dengan Zayden.
"Aduh browniesnya gosong Zayden gak apa-apa ya?" Mamah Calla menaruh seloyang brownies di meja.
"Tante minta saya makan makanan gosong?"
Mamah Calla terkejut. "Ini masih bisa dimakan!" Ia menggertak.
"Itu gosong karena kelamaan di panggang." Zayden menatap Calla dan mamahnya bergantian. "Mau secantik apa pun kalau udah ketuaan juga gak menarik-"
Plak! Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Zayden. "Kurang ajar!"
Zayden meraba pipinya, matanya membulat, ditatapnya mamah Calla penuh amarah. "Ibu saya gak pernah loh nampar saya, wajah saya ini aset berharga!!" Ia berdiri setengah berteriak.
Calla berdiri berusaha menenangkan Zayden karena dia tahu akan separah apa mamahnya kalau diolok soal fisiknya. Tapi itu membuatnya malah lengah, mamahnya berhasil melukai rahang kanan Zayden dengan ujung runcing cermin yang tadi ada di meja.
Zayden terduduk lemas melihat darah yang menetes ke lantai, ia berusaha memegang rahangnya. "Cermin mana cermin?" Napasnya terengah-engah.
Calla yang masih syok berusaha mencari cermin yang bisa ia bawa, tapi perhatiannya teralihkan saat mamahnya berjalan mendekati Zayden. "Cukup mah!" Ia terisak sambil menahan mamahnya. Ia melirik Zayden dan berbisik. "Zayden tolong tunggu diluar, nanti gue bawa cerminnya."
Zayden yang sudah lemas mengikuti ucapan Calla dan berjalan keluar sambil tetap memegang rahangnya.
Calla mengambil ponsel dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya masih menahan mamahnya. Ia menghubungi seseorang.
"Halo ayah?"
Terdengar jawaban di ujung telepon.
"Ayah sekarang Calla mau ke rumah sakit. Nanti Calla telepon lagi ya kalau udah nyampe, sekarang rumah Calla kunci dulu dari luar." Terdengar suara kaget di ujung telepon, tapi Calla segera mematikannya. Ia bergegas meninggalkan mamahnya dan mengantar Zayden ke rumah sakit dengan motornya.
#
Sudah tiga hari berlalu semenjak kejadian itu, Zayden tengah dirawat di rumah sakit sementara ayah Calla memutuskan merawat mamah Calla di klinik kejiwaan.
Hari ini Calla memutuskan untuk kembali ke kampus, namun ia malah mendengar gosip buruk tentangnya. Seseorang menyebarkan gosip bahwa ia terobsesi dengan Zayden dan berusaha melukainya sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Tapi tak ada yang bisa dilakukan Calla selain membiarkan gosip itu berlalu meski harus menerima tatapan jijik orang-orang.
"Calla?"
Calla menoleh ke belakang, ia mendapati bu Mirna berjalan ke arahnya.
"Akhirnya kamu masuk juga." Bu Mirna memperhatikan Calla yang tampak tak nyaman. "Saya itu gak peduli sama gosip-gosip, biasanya itu cuman cerita gak mendasar karangan orang lain."
Calla menatap bu Mirna nanar, kemudian menunduk.
"Sekarang kamu cukup buktikan ke orang-orang kalau gosip itu salah." Bu Mirna menepuk-nepuk bahu Calla pelan kemudian meninggalkannya.
Calla memandang punggung bu Mirna yang pergi menjauh.
#
Calla mencoba mendengarkan ucapan bu Mirna, dan hari ini dia berusaha untuk keluar dari zona nyamannya. Sepanjang perjalanan ke gedung jurusan, Calla menerima banyak tatapan kekaguman dari orang-orang. Memang awalnya itu membuatnya tak nyaman, tapi iya sudah bertekad untuk melakukannya.
Akhirnya ia sampai di ambang pintu kelasnya. Pagi ini pelajaran bu Mirna, sehingga teman-teman sekelasnya pasti sudah berada di kelas. "5 menit lagi kelas dimulai." Batinnya.
Kelas yang awalnya berisik langsung hening seketika begitu Calla melangkah masuk. "Eh itu Calla?!" Sahut salah satu mahasiswa laki-laki.
Seisi kelas tampak tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Askan tertegun. "Gila cantik banget."
"Tau dia secantik itu gue duduk di sebelah dia aja terus." Sahut mahasiswa laki-laki yang lain.
Calla berjalan ke arah meja Sikha. "Hai Sikha."
Sikha tampak kaget dan gugup, ia diam seribu bahasa sementara teman-temannya mulai berbisik di belakangnya.
"Soal Zayden," Calla mengeluarkan ponsel dari sakunya kemudian menunjukkan foto ia dan Zayden yang tengah dirawat di rumah sakit. Zayden tampak bahagia meski ada perban di rahangnya, bahkan sampai berpose di depan kamera. "Hubungan kita baik-baik aja gak kayak gosip yang ada."
***