Sore itu Wijaya pulang dengan perasaan paling bahagia dalam hidupnya.
Ia berjalan cepat menuju kos kecil yang ia sewa untuk Ayu. Di saku jaketnya ada kotak cincin. Cincin perak itu ia beli dari tabungan tiga bulan gajinya sebagai pekerja paruh waktu. Selama tiga bulan ia mengurangi jatah makan, mengangkut barang di pasar sebelum subuh, dan mengantar paket sampai tengah malam. Hari ini uangnya akhirnya cukup. Ia akan melamar Ayu.
Tujuh bulan lalu, di jalan sempit yang biasa ia lewati sepulang kerja, Wijaya menemukan seorang perempuan duduk bersandar di dinding. Perempuan itu kebingungan. Ia tidak tahu namanya selain “Ayu”, tidak tahu dari mana asalnya, dan tidak tahu ke mana harus pulang. Wijaya membawanya ke polisi, kantor kependudukan, dan dinas sosial. Tidak ada satu pun yang punya data tentang dia.
Wijaya tidak tega meninggalkannya. Ia takut perempuan secantik itu, yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri, akan dimanfaatkan orang jahat. Ia menyewa satu kamar kos kecil untuknya dan merawatnya sendiri.
Di minggu kedua, Ayu berubah. Ternyata ia periang, suka bercanda, dan keras kepala. Sejak itu Wijaya mulai jatuh cinta. Selama tujuh bulan, perasaan itu makin besar.
Sambil menaiki tangga kos, ia melatih kalimat lamarannya dan tersenyum sendiri. Lalu ia membuka pintu kamar.
“Yu, aku pulang. Aku bawa—”
Ia berhenti.
Kamar itu serba putih. Dinding putih, tirai putih, lantai putih bersih. Di tengahnya ada kursi besi putih bergaya vintage. Ayu duduk di kursi itu dengan gaun putih. Kepalanya tertunduk. Sebuah pisau menancap di dada kirinya. Darah sudah mengalir ke bagian depan gaun, ke pangkuan, lalu menetes ke lantai. Kulitnya pucat kebiruan. Matanya tertutup.
Wijaya berlari dan memegang wajahnya. Dingin. Ia menempelkan telinga ke dada Ayu, lalu memeriksa lehernya, mencari denyut. Tidak ada. Jantung Ayu sudah berhenti.
Kotak cincin jatuh dari tangannya. Cincin itu menggelinding dan berhenti di bawah kursi.
“Yu... Ayu... bangun...”
Tidak ada jawaban. Wijaya memeluk tubuh yang sudah dingin itu. Baju dan tangannya basah oleh darah. Ia menangis, berteriak, dan memanggil namanya berulang-ulang. Ia bertanya siapa yang melakukan ini, kenapa, dan kapan. Tidak ada yang menjawab. Perempuan yang ia jaga selama tujuh bulan, yang hari ini akan ia lamar, meninggal sebelum ia sempat mengucapkan satu kalimat pun.
Wijaya tidak tahu bahwa Ayu bunuh diri. Ia juga tidak tahu bahwa perempuan yang ia peluk itu sebenarnya adalah istrinya sendiri, dari dunia lain.
Di dunia asalnya, Ayu sudah menikah dengan Wijaya selama lima tahun. Mereka belum punya anak. Lama-lama Ayu merasa kesepian dan rumah tangga mereka terasa hambar. Ia kemudian selingkuh dengan Gunawan, teman masa kecilnya yang juga mantan pacarnya waktu SMA.
Wijaya mengetahui perselingkuhan itu. Ia tidak membentak dan tidak memukul. Ia memilih sabar. Katanya, “Aku nggak akan ke mana-mana, Yu. Tapi tolong jangan bikin aku merasa sendirian di rumahku sendiri.” Ia tetap menyiapkan sarapan, tetap menemani Ayu, dan memperlakukannya seperti dulu.
Sikap itu justru membuat Ayu hancur. Pelan-pelan ia sadar betapa tulus suaminya. Suatu malam ia menangis sejadi-jadinya, memeluk kaki Wijaya, mengakui perselingkuhannya, dan meminta maaf. Ia menyesal, memutus hubungan dengan Gunawan, dan berjanji tidak akan mengulanginya. Wijaya memaafkannya.
Hari itu mereka berbaikan. Sore harinya mereka naik mobil menuju rumah ibu Wijaya. Ayu bersandar di bahu suaminya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tenang.
Di perlintasan kereta, palang pintu sudah turun dan mobil mereka berhenti. Di depan mereka, seorang nenek yang sudah sangat sulit mendengar berjalan lurus ke arah rel. Dari kejauhan kereta mendekat. Orang-orang berteriak memanggil nenek itu. Ia tidak mendengar apa pun.
Wijaya melihatnya, membuka pintu mobil, dan berlari. Ia tidak berpikir dua kali. Ia mendorong nenek itu sekuat tenaga ke luar rel. Nenek itu jatuh di pinggir jalan, luka ringan, tetapi selamat.
Wijaya sendiri tidak sempat menyelamatkan diri. Keretanya terlalu cepat dan jaraknya terlalu dekat. Sebelum kereta menghantamnya, ia sempat menoleh ke arah mobil dan melihat Ayu. Ia tersenyum.
Kereta menabraknya. Tubuh Wijaya terlindas roda kereta dan ia meninggal di tempat, tepat di depan mata istrinya.
Ayu menjerit dan berlari ke arah rel. Orang-orang menahannya. Ia memanggil nama Wijaya berkali-kali sampai suaranya habis. Ia melihat tubuh suaminya yang hancur, dan pemandangan itu tidak akan pernah hilang dari ingatannya.
Lima tahun pernikahan, pengkhianatan yang sudah dimaafkan, dan hari ketika mereka akhirnya berbaikan. Semuanya berakhir dalam beberapa detik. Ayu merasa dirinyalah penyebab semua ini. Kalau saja ia tidak selingkuh. Kalau saja ia lebih menghargai suaminya sejak awal.
Ayu terduduk di tepi rel. Tubuhnya lemas dan tangisnya tidak berhenti. Ia teringat semuanya: kursi besi putih yang Wijaya belikan di pasar loak untuk ulang tahun pernikahan ketiga mereka, karena Ayu pernah bilang ingin punya kursi bagus untuk membaca. Catatan kecil yang Wijaya selipkan di kotak bekalnya, “Jangan lupa minum. Aku sayang kamu.” Tangan Wijaya yang selalu menenangkannya setiap kali ia bermimpi buruk.
Semua itu sudah tidak ada lagi. Ayu merasa kosong. Ia merasa tidak punya alasan untuk terus hidup.
Di tengah kekosongan itu, ia mendengar sebuah suara. Bukan suara laki-laki dan bukan suara perempuan.
“Maukah kamu memperbaikinya sekali lagi?”
“Maukah kamu diberi satu kesempatan lagi?”
“Maukah kamu menyelamatkan pria yang sangat kamu cintai?”
Ayu menjawab dengan suara putus asa. “Mau. Aku mau. Apa pun akan kulakukan. Tolong, kembalikan dia.”
“Kamu akan kembali ke hari pertama kalian bertemu,” kata suara itu. “Kamu hanya diberi satu kesempatan. Dan di tempat itu, tidak ada seorang pun yang mengenalmu.”
Semuanya menjadi gelap.
Ayu terbangun di sebuah gang sempit. Tubuhnya lemah dan punggungnya bersandar di dinding. Ia mengenali tempat itu. Ini jalan pintas yang selalu Wijaya lewati sepulang kerja. Di ujung gang ada warung kecil dengan kalender di dinding. Ayu membaca tanggalnya, dan ia sadar tanggal itu enam tahun lebih sebelum hari kereta itu.
Ia ingat cerita Wijaya. Di dunia asalnya, di gang inilah mereka pertama kali bertemu. Waktu itu Ayu duduk menangis karena tasnya dijambret, dan Wijaya, yang kebetulan lewat, berhenti dan menolongnya.
Hari ini adalah hari itu. Ayu kembali ke masa lalu, tepat di hari pertama ia bertemu laki-laki yang sangat ia cintai.
Suara yang sama berbisik lagi di dalam kepalanya. Di dunia ini, Ayu yang asli sudah meninggal kemarin karena penyakit parah. Ayu yang sekarang adalah dirinya dari dunia lain. Ia tidak tahu bagaimana ia bisa percaya, tetapi ia percaya. Ada ikatan di dalam hatinya yang tidak bisa dijelaskan. Ia tahu bisikan itu benar.
Itu sebabnya nanti polisi dan dinas kependudukan tidak akan menemukan data tentangnya. Wajahnya, sidik jarinya, semua yang ada pada dirinya berbeda dari Ayu yang pernah hidup di dunia ini, walaupun sebenarnya mereka adalah orang yang sama dari dua takdir yang berbeda.
Ayu memutuskan satu hal. Ia akan mengulang pertemuan itu, tetapi dengan cara yang sedikit berbeda. Di dunia asalnya ia menangis karena kehilangan tas. Kali ini ia akan berpura-pura linglung dan tidak ingat apa-apa. Dengan begitu Wijaya tidak akan tega meninggalkannya, dan mereka bisa dekat lagi.
Ia tahu jam berapa Wijaya biasa lewat. Ia tahu ransel biru pudarnya dan sepatu kets yang solnya sudah lepas. Ia menunggu. Ketika langkah itu terdengar dan berhenti di depannya, ia menahan napas.
“Mbak? Mbak nggak apa-apa?”
Suara itu hangat dan sedikit serak. Ayu hampir menangis mendengarnya. Ia menoleh pelan dan memasang wajah orang yang tidak tahu apa-apa.
“Saya... saya tidak ingat apa-apa,” katanya pelan. “Namaku Ayu. Cuma itu yang kuingat.”
Wijaya membawa Ayu ke kantor polisi, kantor kependudukan, dan dinas sosial. Semuanya mencari identitasnya, dan semuanya memberi jawaban yang sama: tidak ada data. Sidik jarinya tidak terdaftar dan wajahnya tidak cocok dengan data siapa pun.
Petugas dinas sosial menawarkan menitipkan Ayu di panti sementara. Wijaya menolak. “Dia cantik dan nggak bisa jaga diri sendiri,” katanya. “Aku takut dia dimanfaatkan orang.” Ia menyewa satu kamar kos kecil, memakai uang yang sebenarnya untuk cicilan motor, lalu merawat Ayu setiap hari. Ia membawakan makanan, selimut, dan baju ganti, dan tidak pernah meminta apa pun sebagai balasan.
Ayu terus berpura-pura murung, tetapi hanya sampai minggu kedua. Suatu malam Wijaya menjatuhkan semangkuk mi instan ke lantai dan buru-buru menyembunyikannya dengan wajah panik. Ayu tertawa untuk pertama kalinya. Wijaya terkejut, lalu ikut tertawa. Sejak itu Ayu menunjukkan sifat aslinya: ceria, cerewet, dan suka bercanda.
Mereka makin dekat. Ayu mengulang semua kenangan yang dulu mereka alami di dunia asalnya, karena ia hafal semuanya.
Mereka naik bianglala di pasar malam. Wijaya mengaku takut ketinggian, lalu memejamkan mata sampai ke puncak. Ayu menggenggam tangannya dan berkata, “Buka mata, Ja. Bagus banget.” Wijaya membuka satu mata, lalu tersenyum lebar.
Mereka makan sate usus di angkringan pinggir kali dan menertawakan hal-hal kecil sampai penjualnya ikut tersenyum. Mereka berteduh dari hujan di emperan toko buku loak, dan di sana Wijaya diam-diam membelikan Ayu sebuah novel bekas. Mereka berbaring di atap kos melihat bintang. Wijaya mengarang nama-nama rasi bintang, dan Ayu pura-pura percaya.
Mereka memelihara seekor kucing kampung berbulu abu-abu dan menamainya Gunung. Pada ulang tahun kecil yang Ayu rahasiakan, Wijaya membeli martabak dan menancapkan satu lilin di atasnya.
Setiap kenangan itu membuat Ayu bahagia dan juga sakit, karena ia tahu bagaimana semuanya akan berakhir kalau ia tidak berhasil mengubahnya.
Ada satu tempat yang selalu ia hindari: jalan dekat perlintasan kereta. Wijaya mengira ia takut suara sirene. “Nggak apa-apa,” katanya sambil memutar arah. “Kita lewat sini aja.”
Suatu Minggu, di pasar loak, Ayu melihat kursi besi putih bergaya vintage. Ia berdiri lama di depannya. Wijaya menyadarinya, menawar setengah jam, lalu membawanya pulang dengan motor. Malam itu Ayu minta kamarnya dicat putih. Ia duduk di kursi itu dan menangis diam-diam, sambil tetap tertawa di depan Wijaya.
Tujuh bulan. Ayu menghitung hari-harinya setiap malam.
Di bulan keempat, Ayu bekerja paruh waktu di sebuah warung kopi dekat kos. Pada suatu sore yang gerimis, seorang laki-laki datang dan memesan kopi hitam.
Ayu langsung mengenalinya. Gunawan. Teman masa kecilnya, mantan pacarnya waktu SMA, dan laki-laki yang di dunia asalnya menjadi selingkuhannya.
Di dunia ini Gunawan tidak mengenal Ayu, tetapi ia tetap tertarik padanya. Ia suka melihat Ayu yang cantik, ceria, dan tidak mudah menyerah. Ia datang lagi besoknya, dan besoknya lagi. Ia mengajak ngobrol, meminta nomor telepon, bahkan mengajaknya makan malam. Ayu menolak berkali-kali, tetapi Gunawan tidak berhenti.
Suatu malam, ketika Gunawan tertawa, Ayu merasakan kenyamanan yang dulu pernah membuatnya jatuh. Hanya sebentar, tetapi cukup untuk membuatnya takut.
Ia sadar. Walaupun ia sudah mengubah cara mereka bertemu, jalan ceritanya bisa saja tetap sama. Ia tetap dirinya sendiri, dengan kelemahan yang sama. Mungkin nanti ia akan selingkuh lagi, Wijaya akan sabar lagi, lalu mereka akan berbaikan lagi, dan di perlintasan kereta itu Wijaya akan meninggal dengan cara yang sama.
Malam itu Ayu tidak bisa tidur. Wijaya pulang dengan wajah senang dan berkata, “Yu, minggu depan aku punya kejutan buat kamu.” Ayu tersenyum, tetapi hatinya hancur.
Hari-hari berikutnya, pikirannya kacau. Kalau ia tetap hidup, Wijaya mungkin akan meninggal lagi. Kalau ia pergi, ia kehilangan satu-satunya kesempatan yang diberikan padanya. Ia terus bertanya pada dirinya sendiri: mau sampai kapan? Berapa kali lagi Wijaya harus mati karena dirinya?
Ia juga merasa tidak pantas ada di sini. Ayu yang asli di dunia ini sudah meninggal, dan seharusnya ia pun begitu. Ia mulai percaya bahwa satu-satunya cara menyelamatkan Wijaya adalah dengan menghilang dari hidupnya, selamanya.
Ia tidak bercerita kepada siapa pun. Ia tidak bertanya kepada Wijaya apa yang sebenarnya Wijaya inginkan. Ia memutuskan semuanya sendiri, sama seperti dulu ia menyembunyikan perselingkuhannya sendiri.
Sore itu langit cerah. Ayu memakai gaun putih yang ia beli diam-diam dengan gajinya. Awalnya gaun itu ia siapkan untuk hari ketika Wijaya melamarnya. Ia tahu hari itu akan datang. Ia tidak menyangka akan memakainya untuk hal yang berbeda.
Kamar itu masih berbau cat putih yang baru kering. Ayu duduk di kursi besi yang dulu Wijaya tawar di pasar loak. Dari luar terdengar anak-anak bermain dan seorang ibu memanggil anaknya pulang. Dunia berjalan seperti biasa.
Ia mengingat tujuh bulan itu sekali lagi: bianglala, sate usus, novel bekas, kucing bernama Gunung, tawa Wijaya setiap kali ia menjatuhkan sesuatu. Semuanya sudah lebih dari cukup untuk perempuan yang pernah menyia-nyiakan lima tahun pernikahannya.
Ayu mengambil pisau dari dapur kecilnya. Ia memegangnya dengan kedua tangan.
Saat itu ia teringat perlintasan kereta. Palang yang turun. Nenek itu. Wijaya yang berlari. Sebelah sandal di tengah rel. Bayangan itu muncul begitu jelas, dan itulah yang memantapkan keputusannya: bunuh diri demi menyelamatkan Wijaya.
Sampai detik terakhir, Ayu tidak bertanya pada Wijaya apakah ia mau hidup tanpa dirinya. Mungkin saja Wijaya lebih memilih bersama Ayu, apa pun yang terjadi, daripada hidup sendirian. Tapi Ayu tidak memberinya pilihan itu.
“Terima kasih,” bisiknya, entah kepada siapa. “Terima kasih untuk tujuh bulan ini. Untuk mi instan yang jatuh. Untuk bianglala. Untuk hujan di toko buku. Itu sudah indah sekali. Lebih indah dari yang pantas kudapatkan.”
Ia menusukkan pisau itu ke dadanya.
Sakitnya hanya sebentar. Pandangannya menjadi buram dan tubuhnya tersandar di kursi. Darah mulai membasahi gaun putihnya. Dengan napas terakhirnya, Ayu masih sempat tersenyum. Ia bersyukur diberi kesempatan kedua untuk mengulang masa-masa terindah bersama laki-laki yang ia cintai.
Di luar, terdengar langkah seseorang menaiki tangga kos sambil bersenandung.
Dan cerita mereka berakhir di sini.