Hujan turun sejak pagi, seakan langit ikut bersekongkol. Aku tiba di kafe tempat kami biasa bertemu lebih awal dari janji, memilih meja dekat jendela, lalu memangku tasku. Di dasarnya, sebuah kotak kecil berlapis beludru terasa seperti batu. Sudah tiga hari ia di sana. Aku belum punya keberanian untuk memberikannya, apalagi membuangnya.
Arya datang terlambat sepuluh menit. Wajahnya pucat, jaketnya terlalu longgar untuk badan yang dulu berisi. Ia memesan teh hangat tanpa gula, padahal dulu ia selalu mengejekku yang suka minum teh tawar. Kue cokelat yang kupesan, kesukaannya sejak kuliah, tak disentuhnya sama sekali.
"Aku nggak mau berputar-putar," katanya. "Kita sudahi saja, Sekar."
Aku tertawa. Pendek dan pahit. "Karena Laila?"
Alisnya bertaut. "Siapa?"
"Jangan pura-pura." Suaraku bergetar, tapi kutahan. "Aku tidak sengaja melihat ponselmu. Pesan dari perempuan bernama Laila: Besok jam delapan, ya. Jangan telat. Kamu tidak sendirian. Lalu tiket ke Singapura, reservasi hotel, dan kamu menghilang tiap Kamis. Kamu kurus, pucat, tak lagi menjawab teleponku. Kamu kira aku sebodoh itu?"
Sepekan sebelumnya, ponselnya bergetar di meja makan ketika ia sedang mandi. Aku hanya ingin mematikan nadanya, tetapi layar menyala sebelum sempat kusentuh, dan nama itu terbaca olehku. Sejak malam itu aku belajar tersenyum sambil menghitung kebohongan. Aku makin sering bertanya "kamu baik-baik saja?", dan ia makin lihai menjawab "aku cuma capek."
Ia menatapku lama. Ada sesuatu bergerak di wajahnya, sesuatu yang kala itu kukira rasa bersalah.
"Dan kamu?" tanyanya nyaris berbisik. "Kamu kira aku sebodoh itu? Aku sudah membaca pesan Bima, Sekar. Cincinnya sudah jadi. Ambil kapan saja ya, tapi jangan bilang Arya dulu."
Dadaku mencelos. "Itu..."
"Sudahlah." Ia mengangkat tangan. Lengan bajunya tersingkap, memperlihatkan lebam kebiruan yang kukira bekas ia tak becus menjaga dirinya sendiri. "Aku tidak akan menahanmu. Kalau kamu bahagia dengannya, aku..." Batuk memotong kalimatnya. Ia menutup mulut dengan sapu tangan, lalu menyembunyikannya cepat-cepat di saku.
Kukira ia gugup. Kukira ia hanya sedang bersikap kejam.
"Kamu yang berkhianat," bisikku, "tapi kamu yang menuduh?"
"Aku tidak akan membela diri."
Itu jawaban paling menyakitkan yang pernah kudengar, sebab terdengar seperti pengakuan.
Ia berdiri. Sebelum pergi, ia memelukku sekali, terlalu erat dan terlalu lama, seakan sedang menghafal sesuatu. Tangannya sempat menyentuh tasku di kursi, tetapi aku terlalu sibuk menahan tangis untuk peduli.
"Jaga dirimu, Sekar."
Punggungnya hilang di balik tirai hujan. Tak sekali pun ia menoleh. Dan aku, yang seharusnya mengejarnya, memilih tetap duduk. Kami terlalu angkuh untuk bertanya, terlalu hancur untuk percaya, dan terlalu pandai saling melukai.
Setelah itu, hari-hari berjalan tanpa warna. Nomornya tak aktif. Kontrakannya kosong. Teman-temannya menggeleng ketika kutanya. Kubilang pada diriku sendiri bahwa ia pergi bersama perempuan lain, sebab kebencian ternyata lebih ringan dipikul daripada rindu. Setiap malam aku mengulang kenangan kami: motor tua yang mogok di tengah gerimis, mi instan yang kami bagi berdua di kos sempitnya, janji kecil yang kami ucapkan sambil tertawa. Lalu kuhapus satu per satu, dan kenangan itu kembali lagi esok harinya.
*
Delapan bulan kemudian, aku menemani Ibu kontrol di rumah sakit. Aku sedang mengantre obat ketika seorang perempuan berjas putih berhenti di hadapanku.
"Sekar?" tanyanya ragu. "Maaf, kamu Sekar, kan? Saya Laila."
Seluruh tubuhku menegang. Delapan bulan kuberi wajah pada nama itu, dan kini ia berdiri di depanku: perempuan tiga puluhan dengan mata letih dan lencana bertuliskan dr. Laila Hapsari, Sp.PD-KHOM.
"Kamu masih berani..."
"Saya dokternya Arya," potongnya lembut.
Dengung pendingin ruangan, panggilan nama pasien, derit roda ranjang... semuanya mendadak menjauh.
"Dokter?"
"Hematologi-onkologi. Leukemia, sudah stadium lanjut ketika ia datang kepada saya. Ia meminta saya merahasiakannya dari siapa pun, terutama dari kamu. Pesan yang kamu lihat itu jadwal pengambilan sumsum tulangnya. Ia harus puasa sejak tengah malam. Tiket ke Singapura untuk pendapat kedua dokter lain. Kalimat kamu tidak sendirian itu dari saya, sebagai dokternya." Ia berhenti sejenak. "Hari ia menemuimu di kafe, ia baru dua jam keluar dari ruang kemoterapi. Saya sudah melarangnya pergi."
Lututku lemas.
"Ia bilang kamu sudah punya orang lain," lanjutnya pelan. "Ia ingin kamu mengingatnya sebagai lelaki yang pergi, bukan lelaki yang sekarat. Bulan Maret ia berpulang. Sampai akhir, ia masih menyebut namamu."
Aku tak ingat bagaimana aku bisa duduk. Mungkin aku tidak duduk. Mungkin aku jatuh. Tasku terlepas dari bahu, isinya berhamburan di lantai: dompet, kunci, sebuah kotak beludru yang sangat kukenal, dan sebuah kotak lain.
Kotak yang tidak pernah kubeli. Kotak yang tidak pernah kulihat. Terselip di sisi dalam tasku, di tempat tangan Arya menyentuh delapan bulan lalu.
Dengan jari yang tak lagi terasa milikku, kubuka. Sebuah cincin perak sederhana, dan secarik kertas terlipat:
Kubeli sebelum aku membaca pesan itu. Kalau aku salah, maaf. Kalau aku benar, buang saja. Setidaknya cincin ini pernah sampai di tanganmu. Aku sempat ingin menjelaskan semuanya, tetapi melihatmu berbinar menerima kabar dari Bima, kupikir kamu lebih pantas hidup tanpa harus merawat orang sakit. Kalau kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku.
Aku membuka kotakku sendiri, yang selama delapan bulan tak berani kubuka. Cincin pria dengan ukiran di sisi dalam: Sekar & Arya. Selamanya, kalau kamu mau. Bima, sahabatku sejak SMA yang kini menjadi perajin perak, hanya menyelesaikan pesananku. Dua hari setelah pertemuan itu, di hari ulang tahunnya, seharusnya aku berlutut melamar Arya.
Kini aku mengerti pelukan yang terlalu lama itu. Ia tidak sedang memutuskanku. Ia sedang berpamitan. Aku mengerti pula kenapa teh itu tanpa gula, kenapa kue cokelat itu tak disentuh, kenapa sapu tangan itu buru-buru disembunyikan. Semua petunjuk itu sudah ada di depan mataku, dan aku memilih menafsirkannya sebagai pengkhianatan.
Kami sama-sama menyiapkan cincin untuk saling memiliki, lalu sama-sama takut menanyakan satu kalimat sederhana: Kamu kenapa?
Dan kini, hanya satu dari kami yang masih bisa menjawabnya.