Disukai
0
Dilihat
2
Terlambat Mencintai
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Ditulis 14 Februari - 16 Februari 2026

"Eh, sudah sampai?"Rumi menatap jam tangannya. Kedatangan seorang sahabat ke desanya bisa dibilang cukup cepat dibanding perkiraannya.

"Sebentar ya. Tunggu di depan lapangan aja. Nanti aku kesana." Dengan sigap Rumi berbalik ke kantor untuk menemui Bila.

"Bu Bila. Kosong kan? gantiin ngajar kelas XC ya. Biologi!" Pinta Rumi setengah memaksa.

"Eh, emang mau kemana, Bu?" Bila berhenti dari makan kacang lalu menerima buku LKS yang diarahkan oleh Rumi padanya.

"Sohib lama mau datang ke rumah," jawab Rumi tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

"Laki-laki apa perempuan?" Bila mendekat ke arah Rumi, setengah berbisik. 

"Laki-laki, memangnya kenapa?" tanya Rumi usai menatap wajah mencurigakan dari temannya. 

"Emm ...., agak mencurigakan sih," ucap Bila nampak menahan kalimat selajutnya.

"Apaan sih! Udah pada nikah juga kita. Udah pada punya anak juga. Dia mau mampir karena ada acara di kota ini," celoteh Rumi sembari menggulir layar gawainya. Dia tersenyum, masakan gemblong dan wajik buatan Bu Ida sudah sampai di rumahnya. Itulah yang akan diberikan ke teman lamanya untuk oleh-oleh. 

"Iya deh. Maaf loh," Bila pamit cengengesan. 

Dan dalam perjalanan menuju parkiran, lintas memori lama hadir dalam kepalanya.

"Yakin? Mana ada sahabatan antara cewek dan cowok?" goda Mbak Mira, kakak tingkatnya saat Rumi kuliah dulu.

"Suwer deh, Mbak. Kita teman dekat doang," jawab Rumi yakin, agak masygul dengan dugaan Mbak Mira yang menurutnya kelewatan. 

"Percaya deh sama aku. Gak ada ya hubungan antar cewek sama cowok itu sekadar sahabat aja. Pasti ada deh benih cinta di antara kalian berdua," jelas Mbak Mira paten khas psikolog cinta.

"Mohon maaf nih, Mbak. Nih ya. Demi pencipta langit dan bumi ya. Aku gak ada rasa sama dia," tegas Rumi waktu itu dengan wajah meyakinkan.

"Berarti dia yang cinta sama kamu!" kekeh Mbak Mira.

"Bu. Mau ngeluarin motornya?" tanya satpam sekolah membuyarkan lamunan Rumi. 

"Iya, Pak." 

Pak Satpam yang sudah hapal motor Rumi segera mengambil alih untuk memindahkannya dari baris pertama dan memundurkannya ke baris kedua hingga bisa keluar.

"Makasih ya, Pak," Rumi tersenyum lalu mulai fokus naik ke motor menuju tempat teman lamanya berada.

Di depan lapangan samping jalan raya, sudah parkir 6 mobil dan beberapa motor. Maklum, kawasan strategis. Banyak penjual yang mangkal di situ. Setelah mencermati beberapa lama di seluruh arah mata angin, dia segera menelpon teman lamanya karena tak juga ditemukan batang hidungnya.

"Kamu dimana?" tanya Rumi gusar.

"Aku di mobil." 

"Mobil yang mana?"

"Mobil putih sebelah timur mobil abu-abu." jawab teman lamanya membuat Rumi cukup sebal. Ada 2 mobil putih dan lainnya abu-abu yang mana dua 2 mobil putih itu terapit oleh mobil abu-abu.

Dilanda rasa sebal luar biasa. Rumi memarkirkan motornya lalu menghampiri mobil putih satu demi satu.

Setelah dua mobil putih berujung zonk, dia terpekur dan sedikit ragu dengan merek mobil yang ada di depannya sekarang. Dia merasakan mesinnya masih cukup hangat. Apa ini mobilnya? desisnya pelan. 

Tak lama kemudian Rumi sudah berada di samping kaca depan yang setengah terbuka. Wajah yang tak asing menyapanya duluan. Wajah yang terakhir dia temui 15 tahun silam saat dia wisuda S1.

Rumi terpekur, tak menyangka begitu jauh nasib antara dia dan sahabatnya dulu. Kini teman lamanya mengendarai pajero putih dengan kisaran harga 500 juta lebih. Istrinya cantik putih memikat dan anaknya yang cantik mewarisi gen ibunya. Perlahan, rasa minder itu menyusup halus di dada Rumi. Menatap mobil yang seharga setengah M. Apa kabar jika teman lama, istri dan anaknya nanti mampir ke rumah kecilnya? rumah sederhana hanya berdinding batu bata dan lantai plester pasir.

"Rumi. Kebiasaan lama deh. Suka melamun kamu!" kekeh teman lamanya mencoba mencairkan suasana.

"Eh, maaf. Yuk!" ajak Rumi kikuk. Selama perjalanan menuju rumahnya, yang dia bayangkan adalah bagaimana respon teman lama, istri beserta anaknya usai sampai di rumahnya yang amat sederhana itu? 

Dulu, mereka sama-sama mahasiswa kere. Bahkan bisa dikatakan nasib Rumi lebih baik. Mereka sama-sama mendapatkan beasiswa S1 karena miskin, hanya saja Satrio sering kerja paruh waktu karena uang beasiswanya dia berikan ke adiknya di kampung.

"Sekarang, tak disangka tak diduga kemajuan usaha Satrio sangat pesat. Lima ratus juta baginya mudah saja untuk sebuah mobil. 

Tujuh menit kemudian sampailah Rumi di depan rumah kecil ukuran 5 x 7 meter berdindingkan batu bata dan lantai masih diplester dengan campuran pasir dan semen.

"Maaf. Seadanya. Silahkan masuk," ajak Rumi setengah malu. 

Rumi yang gugup sampai tak menyadari di gagang pintu sudah tercentel satu kantong plastik yang berisi gemblong dan wajik pesanannya. Satu kresek berisi makanan itu terjatuh di lantai, untungnya isinya tak berhamburan. 

Rumi membukakan pintu, beramah tamah dan menyilahkan ketiga orang itu masuk.

"Ini Shanum istriku, dan ini Natasya anak kami, Rumi!" Satrio memperkenalkan keluarganya usai mereka duduk bersama. 

"Terimakasih sudah mampir di gubuk kami, Mbak," jawab Rumi merasa minder. Ucapan gubuk bukanlah metafora. Rumah yang mereka singgahi sekarang memang lebih mirip gubuk di banding - barangkali istana yang mereka tinggali.

"Ngomong-ngomong, suamimu dimana, Rum?" 

Suaminya sedang di luar, bekerja sebagai tukang kayu. Namun bukan itu yang segera keluar dari mulut Rumi. Dulu Satrio sering memanggilnya dengan sebutan, Mi. Sebutan itu sering kali mendapat godaan dari teman-temannya sekelas. Rumi apa Umi, nih? Halalkan nih, yes? Meskipun demikian, Satrio tak juga mengganti panggilannya. Katanya dia sudah kadung nyaman dengan panggilan, Mi. Dan sekarang, saat kondisi mereka sudah berbeda, Satrio memanggilnya dengan panggilan, Rum?

"Suamimu dimana, Mbak?" 

Rumi berjingkat, sadar dengan lamunannya yang tak bisa dikontrol. 

"Sedang bekerja di luar, Mbak. Maaf, tadi gak fokus. Saya buatin teh hangat dulu, ya," tawar Rumi sopan dan lebih sering menunduk..

"Gak perlu, Rumi. Kami di sini sebentar. Barusan saya dihubungi agar segera sampai ke acara nikahan," ucap Satrio dengan nada bicara yang amat berbeda dari 15 tahun yang lalu. Jika dulu nada bicaranya cukup lembek seperti tak bertenaga. Sekarang suaranya mantap, berwibawa namun tetap ramah dan sopan.

"Kok sebentar sekali!" ucap Rumi berbasa-basi. Dalam hati kecilnya, dia ingin keadaan ini segera berlalu. Dalam dirinya sekarang hanya ada rasa malu, malu dan malu. 

"Maaf ya, Mbak. Padahal tadi dari rumah sudah pagi loh. Ternyata sampai sini malah mepet acara," jelas Shanum sopan dan merasa tak enak.

Rumi tersenyum, mengangguk mengerti sekaligus lega dalam satu waktu.

"Kita pamit ya. Makasih ya, Mbak. Lain kali semoga berjumpa lagi," pamit istrinya lembut, sopan dihiasi senyum manisnya yang menawan. 

"Da da ... Tante!" pamit si kecil yang energik dan ceria. 

"Pamit ya Rumi," ucap Satrio pelan dan sepersekian detik mata Rumi dan Satrio bertemu. Sebuah pandangan yang berbeda dari 15 tahun lalu, namun amat membekas dan menyimpan banyak misteri di dalamnya.

***

Malam yang sepi dan hanya tinggal bunyi jangkrik, kodok, dan sesekali cicak. Satrio merebahkan di atas kasur, di sampingnya istrinya sudah tertidur lelap. Pertemuannya dengan teman lamanya pagi tadi terus masuk dalam pikirannya, membuat dia tak bisa berhenti memikirkan Rumi. Dengan keuangannya sekarang, sangatlah mudah untuk memperbaiki rumah Rumi agar nampak layak. Memberikan makanan yang sehat dan bernutrisi agar dia tampak gemuk seperti dahulu kala, andai saja dulu dia memberanikan diri lebih cepat. 

Ah tidak! Kenapa harus membayangkan itu? 

Kebersamaannya dengan Rumi memang hanya 4 tahun. Tapi 4 tahun itu, acap kali menghantui pikirannya setiap ada bagian di dadanya yang merayap pelan-pelan. 

"Makasih ya udah bantuin sidang. Ini kue bolunya, maaf bisanya ngasih itu aja!" ucap Rumi ceplas-ceplos bin cengengesan. Memang seperti itulah dia. Orang-orang mungkin memandangnya agak kekanak-kanakan, tapi bagi Satrio dia itu lucu, polos dan ceria. 

"Ah. Masak bolu terus sih? bosen!" jawabnya waktu itu. 

"Lah, apa dong?" jawab Rumi manyun. Memang sudah kebiasan Rumi memberi bolu kepada orang yang sudah membantunya dalam berbagai hal, seperti membenarkan laptop, memperbaiki tugas-tugas kuliahnya. Dan yang paling sering mendapatkan bolu itu adalah dirinya.

"Boleh diganti gak?" 

"Apa dong?" Dahi Rumi mengernyit. Satrio masih ingat dahinya yang mengernyit dan ada perasaan takut. Barangkali Rumi takut jika Satrio meminta barang mahal.

"Seperangkat alat solat," jawab Satrio saat itu.Mantap dan tersenyum. 

"Eh ...," Ekspresi Rumi tak bisa bohong. Dia tampak kaget dan terbengong cukup lama. Barangkali masih mencerna ucapan Satrio. Di tengah kebengongan Rumi, teman Rumi bernama Dita sudah membombardir mereka dengan cie cie yang tak berujung. 

"Apa sih maksudnya?!" Rumi menggaruk kepala yang tak gatal. Dia mengedarkan matanya ke arah Satrio dan Dita secara bergantian.

"Ih, maksudnya si Satrio mau ngelamar kamu, Rumi!" jelas Dita kencang sampai pipi Satrio memerah.

"Ih, bercanda itu sih!" jawab Rumi dengan eskpresti tak percaya. 

"Udah. Yuk pulang!" menyadari beberapa laki-laki yang keluar dari kos-kosan karena keributan kecil, Rumi dan Dita mengucap pamit dan balik badan lalu mengendarai motor dengan kencang.

Dada Satrio yang menghangat berubah menjadi kecil hati. Rumi menganggap ucapannya hanya gurauan. Meski sebenarnya, dia juga yang salah. Tak bisa menempatkan ucapan serius itu pada situasi dan kondisi yang tepat. 

Selajutnya, yang ada hanya rasa minder, kecil hati. Rumi cukup encer otaknya dan beruntung punya pembimbing skripsi yang terkenal mempermudah urusan mahasiswanya. Sebentar lagi dia wisuda, sedangkan Satrio masih berjibaku dengan bab 4 yang sering revisi. Sungguh tak pantas dia mengucapkan itu lagi di depan Rumi. Mau dikemanakan nasib Rumi jika suatu saat mereka harus bersamanya?

***

"Satrio. Banku kempes. Tolong ya kesini. Bantuin dorong!" 

"Maaf ngerepotin!"

"Ini bolu buat kamu!"

"Satrio laptopku suka mati. Tolong dong benerin!"

"Maaf ya suka ngerepotin!"

"Nih bolu buat kamu!"

"Satrio. Maksudnya tugas di halaman 12 apa? Tadi aku ngantuk pas perkuliahan!"

"Maaf ya ngerepotin kamu!" 

"Ini ada bolu!"

Kalau boleh dibilang sebenarnya Satrio nampak ingin menolak pemberian Rumi. Mengingat wajah anak-anak kos nampak kepincut dengan aroma bolu yang merangsang penciuman, Satrio sering menerimanya. Dan Rumi, memang menganggap itu balas budi. Dan sebenarnya, harga bolu itu sangat murah dibanding dengan pertolongan Satrio yang selalu ada.

Rumi berbalik, menatap ke tubuh suaminya. Tubuh yang kekar, berotot karena bekerja kasar sebagai tukang kayu. Sungguh, dia tak masalah dengan pekerjaan suaminya. Hanya saja, dan entah bagaimana. Setelah 3 tahun menikah dengan suaminya hingga sekarang. Ada rasa sesal karena sikap suaminya yang lebih ke arah patriarki. Tak mau membantu dalam hal rumah tangga. Asal sudah berkerja, selesailah sudah. Padahal, dia pun juga bekerja.

Setiap malam, dia selalu menebah dadanya. Diam-diam menangis. Merasa terjebak di situasi yang sulit dan taruhannya seumur hidupnya. Bagi orang miskin sepertinya, cerai bukan hal yang praktis. Bukan menyelesaikan konflik. Kehadiran Satrio pagi tadi membuatnya semakin sesak. Membuatnya semakin sulit menatap masa depan. Karena dalam pikirannya sekarang hanya ada masa lalu dan pengandaian demi pengandaian.

****

Satrio masih mengingat dengan jelas gurat malu dan kesedihan di wajah Rumi pagi tadi. Ada rasa menyesal kenapa dia mengunjunginya dalam keadaan terbaik, meski sebenarnya ada tujuan ingin mengesankan teman lamanya juga, meski akhirnya diliputi rasa bersalah.

Rumi juga nampak malu dan rendah diri waktu menyerahkan oleh-oleh untuk keluarga Satrio. Satu nampan gemblong dan satu nampan wajik yang dia letakkan di kantong plastik, berbeda dengan bawaan yang diberikan istrinya untuk Rumi. Sebuah hampers yang cukup besar dan mewah. Nampak berbanding jauh saat kedua oleh-oleh itu bersanding.

"Sungguh, aku tak ingin melihatmu seperti itu, Rumi. Andai saja dulu aku punya keberanian lebih. Andai saja aku bisa kembali ke waktu dulu." Sebuah perasaan yang dulu sempat terkubur kini tumbuh kembali. Seperti sebuah benih yang tumbuh di luar pagar. Seperti umbi-umbian yang nampak kering waktu kemarau namun bertunas saat hujan.

Satrio menghela napas panjang. Dia berbalik, menatap wajah istrinya yang terlelap dan nyenyak.

"Maafkan aku, Sayang. Aku belum bisa mengendalikan hati ini. Maafkan aku." lirihnya lalu memeluk istrinya dengan erat.

"Maafkan aku. Maafkan aku!"

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi