Disukai
1
Dilihat
17
Sinyal dari Selat Sunda
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

 I. Pukul 02.17

Malam di Anyer punya cara sendiri untuk berbicara.

Bukan dengan kata-kata, bukan dengan suara yang bisa kamu tunjukkan ke orang lain dan bilang, dengar, ini ada sesuatu. Ia berbicara dengan cara yang jauh lebih halus dari itu. Dengan angin yang datang dari barat membawa aroma garam dan sesuatu yang lebih dalam dari garam, sesuatu yang tidak punya nama tapi selalu terasa seperti pengingat bahwa samudra jauh lebih tua dari seluruh peradaban yang pernah berdiri di tepinya. Dengan suara ombak yang terdengar berbeda di tiap jam malam, cara gelombang memukul tiang dermaga berbeda antara pukul sepuluh malam dan pukul dua pagi, berbeda lagi menjelang fajar.

Aku sudah bekerja di Stasiun Pemantau Oseanografi Selat Sunda selama tiga tahun. Cukup lama untuk terbiasa dengan kesepian jaga malam. Cukup lama untuk tidak lagi merasakan jantungku berdetak lebih cepat setiap kali sistem pendeteksi berbunyi karena lumba-lumba yang berenang terlalu dekat dengan sensor bawah laut, atau karena gempa kecil skala dua koma sesuatu yang sudah menjadi rutinitas di zona tektonik ini seperti batuk orang yang sedang pilek.

Aku mengenal stasiun ini seperti mengenal kamarku sendiri. Aku tahu bunyi kipas angin di sudut ruangan mulai berubah nada sekitar pukul satu pagi karena ada bagian dalam motornya yang sudah longgar tapi belum ada anggaran untuk diperbaiki. Aku tahu lampu di lorong sebelah kiri sering berkelip kalau generator utama baru dinyalakan. Aku tahu kursi ergonomis di meja pemantau utama punya pegangan kiri yang kalau didorong terlalu ke dalam akan berbunyi seperti engsel pintu tua.

Semua itu sudah menjadi bagian dari kebiasaan. Latar belakang. Hal-hal yang tidak lagi aku perhatikan karena sudah terlalu ada.

Tapi malam itu berbeda.

Aku baru saja selesai menyeduh kopi ketiga ketika layar di pojok kiri menyala dengan warna yang tidak ada dalam memori tiga tahun terakhirku. Bukan merah untuk peringatan gempa. Bukan kuning untuk anomali tekanan. Bukan oranye untuk pergerakan objek besar. Warna ini berbeda, semacam biru kehijauan yang hampir seperti warna laut di kedalaman yang belum pernah dicapai cahaya matahari, warna yang terasa lebih seperti sesuatu dari mimpi daripada sesuatu dari sistem peringatan yang dirancang oleh insinyur dengan manual setebal tiga ratus halaman.

Aku meletakkan gelas kopi dan duduk lebih dekat.

Pukul 02.17.

Koordinatnya jelas di layar. Titik yang terletak sekitar dua belas kilometer di selatan jalur kapal utama, di kedalaman yang sistem kami catat sebagai 1.847 meter. Bukan kedalaman yang luar biasa untuk Selat Sunda yang memang bisa turun sampai lebih dari seribu meter di beberapa titik. Tapi juga bukan lokasi yang pernah menunjukkan aktivitas apapun selama tiga tahun aku bertugas, bukan titik yang pernah masuk dalam laporan harian sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan.

Yang tidak biasa adalah polanya.

Sinyal itu datang dalam interval yang terlalu teratur untuk disebut kebisingan alam. Bukan seperti getaran tektonik yang selalu punya cara tersendiri untuk tidak bisa diprediksi. Bukan seperti sonar kapal militer yang frekuensinya sudah aku hapal karena beberapa kapal selam TNI AL sering berlatih di zona ini. Bukan bio-akustik lumba-lumba atau paus yang selalu punya variasi alami.

Sinyal ini berulang setiap empat detik. Amplitudonya selalu sama. Persis sama, sampai ke desimal keempat. Dan pola itu berlangsung selama tiga puluh detik penuh sebelum berhenti total.

Kemudian diam selama tiga menit.

Kemudian tiga puluh detik lagi.

Aku merekam semuanya. Tentu saja aku merekam.

Selama dua jam berikutnya aku tidak melakukan apapun selain duduk dan menonton. Protokol standar untuk anomali yang belum terklasifikasi mewajibkan pengamatan minimum dua jam sebelum laporan pertama dikirim ke kantor pusat di Jakarta. Aturan yang dulu terasa seperti birokrasi berlebihan tapi malam itu terasa seperti alasan yang cukup untuk tidak harus memutuskan apapun terlalu cepat.

Aku minum sisa kopi yang sudah dingin. Aku makan sepotong biskuit dari laci meja yang sudah seminggu ada di sana dan entah kenapa masih terasa seperti biskuit. Aku menonton layar biru kehijauan itu berdenyut seperti jantung sesuatu yang sangat besar dan sangat tenang, sesuatu yang tidak terburu-buru, sesuatu yang sudah sabar menunggu jauh sebelum aku lahir dan siap menunggu jauh setelah aku pergi.

Tepat pukul 04.47, tiga puluh detik setelah siklus terakhir, sinyal itu berhenti.

Layar kembali ke warna normalnya.

Aku duduk diam beberapa menit, menatap rekaman yang sudah tersimpan otomatis di server, lalu mulai mengetik laporan dengan tangan yang terasa lebih berat dari biasanya.


II. Pak Ridwan

Pak Ridwan tiba jam enam pagi seperti biasa.

Kopi dari warung Bu Asih di ujung jalan, garis kantuk yang menggantung di bawah matanya seperti tanda tangan permanen, sepatu kulit coklat yang selalu berderit di lantai keramik dekat pintu masuk. Aku sudah mengenal ritme kedatangannya lebih baik dari alarm di ponselku.

Dia kepala divisi kami sejak dua belas tahun lalu. Sejak stasiun ini masih menggunakan sebagian peralatan analog dan laporan mingguan masih dicetak dan dijilid. Orangnya pendiam dengan cara yang berbeda dari kesepian. Pendiam seperti orang yang sudah memikirkan terlalu banyak hal selama terlalu lama dan akhirnya memutuskan bahwa sebagian besar percakapan manusia tidak sebanding dengan energi yang dibutuhkan untuk menjalaninya. Bukan dingin, bukan tidak peduli. Hanya sangat selektif tentang kapan dia memilih untuk berbicara.

Tapi dia ahli dalam membaca data. Bukan hanya memahami angka-angkanya, tapi membaca apa yang ada di baliknya, apa yang ingin dikatakan oleh angka-angka itu kalau kamu mau duduk cukup lama untuk mendengarkan.

Aku menunggu sampai dia meletakkan tas dan duduk, meletakkan kopi di samping keyboard, membuka laptopnya dengan gerakan yang sudah jadi ritual, sebelum aku menyodorkan tablet dengan rekaman semalam.

Selama tiga menit pertama dia tidak berkata apapun.

Hanya menatap visualisasi sinyal itu. Wajahnya diam seperti permukaan danau pagi hari sebelum angin datang. Tangannya yang memegang kopi perlahan turun tanpa disadari, sampai tergantung longgar di ujung jarinya, sudut gelas hampir menyentuh meja.

Aku menahan napas menunggu kopinya jatuh.

Tidak jatuh.

"Kamu sudah kirim laporan ke pusat?" tanyanya akhirnya.

"Belum. Menunggu kamu dulu."

Dia tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak ke tablet, jempolnya menggeser tampilan grafik ke segmen tertentu, membesarkan bagian tengah, lalu kembali ke awal. Dia melakukan ini tiga kali dengan urutan yang persis sama, seperti sedang memastikan sesuatu yang sudah dia ketahui tapi perlu dikonfirmasi lagi.

"Jangan dulu," katanya.

Nada suaranya pelan. Bukan perintah, tapi juga bukan permintaan. Lebih seperti kesimpulan dari sebuah kalkulasi yang baru saja selesai dikerjakannya di dalam kepala.

Aku tidak bertanya kenapa. Ada sesuatu dalam cara dia berkata itu yang membuat pertanyaan terasa seperti sesuatu yang terlalu terburu-buru untuk saat ini.

Yang dia lakukan kemudian adalah mengambil laptopnya sendiri, membuka sebuah folder yang aku tidak pernah lihat sebelumnya di antara semua kali aku melewati mejanya, dan mulai mengetik dengan layar yang dia miringkan sehingga tidak bisa kulihat dari sudut dudukku. Ini berlangsung sekitar dua puluh menit. Tangannya bergerak seperti orang yang tahu persis apa yang sedang dicarinya.

Di luar jendela, Selat Sunda bercahaya keemasan diterpa matahari pagi yang baru naik. Cantik seperti poster pariwisata. Tenang seperti tidak menyimpan apapun di bawahnya.

"Pulang dan istirahat," kata Pak Ridwan tanpa mengangkat mata dari layarnya. "Kamu sudah jaga semalaman."

"Tapi sinyalnya..."

"Akan aku pantau."

Baru sekarang dia menatapku. Dan ada sesuatu di matanya yang aku tidak bisa segera namakan. Bukan ketakutan. Bukan juga ketenangan. Lebih seperti kehati-hatian yang sangat dalam, kehati-hatian dari seseorang yang pernah belajar bahwa tidak semua pintu perlu dibuka hanya karena ada di hadapanmu dan kuncinya ada di tanganmu.

"Istirahat yang baik, Dian. Kamu masuk lagi malam ini."

Aku mengangguk dan mengambil tas.

Di parkiran, aku duduk di motor selama hampir sepuluh menit sebelum menyalakannya. Matahari sudah cukup tinggi untuk menghangatkan punggungku. Dari sini aku bisa melihat teluk, bisa melihat permukaan laut yang berkilau tenang di bawah langit pagi yang bersih, bisa melihat kapal nelayan kecil yang sudah keluar sejak subuh mulai kembali ke arah dermaga.

Aku berpikir tentang sesuatu yang 1.847 meter di bawah permukaan yang tampak tenang itu.

Lalu aku menyalakan motor dan pulang.


III. Dua Minggu

Sinyal itu datang lagi malam berikutnya.

Dan malam berikutnya.

Dan terus datang selama dua minggu, tepat pukul 02.17, selama tiga puluh detik, dengan pola yang sama persis seperti malam pertama. Seperti seseorang yang sangat sabar mengetuk pintu pada jam yang sama setiap malam, tidak pernah lebih keras, tidak pernah lebih pelan, tidak pernah berhenti mengetuk tapi juga tidak pernah memaksa masuk.

Aku mulai menghafal ritmenya tanpa sengaja.

Empat detik, denyut. Empat detik, denyut. Tiga puluh detik, lalu tiga menit diam, lalu mulai lagi. Seperti lagu yang diputar terlalu sering sampai kamu tidak lagi benar-benar mendengarnya tapi juga tidak bisa berhenti menghapalnya. Suatu malam aku mendapati diri mengetuk meja dengan jari mengikuti ritme empat detik itu tanpa sadar, dan baru berhenti ketika menyadari apa yang sedang kulakukan.

Pak Ridwan tidak pernah menjelaskan lebih jauh tentang instruksinya untuk tidak melapor ke pusat. Aku tidak pernah bertanya. Ada semacam kesepakatan diam di antara kami, kesepakatan yang tidak perlu diucapkan tapi terasa jelas seperti sebuah garis yang berdiri di tengah-tengah kantor kami.

Tapi aku mulai melakukan penelitian sendiri. Diam-diam, di laptop pribadiku di rumah, yang tidak terhubung ke jaringan stasiun dan tidak punya riwayat yang bisa diperiksa siapapun.

Frekuensi sinyalnya tidak cocok dengan teknologi sonar manapun yang bisa kutemukan dalam literatur teknis yang terbuka untuk publik. Bukan sonar militer dengan frekuensi yang sudah terdokumentasi dalam jurnal-jurnal pertahanan. Bukan sonar penelitian dari lembaga oseanografi manapun yang pernah beroperasi di Selat Sunda. Bukan peralatan eksplorasi minyak yang kadang beroperasi di zona barat selat ini.

Polanya juga tidak cocok dengan apapun yang pernah terdokumentasi dalam literatur bio-akustik. Bukan nyanyian paus yang selalu punya variasi frekuensi yang khas. Bukan komunikasi lumba-lumba. Bukan suara hidrothermal vent yang punya tekstur yang sangat berbeda.

Tidak cocok dengan apapun yang sudah punya nama.

Pada hari ke delapan, aku mulai memperhatikan sesuatu yang tidak ada dalam rekaman awal karena aku tidak tahu harus mencarinya di mana. Pola di dalam pola. Variasi sangat kecil dalam amplitudo yang hampir tidak terdeteksi jika kamu hanya melihat gambaran kasarnya, tapi ada di sana jika kamu memperlambat rekaman sampai sepersepuluh kecepatan normal dan memperhatikan detik per detik.

Seperti sebuah teks yang ditulis dengan tinta yang hampir tidak kelihatan di atas kertas yang sudah penuh dengan tulisan lain.

Seperti bahasa yang aku belum tahu cara membacanya, tapi mulai yakin bahwa ada seseorang yang sedang mencoba menulis sesuatu di sana.

Malam ke tiga belas, Pak Ridwan datang lebih awal dari biasanya. Pukul delapan malam, dengan baju yang seperti baju yang sama dengan yang dipakainya tadi pagi, dengan kopi yang kali ini dia bawa sendiri dari rumah dalam termos biru tua yang sudah lama menemaninya. Dia duduk di mejanya sendiri, membuka laptopnya, dan tidak menjelaskan kenapa dia ada di sini.

Kami hampir tidak berbicara selama hampir enam jam.

Lalu pukul 02.17, sinyal itu datang.

Dan sesuatu yang berbeda terjadi.


IV. Tiga Puluh Tujuh

Aku berdiri begitu melihat timer di sudut layar terus berjalan melewati angka tiga puluh.

Tiga puluh satu.

Tiga puluh dua.

Tiga puluh tiga.

Pak Ridwan juga sudah berdiri di sebelahku, entah sejak kapan dia bergerak dari mejanya, aku tidak mendengar langkah kakinya.

Sinyal itu berhenti di detik ke tiga puluh tujuh. Tujuh detik lebih panjang dari yang sudah menjadi polanya selama dua minggu terakhir. Tujuh detik yang terasa lebih lama dari semua malam jaga yang sudah kulewati di stasiun ini.

Kami berdua tidak bergerak, tidak berbicara, sampai layar kembali ke mode diam.

"Tujuh," kataku akhirnya.

Pak Ridwan mengangguk pelan.

Tapi itu bukan yang paling penting dari malam itu.

Yang membuat perutku seperti jatuh adalah ini: pada detik ke tiga puluh satu sampai tiga puluh tujuh itu, di antara desis frekuensi yang sudah aku hapal seperti melodi lama, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang aku tidak bisa deskripsikan dengan tepat menggunakan terminologi teknis manapun yang aku punya, karena terminologi teknis dibuat untuk menggambarkan hal-hal yang sudah pernah ditemui sebelumnya, dan ini belum pernah.

Sesuatu yang terdengar seperti sebuah respons.

Bukan respons terhadap sinyal yang dikirim sistem kami, karena sistem kami tidak mengirim sinyal apapun. Respons terhadap kehadiran kami. Terhadap fakta bahwa ada sesuatu di permukaan yang sudah mendengarkan selama dua minggu.

Atau mungkin aku hanya terlalu lama terjaga dan mulai melihat pola dalam kebetulan.

Mungkin.


V. Proyek Halimun

Pak Ridwan mengambil tablet dari mejaku, menyalin rekaman malam itu ke perangkat pribadinya, lalu meletakkan tablet kembali tanpa berkata apapun.

"Pak." Aku memulai kalimat yang sudah dua minggu menunggu untuk diucapkan.

"Istirahat." Nada suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang terasa seperti pintu yang ditutup dengan sangat hati-hati.

Aku duduk, tapi tidak bisa tidak mengatakan hal yang sudah berminggu-minggu aku tahan. "Bapak pernah lihat ini sebelumnya."

Bukan pertanyaan.

Pak Ridwan diam lama. Di luar jendela, laut gelap dan diam, permukaan yang tampak tidak bergerak meski aku tahu di bawahnya ada arus yang tidak pernah berhenti, ada kehidupan dalam kegelapan total, ada hal-hal yang bergerak tanpa pernah membutuhkan cahaya untuk mengetahui ke mana mereka pergi.

"Pernah baca tentang Proyek Halimun?" tanyanya akhirnya.

Aku menggeleng.

"Tidak akan kamu temukan di database publik mana pun." Dia menutup laptopnya dengan pelan. "Dua puluh tahun lalu, sebelum aku di sini. Tim peneliti gabungan, beberapa dari ITB, beberapa dari lembaga internasional yang namanya tidak pernah disebut dalam laporan yang bisa diakses siapapun. Mereka mendeteksi anomali serupa. Koordinat berbeda, sekitar tiga puluh kilometer dari titik kita sekarang, kedalaman yang kira-kira sama."

"Lalu apa yang terjadi?"

"Proyeknya dihentikan." Dia berdiri, mengambil jaket dari sandaran kursi. "Resminya karena anggaran. Pemotongan dana penelitian, cerita lama yang selalu terdengar masuk akal karena memang sering terjadi. Tapi orang-orang yang ada di sana waktu itu, beberapa masih hidup dan masih bisa ditemui, tidak pernah menjelaskan lebih dari apa yang tertulis dalam laporan resminya."

"Bapak kenal mereka?"

Sedetik jeda.

"Salah satunya guruku waktu kuliah."

Dia berjalan ke arah pintu. Berhenti dengan tangan di gagang pintu, punggung masih menghadapku.

"Dian." Nada suaranya berubah jadi sesuatu yang lebih pelan, sesuatu yang terasa lebih seperti orang tua berbicara kepada anaknya daripada atasan kepada bawahannya. "Kamu ingat kenapa kamu ambil pekerjaan ini?"

Aku berpikir sejenak. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena jarang ada yang bertanya. "Karena saya suka laut."

"Ya." Dia mendorong pintu. Angin malam masuk sebentar, membawa aroma garam yang sudah menjadi bagian dari udara yang aku hirup setiap hari sampai aku tidak lagi menyadarinya. "Ingat itu."

Pintu tertutup.

Dan aku sendirian lagi dengan layar-layar yang berkedip dan suara kipas angin yang berubah nada setelah tengah malam dan rekaman tiga puluh tujuh detik yang masih terbuka di komputer, menunggu untuk diputar ulang.


VI. Yang Tersembunyi di Dalam Sinyal

Aku tidak pulang malam itu.

Aku duduk dengan headphone di telinga dan software analisis suara yang aku unduh beberapa hari lalu di laptop pribadiku yang aku bawa masuk tanpa memberitahu siapapun. Aku memperlambat rekaman sampai sepersepuluh kecepatan normal. Aku memfilter frekuensi rendah. Aku memfilter frekuensi tinggi. Aku membalik spektrum dan melihatnya dari sudut yang berbeda. Semua cara yang aku tahu untuk membuat sesuatu yang tidak masuk akal menjadi terlihat lebih jelas.

Sekitar pukul lima pagi, aku menemukannya.

Tersembunyi di dalam sinyal pada detik ke tiga puluh satu sampai tiga puluh tujuh itu, ada pola yang berbeda dari ritme dasarnya. Bukan keacakan. Bukan derau yang muncul dari keterbatasan sensor. Bukan interferensi dari sinyal lain yang lewat di frekuensi yang berdekatan.

Struktur.

Pola yang punya hierarki, pola yang lebih kecil di dalam pola yang lebih besar, pengulangan yang terjadi dalam interval yang bisa dihitung. Seperti sebuah kalimat yang ditulis dalam aksara yang tidak aku kenal, tapi sudah cukup lama aku belajar bahasa untuk bisa mengenali bahwa sesuatu yang ada di hadapanku adalah aksara, bukan coretan sembarangan.

Aku mencetak visualisasinya dan menatap lembaran kertas itu lama sekali.

Matahari sudah mulai menyentuh cakrawala ketika telepon di mejaku berbunyi. Nomor Pak Ridwan.

"Sudah tidur?" tanyanya.

"Belum."

Hening sebentar.

"Kamu menemukan sesuatu." Bukan pertanyaan.

"Bagaimana Bapak tahu?"

"Karena itulah yang aku temukan dua puluh tahun lalu. Bukan aku, guruku. Dan bukan di rekaman sinyal itu sendiri, tapi di tujuh detik tambahannya." Suaranya pelan, pelan dengan cara yang aneh, seperti orang yang sudah mempersiapkan diri untuk mengatakan sesuatu yang terlalu lama disimpan sendirian. "Itulah yang membuat tim dihentikan. Bukan anggaran."

"Lalu kenapa berhenti?"

Hening yang lebih lama.

"Karena mereka tidak tahu apakah pertanyaan selanjutnya adalah sesuatu yang benar-benar ingin mereka jawab."

Aku menatap layar pemantau. Pukul 05.41. Hampir delapan jam sebelum pukul 02.17 berikutnya.

"Dan Bapak?" tanyaku. "Bapak ingin menjawabnya?"

Telepon itu hening cukup lama sehingga aku hampir mengira sambungannya terputus, hampir mau bicara lagi, ketika suaranya muncul kembali.

"Itulah kenapa aku masih ada di sini dua puluh tahun kemudian, Dian."


VII.

Di luar jendela stasiun, fajar mulai menyentuh permukaan laut dengan warna yang tidak pernah persis sama dari satu hari ke hari berikutnya.

Aku duduk dengan lembaran visualisasi itu di tangan. Di layar, rekaman masih terbuka. Di meja, segelas kopi sudah lama dingin. Di bawah sana, 1.847 meter di bawah permukaan yang bercahaya keemasan itu, ada sesuatu yang sudah mengirim sinyal pada frekuensi yang sama selama setidaknya dua puluh tahun, dan mungkin jauh lebih lama dari itu, mungkin sejak sebelum ada stasiun pemantau di sini, mungkin sejak sebelum ada siapapun di tepi selat ini yang punya peralatan untuk mendengar.

Sesuatu yang semalam memutuskan untuk menambahkan tujuh detik.

Tujuh detik yang punya struktur. Tujuh detik yang punya hierarki. Tujuh detik yang terasa, dengan semua keterbatasan kata-kata yang aku punya untuk mendeskripsikannya, seperti sebuah kalimat pertama dalam bahasa yang belum ada kamusnya di dunia ini.

Aku meletakkan kertas itu di meja. Membuka file baru di laptop.

Mulai mengetik.

Bukan laporan ke pusat. Bukan dokumentasi teknis untuk arsip stasiun. Bukan email ke Pak Ridwan yang sudah tahu lebih banyak dari yang dia ceritakan dan yang aku yakini akan mengetahui sendiri bahwa aku sedang melakukan ini.

Sebuah respons.

Aku tidak tahu apakah teknologi yang kami miliki di stasiun ini cukup untuk mengirimkan sesuatu ke kedalaman 1.847 meter di titik koordinat yang sudah aku hapal di luar kepala. Aku tidak tahu apakah ada sesuatu di bawah sana yang akan mengerti, atau yang sedang menunggu, atau yang bahkan peduli dengan apa yang coba aku katakan. Aku tidak tahu bahasa apa yang harus aku gunakan untuk memulai sesuatu seperti ini, tidak ada panduan untuk situasi seperti ini, tidak ada protokol yang diajarkan dalam pelatihan tiga tahun lalu.

Tapi aku ingat kenapa aku mengambil pekerjaan ini.

Karena aku suka laut.

Dan laut, lebih dari apapun yang pernah mengajariku sesuatu, mengajariku satu hal dengan sangat jelas: bahwa ada perbedaan besar antara tidak tahu dan tidak mau tahu. Bahwa air selalu mencari jalannya sendiri. Bahwa kedalaman tidak pernah takut untuk gelap.

Di ujung koridor, aku mendengar pintu terbuka.

Langkah kaki Pak Ridwan di lantai keramik. Suara tas diletakkan di meja. Lalu langkah yang lebih pelan, mendekati mejaku, berhenti di belakangku.

Aku tidak berbalik. Tapi aku merasakan kehadirannya di sana, berdiri membaca layar laptopku dari atas bahuku.

Dia tidak berkata apapun.

Aku juga tidak.

Kami hanya berdua menatap layar, di stasiun pemantau kecil di tepi Selat Sunda yang pagi itu bercahaya seperti tidak menyimpan apapun, menunggu malam ke lima belas.

Dan apapun yang akan datang setelahnya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi