Tiar terduduk di sudut ruangan yang tinggal separuh. Seluruh tubuhnya nampak bergetar. Dia ingin menangis–tentu saja. Tapi ia terlampau takut. Semua yang terjadi di hadapannya terjadi begitu cepat. Terlalu tiba-tiba.
Semua yang telah terjadi itu...
‘Nak, pergilah ke tempat Simbah. Berlindung di sana. Monster-monster itu tak akan bisa mendekatimu. Ibu akan baik—’
Tiar segera menggeleng kuat, memotong, ‘Tiar tidak mau pergi jika Ibu tidak ikut.’
‘Ibu akan—’
‘Ibu sedang tidak baik-baik saja!’ Tiar setengah berteriak, kembali memotong. Lihatlah, ibunya hanya bisa duduk meluruskan kaki di atas ranjangnya. Kaki kirinya lumpuh. Bulan lalu terserempet mobil. Tidak bisa digerakkan lagi. Bagaimana bisa ibunya bilang itu baik-baik saja?
Mereka saling tatap sejenak. Hanya mereka berdua yang ada di ruangan itu. Bahkan mungkin hanya tinggal mereka berdua yang ada di gedung apartemen bertingkat lima tempat tinggal mereka. Orang-orang telah mengevakuasi diri sejak sebuah pola raksasa yang tiba-tiba muncul di atas langit kota kecil mereka delapan menit lalu. Lari sejauh-jauhnya. Pola aneh itu.. pasti pertanda buruk, bukan?
Dan benarlah, beberapa waktu setelah pola itu muncul, monster-monster raksasa dengan taring dan kuku tajam serta hal-hal mengerikan lainnya keluar dari sana. Meraung marah. Lantas dengan tangan raksasa, mereka menghancurkan segalanya. Seolah semua itu adalah pelampiasan atas terkekangnya mereka selama berabad-abad. Penuh penderitaan—
‘Mutiara..’
Tiar terdiam. Menunduk. Nama depan yang dipanggil penuh kelembutan, baginya selalu menjadi pelukan yang menenangkan di hatinya. Membuatnya tunduk mendengarkan.
‘Kemarilah, peluk Ibu, Sayang.’ Tangan ibunya terentang. Tersenyum lembut kepadanya.
Tiar mengangguk. Menurut. Hatinya terbuai oleh aura kasih sayang ibunya. Segera beranjak ke ranjang. Memeluk ibunya. Memejamkan mata. Sungguh, rasanya ia ingin menangis dalam pelukan itu—
‘Dengarkan Ibu, Mutiara,' Ibu berbisik ke telinganya. ‘Setelah ini, pergilah ke rumah Simbah,' Tiar hendak protes, tapi ia sudah setuju akan mendengarkan dahulu. ‘Ibu tahu, Mutiara masih kecil. Tapi karena itulah, Mutiara masih harus melihat dunia. Lagipula di samping itu, kepribadianmu telah melebihi umurmu, Nak. Mutiara akan bisa menjaga diri sendiri. Ibu hanya berpesan satu hal. Jangan.. jangan pernah Mutiara menjadi seperti Ibu, walau itu hanya sebutir debu.’
Kali ini, Tiar benar-benar hendak protes. Ia sudah tak tahan lagi. Sejak tadi ibunya bicara seolah akan meninggalkannya selama-lamanya. Tiar tidak suka. Tapi sebelum protesnya keluar, ia lebih dulu terkejut. Seketika itu ibunya telah mendorong tubuhnya kuat-kuat. Membuat dirinya terhuyung ke belakang. Dan persis saat itu terjadi, sekejap, tanpa bisa dikendalikan, tangan raksasa dengan kuku-kuku tajam itu telah merobek setengah ruangan tempat mereka berada. Buas menerkam apa saja yang dapat diraihnya—termasuk ibunya.
Tiar terduduk. Ia hanya terpisah tiga puluh senti saat tangan itu muncul di ruangan. Tapi itu sudah cukup untuk membuatnya selamat.
Beberapa detik. Raungan mengerikan itu seketika memenuhi gendang telinganya. Membuatnya gemetar tak bisa bergerak. Monster itu masih di sana. Wajah buasnya amat terlihat dari atap yang roboh. Amat mengerikan melihatnya. Monster itu—
Bola mata monster itu bergerak ke arahnya. Jantung Tiar berdetak lebih kencang. Refleks menyeret tubuhnya ke belakang. Menabrak tembok. Dua detik. Monster itu bergerak ke arahnya. Tangan raksasanya terjulur, siap meremukkannya. Tiar mulai menutup matanya. Biarlah.. biarlah ia menyusul ibunya.
Dua detik. Lima. Sepuluh. Lima belas..
Tiar mengerutkan keningnya. Kenapa monster itu belum juga meraih tubuhnya? Tiar tentu saja tak mau merasakan sensasi itu. Tapi bukankah begitu pertanyaan paling logis di sittuasi seperti ini?
Tiar perlahan membuka matanya. Monster itu sudah tidak ada. Lenyap.
Apakah ia bermimpi? Tentu saja tidak. Karena sensasi yang ia rasakan begitu nyata. Lagi pula, ruangan yang ia tempati tetap sama—roboh separuh.
Apakah ‘penari segel’ itu telah datang? Membuat pola? Tiar menggeleng dalam benak. Tidak mungkin. Semua itu hanya dongeng yang diceritakan ibunya dulu. Tapi tunggu. Bukankah monster itu juga hanya ada di dalam dongeng itu? Apakah—
Terdengar raungan monster itu dari kejauhan. Kemudian disusul suara tembakan meriam—kota mereka kecil, cukup beberapa menit untuk mengevakuasi warga.
Tiar menatap kosong ke depan.
*
Ribuan tahun silam, hiduplah seorang ilmuwan terkemuka. Awalnya, dia hanyalah seorang peracik obat yang menguasai ilmu biologi. Hanya membangun apotek kecil di rumahnya. Namun, setiap kali ada orang sakit datang ke rumahnya, orang sakit itu akan sembuh setelah meminum obat yang diberikan olehnya dalam porsi tertentu. Maka dari sanalah, rumah itu mulai memiliki pelanggan.
Pelanggan-pelanggan itu, tentu akan bepergian ke banyak tempat, bukan? Maka setiap kali mereka pergi, nama peracik obat itu terbawa. Melesat didengar oleh orang-orang luar. Menyebar ke seantero negeri.
Maka semenjak itu, Sang Peracik Obat mulai memiliki brand-nya sendiri dan tumbuh menjadi perusahaan besar pada zamannya. Dia punya laboratorium sendiri, karyawan-karyawan yang bekerja padanya sekaligus mesin produksi obat yang canggih. Dia mulai melakukan penelitian dan percobaan ilmiah di laboratoriumnya, sambil tetap ikut meracik obat, melakukan modifikasi. Membuatnya mendapat banyak penghargaan. Namanya semakin masyhur di seluruh dunia. Sangat membanggakan.
Tapi malangnya, peracik itu.. dia memiliki ambisi besar. Tumbuh ketika ia mendalami ilmu biologi. Sebuah ambisi yang memalukan untuk diingat sejarah. Menciptakan hewan yang melebihi hewan itu sendiri. Rangkaiannya itu seperti robot, tapi fisiknya terdiri dari gabungan sel-sel genetik dari berbagai hewan. Dan itu artinya, ilmuwan itu menantang Tuhan. Melampaui batas. Bayangkan apa respons Tuhan. Sangat mengerikan. Membuat sulut api itu membesar. Mendidihkan amarah-Nya, hingga menggetarkan singgasana-Nya. Sebuah kecelakaan terjadi.
Di suatu malam di daerah laboratorium, terjadilah gempa bumi itu. Memang hanya beberapa detik. Tapi itu cukup untuk membuat botol cairan obat penumbuh badan yang baru setengah jadi tumpah ke dalam tabung tempat objek eksperimen itu. Cairan itu.. bagi manusia yang memiliki pertumbuhan tubuh yang lambat mungkin hanya sedikit pengaruhnya. Tapi bagi hewan yang memiliki pertumbuhan berkali lipat lebih cepat dari manusia, pengaruhnya akan besar. Belum lagi yang ada di dalam tabung itu bukanlah hewan biasa.
Maka sekejap, pecahlah tabung itu. Monster itu terlahir. Belum lagi dengan penggabungan milyaran sel yang belum menyatu sempurna. Maka monster itu membelah. Tidak hanya dua, tapi lima. Langsung meraung ganas. Menghancurkan segalanya. Memakan apa saja yang bisa masuk ke tubuh mereka. Hingga habislah laboratorium itu. Semua hancur. Orang-orang berteriak histeris. Monster itu seperti zombie. Melahap apa saja. Membuat orang-orang yang dapat melarikan diri tak seberapa—dan salah satunya ialah peracik itu.
Saat itu, ia segera mengebut menuju rumahnya di kota sebelah. Sampai langsung menutup seluruh pintu, jendela juga gorden. Istrinya yang datang hendak menyambut kembali mengernyit. Ada apa dengan suaminya?
Si Peracik itu berpindah ke ruang kerja. Istrinya mengikuti. Ia langsung mengobrak-abrik berkas-berkas di atas meja. Tangannya terlihat bergetar. Mulutnya terus komat-kamit berkata, “Harus kuperbaiki! Harus kuperbaiki!”
Istrinya tambah mengernyit, bertanya, “Apa yang diperbaiki, Abang?”
Si Peracik tidak menjawab. Tetap komat-kamit mengatakan hal yang sama.
Istrinya mulai mendekat. Memegang tangannya. Memanggil lembut. Membuat peracik itu terhenti sesaat. Istrinya kembali bertanya, “Apa yang terjadi?”
Peracik itu menggeleng sambil bergetar seraya berkata, “Semuanya.. semuanya telah terjadi, Celina. Semua yang kautakutkan. Semua ini adalah salahku... salahku..”
Istrinya menggeleng. Menarik tangan Si Peracik ke kursi. Lantas minta izin ambil minum—yang kemudian diberikan kepada Si Peracik. Istrinya akan menunggu–dia memang istri yang sabar–baru bertanya setelah suaminya terlihat tenang.
Si Peracik menunduk. Mulai menceritakan kejadian di laboratoriumnya. Bilang bahwa itu salahnya. Bilang ia akan memperbaikinya.
Istrinya mengerti. Dia tentu kaget mendengarnya. Tapi ia lebih memilih membesarkan hati suaminya, mengangguk.
Maka setelah Si Peracik menemukan berkas-berkas yang diperlunya, dia membuka sebuah keramik. Ada tangga menuju ruang bawah tanah di sana. Menuruninya bersama istrinya.
Hingga sebulan berlalu. Di samping monster-monster yang semakin membesar dan merajalela. Ditambah polisi-polisi yang terus mencarinya. Si Peracik telah menyelesaikan senjata itu. Dia segera memanggil istrinya, melaporkan.
“Tunggu apa lagi? Gunakan senjata itu, Suamiku.” Kilah istrinya.
Si Peracik menatap lamat istrinya, menggeleng. “Aku tak bisa melakukannya sendirian, Celina. Tubuhku akan hancur dulu sebelum aku menggunakannya—“
“Kalau begitu gunakan saja padaku, Bang! Apalagi?” Istrinya segera memotong.
Si Peracik mengangguk. Dia memang menginginkan istrinya-lah yang menggunakan senjata itu. Segera menjelaskan fungsi senjata itu. Bahwa dia menciptakan senjata itu bukan untuk melenyapkan, tapi mengurung. Tubuh monster itu sulit dihancurkan, bahkan dengan bom nuklir sekalipun.
Senjata itu sendiri ada sepasang. Yang pertama ada kalung mutiara, tempat untuk mengurung monster itu. Mutiara itu bukan mutiara biasa. Ada hal-hal mistis yang dikandungnya. Dia sendiri telah menelitinya, begitu kata Si Peracik.
Yang kedua, ada sebuah cairan di dalam suntikan. Buatan Si Peracik. Digunakan sebagai magnet untuk menarik monster-monster itu ke dalam mutiara yang kecil tadi. Akan disuntikkan ke tubuh istrinya. Disatukan dengan gen tubuhnya yang begitu kebal dan kuat. Sebuah penyatuan yang sempurna. Hanya saja..
Si Peracik menunduk. “Kau akan bersama monster itu seumur hidupmu, Celina—kalung itu harus selalu melekat di tubuhmu. Aku—“
“Kalau soal itu, aku akan baik-baik saja, Abang. Lagipula, bukankah monster itu berada dalam kurungan?” Istrinya tersenyum, menghibur. Dia memang tidak masalah sama sekali. Karena dia begitu mencintai suaminya. Demi suaminya, dia akan melakukan apa saja yang dia bisa.
Si Peracik kembali menatap istrinya. “Terima kasih, Celina. Terima kasih untuk segalanya. Aku sungguh minta maaf tak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Kuharap setelah kau menyelesaikan penyegelan itu, kau tak akan kembali. Kau bisa pergi, Celina. Menikah dengan seseorang yang lebih baik. Mewariskan kekuatan itu pada anakmu nanti...”
Istrinya cepat memegangi tangan suaminya, menggeleng. Ia tidak suka suaminya mengatakan hal seperti itu, seolah kesetiaannya selama ini diragukan. Apalagi ia sebenarnya tengah mengandung anak mereka sejak sebelum kabar itu datang, dan memang masih dirahasiakannya. Tetapi ia tidak mengungkapkan isi hatinya, masih menunggu waktu yang tepat, dan justru berkata, “Itu bisa diurus nanti-nanti, Abang. Bukankah kita sudah tak punya waktu lagi?”
Maka waktu pun melesat. Celina telah sampai di perbatasan kota, satu kilometer lebih dari tempat monster yang tingginya sudah nyaris sembilan puluh meter itu mengamuk.
Celina mengambil ancang-ancang. Dulunya ia adalah seorang penari profesional. Baginya, pola yang harus dibuatnya dalam tarian tidaklah sulit.
Maka menarilah ia. Tarian yang sebenarnya begitu memukau. Membentuk pola yang kemudian menyeret monster itu ke dalam mutiaranya. Terkunci. Celina tersenyum. Semuanya telah usai. Dia akan kembali hidup bahagia bersama suaminya, juga dengan anak yang tengah dikandungnya.
Tapi sayangnya, ketika Celina baru saja menyelesaikan penyegelan itu, Si Peracik itu telah rebah. Pergi selama-lamanya.
Kurang lebih, begitulah dongeng yang diceritakan ibunya dua tahun lalu, saat Tiar masih berumur sebelas.
*
Berjam-jam setelahnya.
Ibu...
Tiar mulai meneteskan air mata. Ibu bilang, saat monster itu terlepas dari kurungannya, Pemilik Kekuatan itu akan datang kembali untuk mengurungnya. Lalu di mana Pemilik Kekuatan itu, Bu? Kenapa dia tidak datang untuk menyelamatkan Ibu... kenapa?
Tiar kembali tergugu. Kedua tangannya memeluk lutunya. Wajahnya membenam di sana. Sedang di luar sana, empat monster itu berteriak marah. Meriam yang terus ditembakkan itu hanya seperti serangga bagi mereka.
*
Mata Tiar tak berkedip menatap sebuah kotak kayu berukir di kolong meja berlaci. Sekarang ia telah berada di rumah simbahnya—lebih tepatnya adik nenek dari ayahnya. Tiga jam lalu, setelah berjam-jam menangis, ia akhirnya memutuskan pergi. Menuruti perkataan ibunya. Lagipula, ia hanya perlu ke selatan. Sedangkan monster itu ada di utara. Perjalanannya tidak akan sulit.
Kembali ke ruangan tempat Tiar berada.
Kotak itu hanya kecil. Kayunya terlihat tua tapi kokoh. Namun bukan kotak itulah yang membuat Tiar terpikat. Bukan pula ukirannya. Bukan. Tapi sesuatu—entahlah. Membuat perasaannya campur aduk. Seperti ada magnet yang menariknya untuk meraih sesuatu itu..
Tiar telah jongkok. Tangannya bergetar mencoba meraihnya. Berhasil. Segera membukanya. Tak ada gembok di sana—karena ia adalah kunci dari kotak itu sendiri.
Mata Tiar seketika berkilat. Menampakkan pantulan bayangan ‘Suling Jawa’ dari bambu emas yang ditatapnya. Sungguh mempesona. Senyumnya kembali merekah.
Tangannya kembali meraih. Suling itulah sesuatu itu. Sesuatu.. yang membuat dirinya jatuh hati.
Tiar berdiri, memejamkan mata. Lantas dengan penuh hayat ia mulai meniup suling itu. Jemarinya terlihat tangkas membuat nada. Hingga sekejap, irama nyanyiannya memenuhi seisi rumah. Membuat suasana terlihat sendu. Bahkan langit pun seketika nampak mendung. Tak berani menampakkan Sang Surya. Instrumental menyedihkan itu telah terlantun.
Tiar mulai mengakhiri permainannya sesaat seketika Simbah telah berada di ambang pintu. Terlihat menelan ludah. “Di mana kamu temukan suling itu?” Suara Simbah heran.
Tiar tersadar. Perasaannya kembali. Kakinya segera memutar tubuhnya, sambil ia juga berkata, “Di dalam kotak berukir ini, Mbah.”
Dahi simbah yang telah berkerut semakin berkerut. “Lho, ning¹ kata Ibu(k)mu kotak itu isinya kalung mutiara, yang nanti membuat kamu menjadi penari.”
Sekarang giliran kening Tiar yang berkerut. “Ibu? Kalung mutiara? Apa maksud Simbah? Ini milik Ibu?”
Simbah mengusap wajah. Menggeleng. Dia teringat pesan Alya–Ibu Tiar–dulu. Rahasiakan semuanya, De. Jangan sampai Tiar menemukan kotak itu. Apalagi mengenakan kalung mutiara di dalamnya. Tapi... mengembuskan napas. Lihatlah, anak perempuan itu telah menemukannya sendiri. Lagipula, isinya juga bukan kalung mutiara itu.
“Kamu mau mendengar sesuatu, Nak? Tentang kotak itu, sama ibumu.”
Tiar mendongak. Mengernyit. Tentu saja dia mau. Ia ingin tahu lebih banyak tentang ibunya, terlebih dengan pesan terakhir ibunya yang aneh. Simbah segera berjalan ke sudut ruangan. Di sana ada kursi. Duduk. Tiar segera mengekor.
“Kamu pernah mendengar cerita tentang penari segel?” Simbah memulai dengan pertanyaan. Tiar mengangguk sebagai jawaban.
“Kamu tahu kalau itu nyata?” Tiar kembali mengangguk. Dia bisa menyimpulkan sendiri saat melihat monster itu. Tapi kemudian ia menggeleng.
“Monster itu nyata. Tapi apa memang penari itu juga nyata, Mbah?”
“Ya.”
Tiar menatap simbahnya. “Lalu ke mana dia saat monster itu mengambil Ibu, Mbah?” Tiar menunduk. Suaranya mulai serak. Matanya terlihat berkaca-kaca.
“Karena penari itu ada di sini.”
Mukanya kembali mendongak mendengarnya. “Ada orang lain di sini, Mbah?” Tanyanya.
“Penari itu adalah kamu.” Simbah berkata tanpa basa-basi. Membuat Tiar tersentak.
“Kotak itu,” Simbah menunjuk kotak berukir di pangkuan Tiar. “Diberikan pewaris sebelumnya kepada ibumu, saat umurmu dua tahun.”
Tiar terdiam. Dia masih mencerna. Informasi yang diberikan simbahnya terlalu cepat untuk masuk ke otaknya.
“Anak tahu? Saat itu, pewaris itu tiba-tiba datang ke rumah lamamu. Mengaku berasal dari negeri jauh. Lantas dari sanalah dia mulai menceritakan sejarah itu. Sejarah.. yang kemudian diakhirinya dengan meminta izin untuk mengambilmu. Dia ingin melatihmu langsung, Nak. Ning ibu(k)mu lebih dulu menolak. Berkali-kali pewaris itu meyakinkannya, ibu(k)mu lebih keras lagi menolak. Maka pewaris itu menyerah. Memberikan kotak berukir itu. Awalnya ibumu juga ingin menolak. Tapi pewaris itu bilang, ‘hanya sebuah kotak’.” Singkat cerita Simbah.
“Dan terakhir Tiar,” Simbah masih melanjutkan. “Kenapa ibumu begitu keras untuk menolak? Apa alasannya? Ada dua katanya. Yang pertama, karena tinggal kamulah keluarga satu-satunya yang dia punya. Kamu mungkin pernah bertanya kepada ibumu tentang ayahmu. Juga saudaramu. Apakah kamu hanya anak tunggal mereka? Sekarang biar Simbah yang menjawab. Kamu punya seorang kakak. Perempuan. Umurnya empat tahun saat kamu lahir. Lalu ke mana mereka sekarang? Mereka telah meninggal, Nak. Karena apa? Saat umurmu setahun dulu, saat kalian berniat jalan-jalan keluar pulau, kamu mungkin ndak pernah tahu, seekor monster itu pernah terlepas. Tepat turun di depan mobil yang kalian tumpangi. Ayah dan kakakmu menjadi salah satu korban amukannya. Lalu kenapa kamu dan ibu(k)mu bisa selamat? Karena kamu mewarisi kekuatan itu, Nak. Monster itu ndak bisa menyentuhmu. Bahkan tangannya menjadi debu saat berusaha meraih ibumu yang tanpa sengaja terkena dampak kekuatanmu, karena tengah menggendongmu.
“Kemudian untuk alasan kedua, ibu(k)mu membenci penari. Kenapa? Dulu saat dia kecil, katanya, kakak perempuannya dengan paras begitu cantik dipaksa orang tuanya mengikuti kursus balet. Dalam hal itu, orang tuanya sering kali merasa tidak puas. Selalu saja keras melatihnya. Membuat kaki kakaknya mulai melepuh dan jalannya sering berjinjit-jinjit. Ibumu sering menangis melihatnya. Padahal kakaknya itu begitu menyayanginya. Ning dia ndak bisa apa-apa. Dan yang paling miris dari itu, kakaknya meninggal gara-gara kecelakaan pesawat saat perjalanan ke luar negeri untuk perlombaan. Saat itu orang tuanya juga ikut. Meninggal juga bareng kakaknya.”
Simbah terdiam sebentar.
“Mungkin di matamu, ibumu adalah perempuan terhebat yang pernah kamu temui. Ning ge² ibu(k)mu, dia hanyalah seseorang yang berlinang penyesalan. Kakaknya, suami, dan anaknya. Dia selalu memiliki rasa sesal pada orang-orang yang dicintainya. Dan mungkin karena itulah, kemarin di apartemen kalian dia mendorongmu. Menjauhkanmu darinya, agar monster itu bisa mengambilnya. Dia sengaja, karena dia tahu kamu akan baik-baik saja. Dia sengaja.. karena dia juga tahu kalau dia tetap hidup, dia akan terus menghambatmu. Dan penyesalannya akan semakin bertumpuk.”
Sebutir air jatuh dari ujung mata Tiar. Memang tidak ada bumbu-bumbu kata dari cerita simbahnya, tapi cerita masa lalu dan rahasia ibunya itu tetap saja menyayat hatinya. Tangannya cepat-cepat menghapus bekasnya. Menunduk. Umurnya lebih dari cukup untuk mengerti semuanya. Semuanya...
Bola mata Tiar bergerak-gerak, kembali bercahaya. Bibirnya samar ikut merekah. Dia telah mengerti. Dia telah paham semuanya. Menyimpulkan berdasarkan asumsi dan bisikan kecil di suatu waktu yang selalu ia abaikan, tetapi muncul begitu saja ketika mendengar Sang Pewaris dari simbahnya.
Tangannya terlihat terkepal. Jika Si Peracik itu tak kuasa menaklukkan monster itu, maka biar dialah yang akan menghabisinya. Pewaris sebelumnya itu.. dia sebenarnya tahu kalau dirinya bukanlah pewaris penuh kekuatan itu. Dia lebih dari tahu tentang diri Tiar. Dia hanya mencoba menyudutkan ibunya agar menerima kotak itu. Suling itu.. adalah kunci dari segalanya. Sebuah suling yang telah terikat dengan darahnya. Tersegel rapat melalui sebutir air matanya.
Kode genetik uniknya telah aktif. Keunikannya melebihi milik Celina. Di adalah mahakarya terhebat dari hasil persilangan beribu kali oleh para leluhurnya. Dan suling itu telah melengkapi kekuatannya. Sebuah suling mistis dari bambu kuno yang pernah ada.
*
Satu tahun kemudian.
Tiar melangkah mantap melewati bangkai bangunan yang mulai dipenuhi tanaman liar. Mata keemasannya menatap begitu tajam. Rambut coklat panjangnya terikat indah dihiasi pita emas. Pakaiannya kebaya dengan selendang yang disimpul sedemikian rupa rumitnya menutupi hingga mata kakinya. Tidak ada benda lain sebagai aksesorisnya selain semua itu dan suling yang tersangkut rapi di pinggangnya. Sederhana, namun penuh pesona dalam keserasian parasnya yang bertambah ayu.
Di depannya, empat monster itu terlihat saling pukul. Meraung. Sedang satu monster yang lain—yang pernah bertemu dengannya dua kali—terlihat lebih lesu dari empat temannya yang lain. Sejak terakhir kali mereka terlepas dari mutiara itu, kota kecilnya telah menjadi sarang tempat tinggal sekaligus tempat pulang setelah mereka mengamuk di tempat lain. Entah kenapa mereka memilih kota kecilnya. Yang pasti, mereka telah salah memilih sarang–
Tiar telah menaiki tangga di gedung tertinggi dua puluh lantai kota itu. Kakinya tanpa henti terus menaiki dua ratus anak tangga yang bagusnya masih utuh. Tanpa lelah. Karena dia memang sudah terbiasa sejak kecil.
Dia tiba di atap. Seketika angin sepoi menyambut kedatangannya. Melangkah tiga-empat langkah lagi.
Tiar mengambil suling emasnya. Memejamkan mata. Dia akan memulai permainannya. Monster-monster itu.. mereka harus memahami arti ‘malapetaka’.
Nada pertama. Sedang. Untuk pemanasan. Sebuah tornado raksasa terbentuk. Melingkari monster-monster yang seketika itu terkejut. Langit di atasnya mulai mendung seiring irama yang dibuat suling Tiar. Kemudian disusul oleh petir dengan kekuatan berpuluh kali lipat dari petir biasa yang terus menyalak ke arah mereka. Mengincar. Menyengat tipis kulit mereka. Membuat mereka meraung marah.
Tetapi Tiar belum selesai. Irama instrumen sulingnya semakin tinggi. Seluruh perasaannya meluap dari sana. Dia telah menjatuhkan suhu tornadonya. Membekukan monster-monster itu. Membuat mereka seketika terdiam.
Irama nadanya masih tetap tinggi. Dan seketika, hujan lahar jatuh dari langit di atas monster itu. Menguapkan es tornado. Lantas mengenai tubuh mereka. Terjadilah perubahan suhu yang drastis. Mereka mulai meraung kesakitan.
Itulah malapetaka bagi monster itu. Hari itu, Tiar akan menghabisi semuanya. Kesalahan milik leluhurnya itu, tidak pantas jika hukumannya diterima orang lain. Maka nada suling Tiar mulai berputar. Lebih membahana. Membuat kelima monster itu perlahan menjadi debu, terbang memasuki lubang sulingnya. Tersegel mati di sana.
Tiar telah menyelesaikan tugasnya. Monster itu sekarang telah lenyap. Tiar kembali meletakkan sulingnya di pinggang. Kemudian dia berlari, melompati pembatas. Mendarat dengan ringan seolah antara atap gedung dua puluh lantai dengan tanah hanya sebatas kursi dan lantai. Lantas ia kembali berlari. Ke arah barat. Tempat gedung apartemen itu berada.
Tiar menatap bangunan yang tak berbentuk lagi itu. Menghentikan langkahnya. Kembali meraih sulingnya. Memainkannya. Dia akan memanggil roh ibunya.
“Mutiara...”
Terdengar suara lembut itu. Suara yang amat dirindukannya. Tiar menghentikan permainannya. Membuka mata.
“Ibu..” ia menjawab seruan ibunya. Wajahnya berurai sejuta rindu. Matanya mulai berkaca-kaca. “Lama tak berjumpa, Ibu. Apa kabar?” Tiar bertanya.
Ibunya nampak tertunduk. “Maafkan Ibu, Sayang..”
Tiar segera menggeleng. “Tidak ada kata maaf untuk hari ini, Bu.”
Maka terjadilah percakapan itu. Percakapan yang begitu singkat antara mereka. Tapi itu sudah cukup untuk Tiar. Membuatnya tersenyum simpul.
Sekali lagi Tiar kembali meraih sulingnya. Hatinya lega. Dia telah melepas ibunya dengan senyum hangat. Semuanya akan kembali ke sedia kala. Hari-harinya akan menjadi lebih baik. Ditemani oleh simbahnya, juga wajah ibunya yang akan selalu diingatnya di hati.
Semuanya akan kembali...
Tiar telah kembali berjalan. Sulingnya mulai terangkat. Dunia harus melupakan monster itu..
Lir Ilir....
Dia mulai bermain. Menyanyikan sebuah tembang dalam irama nada lain yang diciptakannya.
Lir Ilir.. Lir Ilir..
Tandure wis sumilir
Tanaman-tanaman liar di sana mulai menghilang. Digantikan dengan tumbuhnya pohon-pohon rindang di sepanjang pinggir jalanan. Bangunan-bangunan kembali kepada keadaan semula. Jalanan ditata sedemikian rapi. Langit kembali berangsur cerah.
Dodoti ra.. Dodoti ra.. Kumitir bedhah ing pinggir
Memori tentang monster itu mulai dicabutnya dari dunia. Melayang dan menguap di udara. Langkah kaki Tiar tetap teguh menuju ke selatan. Semuanya akan kembali baik-baik saja.
Lir Ilir....
catatan:
ning¹= tapi
ge²= bagi, untuk