Disukai
0
Dilihat
20
Sebuah Roti Rasa Kurma
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Di sebuah kota kecil di Jawa, ketika harga beras naik, harga minyak naik, harga cabai naik, dan harga kebutuhan hidup lainnya naik dengan penuh percaya diri, ada satu benda yang tetap berani naik tanpa merasa bersalah.

Namanya roti.

Bukan sembarang roti.

Roti rasa kurma.

Secara geografis, roti itu berasal dari Eropa. Kurmanya berasal dari Arab. Namun entah melalui jalur perdagangan, takdir Tuhan, atau kesalahan distribusi, keduanya akhirnya bertemu di sebuah toko swalayan di tanah Jawa.

Di sanalah masalah dimulai.

Sebab Jawa bukan sekadar tempat.

Jawa adalah lingkungan sosial yang memiliki aturan.

Ada tata krama. Ada unggah-ungguh. Ada sopan santun. Ada aturan duduk, aturan bicara, aturan menerima tamu, bahkan ada aturan kapan seseorang sebaiknya mengatakan “nggih” meskipun dalam hati sebenarnya ingin mengatakan “ora”.

Aturan itu ketat.

Ketatnya seperti lejing emak-emak yang baru pulang dari Pasar Wage setelah menemukan harga cabai naik dua ribu rupiah.

Namun di tengah masyarakat yang demikian, seorang lelaki bernama Darmo justru melakukan sesuatu yang menurut sebagian tetangganya jauh lebih berbahaya daripada berbicara kepada orang tua tanpa krama.

Ia membeli roti.

“Roti rasa kurma,” kata Darmo bangga sambil membawa plastik kecil.

Tetangganya menatapnya.

“Roti?”

“Iya.”

“Kurma?”

“Iya.”

“Piye? Ekonomimu aman?”

Darmo terdiam.

Pertanyaan itu lebih tajam daripada pisau dapur.

Sebab semua orang tahu keadaan ekonomi Darmo.

Gajinya pas-pasan. Motornya batuk-batuk. Iuran kampung belum lunas. Gas tiga kilogram sudah seperti barang mewah. Bahkan ketika istrinya berkata, “Besok masak apa?”, Darmo kadang pura-pura tidur.

Tetapi hari itu ia membeli roti.

Satu bungkus.

Rasa kurma.

Ia kemudian duduk di teras rumah, membuka bungkusnya perlahan, lalu menggigitnya.

“Hmm.”

Ia mengunyah.

“Enak.”

Setidaknya begitulah yang ia katakan.

Padahal rasanya biasa saja.

Agak manis.

Sedikit kenyal.

Dan seharga satu porsi nasi pecel dengan lauk telur.

Namun Darmo tetap memakannya dengan tenang.

Sebab ada sebuah keyakinan yang diam-diam tumbuh di masyarakat modern:

orang miskin boleh lapar, tetapi tidak boleh terlihat miskin.

Dan kalau sudah begitu, roti rasa kurma adalah pilihan yang sangat tepat.

Terutama kalau bungkusnya masih terlihat mahal.

Sebuah Roti Rasa Kurma

Darmo sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi orang kaya.

Cita-citanya sederhana.

Punya rumah yang tidak bocor ketika hujan, punya motor yang kalau distarter tidak perlu diajak bicara secara emosional, dan suatu hari bisa makan ayam tanpa harus memastikan tulangnya masih bisa dimanfaatkan untuk kuah.

Namun kehidupan mempunyai cara sendiri untuk mengajarkan manusia tentang realita.

Terutama realita harga.

Harga beras naik.

Harga telur naik.

Harga minyak naik.

Harga rokok naik.

Yang tidak naik hanya gaji Darmo.

Gajinya tetap.

Diam.

Setia.

Seperti teman lama yang tidak pernah memberi sesuatu, tetapi juga tidak pernah benar-benar pergi.

Maka ketika istrinya, Lastri, melihat Darmo pulang membawa sebuah bungkus roti, ia langsung curiga.

“Beli apa?”

“Roti.”

“Berapa?”

Darmo terdiam.

Dalam rumah tangga, pertanyaan “berapa?” jauh lebih menakutkan daripada “dari mana?”

“Ya... lumayan.”

“Lumayan itu berapa?”

“Pokoknya masih di bawah seratus ribu.”

Lastri menatap suaminya.

“ROTI?”

“Iya.”

“ROTI?”

“Iya.”

“Yang dimakan pakai mulut itu?”

Darmo mengangguk.

Lastri mengambil bungkusnya, lalu membaca tulisan di bagian depan.

Ia membalik kemasan.

Membaca komposisi.

Membaca tanggal kedaluwarsa.

Membaca informasi gizi.

Kemudian membaca harganya.

Lastri diam cukup lama.

“Mas.”

“Iya?”

“Ini roti apa tanah kavling?”

Darmo tidak menjawab.

Ia sadar dirinya telah melakukan kesalahan.

Bukan karena membeli roti.

Tetapi karena membeli roti ketika istrinya baru pulang dari pasar.

Dalam kondisi seperti itu, seseorang seharusnya membeli kebutuhan pokok.

Atau minimal sesuatu yang bisa ditawar.

Roti tidak.

Roti tidak bisa ditawar.

Roti sudah punya harga.

Dan harga itu merasa dirinya benar.

“Katanya roti makanan orang kaya,” kata Lastri.

“Sekarang orang miskin juga bisa makan roti.”

“Terus orang kaya makan apa?”

Darmo berpikir.

“Pasta?”

Lastri mengangguk pelan.

“Ya. Itu masuk akal.”

Pembagian kelas ekonomi di kampung mereka memang semakin tidak jelas.

Dahulu orang mengira orang kaya makan nasi dengan lauk mahal.

Sekarang zaman sudah berubah.

Orang kaya makan roti.

Orang menengah makan ayam geprek.

Orang miskin makan pasta.

Bukan karena pasta lebih murah.

Tetapi karena pasta dianggap keren.

Mi instan sudah terlalu merakyat.

Nasi terlalu biasa.

Pasta adalah cara seseorang mengatakan kepada dunia bahwa keadaan ekonominya sedang sulit, tetapi dirinya masih punya Wi-Fi.

Darmo sendiri tidak tahu mengapa roti dianggap makanan orang kaya.

Bukankah bahan dasarnya tepung?

Bukankah tepung juga digunakan untuk gorengan?

Bukankah gorengan juga dimakan orang miskin?

Namun manusia memang mempunyai bakat luar biasa dalam menciptakan kasta dari sesuatu yang sebenarnya sama.

Tepung digoreng menjadi bakwan: makanan rakyat.

Tepung dipanggang, dimasukkan ke plastik dengan bahasa asing: makanan premium.

Begitulah peradaban berkembang.

Darmo membawa roti itu ke ruang tamu.

Anaknya, Jihan, langsung mendekat.

“Bapak beli apa?”

“Roti.”

“Rasa apa?”

“Kurma.”

Jihan mengernyit.

“Kurma itu yang warnanya cokelat?”

“Iya.”

“Kenapa kurma masuk roti?”

Darmo mengangkat bahu.

“Kerja sama internasional.”

Jihan tertawa.

Lastri tidak.

Ia masih memikirkan harga roti.

Di luar rumah, tetangga mulai berdatangan.

Namanya Pak Sastro, Bu Yuni, dan Pak Kelik.

Mereka sebenarnya tidak punya kepentingan dengan roti tersebut.

Tetapi masyarakat Jawa mempunyai satu kekuatan besar yang tidak dimiliki masyarakat lain.

Kemampuan mengetahui urusan orang lain tanpa pernah diminta.

Pak Sastro duduk.

Matanya tertuju pada bungkus roti.

“Apa itu?”

“Roti rasa kurma,” jawab Darmo.

Pak Sastro mengangguk.

Wajahnya berubah serius.

“Kurma Arab?”

“Iya.”

“Rotinya Eropa?”

“Kayaknya.”

Pak Sastro mengelus dagu.

“Berarti ini makanan lintas benua.”

“Bisa jadi.”

Pak Sastro mengangguk lagi.

“Pantes mahal.”

Darmo menatapnya.

“Lho, kok tahu?”

“Kalau sudah lintas benua, mana mungkin murah?”

Logika tersebut sebenarnya tidak memiliki dasar ekonomi yang jelas.

Namun di kampung, pendapat yang disampaikan dengan wajah serius sering kali dianggap sebagai pengetahuan.

Bu Yuni ikut memperhatikan.

“Enak?”

“Belum tahu.”

“Kenapa belum dimakan?”

“Ya masih ngobrol.”

“Kalau begitu saya coba sedikit.”

Darmo langsung memegang bungkusnya.

“Sedikit itu seberapa?”

Bu Yuni tersinggung.

“Saya kan cuma mencicipi.”

“Cicipi itu biasanya satu gigitan.”

“Iya.”

“Kalau satu gigitan tiga kali berarti namanya makan.”

Bu Yuni terdiam.

Pak Sastro tertawa.

Pak Kelik yang sedari tadi diam kemudian berkata,

“Begini saja. Potong kecil-kecil.”

Darmo menatap mereka semua.

“Kenapa?”

“Biar cukup.”

“Cukup untuk siapa?”

“Untuk semua.”

Darmo mulai paham.

Roti mahal mempunyai satu masalah besar.

Ia tidak pernah bisa dimakan sendirian di depan masyarakat.

Kalau makan nasi pecel, orang tidak terlalu peduli.

Kalau makan gorengan, paling hanya bertanya beli di mana.

Tetapi kalau seseorang membawa makanan yang kemasannya menggunakan istilah seperti premium, signature, original, atau international recipe, maka secara tidak langsung ia telah mengumumkan kepada lingkungan bahwa dirinya sedang punya sesuatu.

Dan sesuatu yang terlihat punya harga akan segera memiliki banyak pemilik.

Darmo akhirnya membuka bungkus.

Aroma kurma perlahan keluar.

Semua orang melihat.

Jihan mengambil satu potong.

Menggigit.

Diam.

“Gimana?” tanya Darmo.

Jihan mengunyah.

“Manis.”

“Terus?”

“Ya... roti.”

Darmo kecewa.

“Cuma roti?”

Jihan mengangguk.

“Kalau gitu kenapa mahal?”

Tidak ada yang menjawab.

Pertanyaan itu terlalu berbahaya.

Sebab ternyata setelah seluruh perjalanan lintas Eropa-Arab-Jawa itu, setelah kemasan yang indah dan harga yang membuat dompet beristigfar, setelah semua pembicaraan mengenai kelas sosial dan ekonomi, kesimpulan seorang anak kecil justru sangat sederhana.

Roti itu ya roti.

Rasa kurma.

Sudah.

Darmo mengambil satu potong untuk dirinya sendiri.

Ia menggigit perlahan.

Kali ini ia tidak berpura-pura.

Rasanya memang biasa saja.

Tidak ada pengalaman spiritual.

Tidak ada pencerahan hidup.

Tidak tiba-tiba terasa seperti orang sukses.

Tidak juga mendadak bebas dari cicilan.

Hanya roti.

Namun Darmo tersenyum.

Sebab ia sadar ada satu hal yang lebih mahal daripada roti itu.

Ketenangan.

Dan ketenangan, pikirnya, adalah sesuatu yang bahkan orang kaya belum tentu bisa beli.

Dari dapur, Lastri berteriak.

“Mas!”

“Iya?”

“Besok jangan beli roti lagi!”

Darmo mengangguk.

“Iya.”

“Beli beras!”

“Iya.”

“Kalau punya uang lebih, beli telur!”

“Iya.”

“Kalau masih ada lebih lagi?”

Darmo berpikir.

“Beli roti?”

“Tak gebuk.”

Darmo tertawa.

Di luar, suara motor lewat.

Harga bensin tetap naik.

Harga kebutuhan pokok tetap naik.

Harga roti tetap mahal.

Dan kehidupan tetap berjalan seperti biasa.

Di tengah dunia yang semakin rumit, Darmo akhirnya menemukan sebuah kesimpulan sederhana:

Kadang-kadang manusia memang tidak membutuhkan makanan mahal.

Ia hanya membutuhkan sesuatu yang bisa dimakan tanpa harus menjelaskan status sosialnya.

Sayangnya, zaman sudah terlalu sibuk menentukan siapa yang makan apa.

Orang kaya makan roti.

Orang miskin makan pasta.

Dan orang yang benar-benar lapar?

Tidak peduli.

Yang penting ada makanan.

Kalau kebetulan yang tersedia roti rasa kurma, ya dimakan.

Toh, kurma juga tidak pernah bertanya:

“Lu kelas ekonomi berapa?”

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Rekomendasi