Disukai
0
Dilihat
3,525
Satu Langkah Yang Belum Terjadi
Slice of Life

Suara teriakan murid-murid terdengar riuh dari lapangan sekolah. Seorang siswi yang berani mengambil satu langkah awal terhadap Beni, siswa yang lumayan terkenal di sekolah mereka ini cukup menggemparkan seluruh angkatan di sekolah itu. Sekilas tidak ada yang spesial, tapi Beni memiliki pesona yang begitu bersinar dikalangan para siswi. Apa mungkin karena dia salah satu murid berandalan tapi nilai selalu nomor satu di sekolah? 

"Woi, jangan menghayal. Lo masih penasaran ya siapa yang berani nembak si Beni di tengah lapangan?" suara cempreng itu cukup melengking di telinga ku.

"Nggak, gue nggak penasaran tuh. Lagian buat apa coba, habisin tenaga cuma buat mikirin sesuatu yang bukan urusan gue," ujar Chabi sembari mengambil tas lalu kabur meninggalkan Lora didalam kelas.

"Eh Chabi, mau kemana main kabur aja.” Ia mengejar Chabi yang semakin jauh berlari.

***

"Ben, gimana?” suara cewek itu seperti menunggu kepastian yang tak berarti “Aku mohon, aku janji nggak akan banyak gaya dan nggak bakal bikin kamu repot," bujukan demi bujukan terucap, sayangnya hal itu tidak membuat Beni buyar dari pendiriannya.

"Maaf  Vel, tadi gue udah jawab nggak bisa soalnya gue udah suka sama orang lain. Tapi makasih deh udah berani jujur ke gue, di depan satu sekolah lagi," jawab Beni dengan penuh kehati-hatian dalam pemilihan kata.

Vela hanya berdiri tanpa bisa menahan malu lebih lama. Ia hanya diam dengan menundukkan kepala.

”Maaf, gue tinggal yah,” ucap Beni sembari melangkah keluar dari kerumunan orang.

Beragam pandangan tertuju pada Beni, semua terasa mengganggu seakan apa yang dilakukan Beni adalah sebuah kejahatan. Walau penolakannya benar-benar pelan, memastikan kata yang terucap tidak menyinggung Vela tapi tetap saja didepan hampir seluruh siswa ini adalah yang kejam.

Beni memiliki nama yang sudah melekat erat dalam pikirannya. Kehadirannya membuat hidup Beni terisi penuh oleh tumpukan kupu-kupu. Masalahnya adalah Beni termasuk pengabdi kesendirian yang membuatnya tidak mengerti cara mendekati orang yang dia suka.

***

Cahaya sore mulai memudar diujung langit, awan putih bergerak searah angin berhembus. Kamar menjadi tempat ternyaman di waktu kosong sepulan sekolah.

“Beni, mama minta tolong beliin kecap sama saus di indomin depan lorong yah,” panggil Mama saat Beni masih terlelap dalam kenyamanan.

Meski berat hati, tetapi perintah Mama adalah mutlak, ”Iya ma,” jawab Beni sambil menghela nafas tanda tubuh nya cukup malas untuk bergerak.

Menurutnya depan lorong cukup jauh, ia pun mengambil sepeda untuk mengurangi energi jika berjalan. Padahal jarak antara rumah dan indomin tidak mencapai lima ratus meter, anggaplah ini fasilitas dalam memenuhi kebutuhan Mama.

“Mas, kecap sm saus bagian mana yah?” tanya Beni pada kasir yang sedang menghitung pemasukan.

“Oh dibagian belakang mas,” jawab kasir tersebut.

Beni segera ke belakang berharap menyelesaikan misi secepatnya. Namun tanpa sadar pandangannya tidak menyadari seseorang juga berjalan ke arahnya yang berakhir mereka saling menabrak satu sama lain. Brugh.

”Aduh, mba lihat jalan dong jangan main hp mulu,” kata Beni sambil berusaha berdiri.

“Maaf maaf mas, saya sedang baca daftar belanja," jawabnya yang ternyata adalah Chabi.

"Eh Chabi, astaga sorry gue kira siapa, lo nggak apa-apa kan?” ucap Beni dengan spontan membantu Chabi berdiri

“Oh Beni, aduh maaf udah nabrak lo,” jawab chabi dengan sedikit rasa bersalah.

Chabi, kan kalau nggak salah temennya Lora? Pikir Beni.

”Ya udah, kalau gitu gue duluan ya Ben,” kata chabi,

”Hmm Chabi, lo mau nggak sesekali kita jalan bareng?” pertanyaan yang tidak disangka keluar dari mulut Beni, bukan maksud secara privasi tapi mungkin saja ini bisa jadi cara Beni dekat dengan Lora. Chabi belum memberikan reaksi apapun, ia masih sangat terkejut dengan ajakan Beni yang cukup mendadak tersebut.

Walau ia pun belum menemukan jawaban yang tepat tapi Beni duluanlah yang mengajak, ia berpikir ini bisa jadi hal yang wajar sesama teman angkatan. ”Nanti gue lihat ya ben.” Jawab Chabi sambil berjalan menuju kasir. Perasaan ganjal masih bersemayam dalam hati Chabi, banyak pertanyaan yang ingin ia ungkapkan tapi ia tak bisa bohong kalau rasa senang yang begitu besar mengerubungi wajahnya saat ini.

***

”Ya ampun Chabi, kok lo tega sih bikin temen lo yang cantik kelaparan.” Ucap Lora yang memasang wajah cemberut. “Ayo minta uangnya dong Bi.” Mohon Lora.

”Nggak, mending lo minum air putih aja nih, biar kembung,” jawab Chabi sambil menyodorkan sebuah botol air putih kemasan sisanya. Tanpa mereka sadari tiba-tiba beni masuk dan langsung menuju bangku Chabi dan Lora.

”Hei Bi, gimana jadi nggak jalannya?” tanya Beni tepat setelah sampai didepan Chabi. Beni juga melirik Lora lalu menyapa dengan sedikit menggaruk belakang leher yang tidak gatal, “Eh halo Lora, lo juga boleh ikut klo mau, gimana Bi?” Beni melanjutkan pertanyaan keduanya hingga membuat Chabi kebingungan.

Masih belum selesai mencerna kebingungan yang bertubi-tubi, Chabi justru merasakan lirikan sinis nan jahil dari arah sahabat nya itu, ”Oh lo kapan ketemu Beni, Bi?” tanyanya sembari berpangku dagu didepan wajah Chabi “Mana langsung mau jalan lagi, gue harus ikut dong” suaranya semakin jahil hingga tidak bisa menyembunyikan ketawa kemenangannya setelah mengetahui Chabi dan Beni janjian untuk jalan bersama.

Dengan kelakuan sahabatnya yang super cringe  itu, Chabi berusaha sebisa mungkin untuk bersikap sedikit berwibawa didepan cowok yang selama ini ia kagumi “Lo mau jalan kemana Ben?” tanya Chabi setelah menghela nafas panjang.

”Hmm, lo suka ngemall apa nyantai?” tanya Beni sambil mengeluarkan ponsel untuk mencari referensi.

”Apa aja sih, tapi klo sekarang kyknya lagi pengen nonton, kan lumayan tuh lagi ada stir wers 3, mau nggak?” jawab Chabi ngasal.

”Wih mantap tuh, ya udah ayo aja ben gue yakin pasti seru,” kata Lora memandang Beni untuk mendapatkan kata setuju dari nya.

”Oke kalau begitu sabtu ini kita nonton itu, fix ya.” Beni menegaskan jadwal akhir pekan mereka. “Kalau begitu gue balik dulu ya, ditungguin temen soalnya,” jawab Beni sambil merapikan bangku yang ia duduk lalu berjalan meninggalkan kelas Chabi dan Lora

Beni meninggalkan mereka berdua, dengan Chabi yang masih dipenuhi rasa senang yang membludak. Ia seperti tidak percaya hal ini bisa terjadi begitu saja tanpa peringatan apapun Bahkan menjadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Namun tanpa disadari waktu demi waktu perlahan meruntuhkan dinding bahagia itu.

Bel pulang terdengar menggema diseluruh halaman sekolah, pertanda kegiatan belajar-mengajar hari ini telah berakhir. Chabi berpamitan pada Lora untuk pulang terpisah karena harus singgah ke toko keluarga terlebih dahulu.

”Chabi!” Panggil Beni sepulang sekolah

”Oh Beni, kenapa Ben?” jawab Chabi.

”Mau pulang bareng? Kebetulan rumah kita searahkan,” kata Beni secara mendadak.

Meski rasa ragu itu muncul tanpa aba-aba, tapi untuk Chabi kesempatan tidak boleh disia-siakan "Oh boleh aja, tapi aku jalan kaki sih, kamu emang nggak naik kendaraan?” tanya Chabi.

”Nggak, mobil lagi dipake bokap jadi ke sekolah naik angkot, walaupun deket,” jawab Beni

”Oh ya udah ayo aja,” ajak Chabi. Beni langsung menyeimbangkan langkah nya agar Chabi tidak tertinggal

Setelah keheningan memecahkan mereka cukup lama, Beni pun mulai megalihakan suasana ”Chabi, lo udah lama temenan sama Lora?” tanya Beni memulai percakapan mereka

”Hmm. Udah lama sih, lupa kayaknya dari SD deh, soalnya dia anak temen Mama jadi kita klop aja makanya akrab banget,” jawab Chabi setelah mengingat awal berteman dengan Lora.

“Berarti lo tahu banget dong tentang Lora?” tanya Beni diikuti dengan wajahnya yang sedang berpikir keras.

”Kenapa Ben? Kok berhenti?” tanya Chabi yang sedikit keheranan.

Beni menghentikan langkahnya, lalu bertanya “Gue mau minta tolong boleh nggak?” tanya Beni.

”Hah. Minta tolong apa ya? Tiba-tiba banget,” jawab Chabi.

”Jujur saja gue suka sama Lora, Bi. Sejak kelas satu, gue tetap suka sama dia.” Degh. Napas Chabi tercekat. Dadanya terasa nyeri, seperti ditusuk pelan tapi dalam. Kalimat Beni sukses membuat Chabi terdiam lama.

“Maaf banget padahal gue yang ajak lo, tapi boleh nggak hari sabtu nanti selesai nonton bantuin gue berdua ama Lora? Gue nggak tau caranya ngomong langsung ke dia, jadi gue sengaja lewat lo dulu,” jelasnya yang semakin memberi sakit yang mendalam bagi Chabi.

Bukannya lebih baik dia jujur sejak awal sebelum kebahagiaan itu muncul? Batin Chabi.

Chabi membalikkan badan lalu mulai melangkahkan kaki.

”Oke,” jawab Chabi pelan, nyaris tak bersuara, ”Nanti gue bantu.”

Sore itu menjadi saksi bahwa langkah indah Chabi harus berhenti bahkan sebelum ia benar-benar melangkah. Dinding bahagia yang sudah ia harapkan sejak awal ternyata hanya kedok untuk rencana lainnya. Padahal Chabi tidak menanggapi apapun, tapi rasa sakit ini justru lebih luas menggerogoti perasaannya.

***

“Wah, gimana filmnya? Menurut gue seru banget loh banyak adegan yang kerasa nyata,” kata Beni menggebu gebu.

“Iya bener banget keren nggak sih Bi, tadi roket nya hampir hancur tapi akhirnya bisa bertahan,” lanjut Lora gk kalah semangat.

“Hm. Lumayan sih, genrenya action tapi pesannya ngena semua,” jawab Chabi yang mencoba berbaur dengan kehebohan mereka.

Acara nonton hari ini selesai dan inilah waktu Chabi untuk segera menghilang dari mereka.

”Eh, gue sampai sini aja ya, Mama manggil disuruh belanja nih,” Ucap Chabi “Duluan Ben, dah Lora.” Chabi buru buru meninggalkan mereka berdua.

”Loh Chabi, lo kok buru-buru banget nanti gue temenin belanja deh.” Lora mencegah Chabi dengan alasan tersebut.

”Nggak usah. Mama mau masak sekarang soalny, maaf ya,” jawab Chabi dan kembali berjalan meninggalkan mereka sembari melambaikan tangannya. Menandakan ia telah menerima takdir yang tidak menyatukannya bersama.

Sesuai janjinya, sampai akhir Chabi tetap tidak memiliki tempat hanya sebagai perantara Beni semata—tidak lebih dari sekedar pengagum rahasia.

“Makasih Beni, sudah jadi seseorang yang bisa gue kagumi sejak dulu. Ternyata sakit meneriman kenyataan tuh, gue nggak nyangka aja sih. Lora emang cantik, anaknya supel dan ramah ke semua penghuni sekolah. Ya pantas aja lo suka, lah gue sukanya cuma buku, menyendiri di pojokan kelas, nggak lebih. Tapi bagaimana pun Lora tetap sahabat gue, sekagum apa pun gue tapi kalau lo bisa memberikan kebahagiaan ke Lora, it’s okay. Have fun Lora dan Beni, jangan lupa ajakin gue nonton lagi.” Sebuah pesan yang diketik oleh Chabi, lalu di hapus perlahan, sama seperti harapannya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi