Disukai
0
Dilihat
4
Rumah Lila
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Setiap pagi, ketika matahari menyapu rumah-rumah lain dengan kehangatan, rumah Lila tetap saja redup—seolah cahaya enggan singgah didalamnya. Lila selalu bangun dengan suasana rumah yang gelap dan pengap.

”Ayah memukul ibu lagi” bisiknya pada diri sendiri.

Bau menyengat mulai menyelimuti seluruh ruangan, Lila bahkan sangat muak melihat ibu menjadi pelampiasan ayah yang mabuk setiap kalah judi. Ibu mulai membereskan barang-barang yang berhamburan di lantai dan langsung menyiapkan sarapan seadanya. Bahkan setelah perbuatan ayah semalam, itu tidak menjadi halangan buat ibu untuk tetap mendampingi ayah. Melihat ibu yang seperti itu, Lila pun tak dapat menahan tetesan air matanya.

”Ibu” panggil Lila. Terlihat ibu baru menoleh beberapa detik setelah membasuh wajahnya dengan air.

“Iya, Lila sayang” suara lembut bercampur serak karena menahan tangis di padukan dengan senyuman kecil pada wajah nya, membuat Lila mantap mengutarakan perasaanya.

“Ibu, ayah jahat banget loh sama ibu. Ibu kita kabur aja yuk, Lila nggak mau lihat ibu dipukul ayah lagi. Lila janji bakal jagain ibu dan Alam.” dengan tangis sesenggukan Lila terus menatap ibu sambil menggenggam tangannya.

Ibu hanya membalas ucapan Lila dengan senyuman hangat pada wajahnya, ia merangkul Lila dengan pelukan erat dan mengelus kepalanya pelan. Tanpa kata tanpa jawaban tapi Lila tahu bahwa ibu sedang menangis dalam pelukannya.

Hujan turun pelan sore itu ketika Lila menekan kunci rumahnya. Suasana tampak gelap dan mencekam. Ia sudah lama melihat hal seperti ini: kekerasan, pemerasan, dan para debt collector yang berdatangan. Lila hanya memeluk erat adiknya yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, mereka seperti saling memberikan kekuatan ditengah kekejaman ayah dalam rumah itu.

Dari luar rumah, ayah dan ibu menghadapi orang dari debt collector dan Lila yakin bahwa malam ini akan kembali menjadi malam yang menakutkan. Ia menatap lembut ke adik nya, seolah mengatakan ”Tenang, ada kakak disini” Alam membalas tatapan Lila dengan anggukan kecil.

Pintu terbuka dengan keras, diikuti dengan ocehan ayah saat memasuki rumah.

”Datang nya tiba tiba banget, emang mereka pikir uang turun dari langit” ucap ayah kesal sambil mengambil jaket lusuhnya pertanda ia akan keluar.

”Mas, sudah cukup. Kamu jangan keluar lagi, ayolah kita pikir kan sama sama masalah ini. Apa kamu nggak capek mereka datang terus? Mereka juga datang kan karena kam—”

”Diam!” suara ayah mulai meninggi dan di penuhi amarah. Matanya melotot dengan jari menunjuk ke arah ibu.

”Karena saya? Kamu mau bilang karena saya kan. Kalau mereka datang karena saya berarti kamu dan anak anak tidak boleh keluar dari rumah ini. Biar saya yang urus dan kalian harus tetap dirumah,” ucap ayah yang dipenuhi amarah.

”Kenapa anak anak juga harus kena mas? Mereka nggak ada salah apapun dengan masalah kamu, dan saya pun sudah sering menegur mu karena itu” ibu membalas ayah dengan nada yang penuh kekesalan.

”Saya sudah bersabar menunggu mas untuk menyelesaikan masalah, tapi apa yang malah terjadi? Kamu selalu pulang malam, mabuk bahkan berjudi, kamu anggap kita apa?” segala keluh kesah ibu yang terpendam seperti menyeruak keluar tanpa rem. Setelah omongan itu, satu tamparan melayang ke wajah ibu.

PLAK!

Dan itu terjadi lagi. Di setiap pertengkaran akan berakhir dengan perkelahian. Tangan ayah tepat menghantam wajah ibu. Tak ada jeritan, tak ada tangisan yang ibu keluarkan. Ia hanya terdiam, terpaku sambil memegang pipi nya yang terasa sakit.

Lila sudah melihat adegan ini puluhan kali dan sudah mengetahui ujung dari drama ini. Tanpa suara, ia melepas pelukannya dari Alam lalu menutup pintu kamar. Kaki nya mulai melangkah diam diam melewati kedua orangtua nya yang masih bersitegang satu sama lain. Pikirannya kacau membayangkan adegan demi adegan yang selalu terulang, ia menyayangkan jika ini menjadi hal terakhir bagi keluarga mereka.

Kalau ayah tetap disini, kita semua akan hancur. Bukan besok. Bukan nanti. Tapi hari ini.

Satu kalimat itu terlintas dalam benak Lila, langkah nya mulai mendekati ayah dari belakang. Tanpa ia sadari, tangannya bergerak. Yang Lila ingat hanya suara bangku tergeser, teriakan ibu, dan tubuh ayah yang mendadak limbung.

“LILAAA,” teriakan ayah sebelum akhirnya hujan memudarkan suara tersebut.

Ketika napasnya kembali, ayah sudah tergeletak, dan ibu menatapnya dengan wajah pucat. Lila langsung menarik tangan ibu dan menjemput Alam yang masih didalam kamar. Malam itu juga mereka kabur meninggalkan tubuh ayah yang terbaring bersama suara hujan yang semakin deras.

Waktu berjalan, tanpa benar-benar menyembuhkan apa pun.

Angin sore mengibaskan helai demi helai rambut ibu itu ketika ia berdiri di tepi gerbang sekolah. Di depannya, dunia anak anak begitu riuh—tas digoyang-goyangkan, seragam berantakan, gelak tawa dilemparkan seperti bola. Namun keramaian itu tidak benar-benar masuk ke dunianya.

Ia menunggu putra bungsunya, Alam. Ketika Alam keluar dari pintu kelas, raut tegang mulai luntur berganti menjadi helaan napas pelan, lega. Anak laki-lakinya itu tersenyum kecil—senyum yang ia butuhkan untuk bertahan.

”Mama... kita jadi ke tempat kakak, kan?” tanya Alam

Ibu itu mengangguk sembari merapikan rambut Alam yang berantakan.

” Ya, kita jemput kakak. Sudah saatnya dia pulang”

Alam mengangguk dengan penuh semangat. Suara bising sekolah memudar Ketika mereka berdua berjalan menuju gerbang. Seolah dunia menyisakan ruang kecil untuk mereka—untuk harapan yang perlahan tumbuh kembali.

Tempat itu berdiri seperti jembatan antara masa lalu yang gelap dan masa depan yang masih kabur. Lorongnya bersih dan sunyi, dengan bau desinfektan yang samar memenuhi udara. Sederhana, tapi hangat. Bagi sebagian orang, tempat ini mungkin biasa. Tapi bagi Lila, tempat ini adalah bukti bahwa manusia selalu bisa mulai lagi. Hari ini Lila kembali, masih ada harapan yang perlu ia wujudkan. Masa depannya belum tentu suram, tergantung bagaimana ia akan bertahan.

Ibu membuka tangan untuk memeluk Lila, meski hatinya masih retak. Ia memandang Lila cukup lama sambil berpikir apa yang sudah ia lewati sejak 2 tahun lalu, bagaimana bisa ia membuat dunia lila saat itu begitu gelap.

”Lila,” ucap ibu dengan suara yang tampak menahan tangis

”Apapun yang sudah membuat mu hancur, kamu tetap anak ibu,” Kalimat ibu membuat Lila dipenuhi penyesalan, kepalanya menunduk disusul tetes demi tetes air mata yang mengalir di pipi nya. Melihat itu, ibu langsung mendekapnya ke dalam pelukan hangat yang dirindukannya. Untuk pertama kalinya setelah malam itu, Lila merasa pintu pulang benar-benar terbuka.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)