Beberapa hari ini, aku menyadari sesuatu. Aku tak benar-benar dapat mengingat wajahnya. Otakku berdalih bahwa, wajahnya terlalu NPC sehingga tak dapat masuk ke database otakku. Tetapi serius, ini pertama kalinya bagiku. Dan kurasa, ceritanya akan kumulai dari sini.
Tiga bulan yang lalu, dalam suatu perbincangan dengan Kak Yana yang berujung pada ajang pamer novel kepunyaan, aku melihat beberapa novel yang menurutku menarik dari foto yang ia kirim. Karena faktor keinginan dan ia menawarkan, akhirnya sampailah pada aku meminjam salah satu novelnya. Setelah kesepakatan terbentuk, ia berkata akan menitipkan novel itu di adiknya yang ada di kelas VII. Karena aku tak pernah melihat adiknya, akhirnya aku menanyakan itu pada temanku yang seolah kenal semua orang di sekolah dan benar saja, ia mengenalnya.
Keesokan siang saat matahari sedang terik-teriknya, sesaat setelah bel pulang berbunyi, aku meminta tolong pada temanku itu untuk mengantarku padanya. Ia menyetujui, lantas berangkatlah kami berdua ke kelas VII.1. Kami naik satu lantai ke lantai tiga, kemudian dengan sigap ia memanggil anak itu. Sesaat, keluarlah ia dengan menenteng novel yang kupinjam. Karena sedang tak mengenakan kacamata, jadilah aku hanya melihat siluet wajahnya di sana.
“Thanks ya,” ucapku sesaat setelah memegang novel itu. Ia mengangguk, kemudian melipir masuk lagi ke kelasnya. Itulah pertemuan pertama kami yang memulai semuanya.
Setelahnya, aku ada beberapa kali lagi meminjam novel Kak Yana, jadi dapat dikatakan, kami sudah beberapa kali bertemu—walau hanya sebentar. Dan aku tetap mengenakan kacamataku di pertemuan-pertemuan selanjutnya. Jadi dapat dikatakan, aku sudah beberapa kali melihat wajahnya. Dari sinilah aku mulai merasakan sesuatu yang ganjal, yaitu wajahnya. Aku tak dapat dengan benar mengingatnya. Bahkan setelah aku mencoba menggali dari ingatan terdalamku, wajahnya tak juga muncul. Sampai di suatu pagi saat matahari baru seperempat jalan di ufuk timur, aku menerima pesan dari guru bahasaku.
“Temui saya nanti di aula setelah doa pagi ya.” Aku yang dalam keadaan baru selesai mandi dan belum berseragam, dengan sigap menjawab pesan itu.
“Nggih pak.” Kemudian aku melanjutkan bersiap untuk sekolah dengan sedikit tergesa.
Matahari sudah setengah jalan saat doa pagi di lapangan utama selesai. Langit sangat bersih hari ini, tanpa awan sedikitpun. Benar-benar biru pastel indah. Sesuai janji, aku bergegas ke aula setelah itu. Tetapi, saat hendak masuk, aku melihat aula sedang diisi dengan deretan kursi plastik. Aku memasukkan kepalaku ke dalam, menoleh ke kiri kanan tanpa menemukan beliau. Setelah capek, akhirnya aku naik ke lantai dua—kelasku untuk menaruh tas. Baru saja kulepas, beliau mengirim pesan.
“Sekarang ya.”
Jadilah dengan sedikit kesal, aku turun kembali ke aula. Baru setengah jalan, ia mengirim pesan tambahan.
“Ajak Fya juga ya.”
Membaca itu, akhirnya aku berbelok ke atas. Kelas VII.1.
Aku menaiki beberapa anak tangga, sampai pada plang kelas VII.1. Aku mengetuk pintu yang terbuka, kemudian meminta ijin ke guru yang sedang mengajar untuk meminjamkan Fya.
“Ada Fya?” tanyaku ke kelas yang langsung sunyi. Beberapa saat, tepat hanya jarak dua bangku dari pintu, seorang perempuan mengangkat tangan. Dan itulah dia, orang dengan wajah yang paling susah kuingat. Ia berdiri, kemudian melangkah menghampiriku.
“Dipanggil Pak Ruspan,” ucapku sedikit berbisik.
“Oh!” Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia melipir pergi. Tanpa pamit dan tanpa melihat ke belakang. Aku bertemu dengannya lagi di aula.
“Mana?” tanyanya sambil menoleh ke arahku.
“Tunggu aja dulu,” ucapku.
Beberapa saat, akhirnya beliau muncul dengan beberapa map krem di tangannya. Kami diminta ikut bersamanya ke ruang Tata Usaha. Setibanya kami di sana, kami diminta menunggu di luar. Beberapa saat hening yang canggung, ia mulai berbicara.
“Kak Fabil ya?” ucapnya canggung sambil menoleh ke arahku. Ia bersandar di tembok sebelah pintu ruang TU. Namanya Fya, adik kelasku sekaligus adik dari kakak kelas yang sangat kuhormati.
“Ya…” jawabku canggung juga. Kami berdua sedang menunggu Pak Rus yang sedang membicarakan sesuatu dengan staf Tata Usaha sekolah. Terkait surat pernyataan siswa aktif untuk kami yang akan kami gunakan untuk mendaftar di suatu lomba cerpen..
“Oh… ya, soalnya saya ada masuk ke salurannya… kakak,” balasnya, masih dengan nada canggung yang sama.
“Oh ya ya…”
“Kak Yana masih di rumah ya? Belum balik ke IC?” tanyaku. Mencoba membuka topik agar tidak terlalu canggung.
“Ya, soalnya kan asramanya masih di renov,” jawabnya—kali ini tanpa nada canggung yang sebelumnya. Setelahnya, topik obrolan kami berlanjut begitu saja. Mengalir seperti sungai yang selalu menemukan jalannya untuk pergi ke hilir. Beberapa menit saat obrolan mulai cair, Pak ruspan keluar dari ruang TU. Memanggil kami untuk masuk sambil tetap menenteng beberapa map krem.
Kami berdua mengangguk, kemudian menyusul masuk pak Ruspan. Hawa dingin dari AC langsung terasa, kontras dengan suasana gerah di luar. Kami disuruh untuk duduk kemudian mengisi formulir biodata kami untuk keperluan lomba. Aku dan Fya duduk sebelahan, sementara Pak Ruspan duduk di ujung meja persegi panjang kecil.
“Fabil, dari mana tau lomba ini?” tanya Pak Ruspan.
“Dari kakaknya ini pak,” jawabku sambil menunjuk ke orang di sebelahku yang masih sibuk mengisi formulir.
“Siapa kakaknya?” tanya pak Ruspan ke arahku dengan nada penasaran sambil terlihat berpikir.
“Yana…” jawabku singkat.
“Yana siapa?” tanyanya.
“Uhza. Uhza Iyana,” akhirnya adiknya ikut campur, menjawab pertanyaan itu.
“Oh! Adiknya Uhza?”
“Iya… hehe,” jawab Fya sambil menoleh ke arah Pak Ruspan.
“Masak sii? Coba saya WA Uhza dulu,” ia kemudian memfoto Fya. Mengirimkan fotonya ke Kak Yana.
Kami mengisi saat menunggu antrian masuk ke ruang KTU dengan berbagai obrolan hingga lambat laun, batas-batas kecanggungan di antara kami berdua terangkat. Saat sedang asyik-asyiknya mengobrol, antrian kami tiba. Kami masuk mengikuti Pak Rus. Menyalami Pak KTU, kemudian duduk berhadap-hadapan. Pak Rus membuka topik obrolan, diskusi berlangsung alot dan lama. Tapi anehnya, aku tak benar-benar memperhatikannya. Sesekali, aku bahkan lebih sering menangkap tatapannya. Dan entah sejak kapan, batas kecanggungan di antara kami menghilang begitu saja. Sekeluarnya kami dari ruang itu, Fya langsung menoleh ke arahku.
“Deg-degan banget kak!” ucapnya sambil menarik-hembuskan napasnya dengan berlebihan.
“Aseli,” jawabku sambil menirunya.
“Betul kan! Baru tau ternyata minta acc proposal kayak gitu!”
“Dua dua,” jawabku menyetujui.
Dari interaksi kecil itulah, aku menyadari bahwa kami berdua cocok… sebagai teman tentunya. Setelah itu, kami dibawa Pak Ruspan menemui Pak Kepala Sekolah di ruangannya. Untuk memperkenalkan kami dan juga meminta tanda tangan final untuk formulir biodata kami. Setelah urusan dengan Pak Kepala selesai, kami bergerak menuju perpustakaan untuk Pak Ruspan merevisi cerpen yang kami buat. Baru saja kami duduk dan ia membuka file yang kukirimkan, ia langsung menunjuk ke bagian awal. Benar-benar awal.
“Ini, jarak dialog ini sama ini jauh banget. Ini, narasi yang ini bisa dipindah ke atas terus dialognya dipindah ke bawah…” ucapnya sambil terus menunjuk layar ponselnya. Beberapa kali Fya berseru tertahan karena salah di bagian detail, dan beberapa kali juga kami kompak berseru semangat karena sudah bagus. Hasilnya? Revisi total. Keluar dari ruangan itu, aku dan Fya sempat saling bertatapan. Beberapa saat, ia akhirnya mengucapkan, “Sukses kak!” sambil berjalan mundur. Aku mengangguk, tersenyum, kemudian kami berpisah.
Sepulangnya aku langsung menghapus sekitar 1000 kata, dan di sisi Fya? Tidak lebih baik. Ia banyak mengubah isi bahkan alurnya. Kami mengedit semalaman, bertukar pikiran lewat pesan WA, kemudian tertidur. Dari interaksi-interaksi itulah aku menyadari bahwa, kami benar-benar cocok… sebagai teman. Bonding tercepatku dengan seorang perempuan sejauh ini adalah dengannya. Keesokan malamnya, kami tetap saling berkirim pesan. Keesokan malamnya juga, dan esoknya. Sampai suatu waktu, ia hilang kabar.
Beberapa hari, saat kami mulai sering berkirim pesan di WA, ia menghilang. Nomornya benar-benar tak aktif. Aku juga sudah mencoba menghubunginya melalui jalur lain, tetapi hasilnya nihil. Disitulah aku berpikir, apakah aku melakukan sesuatu yang salah? Atau ada hal lain yang terjadi? Kami sering berpapasan di tangga. Dan sudah pasti, ialah yang menyapa duluan. Dan dilihat dari situ, seharusnya tak ada masalah. Aku selalu lupa menanyainya terkait hal itu dalam pertemuan-pertemuan kami. Beberapa hari berlalu, aku mulai semakin khawatir.
Sampai suatu malam di mana gemerlap cahaya bintang memenuhi langit gelap, aku menghubungi Kak Yana. Dari situlah baru aku mengetahui bahwa, ternyata ponselnya rusak. “Lucu sekali,” gumamku sambil menutup layar ponselku. Terkadang manusia memang begitu, berasumsi macam-macam tanpa mencari tahu lebih lanjut sampai terkadang menyalahkan dirinya sendiri. Dengan rusaknya ponsel miliknya, aku dipaksa untuk mengobrol secara langsung dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Dari potongan-potongan obrolan singkat yang lama-lama menjadi serius, kami jadi tahu satu sama lain lebih dalam. Dan mungkin, ini juga cara semesta menyampaikan, ada orang yang wajahnya dapat disimpan lewat visual, tetapi ada juga yang wajahnya disimpan lewat interaksi-interaksi dan ciri khasnya masing-masing.