Disukai
1
Dilihat
1,754
Salah Siapa?
Drama

"Wah, udah beli motor baru lagi, Bu?" Beberapa tetangga menghampiri rumah saat sebuah mobil pick up yang membawa motor baru terparkir di halaman rumahku. 

"Iya, si Sulung pulang. Daripada uangnya dipakai buat yang gak jelas mendingan dipake buat beli motor." Ibu menghampiri mereka. 

"Wah, hebat, ya. Padahal motornya udah ada dua. Mobil juga sudah punya. Masih beli lagi," ucap salah satu dari ibu-ibu itu. 

"Yang baru ini motor matik, buat si Bungsu berangkat sekolah. Biar bapaknya gak harus antar jemput terus. Kalo bawa motor sendiri, kan, gak ribet." Ibu terkekeh, tampak raut wajahnya begitu senang mendapat semua pujian itu. 

"Anak kamu hebat, ya. Pulang merantau selalu bawa uang banyak," celoteh yang lainnya. Aku hanya menggelengkan kepala mendengar percakapan mereka, lalu ikut membantu menurunkan motor baru itu. 

"Iya, alhamdulillah. Si Sulung memang selalu bisa menghidupi keluarga. Kalau tidak ada dia, mungkin kami tidak akan punya apa-apa." Ibu merendah, sekaligus memuji Bang Ghani. 

"Eh, terus anak kamu yang nomor dua gimana? Dia gak ada niat buat merantau kayak kakaknya?" Bu Ira tampak melihatku sekilas dengan tatapan yang merendahkan. 

Aku hanya menunduk. Mereka mulai lagi. 

Ibu melirikku sebentar. "Ah, kalau itu, sih, terserah dia saja. Saya gak akan maksa dia buat kerja ke kota. Kalau dia memang gak niat buat bantu ekonomi keluarga, ya, gak papa. Dia mau kerja buat kebutuhan dirinya sendiri saja saya sudah bersyukur." 

Ibu Ira dan yang lainnya mulai menatapku sambil berbisik-bisik. 

"Ya, setidaknya masih ada si Bungsu buat harapan terakhir kalau si Sulung menikah nanti. Sekarang dia selalu mendapat juara umum, dan mendapat beasiswa di sekolahnya." Ibu mengunggulkan Jani. 

Ya, daripada membicarakan aku yang selalu menjadi beban keluarga, lebih baik membicarakan Bang Ghani dan Jani. Mereka berdua selalu bisa menjadi kebanggan Ibu. 

Bang Ghani termasuk sukses karena bisa bekerja di kota dengan posisi yang lumayan di kantornya. Jani masih sekolah, tetapi dia selalu mendapatkan prestasi yang bagus. 

Aku sebagai anak tengah, hanya bekerja sebagai office boy, dan sesekali menjadi kuli panggul di pasar saat hari libur. Aku mengakui bahwa tidak ada yang patut dibanggakan dari diriku. Aku tidak ingin dipuji-puji Ibu di hadapan semua tetangga, tetapi rasanya sedikit sakit jika harus dibandingkan dengan kakak dan adikku sendiri. 

"Anak-anaknya Bu Warti sukses-sukses, ya. Tapi ... yang nomor dua agak mengecewakan. Kalau saja dia bisa kerja seperti kakaknya, pasti Bu Warti bisa hidup lebih enak." Bu Ira memang terkenal memiliki mulut pedas. 

"Iya, saya juga sangat menyayangkan. Tapi mau bagaimana lagi, Bu." Jawaban Ibu terdengar seperti sedang membela sekaligus menyudutkanku. 

"Deni, kamu memang gak mau merantau ke kota juga biar bisa kayak kakakmu?" Ibu Ira kini berani menegurku secara langsung. 

Aku hanya tersenyum kecut, tidak berniat menjawabnya. Percuma saja, niatnya memang bukan hanya sekedar bertanya, tetapi menekanku. Daripada harus ribut, aku pamit untuk masuk ke rumah. 

Percakapan ibu-ibu itu masih terus berlanjut. Samar-samar, aku masih bisa mendengar ucapan mereka. Ternyata bukannya berhenti, mereka semakin asyik saja membicarakanku. Membandingkan aku dengan adik dan kakakku, bahkan dengan anak mereka masing-masing. Saling mengunggulkan apa yang bisa dilakukan anak-anaknya untuk berharap sebuah pujian omong kosong dari yang lainnya. 

Aku masuk ke dalam kamar, memilih menutup telinga. Kalau dipikirkan, uang yang aku berikan pada Ibu memang sedikit dan hanya bisa untuk makan dan menutup kebutuhan sehari-hari. Uang itu bahkan tidak sampai setengah dari apa yang bisa diberikan oleh Bang Ghani setiap pulang kampung. Akan tetapi, yang aku berikan adalah semua yang aku miliki. 

Apakah itu adil, menilai seseorang hanya dari besaran yang mereka berikan? Aku memberikan semuanya, tetapi tidak dihargai sama sekali. Semua uang yang aku dapat, selalu kuberikan pada Ibu setiap hari. Tetapi itu seakan tidak ada artinya saat Bang Ghani pulang membawa uang lebih banyak setelah merantau selama lima bulan. 

Ah, sudahlah ... memikirkan itu semua membuatku seperti tidak ikhlas memberikan uang pada Ibu. Namun, semua perkataan mereka memang memuakkan! 

Beberapa bulan berlalu, karena Ibu yang haus pujian itu terus-terusan menyindir karena desakan para tetangga bermulut kompor itu, akhirnya aku memutuskan untuk mencoba menjajal kota. Berbekal surat lamaran dan beberapa lampiran yang dibungkus amplop coklat, aku berpamitan pada Ibu. 

Aku sudah mencoba untuk meminta pertolongan pada Bang Ghani, supaya dicarikan lowongan pekerjaan di kantornya atau di kota tempatnya bekerja, mengingat dirinya memiliki posisi yang cukup mumpuni. Namun, sudah lama berlalu, ia tidak juga memberikan kabar apa-apa. Entah, apakah memang mencari lowongan sesusah itu, atau Bang Ghani tidak berniat menolongku akibat takut kalah saing. Ya, kami bertiga memang bersaudara, tetapi seperti ada sebuah persaingan tidak terlihat yang membuat kami berlomba-lomba mendapatkan pengakuan dari Ibu. 

Aku pun sudah sejak lama menyebar beberapa surat lamaran. Namun tak kunjung mendapatkan panggilan interview. Mungkin aku tidak memenuhi syarat sebagai kandidat, karena jujur saja kapasitas otakku tidak secemerlang Bang Ghani juga Jani. Kesalahanku juga, seringkali mengabaikan pendidikan dan membuat onar hingga bolos sekolah. Bahkan beberapa kali membuat orang tuaku dipanggil oleh guru BK, dan kini aku menanggung semua akibatnya. 

Mungkin sudah nasibku, harus menempuh jalan yang berbeda dari Bang Ghani.

Aku berjalan menuju terminal dan segera menaiki bus jurusan Jakarta. Aku bahkan tidak tahu tujuanku ke mana dan bagaimana hidup di sana. Namun, sepertinya akan jauh lebih baik hidup sendirian tanpa harus mendengar ocehan memuakkan itu. 

*** 

Seminggu telah berlalu, aku masih belum mendapatkan pekerjaan sedangkan uang semakin menipis. Aku sudah berjalan dari gedung ke gedung, menanyakan lowongan pekerjaan. Namun, tidak ada satu pun tempat yang mau menampungku. 

Selama seminggu ini, aku tidur di jalanan, mandi di toilet umum dan makan sekali sehari demi menghemat uang. Sialnya, sulit sekali mendapat pekerjaan bahkan hanya untuk menjadi tukang cuci piring. 

Udara panas Jakarta membawa langkahku ke salah satu warteg. Aku lapar, seharian ini belum makan apa-apa sedangkan kaki terus dipaksa untuk berjalan kesana-kemari. Aku bahkan tidak tahu daerah Jakarta bagian mana yang sedang kupijak ini. 

Aku duduk di salah satu bangku dan memesan satu nasi dengan orek tempe. Tempatnya tidak terlalu ramai hingga aku tidak terlalu malu kalau hanya makan dengan satu macam lauk. 

"Lagi cari kerjaan, Dek?" Seorang pria paruh baya yang duduk agak jauh dariku mendekat dan duduk tepat di sebelahku. 

"Ah, iya, Pak." Aku menjawab sopan.

"Sudah dapat?" tanyanya lagi. 

Aku hanya tersenyum dan menggeleng pelan. 

"Kebetulan sekali, saya butuh kurir. Apa kamu mau kalau bekerja sebagai kurir?" 

"Tentu saja mau. Tapi ... saya tidak punya kendaraan, Pak." Aku berterus terang

"Tenang saja, ada motor khusus yang disediakan. Kalau kamu bersedia, mari ikut saya." 

Aku mengangguk, lalu mengikuti langkah pria itu setelah ia juga membayari makanku. 

*** 

"Hebat, ya! Baru aja jalan-jalan ke luar negeri, sekarang udah beli mobil lagi. Udah bisa bangun rumah, padahal baru beberapa bulan merantau. Si Deni itu beruntung banget, ya." 

Aku hanya tersenyum senang mendengar tetangga yang memuji-mujiku. Mereka kembali berduyun-duyun berkumpul di halaman rumah saat sebuah mobil baru terparkir di sana. Memuji Ibu yang beruntung memiliki anak-anak yang bisa membelikannya apa pun. 

Aku merasa puas bisa menyumpal mulut mereka yang dulu meremehkanku. Decakan kagum sekaligus iri itu membuat hatiku senang, bahkan saking senangnya rasanya ingin tertawa sekencangnya. Namun, aku bisa dianggap gila kalau melakukan itu. 

"Bu, besok aku berangkat ke London, ada rapat bisnis dengan klien." Aku sengaja menghampiri kerumunan itu dan sengaja berbicara lantang. Hingga ibu-ibu itu kembali berbisik-bisik. 

"Aduh, kamu mau pergi lagi? Padahal baru dua hari di sini. Kamu gak mau istirahat dulu?" Sikap Ibu pun sekarang berbeda dari sebelumnya. Ia jadi lebih baik dan memperhatikan segala kebutuhanku agar terpenuhi. Makanan yang disajikan di meja makan pun selalu dengan lauk yang cukup mahal. 

"Mau gimana lagi, sayang kalau dilewatkan." Aku semakin tergelitik melihat para tetangga, terutama Ibu Ira semakin menampilkan wajah tak suka. Meski mereka terkesan memuji dan terlihat senang, aku paham betul, di lubuk hati mereka ada rasa iri dan dengki. 

Ya, teruslah iri, karena kalian tidak akan bisa sepertiku! 

*** 

"Gawat, Bos Deni!" Seseorang terburu-buru masuk dengan napas memburu, bahkan tidak mengetuk pintu. 

"Ada apa?" Aku masih duduk tenang mengisap sebatang rokok.

"Katanya, markas yang ada di London udah di gerebek FBI. Markas pusat sudah memutus ekor, tapi mungkin cabang kita akan kena imbasnya setelah pertemuan hari itu. Markas pusat tidak mau membantu dan memutus komunikasi dengan kita." 

"Apa?" 

"Jadi apa yang harus kita lakukan?" 

"Kau masih bertanya? Cepat, hapus semua data transaksi. Dan apa pun yang ada di sini, buang jauh-jauh sampai 'bersih'. Jangan sampai ada jejak sedikit pun!" 

Dalam keadaan tak karuan ini, ponsel dalam saku berdering, menambah kepanikan dalam diriku. Siapa yang menelepon di saat seperti ini? 

Saat aku lihat ternyata Ibu. 

"Ada apa, Bu? Aku sedang sibuk sekarang, sedang ada masalah di kantor!" Aku sedikit emosi saat mengangkat telepon. 

"Deni, ada beberapa orang berseragam yang menanyakan keberadaanmu. Apa mereka teman bisnismu?" 

Aku sedikit tersentak mendengar itu. Apakah mereka sudah sampai di rumah? Cepat sekali, padahal aku baru saja mendapat kabar itu beberapa menit yang lalu. 

"Halo? Deni?" 

"Ah, iya, Bu. Mereka adalah pesaing bisnisku, mereka ingin menjatuhkanku, jadi jika mereka bertanya apa pun, jangan beri tah--" 

"Sudahlah, Bang! Aku sudah tahu semuanya, mereka sudah menjelaskan bahwa Abang terlibat jual-beli narkoba! Aku sudah memberitahu mereka semuanya, dan telepon ini memang ditujukan untuk mengulur waktu supaya kau tidak kabur! Sebentar lagi mungkin mereka akan sampai." Itu suara Jani. 

Di luar sana, sudah terdengar banyak keributan diiringi dengan sirine yang bersahut-sahutan. Ini adalah mimpi buruk. 

Ponsel sudah terlepas dari genggaman, aku mengambil langkah seribu untuk berlari saat itu juga. Mencari celah untuk kabur dari keadaan ini. Namun, belum sempat aku keluar lewat pintu belakang, sebuah peluru sudah lebih dulu bersarang pada kakiku. 

*** 

Sumedang, 28 September 2023

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi