Rasi Bumi dan Badai Senja
Renata adalah seujud Taurus yang mencintai kepastian. Baginya, dunia adalah deretan angka yang dapat dihitung, jadwal yang terpola, dan cangkir kopi hitam yang diletakkan persis di sebelah kanan laptop setiap pukul delapan pagi. Sebagai arsitek lanskap, ia mengukur keindahan lewat simetri, akar yang tancap kuat ke tanah, dan fondasi yang tak tergoyahkan. Dunia Renata begitu rapi, tenang, dan dapat diprediksi.
Sampai akhirnya, Arka menerobos masuk ke dalam hidupnya seperti angin topan di tengah musim kemarau.
Arka adalah Sagitarius sejati. Seorang fotografer petualang yang tidak pernah tahu di kota mana ia akan terbangun besok pagi. Baginya, rencana adalah penjara dan kepastian adalah musuh utama dari kebebasan. Arka hidup dari impulsiveness, kamera di leher, dan senyum jahil yang selalu sanggup meruntuhkan tembok pertahanan siapa pun, termasuk Renata.
Pertemuan pertama mereka terjadi di sebuah kedai kopi kecil saat hujan deras. Renata sedang sibuk mencoret-coret buklet desainnya dengan mistar, sementara Arka masuk dalam kondisi basah kuyup, tertawa lebar hanya karena baru saja dikejar anjing liar saat berburu foto jalanan. Tanpa permisi, Arka duduk di kursi kosong tepat di depan Renata.
"Taurus ya?" tebak Arka tiba-tiba, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Renata menatap pria asing itu dari balik kacamatanya dengan dahi berkerut. "Maaf?"
"Garis kerut di dahimu, caramu memegang pensil dengan begitu kaku, dan cara matamu memperhatikan detail cangkir kopi itu. Kamu tipe bumi yang terikat aturan. Pasti Taurus," ujar Arka yakin, memamerkan deretan giginya yang putih.
"Dan kamu pasti Sagitarius. Tidak sopan, impulsif, dan bicara tanpa dipikir dulu," balas Renata dingin, meski jantungnya tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Itulah awal dari sebuah kekacauan yang indah.
Dalam astrologi, Bumi dan Api seharusnya saling memusnahkan. Api yang terlalu besar bisa menghanguskan bumi hingga menjadi abu, sementara bumi yang terlalu tebal bisa memadamkan kobaran api. Namun, Renata dan Arka justru menemukan magnet yang kuat di antara perbedaan ekstrem mereka.
Bagi Arka, Renata adalah dermaga. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Sagitarius yang selalu melayang-layang merasa ingin pulang ke satu titik. Renata memberinya rasa aman yang belum pernah ia rasakan. Renata mengajarkannya cara menikmati keheningan, cara menghargai rutinitas kecil seperti menyeduh teh di sore hari, dan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang selalu menunggu di ujung hari.
Bagi Renata, Arka adalah jendela. Sagitarius itu membawa warna-warna baru ke dalam hidup Taurus yang serba abu-abu dan teratur. Arka menarik tangan Renata untuk menari di bawah hujan, membawanya melaju dengan sepeda motor tanpa tujuan di tengah malam, dan mengajarkannya bahwa tidak semua hal di dunia ini harus direncanakan secara sempurna untuk terasa indah.
Namun, cinta beda elemen tidak pernah berjalan tanpa gesekan.
Masalah terbesar muncul ketika masa depan mulai menagih jawaban. Sebagai seorang Taurus, Renata membutuhkan komitmen yang jelas. Ia menginginkan kepastian tentang ke mana hubungan ini akan bermuara sebuah rumah, pernikahan, dan rencana lima tahun ke depan. Sementara Arka, dengan jiwa Sagitariusnya yang haus akan dunia luar, baru saja mendapatkan tawaran kontrak foto selama dua tahun mengelilingi benua Afrika.
Malam itu, di balkon apartemen Renata, keheningan terasa begitu menyiksa. Angin malam berembus dingin, membawa ketegangan yang sudah lama tertahan di antara mereka.
"Dua tahun, Ka? Dan kamu baru memberitahuku sekarang?" suara Renata bergetar, menahan tangis yang siap pecah. "Bagaimana dengan kita? Bagaimana denganku?"
Arka menatap wanita di depannya dengan mata penuh rasa bersalah, namun juga ada pendar gairah akan petualangan yang tak bisa ia sembunyikan. "Ren, ini kesempatan sekali seumur hidup. Kamu tahu ini mimpiku sejak dulu. Kenapa kamu gak mau ikut bersamaku?"
"Karena aku punya karir di sini! Aku punya hidup yang sudah kubangun dengan susah payah!" tegas Renata, matanya menyalang. "Aku tidak bisa cuma jadi bayangan yang mengikutimu ke mana pun kamu pergi tanpa arah yang jelas, Arka! Aku butuh jangkar, bukan angin lalu!"
"Dan aku butuh terbang, Renata!" potong Arka dengan nada frustrasi. "Kamu selalu ingin mengurungku dalam kotak kecil yang kamu sebut 'rencana masa depan'! Kamu ingin mengubahku jadi orang lain!"
"Aku tidak ingin mengubahmu! Aku cuma ingin tahu apakah aku ada di dalam masa depanmu!" jerit Renata.
Airmata yang ditahannya akhirnya luruh. Arka terdiam, lidahnya kelu. Dalam diamnya itu, Renata menemukan jawabannya. Malam itu, Arka melangkah keluar dari apartemen Renata, meninggalkan keheningan yang jauh lebih pekat daripada sebelum kedatangannya.
Bulan-bulan berikutnya berjalan bagai mimpi buruk yang lambat bagi Renata. Ia kembali ke rutinitasnya. Jadwalnya rapi, pekerjaannya selesai tepat waktu, dan cangkir kopinya selalu berada di tempat yang sama. Namun, ada hampa yang besar di dadanya. Bumi yang dulu subur kini terasa tandus tanpa kehangatan api Arka. Renata menyadari bahwa kepastian tanpa kejutan ternyata terasa begitu membosankan.
Di benua lain, Arka sedang berdiri di tengah gurun Sahara, memegang kameranya saat matahari terbenam. Pemandangan itu luar biasa indah, tipe pemandangan yang dulu selalu ia impikan. Namun, saat ia menatap keindahannya, jarinya membeku di atas tombol shutter. Tidak ada orang di sampingnya untuk dibagikan cerita ini. Tidak ada Renata yang akan mengomeli jaketnya yang kotor, atau tertawa kecil saat Arka bertingkah konyol. Arka menyadari bahwa kebebasan tanpa tempat untuk pulang hanyalah bentuk lain dari kesepian.
Satu tahun berlalu.
Renata sedang menghadiri pameran fotografi bergengsi di pusat kota. Ia berdiri di depan sebuah foto berukuran raksasa yang memenangkan penghargaan utama. Foto itu menampilkan sebuah pohon tua yang berdiri kokoh di tengah badai gurun. Akarnya merancah dalam ke tanah, sementara dahan-dahannya meliuk tajam diterpa angin kencang.
Judul foto itu tertulis di plakat kecil bawahnya: Rasi Bumi dan Badai.
Di bawah judul itu, ada kutipan kecil: "Untuk Taurusku yang mengajarkan bahwa melayang tak akan ada artinya tanpa tanah untuk mendarat."
Napas Renata tertahan. Tangannya gemetar saat menyentuh tepi bingkai foto tersebut.
"Aku belajar bahwa api yang membakar segalanya hanya akan meninggalkan abu," sebuah suara familiar terdengar dari belakangnya.
Renata berbalik perlahan. Di sana berdiri Arka. Wajahnya sedikit lebih gelap terpapar matahari, ada sedikit brewok di dagunya, namun matanya masih menyimpan pendar yang sama. Dan kali ini, ia tidak membawa tas ransel besarnya. Ia hanya membawa sebuah kotak beludru kecil di tangannya.
"Arka..." bisik Renata, suaranya tercekat di tenggorokan.
Arka melangkah mendekat, berhenti tepat di jarak yang begitu dekat hingga Renata bisa merasakan kehangatan tubuhnya. "Aku menyelesaikan kontrakku lebih cepat. Aku keliling dunia, Ren. Aku melihat tempat-tempat paling indah di bumi ini. Tapi tak ada satu pun yang seindah saat aku melihatmu."
"Kamu... kamu kembali?"
"Aku tidak pernah benar-benar pergi, Ren. Jiwaku ketinggalan di balkonmu," Arka tersenyum tipis, mata cokelatnya berkaca-kaca. Ia berlutut di satu kaki, membuka kotak beludru itu. Di dalamnya melingkar sebuah cincin emas sederhana dengan hiasan batu permata berwarna hijau zamrud warna kesukaan Renata.
"Aku Sagitarius, Ren. Aku akan selalu mencintai petualangan. Tapi aku baru sadar, petualangan terbesar dalam hidupku adalah membangun masa depan bersamamu. Aku tidak minta kamu ikut terbang bersamaku, dan aku janji tidak akan pernah memaksamu melompat tanpa jaring. Tapi maukah kamu menjadi jangkarku? Maukah kamu mengizinkanku menjadi angin yang memberikan udara pada bumimu?"
Renata menatap Arka, lalu menatap cincin itu. Semua perhitungan logika di kepalanya runtuh. Semua ketakutan akan ketidakpastian mendadak menguap. Ia sadar, cinta bukan tentang mencari seseorang dengan elemen yang sama, melainkan tentang bagaimana dua elemen berbeda saling melengkapi tanpa saling memusnahkan.
Renata tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. Ia mengangguk pelan.
"Ya, Arka. Ya," bisik Renata.
Arka bangkit dan memeluk Renata erat, mengangkatnya sedikit dan memutarnya di tengah galeri foto yang ramai. Di antara beribu perbedaan bintang dan elemen, Taurus dan Sagitarius itu akhirnya menemukan keseimbangan mereka: sebuah kompromi manis antara akar yang merancah dalam dan sayap yang siap mengepak bersama.