Takdir di Bangku Sebelah Bagian 2
Menggenapi Gambar yang Belum Selesai
Suasana kelas VII-B perlahan-lahan mulai melandai setelah hiruk-pikuk upacara bendera dan pengumuman wali kelas pada hari pertama sekolah resmi berakhir. Bel istirahat pertama baru saja berdentang dengan suara nyaring yang khas, gaungnya memantul di sepanjang koridor-koridor semen putih SMP Negeri yang masih terasa asing dan mengintimidasi bagi ratusan murid baru. Sebagian besar anak langsung berhamburan keluar pintu menuju kantin, berteriak riang melepaskan ketegangan, menyisakan keheningan yang canggung sekaligus hangat di pojok barisan ketiga dekat jendela kaca yang berdebu.
Irfan Putra Nugraha dan Kamal Ardiansyah masih duduk terpaku di bangku mereka masing-masing. Tangan mereka yang beberapa saat lalu saling berjabat dengan erat perlahan-lahan terlepas, namun pandangan mata mereka tidak sedikit pun beralih satu sama lain. Ada ribuan pertanyaan, teka-teki, dan kerinduan masa kecil yang selama tiga tahun ini mengendap di dasar kepala masing-masing. Kini, semua memori itu mendadak mengapung ke permukaan, mencair, dan menuntut untuk segera dituntaskan dalam sebuah obrolan yang jujur.
"Aku benar-benar masih gak percaya sama semua ini, Mal," bisik Irfan memecah keheningan. Ia bersandar pada sandaran kursi kayunya yang keras, menatap langit-langit kelas yang bercat putih kusam dengan senyum lebar yang tak kunjung surut dari wajahnya. "Tadi pas aku minta izin ke toilet karena perutku mulas akibat gugup, jantungku rasanya mau copot waktu samar-samar mendengar namamu disebut oleh guru dari pengeras suara tepat setelah namaku. Di dalam toilet, aku terus-terusan berpikir, apa ini cuma nama yang kebetulan mirip? Tapi begitu aku melangkah masuk ke kelas ini terakhir kali dan melihat wajahmu yang sedang menatap pintu... ya ampun, kamu gak banyak berubah, Mal. Hanya tambah tinggi sedikit dan kulitmu agak sun-burned."
Kamal terkekeh pelan, suara tawanya masih menyisakan kecemprengan masa kecil mereka di taman bermain. Ia meraih botol air minum plastiknya, meneguknya sedikit demi sedikit untuk meredakan rasa gugup yang campur aduk dengan kebahagiaan yang meluap-luap di dalam dadanya.
"Kamu pikir aku gak jantungan, Fan?" balas Kamal sambil menaruh kembali botol minumnya. "Dari semenjak kita tidak sengaja berpapasan di lapangan tadi, pas upacara pembukaan MPLS, aku sudah merasa sangat familier dengan sorot matamu. Tapi karena kita sama-sama memakai seragam baru dan suasananya sangat ramai, aku ragu. Begitu namamu dibacakan sebagai murid VII-B, aku langsung berjalan cepat masuk ke kelas ini dan memutuskan untuk jagain bangku di sebelahku ini. Tadi ada sekitar tiga atau empat anak yang mau duduk di sini, tapi aku langsung pasang muka galak dan bilang, 'Maaf, bangku ini sudah ada orangnya.' Padahal demi Tuhan, aku sendiri gak tahu kamu ada di mana, atau apakah tebakanku tentang namamu itu benar atau salah. Aku cuma modal nekat dan berharap pada keajaiban."
Kamal terdiam sejenak. Matanya yang bulat kini menatap permukaan meja kayu yang penuh dengan coretan tipe-x dan ukiran pulpen dari murid-murid angkatan sebelumnya. Senyum di wajahnya berubah menjadi sedikit sendu, seolah membawa jiwanya kembali terbang ke masa lalu.
"Fan... kamu tahu gak? Selama tiga tahun ini... aku sering banget mikirin sore itu. Sore di taman bermain Alun-Alun kota," ucap Kamal pelan.
Irfan menolehkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Kamal, menatap wajah sahabat lamanya dengan saksama dan penuh perhatian. "Mikirin tentang taman bermain? Aku pikir cuma aku doang yang aneh karena terus-terusan memikirkan kejadian singkat itu."
"Ternyata gak, Fan. Kita sama-sama aneh kalau begitu," Kamal mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. "Sore setelah kita pulang dari taman bermain itu, aku sampai di rumah langsung dimarahi habis-habisan oleh Ibuku karena baju putihku penuh dengan noda pasir basah dan sudut mulutku cemong karena roti cokelat. Tapi anehnya, malam harinya aku sama sekali gak bisa tidur. Aku cuma bisa tiduran telentang di kasur sambil memandang langit-langit kamar yang gelap, berpikir keras... 'Irfan itu rumahnya di sebelah mana ya? Dia sekarang lagi ngapain ya? Apa dia juga sedang dimarahi ibunya karena bajunya kotor kayak aku?' Aku benar-benar menyesal setengah mati kenapa sore itu kita begitu polos. Kita hanya menyebutkan nama lengkap dan nama sekolah dasar kita tanpa pernah terpikir untuk bertanya alamat rumah, nomor telepon orang tua, atau apa saja yang bisa membuat kita bertemu lagi."
Mendegar pengakuan yang begitu tulus dari Kamal, dada Irfan terasa berdesir hangat. Rasa haru yang sejak awal kedatangannya ditahan di tenggorokan, kini mulai mendesak maju ke pelupuk matanya. Perasaan tidak menyangka bahwa perasaan rindunya selama ini berbalas, membuat hatinya bergetar hebat.
"Sama, Mal. Aku juga merasakan hal yang sama persis," suara Irfan melembut, matanya berkedip pelan menahan air mata. "Malah... ada satu rahasia besar yang belum pernah aku ceritakan kepada siapa pun di dunia ini, bahkan kepada Ibuku sendiri yang waktu itu mengantarku ke taman."
Irfan perlahan membuka ritsleting tas ransel hitamnya yang masih baru dan berbau kain toko. Ia merogoh kompartemen utama bagian paling dalam, melewati buku-buku tulis pelajaran Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia yang masih bersih bersampul plastik. Tangannya menyelinap ke dasar tas hingga menemukan sebuah buku tulis bersampul cokelat polos yang tampak agak usang dan melengkung di bagian sudut-sudutnya akibat sering dibuka. Buku itu adalah sebuah buku gambar ukuran kecil yang sengaja ia bawa dari rumah, sebuah benda personal yang selalu menemaninya sejak masa-masa akhir sekolah dasar.
"Lihat ini, Mal," kata Irfan sambil membuka lembaran-lembaran buku tersebut dengan sangat hati-hati, seolah benda di tangannya itu terbuat dari kaca tipis yang mudah retak jika tersentuh kasar.
Ia membalik beberapa halaman awal yang berisi coretan pemandangan gunung kembar, sawah, dan rumah dengan pohon mangga khas gambar anak-anak sekolah dasar. Langkah jemarinya terhenti di sebuah halaman yang berada tepat di bagian tengah buku. Di sana, terbentang sebuah gambar yang diwarnai menggunakan pensil warna seadanya, agak pudar namun polanya masih sangat jelas.
Gambar itu memperlihatkan dua sosok anak laki-laki kecil dengan proporsi tubuh khas anak-anak. Sosok pertama mengenakan kaus berwarna biru cerah, dan sosok kedua di sebelahnya mengenakan topi berwarna hitam yang digambar terbalik secara sengaja. Di latar belakang gambar itu, terdapat goresan pensil warna jingga berbentuk lengkungan perosotan dan sebuah pohon beringin besar dengan daun-daun hijau yang lebat. Di bagian atas gambar kedua anak tersebut, terdapat tulisan tangan anak-anak yang agak miring, kaku, dan ditulis dengan penekanan pulpen yang kuat, berbunyi: “Irfan & Kamal. Sahabat Sejati dari Taman Bermain.”
Kamal seketika terbelalak. Matanya menatap tidak berkedip pada lembaran kertas itu. Ia memajukan badannya, mendekatkan wajahnya ke buku gambar milik Irfan, lalu menyentuh permukaan kertas yang agak kasar itu dengan ujung jari telunjuknya yang sedikit gemetar.
"Kamu... kamu menggambar ini, Fan? Ini kan... ini kita pas di Alun-Alun dulu?" tanya Kamal dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
"Iya, Mal," Irfan mengangguk lambat, air mata kini benar-benar menggenang di sudut matanya yang hitam. "Aku menggambar ini kira-kira seminggu setelah pertemuan tidak sengaja kita itu. Waktu aku naik ke kelas 5, kalau aku lagi merasa bosan, jenuh dengan tugas-tugas, atau merasa kesepian di rumah karena tidak punya teman bermain yang sefrekuensi dan seru, aku selalu membuka halaman buku ini sendirian di kamar. Aku sering duduk di ambang jendela sambil memandangi gambar ini, berkhayal dan berimajinasi yang bukan-bukan. Aku membayangkan kalau kita itu sebenarnya bertetangga namun terhalang bukit, atau berkhayal suatu hari nanti kita bakal main sepak bola bareng di lapangan yang sama sebagai penyerang dan gelandang."
Irfan mengusap air mata yang hampir jatuh, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar. "Di bawah gambar ini, kalau kamu lihat pakai senter, ada bekas tulisan pensil yang sengaja aku hapus karena aku malu kalau ketahuan orang lain. Di situ aku selalu menulis doa pendek setelah salat magrib: 'Ya Allah, pertemukan Irfan sama Kamal lagi kalau sudah besar nanti. Irfan pengen main bareng lagi.' Tapi jujur, aku sama sekali gak pernah menyangka kalau Tuhan bakal mengabulkan doa kekanak-kanakanku itu secepat ini, di tempat ini, dan lewat cara yang luar biasa indah kayak begini."
Kamal menatap gambar itu lama sekali, tidak melepaskan pandangannya seakan-akan takut gambar itu akan hilang jika ia berkedip. Garis-garis pensil warna yang sederhana dan polos itu seolah memproyeksikan kembali seluruh memori tentang tawa riang, debu pasir yang beterbangan, dan rasa manis roti cokelat sore tiga tahun lalu langsung ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Perlahan, Kamal mengembuskan napas panjang yang terasa berat namun melegakan, lalu ia meraih tas sekolahnya sendiri yang diletakkan menggantung di samping kursi kayu.
"Ternyata... isi kepala dan hati kita benar-benar berjalan di jalur yang sama, Fan," kata Kamal dengan suara yang serak dan dalam, menahan emosi haru yang meledak-ledak di dalam dadanya.
Dari dalam kantong depan tasnya, Kamal mengeluarkan sebuah buku harian kecil bersampul plastik biru dengan pengunci magnet yang sudah agak longgar karena sering dibuka-tutup. Buku itu tampak tebal dan penuh dengan lipatan-lipatan kertas di dalamnya. Kamal membukanya dengan cepat, membalik halaman-halaman yang dipenuhi oleh tulisan tangan menggunakan pulpen hitam yang padat, hingga akhirnya jemarinya berhenti pada sebuah halaman tertanggal dua tahun yang lalu tepat saat mereka berdua sedang berjuang di kelas 5 sekolah dasar.
"Nih, kamu baca sendiri deh paragraf yang ini. Aku gak pintar menggambar estetik kayak kamu, Fan. Makanya aku cuma bisa menumpahkan semuanya lewat tulisan tangan," ujar Kamal sambil menyodorkan buku harian itu ke hadapan Irfan.
Irfan menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat ke arah meja Kamal. Ia memicingkan mata, membaca baris demi baris tulisan tangan Kamal yang tampak rapi namun masih memiliki karakteristik tulisan anak-anak yang polos:
“Hari ini di sekolah dasar Sukapura rasanya melelahkan sekali karena ada ujian matematika. Tapi saat jalan pulang sekolah tadi, aku tiba-tiba ingat lagi sama anak laki-laki yang ketemu di taman waktu kelas 4 dulu. Namanya Irfan Putra Nugraha, sekolahnya di SDN 2 Leuwiherang. Aku sampai sekarang gak tahu Leuwiherang itu ada di sebelah mana dari peta dunia, kata Bapak rumahnya mungkin jauh dari daerah Sukapura karena beda kecamatan. Aku sering mikir sendiri di kelas, apakah Irfan sekarang sudah kelas 5 juga? Apa dia masih suka main pasir atau sekarang sudah suka main bola pakai sepatu kayak anak-anak lain? Aku ingin sekali punya sahabat sejati yang beneran kayak di film-film petualangan TV, yang seru, kompak, dan gak pelit berbagi makanan bekal. Kalau nanti aku lulus dan masuk SMP, aku berjanji mau cari anak yang namanya Irfan Putra Nugraha di sekolah baru. Semoga dia belum lupa sama aku, dan semoga dia masih ingat rasa roti cokelat yang kita makan bareng waktu itu.”
Ruang kelas VII-B yang awalnya terasa bising oleh sisa-sisa obrolan murid lain di koridor luar, mendadak berubah menjadi sunyi senyap bagi pendengaran Irfan dan Kamal. Dunia seolah berhenti berputar sejenak untuk memberikan ruang bagi dua hati yang selama ini saling mencari dalam ketidaktahuan. Irfan membaca baris terakhir tulisan tangan Kamal dengan perasaan yang bergetar hebat. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru yang membahagiakan sekaligus melegakan. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa di belahan desa yang lain, di sebuah kamar tidur yang letaknya berkilo-kilometer jauhnya dan tidak pernah ia ketahui keberadaannya, ada anak lain yang merindukan kehadirannya dengan intensitas dan ketulusan yang sama persis dengan apa yang ia rasakan.
"Kita... kita ternyata sama-sama saling menunggu dan saling mencari dalam diam ya, Mal," kata Irfan akhirnya. Setitik air mata yang hangat akhirnya lolos mengalir membasahi pipi kirinya. Namun, ia segera menyekanya dengan cepat menggunakan punggung tangan seragamnya sambil tertawa kecil yang dipaksakan, merasa sedikit malu karena harus menangis tersedu-sedu di hari pertama masuk sekolah menengah pertama di hadapan teman barunya.
Kamal ikut tersenyum lebar, meskipun kedua matanya sendiri saat ini sudah sangat merah dan berkaca-kaca menahan air mata yang siap tumpah kapan saja. "Iya, Fan. Kamu benar. Selama tiga tahun berturut-turut, modal kita berdua cuma nama lengkap dan nama sekolah dasar masing-masing. Kita gak punya foto, gak punya nomor HP, gak punya teman bersama. Kita benar-benar buta tentang satu sama lain, tanpa tahu apakah takdir mau membawa kita ke titik temu atau malah menjauhkan kita selamanya. Jujur, waktu kita kelas 6 kemarin dan sibuk ujian kelulusan, aku sempat putus asa dan menyerah. Aku sempat berpikir, 'Ah, sudahlah, mungkin Irfan sudah pindah rumah ke luar kota, atau mungkin dia sudah melupakan kejadian di taman itu karena punya teman baru yang lebih seru di sekolahnya.' Tapi ternyata lihat sekarang... semesta punya cara yang paling ajaib buat mempertemukan kita kembali. Kita malah ditempatkan di kelas yang sama, di barisan yang sama, dan duduk di satu meja yang sama sebagai teman sebangku!"
Kamal mengulurkan tangan kanannya, lalu menepuk-nepuk pundak Irfan dengan sangat erat, memberikan dorongan emosional yang hangat. Jabat tangan di antara mereka kembali terjalin untuk kedua kalinya di hari itu, namun kali ini dengan sebuah rasa komitmen dan kedalaman emosi yang jauh lebih matang, berbeda dengan kepolosan anak-anak kelas 4 SD di taman bermain beberapa tahun silam.
"Dulu di Alun-Alun, kita cuma kenalan singkat dalam hitungan jam, main bareng sampai capek, bertukar makanan bekal, lalu pulang begitu saja tanpa ada kata pamit yang layak karena terburu-buru dipanggil orang tua kita," kata Kamal dengan nada suara yang tegas namun penuh kelembutan persahabatan. "Sekarang, di sekolah SMP yang baru ini, kita bakal memulai semuanya lagi dari awal dengan cara yang benar. Gak akan ada lagi rahasia alamat rumah yang gak tahu di mana, gak ada lagi ketakutan kalau kita bakal kehilangan jejak satu sama lain setelah bel pulang berbunyi."
Irfan mengangguk dengan sangat mantap, menutup buku gambar bersampul cokelat miliknya dengan perlahan, lalu memasukkannya kembali ke dalam kompartemen tas ranselnya dengan perasaan yang sangat lega dan plong. Beban rasa penasaran, rindu terpendam, dan tanda tanya besar yang dipikulnya sendirian selama tiga tahun terakhir kini menguap terbang ke udara tanpa sisa sedikit pun, digantikan oleh rasa syukur yang luar biasa besar kepada Tuhan yang telah mengatur pertemuan ini dengan begitu presisi.
"Mulai hari ini dan seterusnya, Mal," kata Irfan dengan tatapan mata yang penuh keyakinan menatap lurus ke arah mata sahabatnya, "Gambar anak berkaus biru dan anak bertopi terbalik di dalam bukuku ini bukan lagi sekadar khayalan kosong, coretan iseng, atau sebatas doa yang mengambang di awan. Kita berdua bakal menulis dan melukis cerita nyata yang jauh lebih panjang, jauh lebih seru, dan jauh lebih indah dari sekadar pertemuan sore hari di taman bermain anak-anak."
Sebuah ikatan persahabatan sejati yang bermula dari ketidaksengajaan yang amat sederhana di area bermain pasir, yang dipelihara dengan baik oleh rasa rindu dalam diam, goresan pensil warna rahasia, serta catatan-catatan kecil di buku harian, kini telah menemukan pelabuhan dan rumahnya yang baru. Di atas permukaan meja kayu kelas VII-B yang sederhana itu, dua anak laki-laki yang kini sedang melangkah beranjak remaja tersebut siap menghadapi dunia persekolahan yang baru bersama-sama, menggenapi takdir indah yang sejak awal telah digariskan dengan begitu menyentuh untuk perjalanan hidup mereka berdua.
Bersambung ke bagian 3