Malam di desa itu selalu punya caranya sendiri untuk menebar keheningan yang mendebarkan. Rumah Stevonia berada di ujung perkampungan, dipeluk rimbunan pohon-pohon besar yang mengeluarkan suara gemerisik saat angin malam bertiup pelan.
Cahaya lampu minyak bergoyang pelan di ruang tamu, melempar bayang-bayang di dinding kayu rumah yang mulai usang dimakan waktu. Jika orangnya penakut, maka bayangan itu seperti iblis yang mengintip.
Stevonia duduk di depan meja kecilnya, matanya sesekali melirik pintu yang belum ia kunci. Sebuah tikar yang digelar di lantai masih menampakkan sisa-sisa makan malamnya, semangkuk sisa sop ayam dan beberapa potong tempe goreng.
Di sudut ruangan, sebuah telepon genggam jadul milik suaminya tergeletak, menunggu saat di mana ia akan kembali dari pasar, tempat di mana dia harus berjalan cukup jauh demi mengisi ulang saldo aplikasi Dana dan mengirim uang ke...