Buah Langsat Gratis

Rico naik kapal motor Hutan Rimba dari Pontianak dengan tujuan Sintang. Dia menaiki tambang air ini atas rekomendasi kawannya karena gratis. Sebab pemiliknya adalah ayah kawan akrabnya itu. Namun kawannya tidak ikut karena masih ada tugas kuliah yang harus dia selesaikan.

Malam itu sinar bulan purnama memancar dengan terangnya, sehingga pemandangan di sepanjang sungai Kapuas yang mereka layari sangat indah. Para penumpang yang duduk di tepi kapal motor, maupun yang di haluan serta juga yang diatas atap bisa melihat pemandangan permukaan air sungai Kapuas yang beriak dan berkilat-kilat karena memantulkan sinar bulan purnama itu.

Kurang lebih pada saat tengah malam, Rico melihat beberapa orang yang turun dari atas atap kapal motor mengenggam sesuatu dengan mulut kunyap-kunyap. Sepertinya nikmat sekali, sehingga membuat Rico jadi penasaran.

“Makan apa?” bisiknya kepada seseorang laki-laki cukup berumur yang melewatinya.

“Buah langsat,” jawabnya memberitahu.

“Langsat apa?”

“Punggur.”

Langsat punggur adalah jenis buah langsat yang sangat manis dan di Kalimantan Barat hanya terdapat di daerah Punggur saja. Yang anehnya, sudah beberapa kali masyarakat mencoba menanamnya di tempat lain, tetapi hasilnya buahnya sangat asam. Hanya yang tumbuh di daerah Punggur saja yang tetap sangat manis.

“Punya siapa? Tanya Rico lagi.

“Ndak tahu,” jawab Bapak itu sambil menggelengkan kepalanya. “Ambil saja, semua orang juga pada mengambilnya kok.”

Rico sangat suka dengan buah langsat ini, terutama karena rasa manisnya itu. Sama sekali tidak ada rasa asamnya sedikit pun. Sehingga kalau sudah musimnya, maka Rico pasti membelinya. Karena tentu saja di kapal motor yang sedang melaju ini tidak ada orang yang menjualnya, sementara dia sudah sangat ingin memakannya, maka Rico pun naik menuju keatas dengan maksud mengambilnya.

Rupanya diatas sana penuh dengan barang dan meskipun bukan musim hujan, rata-rata barang-barang itu ditutup dengan terpal tebal. Celakanya, keranjang-keranjang tempat menyimpan buah langsat itu sepertinya berada ke arah haluan, sementara tangga naik tadi dari arah buritan kapal. Sehingga membuat Rico terlebih dahulu harus berjalan melewati beberapa tumpukan barang yang tertutup terpal tebal itu.

“Aduh. Sakiiitt...!” Terdengar teriakan suara perempuan yang tanpa sengaja terinjak oleh Rico ketika dia lewat tadi. Dia sama sekali tidak mengira jika di bawah salah satu terpal itu ada orangnya.

“Kalau lewat itu lihat-lihat oooyy. Ada orang di bawahnya...!” Terdengar bentakan seorang laki-laki. “Memngganggu saja.”

“Ooh, maaf. Tidak sengaja.” Kata Rico.

Rico juga heran, sedang apa laki-laki dan perempuan berada di bawah karpet diatas atap kapal motor ini. Tetapi dia tidak memperdulikannya lagi, karena terus beringsut ke arah keranjang tempat menyimpan buah langsat Punggur itu. Diperhatikannya, ada sekitar 40 buah keranjang yang penuh buah langsat.

Diambilnya sebanyak yang dia bisa ambil, lalu kembali dengan hati-hati agar tidak menginjak pasangan tadi. Sesampai di bawah, Rico menikmati buah hasilnya tadi. Memang sungguh enak dan sangat manis.

Meskipun dalam hati Rico sadar jika perbuatannya itu adalah tidak benar, tetapi mereka yang lainnya juga mengambilnya secara berjamaah, pikirnya. Atau inikah alasan yang membuat orang koruspi itu tidak malu-malu melakukannya. Biar pun mereka tahu jika barang itu salah, tetapi uangnya kan memang manis. Apa lagi kalau tindakan hukum terhadap pelaku tidak membuat efek jera.

***

7 disukai 5.1K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction