Disukai
1
Dilihat
35
Penebusan dosa sang naga
Komedi
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

*NAGA TERAKHIR*

_Oleh Lala, dari cerita tuanku yang tampan

Seribu tahun bukanlah tidur. Seribu tahun adalah mati yang ditunda.

Aku membuka mata ketika dunia sudah lupa caranya mengeja namaku. Sisikku yang dulu sekeras baja kini diselimuti lumut. Napasku yang dulu bisa melelehkan gunung, kini hanya embun di bibir gua.

*Aku bangun, dan dunianya kosong.*

Aku terbang dari puncak Himalaya ke dasar Palung Mariana. Kususuri menara-menara manusia di Jakarta, kuendus reruntuhan kuil di Machu Picchu, kuterobos badai pasir di Sahara. Nihil. Tidak ada kepakan sayap lain. Tidak ada auman yang menjawab panggilanku. Hanya gema, yang memantul lalu mati di telingaku sendiri.

Langit milikku seorang.

Lelah, aku memilih diam. Di bawah air terjun Sigura-gura, aku melingkarkan tubuhku di dasar kolam. Biar air menenggelamkan sepi. Biar gemuruhnya membungkam pikiranku. Aku sang naga terakhir. Fosil yang masih bernapas.

Sampai suatu senja, ada langkah kaki.

Seorang petualang. Jubahnya lusuh, pedangnya berkarat, tapi matanya... matanya seteduh danau yang belum pernah disinggahi perang. Dia tidak lari. Dia hanya duduk di batu, membuka bekal rotinya, dan menawariku separuh.

“Kaukah naga terakhir?” tanyanya, tidak takut, tidak kagum. Hanya... kasihan.

Aku mengangguk. Debu seribu tahun rontok dari daguku.

“Kenapa hanya kau yang tersisa?”

Aku menggeram, air terjun bergetar. “Karena kami tamak. Kami membakar desa demi emas. Kami mengira langit adalah takhta kami sendiri. Para dewa murka. Lalu satu per satu saudaraku jatuh.”

Petualang itu menggigit rotinya lama. Lalu dia bercerita. Tentang prasasti yang dia temukan di kuil yang tenggelam. Tentang ramalan yang diukir pada tulang naga pertama.

_“Ketika api para naga padam oleh kesombongannya sendiri, satu akan disisakan. Bukan untuk memerintah, tapi untuk mengingat.”_

Dadaku sesak. Jadi ini bukan kebetulan. Ini hukuman.

“Mungkin ini karma,” bisikku, lebih kepada diriku sendiri. “Atas semua yang telah kami bakar.”

Aku menundukkan kepala ...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)