Inovasi Iblis

"Dipenggal tiga kali? Atau diiris kecil-kecil?" Bolar dan Cocot gelisah memikirkan hukuman. Mereka gagal dalam masa orientasi setan-setan fresh graduate. Mereka harus lulus dulu sebelum turun ke bumi dan merekrut downline. Sebagai salah satu raja iblis, Tuan Aka bertugas menjadi mentor.

Ternyata, Tuan Aka nggak murka, dia memanggil keduanya lalu mengajak ngobrol baik-baik. "Tegakkan kepalamu, Nak. Ceritakan saja kenapa bisa gagal."

"Mohon maaf Tuan, saya salah memilih target." Bolar bersuara. "Saya menggoda seorang penjahat yang baru keluar penjara untuk menjambret nenek-nenek."

Tuan Aka tersenyum kecil. "Kenapa gagal?"

"Saya sudah berhasil membesitkan niat jahat di benaknya. Bahkan, dia sudah membuntuti nenek-nenek yang sedang berjalan sendirian. Setelah dekat, dia berhenti lalu putar balik. Dia mendadak teringat ibunya di kampung." Bolar menjelaskan sejujurnya.

"Itulah, sekarang kamu tahu. Jangan menghakimi manusia dari penampilannya." Tuan Aka memberi masukan dengan lembut. "Kalau kamu kenapa?"

"Mohon maaf Tuan, saya juga salah memilih target." Kali ini, Cocot yang bersuara. "Saya memilih satu mahasiswa berandalan. Saya menggoda dia untuk memukuli orang yang menyinggungnya. Dengan tato dan anting di tubuhnya, saya pikir akan mudah untuk membuat dia memukul seseorang. Saya gagal, karena ternyata dia memaafkan orang itu. Saya cuma berhasil menggoda dia untuk pergi mabuk."

"Lumayan, tapi masih kurang. Neraka lebih menyukai kejahatan daripada kenakalan, Nak." Tuan Aka memberi petuah dengan sopan. "Kalian seharusnya lebih kreatif. Sebagai iblis, kita harus berinovasi lebih cepat dari manusia."

Tuan Aka mengajak Bolar dan Cocot turun ke bumi. Mereka tiba di kamar kos seorang mahasiswa. Tuan Aka menatap Bolar dan Cocot dengan penuh keteduhan. "Coba, godaan apa yang harus kita pakai untuk orang ini?"

Bolar mengamati orang itu sejenak. "Sepertinya agak sulit, orang ini baik, berprestasi dan cukup rajin beribadah."

"Saya sepakat, sepertinya orang ini bukan target setan fresh graduate seperti kami." Cocot menambahi.

Tuan Aka tersenyum. "Justru itu, semakin seseorang merasa baik, semakin mudah dia merasa benar. Semakin dia merasa benar, semakin mudah pula mencari celah."

Bolar dan Cocot saling pandang. "Ajari kami, Tuan." Kata mereka, serempak.

"Dia ini downline saya. Dia nggak membunuh atau memukul orang. Overall, dia disukai masyarakat. Kalau terlalu sulit mencari celah dengan keburukannya, cari celah melalui kebaikannya. Perhatikan itu."

Bolar dan Cocot memperhatikan orang itu yang sedang memainkan ponsel. Dia membuka media sosial dan mengamati salah satu akun cewek cantik. Dengan lihai, jemarinya mengirimkan pesan.

'Kakak cantik, tapi maaf Kak sekedar mengingatkan, bajunya kayak lonte.'

"Dia pakai akun palsu?" Bolar dan Cocot serempak bertanya.

"Ya, melalui akun itulah dia melukai perasaan orang-orang. Citra baik tetap menempel pada dirinya, jadi dia melakukannya berulang-ulang. Bahkan, dia nggak sadar kalau yang dilakukannya itu jahat." Tuan Aka menjelaskan dengan sopan. "Kalian mengerti sekarang?"

"Mengerti Tuan." Keduanya kompak menjawab.

"Sini." Tuan Aka merentangkan tangan dan memeluk keduanya. "Kalau kalian kesulitan, langsung temui saya, ya."

Bolar dan Cocot tersenyum kecil. Ketiganya berpelukan dalam damai.

"Terima kasih Tuan, kami nggak mengira akan dinasihati sebaik ini." Ungkap Bolar.

"Betul Tuan, sebelumnya kami takut dihukum." Cocot menambahkan.

Tuan Aka cuma tersenyum dan menjawab. "Iblis nggak boleh menyakiti sesama, biar manusia saja yang seperti itu."

1 disukai 1 komentar 819 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
nice kak, cuman lebih cocok ke genre drama kak jadinya. Maaf, itu hanya argumen saya saja
Saran Flash Fiction