Disukai
2
Dilihat
995
Penanggal
Horor

Mematut diri di hadapan kaca, adalah kesukaan para anak dara. Begitu juga Tundjung, seorang dara berumur yang tak laku karena tak rupawan. Putus asalah sudah dirinya memoles diri mempercantik rupa, tetapi lupa memperbaiki akhlak hingga hanya pujian dunia yang ia kejar kini. Akhirat pula tak dipedulikannya. Kini tidak lagi, Tundjung sudah berhasil mendapatkan kecantikan yang menawan.

 Subuh saat langit belum terang sempurna, Tundjung sudah sibuk mengaduk cuka dalam tempayan di samping luar jendela kamar. Ditutupnya tempayan dengan terpal baru ia tindih dengan pelepah pisang dua lapis. Usai kerja dia selesai, mengedar pandangan ke sekitar takut terlihat manakala mungkin ada orang yang sedang memandang. Puas hatinya, kerja dah selesai tinggal menunggu malam melaksanakan hajat demi menambah cahaya kecantikan.

 Tiga rumah berjarak dari rumah Tundjung, seorang wanita berperut besar sudah sampai bulan agaknya. Berjalan kepayahan naik turun tangga demi mempermudah kelahiran. Tiap pagi ritual dia mulai, agar tak susah dukun beranak membantu proses kelahiran. Suaminya duduk di ambang pintu hanya menjadi teman dan memandang tak tahu pula memainkan peran mendampingi istri yang kepayahan.

 Selepas berjalan naik turun tangga, wanita itu pun beralih ke tahap berikutnya, menarik kain panjang yang diikatkan ke batang pohon jambu di halaman. Bergantung lalu berayun pelan dengan kaki lebar mengangkang. Kata dukun beranak, cukup terbatuk lahirlah anak, tak perlu berjuang susah payah jika ritual rutin dikerjakan.

 Ketika hari mulai terang, keluarlah Tundjung membawa keranjang membawa nasi lemak sebagai dagangan. Melintaslah ia di hadapan wanita yang tengah sibuk mengayun diri di pohon jambu, mengolah napas membiarkan peluh mengalir perlahan.

“Kak, nak nasi lemak? Letih berolahraga, tentulah perut harus diisi,” sapa Tundjung ramah.

“Ha, Dik Tundjung. Bagi dua bungkus, kejap abang ambil duit,” seru laki-laki yang duduk di depan pintu.

“Pagi lagi kau keliling, Tundjung?” tanya wanita itu seraya melepas tangannya dari lilitan kain. Letih agaknya dia bergantung.

“Iya, Kak. Rezeki dijemput, kan. Bukan ditunggu,” ucap Tundjung.

Wanita itu duduk di tanah merenggangkan kakinya lalu mengelap peluh yang bercucuran dengan ujung lengan bajunya.

“Amboi! Dah besar hamil kakak? Berapa bulan sudah?” tanya Tundjung dengan mata berbinar.

“Alhamdulillah sudah sampai bulan. Entah-entah pun, besok lahir. Dah ada firasat akak nak jumpa bayi ni dalam waktu dekat,” jawabnya lalu mengelus perutnya.

“Hm, bahagia betul Akak.” Tundjung memandang lekat perut wanita itu, dadanya berdebar tak sabar ingin menyentuh perut itu.

“Di kampung kita, lagi musim orang hamil pula, ya, Kak?” tanya Tundjung seraya menelan ludah.

“Kurasa iya pula. Kak Masitah pun hamil besar juga. Sejak semalam dia sudah sakit-sakit. Belum juga keluar.”

“Ooo, dah sakit-sakit? Tak lama lah, tu.”

“Ini duit kau, Tundjung. Bagi nasi lemak dua bungkus, ya. Kalau ada pulut inti, bagi sebungkus,” ujar suami wanita itu yang sudah berada di antara mereka.

*****

 Seiring suara azan Isya selesai berkumandang, saat itu pula keriuhan terjadi di rumah Masitah. Riuh orang sekampung menabuh beduk. Anak bayi Masitah yang baru lahir, telah meninggal mengenaskan. Habis badan dia separuh sementara masitah, pun terbaring lemas tak sadarkan diri. Darah keluar begitu banyak. Masitah melahirkan satu jam sebelum dukun beranak di ujung kampung tiba di rumahnya.

 Menurut pengakuan beberapa orang, kejadian yang menimpa Masitah adalah kerja Penanggal. Ada dua orang yang melihat makhluk pujaan itu melintas di atap rumah Masitah. Sepotong kepala berambut panjang dengan isi perut bersinar melayang cepat tepat saat suara jeritan terdengar dari rumah Masitah.

“Ada ribut-ribut apa di luar sana, Bang?” tanya Munah kepada suaminya. Peluh mengucur di dahinya. Sejak petang sudah beberapa kali ia di dera sakit melilit pinggang.

“Dah, kau tak usah ikut sibuk. Kau masuk kamar, baca doa biar abang urus sesuatu,” ucap Juhari lalu menuntun istrinya memasuki kamar.

“Tapi bagaimana? Perut aku sakit sudah. Agaknya, sudah waktunya aku nak melahirkan,” ucap Munah yang mulai kepayahan.

“Hah? Betul ke? Kalau begitu, kau tunggu di sini. Selagi dukun beranak ada di rumah Kak Masitah biar kupanggil dia kemari,” ujar Juhari.

Baru saja Juhari melangkah beberapa langkah dari rumah, dia terjumpa seorang kawan yang berlari ke arah rumahnya.

“Ada apa?” tanya Juhari.

“Istri kau hamil besar, kan? Baik sekarang kau jaga istri kau, Masitah dan bayinya tak selamat dimakan hantu penanggal,” ucap laki-laki itu dengan napas masih tersengal.

“Allahu Akbar! Betul kau cakap ini?”

“Betul! kau pulang, ambek pandan berduri biar penanggal tak datang ke rumah kau.”

Tanpa berpikir dua kali, Juhari berlari ke rumahnya. Lekas dinaikinya anak tangga menuju dapur. Diraihnya pisau dan berjalan keluar dapur menuju perigi di halaman belakang. Ada banyak pandan berduri ia tanam karena istrinya rajin menganyam tikar.

Dengan tergesa-gesa, ditebasnya pandan dengan sembarang lalu berlari lagi ia pulang menutup semua pintu dengan rapat. Tiap sudut rumah, tepi jendela dan pintu diikatkannya daun pandan. Tak lupa diselipkannya ke atap rumah yang terbuat dari nipah.

“Munah, kau jangan ke mana-mana. Kau baca semua doa banyak-banyak, biar abang panggil dukun beranak.” Juhari berpesan lalu meninggalkan istrinya yang tak sempat bertanya.

Juhari kembali keluar dari rumah berlari menuju rumah Masitah. Ada beberapa orang berkumpul dan suara isak tagis terdengar. Setelah ia menyampaikan hajat kedatangannya, cepat dukun beranak ikut dengannya menuju rumah. 

“Kau sudah merasa sakit sejak tadi?” tanya dukun itu seraya meraba perut Munah.

“Iya, Mak. Berjam-jam sudah, tetapi belum ada tanda dia nak keluar.”

“Bersabarlah, kejap lagi kau akan berjumpa dengan anak kau.”

“Ada apa di luar sana, Mak? Tadi kudengar suara beduk dipukul kuat,” Munah bertanya sambil meringis menahan sakit.

“Itulah, mungkin sudah takdir Masitah, terlambat kita tahu kalau ada penanggal di kampung kita,” ucap dukun itu seraya menyiapkan kain panjang.

“Duuuh… sakitnya perut aku,” rintih Munah ketika sakit yang ia rasakan semakin bertambah parah.

 Beberapa menit berlalu, dalam peluh yang membanjiri juga lantunan doa Juhari menemani perjuangan Munah bertarung dengan maut, akhirnya seorang bayi laki-laki keluar dengan selamat. Ucapan Hamdalah pun terdengar dari bibir mereka.

“Kau azankan anak kau, Juhari.” Dukun itu menyerahkan bayi Munah yang sudah bersih itu kepada Juhari.

Dengan berlinang air mata bahagia, Juhari menggendong bayinya lalu mengumandangkan azan dengan lembut. Di saat yang bersamaan, suara berdebum terdengar dari atas atap. Serentak mereka mendongak melihat langit-langit rumah. Masing-masing dari mereka hanya bisa diam ketika beberapa tetes darah menetes dari atap rumah jatuh ke kening Munah.

“Penanggal…” lirih dukun beranak lalu memandang Juhari yang tegang.

“Mak, jaga anak istri aku, aku nak usir penanggal itu!” Juhari menyerahkan bayinya kepada dukun beranak.

Dia keluar dari rumah dengan menggenggam kayu panjang yang biasanya berfungsi sebagai pengunci pintu.

Rasa marah menguasai Juhari kini. Dia berteriak mengacungkan kay uke arah atap rumah. Benar saja, sepotong kepala denga nisi perut bersinar melayang-layang di atas rumahnya mencoba menerobos atap untuk masuk.

“Tolooong! Ada Penanggal! Tolooong!” pekik Juhari.

 Orang ramai yang masih berkumpul di rumah Masitah, berlari mengejar arah suara. Ketika melihat makhluk jadi-jadian itu terbang melayang, riuhlah mereka mengejar. Makhluk itu agaknya tahu kalau ia sedang terdesak di kerumuni oang banyak, ia melesat terbang tetapi orang banyak ikut berlari kencang.

Pada suatu rumah, penanggal itu berhenti dan berputar-putar. Namun, ia tidak turun atau pergi hingga salah seorang dari mereka tersadar kalau ada sesuatu yang tak beres pada rumah itu.

“Cari tempayan di rumah itu! Periksa apa ada air cuka! Buang cepat!” teriak salah seorang dari mereka memberi perintah.

 Lekas mereka berpencar. Memeriksa tempayan yang dimaksud. Juhari yang ikut memeriksa, menemukan satu tempayan yang ditutup pelepah pisang dan terpal. Diperiksanya tempayan itu, benarlah, ternyata sepenuh tempayan, bau cuka menyengat hidung pun tercium.

Juhari berseru meminta pertolongan agar bisa menelangkupkan tempayan. Beramai-ramai mereka menggulingkan tempayan hingga terbalik. Salah seorang pemuda masuk ke dalam rumah mencari jasad penanggal yang tertinggal. Diperiksanya dua kamar yang ada di rumah itu, saat melihat tubuh tanpa kepala berdiri menghadap dinding, dengan memberanikan diri pemuda itu membalik jasad makhluk jadi-jadian itu lalu menutup bagian leher yang berlobang dengan parang yang ada di tangannya.

“Aku dah balikkan badan dia!” serunya dari dalam rumah.

 Makhluk yang hanya tinggal kepala itu masih berkeliaran. Kali ini ia terbang rendah, mengitari tempayan yang tertelangkup. Sebelum ia bertemu dengan jasadnya, maka wajib ia merendam isi perutnya ke dalam tempayan berisi cuka. Kalau tidak, isi perutnya tidak akan muat lagi masuk ke dalam badannya. Teruslah ia terbang mengelilingi tempayan.

 Di saat seperti itu, Juhari mengangkat kayu di tangannya dan memukul kepala itu hingga terpental ke tanah. Gegap gempitalah sorakan kemenangan mereka ketika melihat makhluk itu tergeletak di tanah dengan kepala yang sudah pecah berdarah.

*****

 Dua tahun sudah berlalu, kampung aman dan tentram. Tak ada penanggal, tak ada Tundjung yang melintas di pagi hari berjualan nasi lemak.

Pagi hari, Munah duduk di depan pintu bermain dengan anaknya. Perutnya kembali besar menunggu kelahiran anak kedua, seorang wanita datang mendekat tersenyum ramah menyapa.

“Kak, Nak nasi lemak?”

 

Rantauprapat, 2023

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar