GELAS PLASTIK

Aku tahu kau tidak tertarik padaku. Bahkan jika dalam kondisi terdesak sekalipun, kau tidak benar-benar tulus melakukannya. Lupakan soal memujiku, bangga menampung air putih untuk kau minum saja kau tidak pernah menghargaiku. Aku memang hanya gelas plastik. Sangat tidak menarik, rupaku terlihat murahan. Aku barang paling dilupakan dalam rak dapurmu. Kau hanya terpaksa menggunakanku ketika semua gelas-gelas kaca indahmu sedang kotor dan belum dicuci. Saat kau kehausan, terburu-buru menuang air dalam tubuhku, meminumnya dariku. Lalu meletakkan ku sembarangan.

Meski begitu, aku senang. Setidak-tidaknya aku menjadi pahlawan saat kau kehausan, walau sebenarnya air lah menyembuhkan dahagamu itu, tetapi aku menjadi bagian dalam prosesnya. Dan itu hal yang jarang sekali kau lakukan. Bagaimana tidak, kau terlihat sangat bahagia dengan gelas kacamu.Memang mereka jauh lebih indah dan mewah dibanding aku,  sungguh aku cemburu. Ketika mereka bisa merasakan bibirmu saat kau minum, saat mereka memanjakanmu. Tapi aku berusaha ikhlas, tak apa asal kau bahagia.Namun jangan sampai mereka menyakitimu kelak. Sebab kau tahu mereka gelas kaca yang sewaktu-waktu bisa retak dan pecah, tajamnya bisa saja melukai bibirmu hingga berdarah.

Perlu kau pahami sekali lagi, aku hanyalah gelas plastik.

1 disukai 2.8K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction