Disukai
0
Dilihat
19
Pemuda Petualang dan Putri Cempaka Kuning
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bab I: Jejak Langkah di Kaki Bukit Barisan

Panggilan Wangi dari Rimba Sunyi

---------o0o---------

Di bawah naungan megah jajaran Bukit Barisan yang membentang laksana punggung naga zamrud berselimut halimun abadi, terhampar sebuah lembah sunyi bernama Lembah Cermin. Di sanalah waktu seakan mengalir lebih lambat, dijaga oleh desau angin gunung yang melintasi rumpun bambu betung dan dedaunan pohon trembesi raksasa. Udara fajar di lembah itu senantiasa beraroma tanah basah bercampur embun dingin yang menetes dari pucuk-pucuk pakis hutan. Di antara segelintir penduduk dusun yang hidup bersahaja dengan memetik kopi hutan dan menganyam rotan, hiduplah seorang pemuda bernama Bayu.

Bayu bukanlah pemuda biasa yang betah berlama-lama duduk di pelataran balai desa membicarakan harga getah perca atau hasil panen ketela. Sejak sepasang kakinya cukup kuat menjejak jalan setapak berbatu, jiwanya telah tertambat pada keheningan rimba raya. Ia memiliki mata yang tajam bagai elang gunung, namun tatapannya selalu memancarkan kelembutan yang teduh. Rambutnya ikal sebahu, sering diikat sederhana dengan seutas tali serat kulit kayu waru. Kulitnya kecokelatan terpanggang matahari pegunungan, ditempa oleh ratusan pengelanaan melintasi lereng-lereng curam dan jurang ngarai yang kerap membuat ciut nyali para pemburu kawakan.

Bagi orang-orang tua di dusun, hutan adalah tempat yang harus dihormati sekaligus ditakuti. Mereka percaya bahwa pepohonan purba yang batangnya sebesar pelukan lima orang dewasa itu memiliki penghuni tak kasat mata—leluhur rimba yang tak segan meniupkan kabut pekat untuk menyesatkan siapa pun yang bertindak sembrono. Namun bagi Bayu, hutan belantara bukanlah ancaman. Baginya, rimba adalah rumah kedua, sebuah tempat perteduhan suci di mana setiap gemerisik dedaunan menyimpan nyanyian rahasia tentang kehidupan semesta.

Namun, di antara ribuan jenis tumbuhan yang pernah ia jumpai—mulai dari anggrek hutan berkelopak ungu pekat, lumut kerak keperakan di punggung tebing kapur, hingga kantong semar berair madu—hanya ada satu pusaka flora yang benar-benar memenjarakan hatinya dalam pesona tanpa akhir: Bunga Cempaka Kuning.

Bagi Bayu, Cempaka Kuning bukanlah sekadar kembang hutan bermahkota sembilan sampai dua belas helai dengan warna kuning keemasan yang menawan. Di balik kelopaknya yang tebal dan lembut laksana beledu sutra, tersembunyi wangi harum yang teramat khas. Wanginya tidak menusuk hidung seperti melati liar di tepi pemakaman tua, pula tidak lekas memudar seperti kembang sepatu di pematang sawah. Aroma Cempaka Kuning memiliki ketenangan yang magis; harumnya manis, hangat, dan berakar kuat dalam sanubari, seolah mampu melarutkan segala gundah dan keletihan batin yang mengendap dalam dada seorang manusia fana.

Setiap kali musim kuncup tiba pada peralihan antara angin timur dan angin barat, Bayu rela berjam-jam memanjat lereng terjal hanya untuk menyaksikan kuntum pertama cempaka merekah di dahan pohonnya yang tinggi menjulang. Ia tidak pernah memetiknya dengan serakah untuk dimasukkan ke dalam kantung kain bekalnya. Ia hanya akan duduk bersila di bawah naungan dahannya, memejamkan mata perlahan, lalu membiarkan hidungnya menyerap aroma surgawi itu hingga seluruh pori-pori tubuhnya merasa sejuk dan damai.

"Engkau terlalu memuja bunga itu, Bayu," tegur Pak Tuo Saman, seorang tetua kampung berambut putih yang masih memelihara jenggot panjang seperti akar beringin, pada suatu petang di beranda rumah panggung bambu milik Bayu. "Bunga cempaka di hutan kita memang elok, namun ingatlah petuah para pendahulu. Segala yang be...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi