Disukai
1
Dilihat
79
Mereka yang Memilih Diam
Thriller
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bab 1 — Taman

Aku terbiasa membawa senjata.

Bukan karena aku suka kekerasan.

Aku hanya tahu bahwa keamanan tidak selalu bisa mengandalkan orang lain.

Aku bahkan punya sabuk hitam karate.

Tetapi sabuk hitam tidak membuatku kebal terhadap peluru, pisau, atau orang yang datang dengan niat buruk.

Karena itu, pistol selalu menjadi bagian dari pengamananku.

Malam itu aku pulang lebih cepat.

Aku tidak memberi tahu siapa pun.

Aku hanya ingin mengejutkan Armand.

Namun kejutan itu justru menjadi milikku.

Mobil Armand terparkir di taman keluarga.

Aku mengernyit.

Kenapa dia ada di sini?

Aku berjalan melewati pepohonan.

Lalu mendengar suara tawa.

Aku berhenti.

Armand.

Dan seseorang bersamanya.

Mandy.

Anak salah satu pembantuku.

Aku berdiri di balik pepohonan.

Tidak bergerak.

Tidak percaya pada apa yang kulihat.

Armand sedang mencium Mandy.

Di taman milik keluargaku.

Dengan laki-laki yang akan menjadi suamiku.

Dan perempuan yang selama ini kubantu seperti adikku sendiri.

Dadaku terasa sesak.

Namun aku tidak menangis.

Aku keluar dari balik pepohonan.

“Sudah selesai, Armand?”

Mereka langsung menjauh.

Armand menatapku dengan wajah pucat.

“Putri…”

Mandy menundukkan kepala.

Aku menatapnya.

“Pulang.”

“Kak Putri, aku bisa menjelaskan…”

“Pulang, Mandy.”

Dia menangis.

Tetapi akhirnya berbalik dan pergi.

Aku memastikan Mandy benar-benar meninggalkan taman.

Setelah dia pergi, hanya aku dan Armand yang tersisa.

“Putri, dengarkan aku.”

Aku menatapnya.

“Sejak kapan?”

Dia diam.

“Sejak kapan kau tidur dengannya?”

“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

Aku tertawa kecil.

Kalimat paling klise yang pernah kudengar.

Tanganku bergerak ke arah senjata yang biasa kubawa.

Armand melihatnya.

Wajahnya berubah.

“Putri…”

Aku mengeluarkan pistol itu.

“Aku tidak ingin mendengar penjelasanmu.”

Dia mundur selangkah.

“Kita bisa menyelesaikan ini.”

Aku menatapnya lama.

Kemudian terdengar satu letusan.

Armand jatuh.

Taman kembali sunyi.

Aku berdiri tanpa bergerak.

Pistol masih berada di tanganku.

Aku tidak merasa menang.

Tidak merasa lega.

Hanya kosong.

Aku kemudian berbalik dan berjalan menuju rumah.

Rosa sudah menungguku di ruang tengah.

Dia melihat wajahku.

Kemudian melihat tanganku.

“Nona…”

Aku hanya berkata,

“Armand ada di taman.”

Rosa tidak bertanya apa yang terjadi.

Dia hanya menatapku beberapa detik.

Lalu berkata kepada para pelayan,

“Jangan ada yang keluar rumah.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu.

Aku mungkin terbiasa membawa senjata untuk melindungi diriku.

Tetapi aku tidak pernah membayangkan suatu hari senjata itu akan mengubah seluruh hidupku.

Bab 2 — Mereka Memilih Berdiri

Malam itu, setelah Putri masuk ke kamarnya, Rosa memanggil seluruh pekerja rumah.

Sopir.

Tukang kebun.

Para pelayan senior.

Satpam.

Bahkan beberapa pekerja yang suda...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi