Bab 1 — Hidup yang Cukup
Aku anak yang cukup beruntung.
Hidupku berlebih, tetapi tidak berlebihan.
Aku tidak pernah tumbuh dengan kemewahan yang membuatku bisa membeli apa saja tanpa berpikir. Tapi aku juga tidak pernah benar-benar kekurangan.
Ayahku sudah tiada.
Sejak kepergiannya, kehidupan kami memang berubah. Namun kami masih baik-baik saja. Ibuku tetap berusaha memastikan rumah kami berjalan seperti biasa.
Ibuku sekarang berusia enam puluh empat tahun.
Salah satu sumber penghasilannya berasal dari kos-kosan yang kami miliki. Tidak besar, tetapi cukup untuk membuatnya tetap mandiri.
Sebenarnya, sejak muda Ibu memang sudah terbiasa bekerja.
Dia pernah berjualan macam-macam.
Apa saja yang menurutnya bisa menghasilkan uang, akan dicobanya.
Kadang aku melihatnya sebagai perempuan yang tidak pernah benar-benar bisa diam.
Kalau ada kesempatan untuk mendapatkan penghasilan, Ibu akan mengambilnya.
Mungkin dari dialah aku belajar bahwa memiliki uang sendiri memberikan rasa aman.
Kadang aku juga membantu Ibu menagih uang dari orang-orang yang mencicil.
Tidak selalu menyenangkan.
Ada orang yang membayar tepat waktu.
Ada juga yang harus ditagih berkali-kali.
Tapi aku sudah terbiasa.
Mungkin karena itu pula aku tidak pernah menganggap uang sebagai sesuatu yang tabu untuk dibicarakan.
Aku tahu bagaimana susahnya mendapatkan uang.
Aku juga tahu bagaimana rasanya harus menunggu seseorang membayar kewajibannya.
Ayahku dulu seorang ASN di salah satu departemen.
Setelah beliau meninggal, kami tidak tiba-tiba menjadi keluarga yang kehilangan segalanya.
Kami masih punya kehidupan yang cukup.
Aku sendiri bekerja di sebuah perusahaan.
Aku punya penghasilan.
Aku bisa membeli barang yang ...