Disukai
0
Dilihat
5
Ular itu Rabun, Sayang
Thriller
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

BAB 1 — JAZZ

Namaku Jazmine.

Bukan Jasmine.

Jazmine.

Entah apa yang ada di pikiran ayahku ketika memberiku nama itu. Yang jelas, kalau suatu hari aku membuat paspor, namanya akan tertulis:

Jazmine binti Andrew Halim.

Bukan Jasmine.

Aku seorang detektif, keturunan Batak-Chinese. Kombinasi yang cukup menarik untuk membuat orang bertanya-tanya aku lebih mirip siapa.

Jawabannya?

Entahlah.

Wajahku agak aneh. Unsur Chinese-nya paling terlihat dari rahangku. Selebihnya seperti hasil kompromi antara dua keluarga yang sama-sama keras kepala.

Aku punya partner bernama Putra.

Dia cukup pintar.

Masalahnya, teorinya sering kali hanya masuk akal di kepalanya sendiri.

Pernah suatu hari kami menghabiskan hampir seharian menonton drama China detektif. Aku sudah menebak siapa pembunuhnya sejak pertengahan episode.

Putra masih sibuk menyusun teori.

Sampai episode terakhir.

Pembunuhnya ternyata persis seperti dugaanku.

Aku menoleh kepadanya.

“Putra.”

“Hm?”

“Teorimu?”

Dia diam.

Aku tersenyum.

“Turut berduka.”

Begitulah kami.

Kami bekerja bersama.

Kami tinggal bersama.

Dan, ya, kami suami istri.

Jangan bayangkan kehidupan rumah tangga yang normal.

Rutinitas kami tidak normal.

Kadang kami makan malam sambil membaca laporan autopsi. Kadang kami bertengkar tentang siapa yang menghabiskan kopi. Kadang kami tidur sambil memikirkan tersangka.

Romantis?

Tidak juga.

Tapi entah bagaimana, kami cocok.

Sampai malam itu.

Sebuah panggilan masuk ke ponsel Putra.

Kasus pembunuhan.

Kami tiba di sebuah rumah yang sunyi.

Seorang wanita ditemukan meninggal di ruang kerjanya.

Tidak ada pintu yang rusak.

Tidak ada jendela pecah.

Tidak ada tanda perkelahian yang jelas.

Putra berdiri di samping tubuh korban.

“Menurutku pembunuhnya orang yang dikenal korban.”

Aku memasukkan kedua tangan ke saku jaket.

“Wow.”

Dia menoleh.

“Apa?”

“Baru lima menit di sini dan kamu sudah berhasil mengatakan sesuatu yang bisa dikatakan siapa pun.”

Putra mendengus.

“Kamu selalu begitu?”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kadang aku lebih menyebalkan.”

Dia menggeleng.

Aku tersenyum.

Kasus ini baru dimulai.

Aku belum tahu bahwa beberapa jam kemudian, kami akan menemukan sebuah kalimat yang akan membuat kasus sederhana ini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih aneh.

Sebuah kalimat yang ditulis di tempat yang seharusnya tidak ditemukan siapa pun.

Ular itu rabun, sayang.

BAB 2 — PASANGAN ANEH

Aku dan Putra memang pasangan yang aneh.

Bukan karena kami sering menyelidiki pembunuhan bersama.

Bukan juga karena pekerjaan kami membuat kami le...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi