Sedari kecil terbiasa hidup di lingkungan pesantren membuat seorang lelaki bernama Dzikri, identik dengan ilmu agama. Tutur katanya lembut, ilmunya tinggi. Jangan tanyakan adab perilakunya yang tentu sangat sopan dan membuat orang lain nyaman dekat dengannya.
Namun, karena hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk menuntut ilmu dan mencari ridho Ilahi, Dzikri tidak pandai mengutarakan perasaannya terhadap lawan jenis.
Ada salah satu putri dari teman Abinya yang menarik perhatian Dzikri. karena Dzikri tidak tahu harus bagaimana dan tak ingin melakukan dosa terus menerus dengan perasaan yang tidak halal, ia segera mengutarakan niatnya kepada orang tuanya untuk melamar perempuan tersebut.
Perempuan itu bernama Syifa, anak Kyai yang sangat anggun dan dia adalah seorang penghafal Al-qur'an. Orangtua Dzikri segera merealisasikan keinginan putranya, dan tentu perempuan itu menerima pinangan dari Dzikri dengan senang hati. Siapa pula yang tidak mau menjadi istri dari lelaki yang tampan dan berakhlak baik seperti Dzikri.
Namun, ada satu hal yang membuat rumit hubungan mereka.
Umur Syifa lebih tua beberapa tahun dengan Dzikri, hal itulah yang membuat keluarga Syifa meminta untuk menyegerakan acara pernikahan. Tetapi Dzikri, ternyata masih harus menyelesaikan studinya di Yaman setahun lagi.
Dzikri pasti menyetujui jika mereka melakukan ijab qabul terlebih dahulu dan dengan senang hati ia akan membawa Syifa ke Yaman sembari melanjutkan studinya. Dan yang menjadi masalahnya, Syifa tak ingin pergi keluar Negeri dan juga tak ingin hubungan jarak jauh. Itu semua membuat Dzikri sangat bimbang, ia tak bisa memutus kuliahnya dan melanjutkannya di Indonesia, karena sedari dulu ia telah berjanji kepada diri sendiri untuk menyelesaikan studinya di Yaman.
Dzikri memilih menjalankan sholat istikharah, meminta petunjuk kepada Yang Maha Esa.
Berhari-hari ia bimbang sampai akhirnya mendapat petunjuk dari Allah, dan keputusannya sudah bulat.
Ia tetap akan pergi ke Yaman dengan konsekuensi apapun, ia sangat mencintai ilmu yang didapat dari sana. Pun keputusan ini di dapat dari petunjuk hasil sholat istikharahnya.
"Kamu mencintaiku kan, Dzikri?" Itu adalah pertanyaan dari Syifa setelah keputusan itu dibuat.
"Saya mencintaimu karena Allah," jawab Dzikri dengan tersenyum yakin.
"Tidak bisakah kamu menghalalkanku dan melanjutkan studimu di sini saja?"
Dzikri terlihat terdiam sejenak.
"Saya sangat ingin untuk segera menghalalkanmu. Namun, saya harus melanjutkan pendidikan saya dan saya yakin karena ini hasil dari sholat istikharah saya. Saya mencintaimu, tapi saya lebih mencintai-Nya, jadi saya tidak bisa mengabaikan petunjuk dariNya. Karena kamu tidak mau ikut saya ke Yaman, jadi saya mohon, tunggulah saya sampai lulus dan kembali pulang untuk menghalalkanmu." Dzikri terlihat sangat yakin ketika mengucapkannya, meskipun raut wajah Syifa terlihat terluka karena Dzikri terkesan tidak terlalu menginginkannya. Tapi, Syifa akan berusaha sabar, karena ia paham seperti apa sosok lelaki dihadapannya ini. Ia akan melakukan hal apapun demi ridho Ilahi, meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.
Dan kedua pihak keluarga sepakat untuk menunda pernikahan mereka setahun lagi, sampai Dzikri lulus dari kuliahnya.
***
Sudah setengah tahun lamanya sejak keberangkatan Dzikri ke Yaman, dan mereka jarang sekali bertukar kabar, kadang seminggu sekali bahkan pernah sebulan tanpa saling mengabari. Dzikri yang memang sibuk kuliah sambil kerja di sana, dan Syifa juga sibuk dengan tugasnya mengajar para santri.
Namun, Dzikri tetap mempercayai rasa cinta mereka. Setiap mendapatkan gaji dari pekerjaannya, Dzikri selalu menyisihkan untuk biaya pernikahannya dan dia akan semangat menghitung hari demi hari menuju kelulusannya.
Dan hari ini, setengah tahun sebelum kepulangannya. Dzikri berniat memberi kabar kepada pujaan hatinya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" Mendengar suara lembut itu tak elak membuat senyum Dzikri merekah begitu saja.
"Apakah suratku sudah sampai padamu?" Pertanyaan Syifa membuat Dzikri mengernyit, bahkan mereka belum menanyakan kabar Satu sama lain.
"Surat? Maaf, saya sibuk sekali akhir-akhir ini," ucap Dzikri terdengar menyesal.
"Kamu pasti belum membacanya, bacalah segera, Dzikri. Dan maaf, aku harus mengajar, aku tutup dulu, ya. Assalamu'alaikum" Dan suara lembut itu telah menghilang begitu saja, padahal belum ada lima menit mereka menelpon.
Dengan segera, Dzikri keluar rumah dan mengambil surat dari Syifa di kotak pos.
Ia segera membacanya sembari berjalan memasuki rumah.
Teruntuk muhammad Dzikri.
Maafkan pasanganmu ini yang tak pernah memberi kabar, dan kali ini justru surat dariku datang untuk membawa kabar buruk bagimu.
Maafkan aku, aku dan keluarga tak bisa menunggumu lebih lama lagi. Ada seseorang yang meminangku dan siap untuk segera menghalalkanku. Keluargaku menyetujuinya dan berharap kamu dapat menerima keputusan kami untuk membatalkan pertunangan kita.
Dari: Zahra Assyifa.
Dzikri terpaku di ambang pintu, tubuhnya terasa lemas seketika. Apakah waktu setahun itu terlalu lama bagi mereka?
Hancur sudah harapan Dzikri. Untuk pertama kalinya, Dzikri merasa kecewa, dan itu karena harapan lebihnya terhadap manusia.
Dzikri merasa terpuruk, dan sang paman yang menemaninya tinggal di Yaman berusaha untuk menguatkan. Keluarga Dzikri pun mengabari, jika pihak keluarga Syifa telah mengembalikan barang-barangnya.
Dzikri memilih untuk mengundur kepulangannya, demi menyembuhkan luka dan kembali menjadi jati dirinya yang selalu menerima segala ketetapan dari Allah.
Di saat pernikahan Syifa berlangsung, Dzikri masih berada di Yaman memeluk lukanya sendiri.
***
Takdir Allah selalu tak terduga, dan Dzikri selalu yakin semua takdirnya adalah yang terbaik.
Nyatanya berapa lama pun dia mungundur kepulangannya demi menghindari seseorang yang disayang namun memberinya luka, tetap saja Sang Kuasa punya cara sendiri untuk menetapkan takdirnya.
Baru saja dua hari kepulangannya ke Indonesia setelah 3 tahun lamanya dia menunda-nunda. Akhirnya waktu ini pun tiba, ketika Dzikri harus bertatap muka dengan perempuan yang namanya masih bersemayam di hati Dzikri.
"Dzikri?" Syifa, perempuan itu kini nyata di hadapannya. Dan Dzikri menyesal memilih pergi ke taman kota demi menyejukkan pikiran, jika justru berakhir bertemu perempuan yang menjadi penyebab ricuhnya pikirannya.
Dzikri hanya bisa tercekat, menatap Syifa yang tengah hamil muda. Apalagi dengan kehadiran lelaki di belakang Syifa yang tengah menggendong anak kecil berumur setahun.
Tiga tahun sudah berlalu.
Seharusnya Dzikri sudah menerima dan ikut berbahagia melihat keluarga kecil mereka.
Bukannya malah merasa sakit seperti ini.
Dzikri masih terdiam, namun hatinya mulai berdzikir dan beristighfar. Berharap dapat membuatnya sadar akan kenyataan.
"Dzikri ya? Salam kenal, saya Raihan. Suami Syifa." Suami Syifa terlihat mengulurkan tangan dan di terima Dzikri dengan keheningan. Tidak perlu mengenalkan diri kan? Jelas lelaki itu sudah mengenalinya.
"Lama sekali tidak melihatmu dan aku ingin meminta maaf darimu secara langsung." Dzikri tetap tak ingin mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab ucapan Syifa, lagipula tidak ada yang perlu di salahkan karena semua ini sudah ketetapan dari Allah.
Karena melihat mereka sama-sama canggung, Raihan memutuskan untuk mengajak istrinya pergi dari hadapan Dzikri. Dua sejoli itu pamit meninggalkan Dzikri yang terlihat seperti orang bodoh, berdiri sendirian di tengah keramaian.
Setelahnya, Dzikri tersadar dan mengusap wajahnya kasar sembari beristighfar. Apa yang terjadi dengan dirinya? Kehilangan yang di cintai bukan berarti menjadi akhir dari semuanya, bukankah ia selalu percaya, Allah tak akan mengecewakan hambaNya jika kita hanya berharap kepada Sang Kuasa?
"Yang sabar ya, Gus." Suara tiba-tiba di dekatnya berhasil membuat Dzikri terkejut. Ia menoleh, dan mendapati seorang perempuan muda tengah tersenyum ke arahnya.
"Kak Syifa telah menemukan kebahagiaannya, jadi buat apa bersedih. Sebentar lagi kamu pasti menemukan kebahagiaanmu juga ...." Dzikri mengernyit, siapa perempuan ini, dan bagaimana dia berucap seakan mengetahui semuanya?
Perempuan itu menatap kepergian keluarga kecil tadi dan berucap tanpa menoleh ke arah Dzikri.
"Aku sepupu jauh kak Syifa, dan aku paham apa yang kamu rasakan, Gus."
"Karena lelaki itu, juga seseorang yang dulu selalu aku harapkan menjadi pasangan halalku ...."
Dzikri semakin terkejut mendengarnya, apalagi perempuan ini justru tersenyum lebar menatap kepergian Syifa dan suaminya.
"Jadi, buat apa bersedih. Berarti memang ini yang terbaik, mereka bukan ditakdirkan untuk kita. Berlarut-larut dalam kesedihan juga tidak ada gunanya, mending kita natap ke depan, banyak kebahagiaan yang bisa kita raih. Jika menoleh ke belakang terus menerus, lama kelamaan kebahagiaan yang akan meninggalkan kita."
Dzikri tertampar mendengarnya, sia-sia saja ilmunya selama ini jika hanya karena masalah kecil ia menjadi sebegitu sedihnya. Benar kata perempuan ini, kebahagiaan tak akan hilang hanya karena kehilangan satu kali. Ia harus mengikhlaskan karena Allah pasti mendatangkan yang lebih baik untuknya.
Dzikri tersenyum kecil melihat perempuan hebat di hadapannya ini. Benar, ia harus menatap kedepan, dan sepertinya kebahagiaan akan segera datang menyambutnya.
——————————