“Tolong!!!“
Suaranya menggema di tengah hutan yang sepi. Sesosok perempuan berpiama putih terlihat berlarian kencang, sesekali kepalanya menoleh ke belakang. Berusaha mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Tubuhnya penuh lebam, dahinya mengucurkan darah segar. Namun kakinya yang lemah tetap berusaha lari sekencang mungkin, meskipun tertatih-tatih.
Tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon, ia memekik kencang. Tubuhnya terjatuh di atas tanah basah, piama tidurnya sudah kotor oleh tanah bercampur darah.
Dari belakangnya samar terdengar suara tawa yang mengerikan.
“Haha! Kamu nggak akan bisa lari lagi!” Dan seorang laki-laki muncul begitu saja dari semak belukar.
“Ampuni aku, Mas ...,“ lirih perempuan itu dengan beringsut mundur. Kakinya terkilir, ia tak bisa berlari lagi.
Sang lelaki semakin mendekatinya, dan perempuan itu membelalak melihat celurit yang terangkat di genggaman lelaki itu.
Lelaki itu kembali berlari mendekatinya.
“T-tolong!! Tolong!!” Ia terseok-seok berusaha menyelamatkan diri. Berteriak sekencang mungkin.
Tapi, tak mungkin ada yang mendengar teriakannya karena mereka telah berada di tengah hutan.
Tiba-tiba lehernya dicekik dari belakang. Ia tercekat, menatap lelaki itu yang kini menyeringai tepat di depan matanya.
“Nikmati semua ini!” Lelaki itu mengangkat tinggi-tinggi celurit di tangannya.
Sang perempuan meronta-ronta. Memukul tangan lelaki itu di lehernya dan kakinya menghentak ke sana kemari. Napasnya menipis, ia tak mau hidupnya selesai begitu saja.
Tapi terlambat, senjata tajam itu melayang begitu saja.
Menembus lehernya dari samping.
Kedua matanya membelalak, teriakannya tak sempat keluar lagi.
Dan napasnya tercekat ....
Untuk yang terakhir kalinya.
*****
Malam ini, hujan baru saja berhenti setelah seharian mengucur deras.
Di sebuah pos kampling di pinggir desa terlihat 3 orang lelaki yang menahan kantuknya.
“Ngopi, bos! Ngopi!” Salah satu temannya tiba-tiba datang membawa 4 gelas kopi panas, membuat mata ketiga orang itu terbuka seketika.
“Tumpen baik, Jar?” tanya Pak Rahman, satpam desa dengan perut buncit.
Ijar—lelaki termuda di antara mereka, yang membawakan kopi tadi memberikan cengiran tanpa dosa.
“Bawain doang, masih ngebon ini, bayar sendiri-sendiri kalian di warung.”
“Wooo!!” Pak Jono, bapak-bapak umur 50an yang sering sekali nongkrong di pos kampling sampai pagi buta, menjitak kepala Ijar dari belakang.
“Anak muda itu harusnya ya yang bayarin,” sahut Pak Iwan, bapak dari Ijar itu, membuat Ijar menyengir.
“Kan duitnya juga dari Bapak.” Ijar berucap tanpa dosa.
“Makannya kerja!”
Ijar hanya berlagak menulikan telinga.
Mereka menikmati kopi panas sembari menatap sekeliling dan langit malam yang gelap dan sepi.
Udara setelah hujan terasa dingin, seakan menghembuskan alunan musik sunyi dengan hawa yang berbeda.
“Setelah ini keliling, jaga ronde. Sendiri-sendiri di setiap sudut desa.” Pak Jono memberi interuksi setelah menyeruput kopi panasnya.
Ijar seketika mendekatkan diri ke tubuh bapaknya.
“jangan sendiri-sendiri dong, Pak. Mana berani saya,” ucapnya menatap sekelilingnya yang sunyi dengan tatapan jerih.
“Umurmu berapa? Dah dua puluh, masih aja takut. Takut apaan, hah?” Pak Iwan menatap anaknya mengejek.
“Takut setan lah, Pak!”
“Hari gini masih takut setan, penakut kamu Jar, Jar,” sahut Pak Rahman sembari menghembuskan asap rokok.
“Yang kita takutkan itu kalo ada maling, perampok. Makanya kita jaga desa. Kalo setan mah nggak ada,” lanjutnya.
“Eh!! Bapak-bapak nggak tau apa, yang lagi rame di desa?” Ijar menatap ketiga orang di hadapannya dengan ekspresi serius.
“Apaan?” tanya Pak Jono.
“Kan lagi ramai itu, yang katanya pembunuhan di hutan deket sini. Yang rumahnya di ujung jalan tuh. Suami bunuh istrinya gara-gara kalah judol,” ucap Ijar dengan menggebu-gebu.
“Oh iya, kabar itu. Aku heran, yang kalah suaminya, kok yang dibunuh istrinya? Aneh banget.” Pak Jono mulai tertarik.
“Katanya emang si laki tukang judi sama tempramental. Pas kalah judol istrinya minta beliin beras sama keperluan rumah, banyak yang habis. Mereka malah bertengkar hebat, terus sampe si suami bawa alat tajam.”
“kamu ini, anak muda kok mulutnya kayak ibu-ibu rempong. Dapet gosip dari mana kamu?” sahut Pak Iwan menatap anaknya tak habis pikir.
“Lagi hot, Pak. Ya kali aku nggak tahu.” Ijar berucap santai.
“Terus gimana, tuh?” Pak Rahman ikut tertarik.
Ijar tersenyum miring, merapatkan tubuhnya, sembari menatap ketiga bapak-bapak di hadapannya dengan tatapan yang ia buat se mistis mungkin.
“Katanya, kepala istrinya dipenggal dan nggak tahu dibuang ke mana,” ucapnya dengan nada lirih.
Mereka menatapnya jerih.
“Biadab banget, ya.” Pak Rahman menggeleng prihatin.
“Itu, rumahnya yang diujung jalan tuh. Si suaminya udah ditangkap polisi buat di selidiki.”
Mereka sama-sama menoleh ke arah yang ditunjuk Ijar.
Sebuah rumah diujung jalan. Yang tak terlihat karena terlalu jauh dari tempat mereka.
Hanya ada jalanan gelap dan sunyi, dengan kabut tipis malam hari.
Suara ringikan hewan malam terdengar di kejauhan.
Mereka sama-sama menelan ludah susah payah.
Ijar menurunkan telunjuknya, bergidik ngeri sendiri melihatnya.
Ia kembali merapatkan tubuhnya ke ketiga bapak itu.
“Dan katanya, sampai sekarang arwah mbaknya masih gentayangan ...,“ bisiknya semakin lirih.
“Dengar-dengar ... ada yang pernah lihat penampakannya. Tubuh perempuan pake piama putih lusuh, penuh tanah dan darah ... berjalan sepanjang jalan sambil berbisik lirih, ‘tolong ... Kembalikaaan ... Kembalikaaan ...’ “
Ke empat lelaki itu semakin merapatkan tubuh.
“Bapak-bapak tahu, apa yang dia minta kembalikan?” Ijar bertanya lirih.
“Apa, tuh?” tanya Pak Jono dengan muka serius.
“Kepalanya ....“
Pak Jono, Pak Rahman dan Pak Iwan, sama-sama memucat.
“Nggak boleh sebut nama mbaknya malem-malem. Katanya ... dia bisa datang begitu saja ...“
“ Kalo nggak salah, namanya mbak Susi buk—mphh“
“HEH! SSSHHTT!!!” Ijar segera membekap mulut Pak Jono dengan muka panik.
“Pak! Jangan sebut dong! Udah tengah malam ini!” Ijar memelototi Pak Jono. Sudah tahu dilarang justru disebut begitu saja.
Pak Iwan menghembuskan asap rokok di udara.
“lakinya asli sakit mental itu. Ekonomi sulit nyari duit malah lewat jalur haram. Pas kalah, frustasi, istri sendiri jadi korban. Kasian,“ ucapnya dengan menggeleng prihatin.
Mereka sama-sama terdiam sesaat.
Angin malam berhembus kencang bercampur dengan aroma tanah basah, seakan mengirimkan hawa-hawa mistis pesan kematian yang belum terselesaikan.
Pak Jono kembali bergidik ngeri.
“Sudah, jangan bahas lagi. Lihat sekarang malam apa, malam jum’at.” Pak Jono menunjukkan layar HP yang menunjukkan hari apa sekarang.
“Iih, Pak. Jangan nakut-nakutin lah ....“ Ijar mencengkeram tangan bapaknya.
“Kamu sendiri yang tiba-tiba cerita, kamu juga yang paling ketakutan.” Pak Iwan menggeleng heran.
“Udah, ayo patroli. Kita bagi tugas. Dua orang pantau daerah selatan, dua orang lagi ke utara.” Pak Rahman menengahi perdebatan mereka.
“Saya sama Bapak, selatan! Hehe.” Ijar mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Cengengesan karena tahu daerah utara adalah tempat di mana pembunuhan itu terjadi.
“yeeh, nggak bisa. Kita suit biar adil.” Pak Jono menyahut sewot. Tentu ia juga takut ke daerah itu.
Ijar bersungut-sungut. Menyesal juga telah bercerita tadi. Sekarang bulu roma di tengkuknya terasa berdiri.
Mereka berempat berdiri, seperti anak kecil yang akan main petak umpet. Mengepalkan tangan kanan dan diletakkan di atas telapak tangan kiri.
“Suuuiit!”
Seri. Mereka sama-sama mengeluarkan bentuk gunting.
“Suuiitt!”
Ijar mengeluarkan bentuk gunting sendiri, yang lain mengeluarkan bentuk kertas.
“Yes! Aku selatan!” soraknya dengan senang.
Ketiga bapak itu menghela napas. Udara dingin membuat bulu kuduk mereka sama-sama meremang.
Seperti sedang berjuang di medan perang.
“Suuuiiiit!”
Dan tiba-tiba, sebuah tangan pucat terulur mengeluarkan bentuk kertas di antara bentuk gunting dari mereka bertiga.
“Boleh ... saya ... ikut ...?”
Mereka kompak menoleh.
Dan saat itulah, sosok perempuan dengan piyama putih lusuh dan penuh darah mengalir dari leher sudah berada di samping mereka.
“Tapi ... carikan kepala saya.”
Suaranya jelas.
Meskipun ....
Tanpa kepala.
“WHAAAAAAAA!!”
*****