TUBUH Yoon Seo-hwa merosot ke lantai segera setelah Dal-rae menyelesaikan bicaranya. Pelayan muda itu ikut bersimpuh. Menatap khawatir pada nona mudanya yang berwajah panik.
“Agassi[1] baik-baik saja?” Dal-rae menggamit tangan Seo-hwa yang mencengkeram roknya. Tangan itu gemetar.
“Bagaimana aku bisa baik-baik saja?” Seo-hwa memindahkan tatapan linglungnya ke mata Dal-rae Terlihat sedih dan putus asa. “Dal-rae-ya[2], aku harus bagaimana?”
Belum sempat Dal-rae menanggapi, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Pelayan itu bergegas bangkit dan membungkuk badan menyambut kedatangan Nyonya Eun, pemilik rumah bordil. Seo-hwa sendiri memilih tetap duduk. Ia bahkan tidak menoleh ke arah pemilik rumah bordil yang kini memandangnya dengan prihatin.
“Aku ingin bicara berdua saja,” tegas Nyonya Eun secara tidak langsung meminta pelayan muda Seo-hwa itu pergi.
Sejenak Dal-rae menoleh ke nonanya, kemudian berlalu dengan posisi badan tetap membungkuk. Ia menutup pintu. Menunggu di depan sana dengan perasaan resah.
“Melihat bagaimana ekspresi wajahmu saat ini, aku yakin kau sudah mendengarnya,” tebak Nyonya Eun langsung begitu ia mengambil duduk di hadapan Seo-hwa. Ia tidak repot-repot memerintah agar bertukar tempat. Wanita ini sedang terkejut. Ia memahami itu.
“Ya.” Sahutan Seo-hwa sepelan anggukan kepalanya. Ia belum mau menatap Nyonya Eun yang malam itu mengenakan rok berbahan sutra berat berwarna merah marun yang menyapu lantai, dipadukan dengan atasan putih tulang yang sangat kaku, menunjukkan kedisiplinannya. Di kepalanya, sebuah rambut palsu besar tertata sangat rapi dan berat, dihiasi dengan tusuk konde emas berbentuk naga yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang memiliki koneksi ke istana.
“Kau pasti sangat terkejut.” Nyonya Eun mengamati wajah pias Seo-hwa dengan iba. Kemudian menarik napas. “Baiklah. Kau belum siap. Masih ada banyak hal yang harus kau pelajari sebagai seorang gisaeng[3]. Aku akan mengatakan alasan itu untuk menolak Pengawal Yi.”
Nyonya Eun bersiap bangkit. “Sementara jangan keluar dulu. Tetaplah di kamarmu.” Ia baru akan melangkah pergi ketika suara rendah Seo-hwa terdengar mengejutkannya.
“Tidak, Haengsu-nim[4]. Aku akan melakukannya.”
Serentak Nyonya Eun berbalik dengan mata membesar. “Apa?”
“Kapan Pengawal Yi akan datang?” Mengabaikan keterkejutan di wajah Nyonya Eun. Mata Seo-hwa menatap lekat.
“Malam ini dia akan berkunjung,” sahut Nyonya Eun menilai emosi yang tergambar di wajah Seo-hwa kini. Wanita itu tampak terkejut.
“Tidak.” Seo-hwa menggeleng. Kembali diserang panik. “Itu terlalu cepat. Katakan padanya untuk kembali lagi besok.”
Kali ini Nyonya Eun mengernyit. “Kau yakin dengan keputusanmu?”
“Ya.” Seo-hwa mengangguk. Pelan sekali.
Cukup lama Nyonya Eun berdiam diri. Mengamati Seo-hwa yang kembali menunduk dengan perasaan bimbang. Apa sebenarnya yang wanita ini sedang pikirkan? Benaknya bertanya-tanya. Ia meragu. Ingin menolak. Tapi melihat Seo-hwa seperti itu, ia akhirnya menghela napas dan berkata tegas sebelum benar-benar pergi.
“Apa pun yang sedang kau rencanakan, aku tidak mau ada keributan di rumahku.”
***
“Agassi!”
Jantung Seo-hwa nyaris copot ketika pintu kamarnya digeser kencang dan berpikir bahwa Pengawal Yi yang datang. Tapi begitu mendengar teriakan perempuan disusul kemunculan Dal-rae di tengah kamarnya yang temaram, perasaan lega dengan cepat merangkulnya.
“Pengawal Yi tidak jadi datang,” beritahu Dal-rae dengan senyum lebar. Bola matanya yang cantik berbinar menatap nona mudanya. “Katanya ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan.”
Serentak bahu Seo-hwa merosot lemas. Kedua tangannya menyentuh lantai. Sementara matanya kembali menatap kosong. “Ada apa denganku, Dal-rae-ya? Aku begitu ingin membalasnya. Tapi mendengar dia tidak datang, kenapa rasanya begitu melegakan.”
Dal-rae tersenyum lirih di balik matanya yang berkabut. “Agassi hanya tidak ingin membalasnya dengan cara yang sama.”
***
Keesokan harinya, Pengawal Yi tidak jadi berkunjung. Lalu besoknya dan besoknya lagi. Hingga malam ini, tepat pada malam keempat, Seo-hwa sudah siap mendengar kabar yang sama dari pelayannya yang ia tebak akan muncul sebentar lagi.
Dan benar. Pintu kamarnya terbuka. Seo-hwa menghela napas. Ia mengangkat wajah dan pertanyaan dia tidak datang lagi yang sudah berada di ujung lidahnya kembali tertelan begitu melihat siapa yang datang. Orang itu berjalan ke arahnya.
Sepasang matanya mendadak panas. Ketika orang itu sampai di hadapannya, bersimpuh dan langsung memeluknya, ia tidak kuasa menghalau air mata yang jatuh bergulir ke pipinya.
“Maafkan aku,” bisik Yi Dowon di bahu Seo-hwa. “Maafkan aku telah membuatmu berakhir di tempat ini. Tapi aku janji akan segera mengeluarkanmu dari sini. Aku janji akan mengembalikan hidupmu seperti semula.”
Sontak Seo-hwa melerai pelukan itu dengan keras. Tatapannya berubah marah. “Bagaimana cara Anda mengembalikan hidupku seperti semula? Anda sudah merenggut nyawa ayahku dan membuatku berakhir di tempat rendahan ini!”
“Aku terpaksa, Seo-hwa-ya.” Dowon berdiri membuang muka. “Aku terpaksa melakukannya,” tegasnya lagi dan menoleh ke Seo-hwa yang masih duduk dengan menatap tajam ke arahnya. “Apa kau pikir aku sanggup merenggut nyawa ayah dari wanita yang kucintai? Posisiku juga sulit.”
“Anda sanggup karena Anda berhasil melakukannya,” balas Seo-hwa dingin.
Dowon menelan ludah. “Ayahmu berkhianat, Seo-hwa-ya. Dia bergabung dengan komplotan pemberontak untuk melengserkan raja.”
“Anda tahu semua itu fitnah.”
“Nama ayahmu ada di buku besar dan buku itu ditemukan di rumah kalian.”
“Itu jebakan!”
Dowon mengernyit. Agaknya ia tidak terima dengan pembelaan itu. “Kau tidak mengenal ayahmu dengan baik.”
Tersentak. Seo-hwa membalas dengan senyum miris. “Rupanya kekuasaan telah membuat Anda kehilangan nurani, Pengawal Yi. Aku sungguh tidak mengenali Anda lagi.”
Kalimat itu berhasil menusuk Dowon tepat di jantungnya. Pria itu kembali bersimpuh di hadapan Seo-hwa dengan wajah murung. Menggamit satu tangannya. “Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku?”
“Mati saja,” sahut Seo-hwa langsung dengan tatapan sedingin es. Tangannya mencengkeram erat ujung binyeo[5] yang disembunyikan di balik lengan bajunya. “Mati saja seperti ayahku.”
Sesaat Dowon menatap Seo-hwa dengan ekspresi terluka, lalu ia berdiri dan berderap membuka pintu. Bawahannya yang sedari tadi berjaga di luar sana terkejut ketika ia menghunus pedang dari pegangannya. Lalu tanpa mengatakan apa-apa kembali menutup pintu dan menghampiri Seo-hwa yang bergeming.
Dowon meraih kedua tangan Seo-hwa untuk ikut mencengkeram pedang yang kemudian diarahkan ke lehernya. “Bunuh aku. Lakukan seperti aku memenggal kepala ayahmu.”
Kalimat itu diucapkan tanpa gentar, sementara matanya menatap lurus ke dalam manik mata Seo-hwa yang terarah ke tangan mereka.
Bola mata Seo-hwa bergetar melihat mata pedang yang menempel di leher Dowon. Tangannya dengan ahli mencengkeram pedang ketika Dowon melepasnya. Seo-hwa melihat pria di hadapannya kini menutup mata. Pasrah dihabisi malam ini olehnya.
Seo-hwa berusaha menguatkan hati. Ia mencengkeram lebih erat. Bersiap memenggal kepala perenggut nyawa ayahnya. Pedang itu diangkatnya tinggi-tinggi, bergerak cepat di udara, lalu terdengar bunyi bantingan keras di lantai.
Dowon membuka mata. Sejenak menatap Seo-hwa yang gemetar menahan tangis. Kemudian melihat pedang yang teronggok di lantai tak jauh dari posisi mereka.
“Aku pasti akan membenci diriku sendiri jika membunuh Anda,” kata Seo-hwa dengan suara bergetar. “Karena itu akan membuatku terlihat sama seperti Anda.”
Seo-hwa bersiap mengambil langkah pergi, tetapi Dowon tidak kalah cepat menangkap tangannya. Pria itu berdiri. Menatap Seo-hwa dengan matanya yang berkabut.
“Nyonya Eun akan datang,” gumamnya sambil menarik pelan tali otgoreum[6] Seo-hwa hingga terlepas. Wanita itu tetap diam ketika Dowon menyingkap kain jeogori[7] hingga memperlihatkan bahunya yang telanjang.
“Katakan padanya bahwa aku meninggalkanmu.” Tangan Dowon terjulur mengusap bibir Seo-hwa. “Aku akan segera mengeluarkanmu dari sini. Jaga dirimu baik-baik.”
Seo-hwa melihat Dowon memungut pedangnya, berjalan keluar, lalu menutup pintu. Di luar, pria itu berpapasan dengan Nyonya Eun yang sejak tadi memang menunggunya.
“Doryeong-nim[8], apa yang membuat Anda pergi begitu cepat?”
Dowon memoles senyum tipis, menyatukan kedua tangannya di belakang badan, lalu menjawab ringan, “Mendadak saja aku memiliki kepentingan. Aku akan berkunjung lagi di lain waktu.”
“Ah!” Bersiap pergi tapi berbalik lagi dengan senyum yang sama. “Yoon Seo-hwa itu wanitaku. Pastikan tidak ada yang menyentuhnya selain aku.”
Nyonya Eun lekas menuju kamar Seo-hwa begitu Pengawal Yi berlalu. Ia hendak menanyakan perihal kepergian orang istana yang begitu cepat itu, tetapi matanya menangkap jeogori Seo-hwa yang terbuka, juga pewarna bibir yang sedikit belobor.
Nyonya Eun menduga Pengawal Yi sudah sempat menyentuhnya sebelum pergi. Yang artinya wanita ini tidak membuat keributan. Ia merasa lega atas itu.
“Kau baik-baik saja? Bagaimana perasaanmu?” Seo-hwa tengah mengikat otgoreum saat Nyonya Eun menanyakan itu. Yang hanya dijawab dengan anggukan pelan.
“Bersihkan riasanmu dan segeralah tidur.”
***
“Agassi tidak boleh pergi!”
Langkah Seo-hwa terhenti ketika Dal-rae berdiri menghadang langkahnya. Merentangkan kedua tangan dengan ekspresi keberatan. Wanita itu lekas menurunkan tudung yang menutupi kepalanya. Balas menatap Dal-rae dengan geram.
“Seluruh penjaga istana sedang mengejarnya. Agassi akan dalam bahaya jika mencarinya sekarang.” Dal-rae berusaha meyakinkan.
“Tapi aku tidak bisa membiarkan dia sendirian!” Seo-hwa nyaris menangis saat meneriakkan itu.
“Agassi—”
“Aku mencintainya, Dal-rae-ya.” Lirih sekali Seo-hwa mengatakannya. “Aku tidak bisa lagi membohongi diriku bahwa sampai detik ini aku masih mencintainya.”
Mendengar itu membuat Dal-rae jadi tidak tega. Pelayan muda itu akhirnya mengangguk dengan berat hati. Menatap Seo-hwa dengan pandangan memohon. “Baiklah. Tapi Agassi harus menjaga diri. Aku tidak mau Agassi sampai terluka.”
Seo-hwa mengangguk cepat. “Kau juga jaga diri. Aku akan segera menemuimu.” Ia mengenakan kembali tudungnya dan bergegas pergi. Mencari keberadaan Dowon yang entah dimana.
***
“Nari[9].”
Panggilan itu menyentaknya pelan. Dowon membuka mata. Melihat Seo-hwa dengan lemah. “Aku baik-baik saja,” gumamnya sambil berusaha tersenyum. Tapi usahanya itu justru membuat Seo-hwa merasa marah.
“Berhenti mengatakan Anda baik-baik saja. Anda kesakitan.”
Dowon terdiam sejenak. Lalu matanya berkaca-kaca saat berkata, “Eoh, sakit sekali. Rasanya sakit sekali sampai aku ingin mati saja.”
Seo-hwa menggeleng. Mulai menangis.
Sejam yang lalu, Seo-hwa berhasil menemukan Dowon yang ketika itu sedang lari dari kejaran penjaga istana dan polisi kerajaan. Seo-hwa menariknya ke rumah milik ayahnya yang sudah disegel oleh pemerintah. Lalu, karena merasa tidak mungkin bagi mereka untuk tetap berada di sana, Seo-hwa membawanya dengan susah payah ke sebuah gubuk tua di pinggir sungai yang jauh dari istana dan pemukiman penduduk. Ia berharap Min Wol, bawahan Dowon bisa menemukan mereka di sini.
“Kau pasti menganggapku pecundang.” Dowon tersenyum getir menatap Seo-hwa yang sibuk menekan luka di rusuk kirinya. Luka itu didapat dari tusukan pedang milik pengawal kerajaan yang merupakan bawahannya.
“Aku sengaja menodongkan pedang ke leher raja di depan seluruh menteri ... agar mereka menghukumku seperti ayahmu.” Dowon masih tersenyum, yang membuat Seo-hwa merasa bersalah.
Mati saja seperti ayahku.
“Tapi, Seo-hwa-ya...,” Dowon terbatuk, “tiba-tiba saja aku merasa takut.” Lalu menangis menatap Seo-hwa. “Aku takut tidak bisa melihatmu lagi.”
Seo-hwa menggeleng. Mengusap air matanya dengan punggung tangan yang bebas. Berusaha tegar. “Setelah ini Anda bisa melihatku setiap saat. Aku akan ikut dengan Anda. Karena itu bertahanlah. Eoh? Min Wol akan segera menemukan kita.”
Dowon diam menatap Seo-hwa dengan saksama alih-alih menjawab ya atau sekadar menganggukkan kepala. Kemudian suaranya terdengar semakin lemah. “Bisakah kau memelukku?”
Dan Seo-hwa tidak perlu berpikir untuk segera membawa tubuh lemah itu ke pelukannya. Satu tangannya menahan punggung Dowon, sementara tangan satunya tetap menekan luka di rusuk kiri.
“Nari?” panggil Seo-hwa lama kemudian dengan pandangan menerawang. Dowon menyahut dengan deheman pelan.
“Nari benar soal aku yang tidak mengenal ayahku dengan baik.” Ingatan Seo-hwa melayang ke saat ayahnya masih hidup. Saat itu ayahnya membawakan buah persik untuknya dengan senyum riang, yang langsung diterimanya dengan senang hati.
“Tapi aku tidak membenci ayahku atas apa yang sudah dilakukannya. Raja yang tidak peduli dengan nasib rakyat memang seharusnya diturunkan dari takhta.”
Seo-hwa menunduk untuk melihat reaksi Dowon. Namun pria itu sudah terpejam. Seharusnya Seo-hwa cukup berpikir bawah pria itu sedang tidur, tapi ia tidak bisa menampik bahwa ia ketakutan. Perut Dowon tidak lagi bergerak dan wajah itu semakin pucat. Seo-hwa semakin takut ketika dirinya menyadari ini.
“Nari?” panggilnya lirih. Tubuhnya gemetaran dan tangisnya mulai pecah. Direngkuhnya tubuh itu semakin erat sambil memanggil namanya berulang kali.
Kemudian pintu gubuk itu terbuka. “Nari!” Min Wol bergerak cepat sebelum jatuh berlutut dengan tubuh lemas. Pedangnya yang berlumur darah bahkan terlepas dari pegangan. Pelayan itu turut menangis. Menyesali keterlambatannya menemukan tuannya.
Seandainya ia tiba lebih cepat, tuannya mungkin akan selamat masih bisa melihat wanita yang dicintainya setiap saat seperti yang Seo-hwa janjikan.
◇
◇
◇
[1] Nona muda.
[2] Sufiks yang digunakan untuk memanggil seseorang yang lebih muda atau seumuran dan namanya berakhiran huruf vokal.
[3] Wanita penghibur
[4] Sebutan untuk kepala atau pemimpin tertinggi di sebuah rumah Gisaeng (Gyobang) yang mengelola administrasi dan melatih Gisaeng junior.
[5] Tusuk konde
[6] Pita panjang yang menjuntai hingga ke bagian rok dan berfungsi sebagai kancing
[7] Baju bagian atas berbentuk rompi sebatas dada
[8] Panggilan hormat untuk pria muda dari keluarga bangsawan yang belum menikah; setara dengan Tuan Muda.
[9] Sebutan sopan atau panggilan hormat untuk pejabat/bangsawan tingkat menengah; secara harfiah berarti Tuan.