Lawang hampir tidak pernah kehabisan hujan. Kota kecil di lereng gunung itu menyelimuti hari-hari dengan hawa dingin yang menusuk tulang, menjadi saksi bisu bagi tempat-tempat perlindungan bagi jiwa-jiwa yang lelah. Di sanalah Rumsing Imanuel berdiri, merangkum sebuah babak hidup yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Lawang terlalu dingin untukku; aku bahkan harus segera membeli jaket tebal agar bisa tetap tidur nyenyak di malam hari. Namun di balik itu, ada satu hal yang menenangkan: sebuah pohon lemon yang terlihat jelas dari jendela kamarku. Pohon itu menghasilkan buah untuk minuman kesukaanku. Saat pertama kali datang, aku dibuatkan teh yang begitu unik dengan rasa sepat yang khas. Beberapa hari kemudian, teh yang sama disajikan dengan sedikit rasa kecut yang menyegarkan dari buah lemon segar. Setidaknya, di tengah riuh rendah kepalaku, ada hal sederhana yang memberiku ketenangan berupa secangkir teh lemon.
Rumah singgah ini terasa hangat karenanya, kontras dengan duniaku sebelumnya yang begitu dingin. Saat Orangtua tidak tahu lagi harus menanggapi kondisiku seperti apa karena aku terlalu banyak melamun, menangis, dan bersedih sendirian. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengambil jarak atau cut off dan itu mengantarkanku ke rumah singgah. Tapi dingin kali ini terasa berbeda; dingin kali ini diredakan oleh kehangatan di samping pelukan Ibu Sarah, pemilik Rumah Singgah Imanuel, yang menyambutku dengan senyuman penuh kelembutan di tengah kebingunganku yang luar biasa.
Perjalanan ini murni tentang pencarian ketenangan dan penyembuhan, bukan kisah romansa atau pelarian. Dengan status dan kerumitan masalahku yang kupendam rapat-rapat, rumah singgah itu menjadi satu-satunya tempat berlabuh yang aman.
Pada hari-hari pertama, dinamika hidup di sana terasa begitu asing. Kita biasanya berdoa dengan singkat, tetapi di sana aku turut menyimak doa-doa panjang khas umat Kristiani. Aku berusaha menghormati mereka sekaligus menjinakkan kecamuk yang hebat di dalam hatiku, bertanya-tanya apakah aku akan benar-benar baik-baik saja di tempat baru ini. Sekalipun orang-orang di sana bersikap sangat baik, rasa skeptis di dalam kepalaku tidak bisa kujinakkan begitu saja dalam waktu singkat. Meskipun demikian, aku tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinanku, memupasrahkan keseluruhan hatiku, karena aku hanya ingin tenang kali ini, Tuhan.
Di malam-malam yang panjang, aku terus menangis sendirian, memeluk diri sendiri, dan berharap aku akan sanggup melewati semuanya. Walau diliputi rasa asing yang begitu pekat, situasi ini sedikit lebih melegakan daripada keberadaanku yang sebelumnya ditolak di rumah, karena keluarga sama-sama tidak paham dengan kondisiku waktu itu. Beberapa hari aku bertahan dalam diam, tetapi rasa cemas yang teramat sangat tak mampu kuutarakan pada siapa pun, hingga aku memutuskan untuk mencari cara agar bisa keluar dari sana dan berharap segera dijemput dengan cara mogok makan.
Selama tiga hari penuh, kami berdebat perkara aku yang tak mau menyentuh makanan, sementara aku tidak bisa memegang ponsel untuk menghubungi ayah dan mamaku karena baterainya lowbatt, dan mereka berkata tidak ada alasan untuk aku tetap tenang salah satunya adalah tanpa handphone. Aku dilarikan ke rumah sakit setelahnya karena tubuhku menyerah, dan di sanalah vonis itu dijatuhkan: aku didiagnosis mengidap skizofrenia. Aku dirawat di rumah sakit selama dua minggu penuh.
Di sana, hari-hari kulalui hanya dengan makan, tidur, dan berbincang pelan dengan perempuan yang menjadi teman di ranjang sebelahku. Sesekali aku dijenguk, dibawakan roti dan susu kesukaanku; makanan-makanan manis itulah yang menjadi salah satu alasanku bertahan hidup waktu itu di tengah abu-abunya ruang rawat inap. Setidaknya, di tengah segala ketakutanku, aku merasa lega karena dirawat di tempat yang tepat, ditangani oleh dokter yang benar-benar mengerti maksud dari semua penjelasanku yang kacau.
Untuk pertama kalinya, aku merasa diiyakan, dan kelegaan itu perlahan merambati hatiku, membuatku merasa didengar dan divalidasi. Aku mulai berangsur sembuh, hingga akhirnya dibolehkan kembali pulang ke rumah singgah dengan kondisi tubuh yang masih terasa lemas. Bekas tusukan jarum infus di tangan membuat nafsu makanku sedikit berubah, meski rasanya tak lagi selezat biasanya.
Akhirnya aku kembali melangkah ke Rumsing Imanuel dan mendapati suasana yang sedikit berbeda, bertemu dengan seseorang yang tidak biasanya ada di sana. Sore itu, ia sedang duduk menghadap televisi bersama teman-teman yang lain. Dia adalah anak baru di rumah singgah itu, namanya Don.
Pertemuan pertamaku dengannya terjadi tepat saat ia baru saja masuk; hari itu aku sebenarnya sedang hendak beristirahat siang, tetapi kami menyempatkan diri untuk bersalaman dan saling menyebutkan nama, melengkapi lingkaran kecil kami bersama Pras dan Mbak Dian. Sebelum Don ada, teman-teman tidak seberapa terbuka, tetapi begitu dia datang, kami menjadi begitu klik, seolah kehadiran dan energinya mencairkan sekat-sekat kecanggungan di antara kami.
Kami sering mencuri waktu untuk pergi ke kebun belakang; saat Ibu dan Bapak Rumsing pergi ke gereja, kami membuka pintu belakang dan pergi mencari matahari untuk menghangatkan badan. Jadwal membaca Alkitab, dan aku yang membaca buku pengetahuan religi, sering kali dikesampingkan oleh kami yang merasa sudah sangat bosan dengan rutinitas kaku. Kami berjalan bersama ke hamparan kebun teh di tengah dinginnya Lawang, tak berhenti bermain game ABC lima dasar untuk menghilangkan kebosanan, dan saling bercerita tanpa ada rasa canggung. Bahkan, setelah makan malam, kami selalu menyempatkan sesi bercerita untuk sejenak merefresh pikiran sambil menonton televisi, sebelum mereka melakukan doa malam dan langsung tidur setelahnya.
Berhari-hari kami lalui dengan banyak sekali obrolan yang mengalir luas dan tanpa batas: tentang percintaan, tentang tipe pasangan ideal, tentang agama, tentang masalah pribadiku yang membuatku mengalami kondisi seperti itu waktu itu, cerita-cerita lucu yang mengocok perut, meminta waktu menonton bola saat Ibu dan Bapak Rumsing pergi ke gereja, hingga banyak hal remeh temeh lainnya yang justru membuat hari-hari terasa jauh lebih hidup dan berwarna.
Di balik gelak tawa dan canda yang kami bagi, ada malam-malam panjang yang diisi tangisan ketika badai batin berkecamuk hebat, dan di sanalah aku terbuka menceritakan segalanya, mengurai akar dari luka yang membuatku hancur waktu itu. Aku didengarkan dengan sabar, diberi dukungan penuh, dan ditenangkan tanpa dihakimi sedikit pun, membuat jiwaku dirangkul dan diyakinkan berulang kali bahwa aku akan baik-baik saja. Don dan teman-teman yang lain, meski pada akhirnya mereka hanyalah orang-orang yang singgah sebentar dalam hidupku, bahkan aku terlebih dahulu yang melangkah keluar meninggalkan Rumsing Imanuel, memberikan arti penerimaan yang tulus, dan kepulanganku dari rumah sakit pun disambut dengan kehangatan mereka yang luar biasa.
Kami tahu kami berbeda, dan perbedaan itu terbingkai indah dalam keseharian kami ketika mereka berdoa pagi dengan mengalunkan nyanyian pujian sementara aku menempuh ketenanganku dalam sujud paling ikhlas di dalam kamar. Meskipun jalan keyakinan kami tidak sama, kami justru saling mendoakan dalam sunyi masing-masing, yang barangkali di sanalah letak penyembuhan itu yang sebenarnya, bukan semata-mata karena obat medis, melainkan karena ketulusan manusiawi dan doa-doa lintas batas yang menembus dinginnya malam Lawang.
Terinspirasi dari secuil kisah di layar kaca, inilah kisah nyataku: sebuah cerita tentang luka, penerimaan, dan pertolongan Tuhan yang hadir di tempat yang paling tak terduga.