Disukai
1
Dilihat
12
Setusuk Telur Gulung
Slice of Life

“Bang, seperti biasa ya. Pakai saus” kata ku pada Abang pedagang kaki lima langganan ku. Ku rogoh saku tas bagian depan mencari pomsel dan mematikan koneksi earphone. Kupandangi panci penggorengan, minyak yang mendidih itu menarik perhatian. Sudah lama rasanya aku tidak makan telur gulung, mungkin sekitar dua hari yang lalu. 

“Baru pulang kerja, Kak?”, lamunanku buyar. Tatapannya singkat tapi cukup lama untuk menunggu jawaban. Meski sudah langganan, kami tidak pernah benar-benar berbasa-basi. Ia bertanya seperlunya, aku menjawab seadanya. Seolah kami sama-sama paham batas. “iya, Bang.”

Kerja di korporasi memang tidak mudah. Aku tidak pernah benar-benar merasa bagian dari perusahaan meski sudah bekerja bertahun-tahun. Tidak ada rasa euforia saat gajian, karena uang itu selalu habis lebih dulu, semuanya langsung lenyap ditelan tagihan.

Begitupun hari ini, tepat di tanggal gajian. Aku memilih berdiri di pinggir jalan membeli telur gulung daripada duduk cantik di coffee shop. Satu tusuknya cukup membayar lelahnya bekerja seharian. 

Aku selalu singgah disini setiap melewati hari yang berat. Aku bersyukur penawar rasa penatku tidak menuntut lebih dari yang bisa kubayar. Semuanya masih jalan beriringan, bisa diatur. 

Jajanan sudah ku gantung di saku motor. Tempat berikutnya adalah tempat yang selalu menjadi kunjungan favorit ku setiap pulang kerja, tempat yang menerima aku tanpa syarat—kamar ku. Lima belas tusuk telur gulung yang ku beli dan segelas air dingin siap menemani malam. 

Perkenalkan, aku Sekar. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di Sumatera. Dari namaku kalian mungkin bisa menebak. Iya, aku orang Jawa. Aku merantau ke sini. Hidup di perantauan memang tidak mudah, bukan?

Sudah tiga tahun aku bekerja di perusahaan ini. Hari demi hari terasa semakin berat. Lingkungan ku seolah tidak akan pernah bisa menerima keadaanku. Bukan karena aku tidak berbaur, tapi sejak awal aku seperti tidak diharapkan untuk benar-benar diterima.

Karyawan kontrak sepertiku bisa diberhentikan kapan saja, aku selalu siap. Dalam diam, aku bahkan berharap kontrak ku tidak diperpanjang, agar aku tidak perlu mencari alasan sendiri untuk keluar. Namun sampai di tahun ketiga, aku tetap berada disini, bertahan. 

Lima tusuk telur gulung telah habis tanpa kusadari. Inilah kenikmatan dunia yang selalu aku syukuri. Makanan sederhana yang, entah bagaimana caranya, mampu menjadi pengganti obat-obatan mahal untuk menjagaku tetap waras.  

Aku mengunyah pelan, seakan setiap gigitan menyimpan jeda agar pikiranku tidak berlarian ke kantor dengan kerjaan yang masih menumpuk. 

Kantor itu, gedung tua tiga lantai dengan cat putih yang mulai kusam. Di tempat itulah dinding-dinding mendengarkan, kata-kata bisa menjadi pisau, tatapan bisa menjadi beban, dan diam adalah pilihan tepat untuk bertahan.

Perundungan tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan fisik atau makian. Di tempat seperti ini, bisa hadir sebagai candaan yang di ulang-ulang dan panggilan khusus yang diolah sehingga terdengar lucu. Kadang ia bisa berbentuk tugas tambahan yang “kebetulan” selalu jatuh ke pundakmu, lengkap dengan tenggat tak masuk akal dan kritik tanpa solusi. 

Aku hafal betul pola-pola itu. Tiga tahun cukup untuk membuatku mahir membaca raut wajah dan intonasi suara. Siapa yang ingin membantu, siapa yang sekedar ingin menertawakan logat ku saat bicara. Mereka sering memanggil namaku dengan meniru logatku dengan senyum miring, seolah lucu.

Kupikir jika aku melakukan pekerjaanku dengan lebih baik, mereka akan berhenti. Nyatanya aku hanya memberi mereka standar baru untuk menuntut lebih. Jika aku lelah, itu dianggap lemah. Jika aku menolak, aku dianggap tidak kooperatif. 

Malam semakin larut. Kipas angin berdecit pelan, menemani suara kendaraan yang lalu-lalang di depan kos. Aku menyelesaikan lima tusuk berikutnya. Telur gulung selalu mengingatkanku pada masa kecil. Uang jajan ku selalu pas-pasan, bisa membeli satu tusuk saja hal yang ku dambakan. Begitupun sekarang, betapa sesuatu yang sederhana bisa terasa begitu mewah meski aku sudah dewasa, ironis. 

Bulan ini adalah bulan perpanjangan kontrak. Biasanya, HR akan memanggilku dua minggu sebelumnya. Mengajukan pertanyaan formal, mengulas kinerja, lalu menyerahkan selembar kertas yang harus ditandatangani. Tahun ini panggilan itu tak kunjung datang. Hari-hari berlalu dengan sunyi yang aneh, sunyi yang justru membuatku gelisah. 

Di sela-sela pekerjaan, aku sudah mulai memikirkan alasan apa yang akan aku gunakan. Ingin mencari tantangan baru. Ingin melanjutkan pendidikan. Fokus ke keluarga. Aku berlatih mengucapkan di depan cermin kamar mandi, memastikan suaraku terdengar mantap, tidak bergetar. Aku tidak ingin keluar seperti pecundang yang ketakutan. Aku ingin pergi dengan  kepala tegak.

Namun, semesta tampak punya rencananya sendiri.

Hari itu aku dipanggil ke ruang kecil di lantai dua. Ruangan yang biasanya dipakai untuk rapat singkat. HR duduk dibalik meja, ekspresinya netral. Manajerku ikut hadir, menatap layar ponsel seolah kehadiranku tidak penting. 

“Sekar,” kata HR, suaranya datar. “Kontrak kamu berakhir di bulan ini ya. Setelah evaluasi, perusahaan memutuskan untuk tidak memperpanjang.”

Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa pengantar panjang. Seharusnya aku terkejut, seharusnya dadaku sesak, seharusnya aku menangis. Tapi aku justru merasa lega. 

Aku mengangguk. “Baik, Bu.”

Manajerku menoleh, mungkin berharap melihat air mata atau bantahan. Tidak ada. Aku hanya tersenyum tipis. Bukan senyum kemenangan, lebih seperti senyum ledekan, seperti yang selama ini mereka berikan padaku.

“Terima kasih atas kontribusinya selama ini.” lanjut HR, formalitas yang terdengar omong kosong. 

Aku keluar dari ruangan dengan langkah ringan. Untuk pertama kalinya lorong kantor tidak terasa mengancam. Aku kembali ke meja, menatap layar komputer, dan aku menyadari tidak perlu mencari  alasan lagi. Aku tidak perlu menjelaskan apapun. Aku bisa pergi tanpa drama.

Entah karena waktuku yang terbatas, atau karena bebanku sudah tidak ada, aku mulai berubah. Bukan menjadi sama seperti mereka, tapi menjadi diriku yang dulu. Aku tidak tertawa saat candaan itu tertuju padaku. Aku berhenti menerima permintaan di luar dari tanggung jawabku. Aku mulai berani bertanya langsung kenapa mereka mengejekku. 

Suatu pagi, di rapat mingguan, salah satu rekan kerja memintaku untuk menyampaikan masukan untuk perusahaan, mengingat hari itu kemungkinan terakhir kalinya aku ikut rapat dengan mereka. 

Inilah kesempatan yang aku tunggu, aku diberi ruang untuk berbicara, sesuai isi hatiku. “Ada yang aneh dengan rahang ku? Katanya aku jelek, mirip manusia purba? Sejelek itukah aku?” Mataku liar menatap mereka satu persatu. Aku tahu mereka juga sering mengejek fisikku. 

Ruangan hening sejenak. Tawa terhenti di udara. Manajerku berdehem, mencoba mengalihkan topik. Tapi sesuatu sudah berubah, aku merasakannya. 

Tidak ada amarah dalam suaraku. Aku masih bisa tersenyum sambil memandangi wajah mereka satu-persatu. Reaksi mereka beragam. Ada yang canggung dan mengalihkan tatapan, ada yang kesal, ada juga yang merasa prihatin dan menyesal karena tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya selama ini. Mereka bertanya padaku, menanyakan keadaanku, berbagi cerita. Aku bukan satu-satunya yang merasa muak dengan semuanya. Aku hanya yang pertama berhenti untuk rela ditindas. 

Setiap pulang kerja bulan itu, aku tetap singgah membeli telur gulung. Bukan sebagai obat bagi lelah ku, tapi sebagai hadiah bagi keberanianku. 

“Lima belas lagi, Kak?” Tanyanya.

“Iya, Bang.” Jawabku sambil tersenyum. “Bulan terakhir.”

Ia tertawa kecil, mungkin tidak begitu paham dengan maksudku, tapi ikut senang. ”Makan yang banyak biar kuat.”

Aku membawa pulang jajanan itu dengan perasaan campur aduk. Ada sedih, tentu. Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Ada mimpi yang kubangun, ada harapan yang kupendam. Tapi aku bangga, bisa bertahan. Aku tidak hancur. Aku belajar berdiri untuk diriku sendiri. 

Hari yang ku nanti tiba. Tidak ada upacara perpisahan, tidak ada pidato, tidak ada kue. Satu persatu rekan kerja menyalamiku. Ada yang tulus, ada yang sekedar formal. Aku menerima semuanya dengan lapang.

Sebelum pergi, aku menatap ruang itu sekali lagi. Tempat yang mengajariku banyak hal, dengan cara yang tidak selalu ramah. Aku tidak membenci mereka. Aku hanya memilih untuk tidak tinggal.

Malam itu, di kamar kos yang sama, aku menyantap telur gulung ditemani segelas air dingin. Aku makan perlahan, menikmati setiap gigitan, merayakan hal kecil yang selama ini menolongku bertahan.

Besok, aku belum tahu akan ke mana. Pekerjaan baru belum ada. Masa depan masih kabur. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Aku tahu, jika aku bisa melewati hari-hari itu, aku bisa melewati apapun yang akan datang. Ditemani telur gulung. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)