Disukai
2
Dilihat
11
Lilin Kecil
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Waktu seolah berhenti saat aku tiba di rumah.  

Aku menunduk menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Pukul setengah tujuh malam. Setelah melarikan diri lebih dari lima tahun lalu agar bisa melupakan segalanya tentang Mama, pada akhirnya sisa-sisa hantu dari masa lalu justru berhasil menarikku kembali ke tempat ini. Barangkali alasannya hanya satu: supaya aku bisa berhenti menghindar. 

Selain cat putih gadingnya yang tampak kusam dan memudar, semua tentang rumah itu masih terlihat sama di mataku. Bahkan seandainya aku berusaha lebih keras, aku bisa meyakinkan diriku bahwa ibuku akan segera muncul untuk membukakan pintu depan. Ayahku duduk di salah satu sofa berlengan di ruang tamu kami, membaca koran dengan kacamata kotaknya. Adikku sedang menyelinap ke dapur, berusaha menyelundupkan sepotong kue coklat dari lemari pendingin ke dalam mulutnya. Kucing kami, Noel, menguap lebar di atas keset di depan pintu. Terlalu senang setelah diberi pakan basah yang terbuat dari seratus persen ikan tuna. 

Lalu, aku akan berkata, “Aku pulang!”

Mama akan menyambutku dengan senyum lebar sebelum menarik lenganku menuju ruang makan yang sudah ditata dengan apik. Semua makanan favoritku ada di atas meja. Sup jamurnya baru saja dipindahkan dari panci. Aroma nasi yang baru matang dan ayam bakar spesial ala Mama membuat isi perutku semakin keroncongan…

Bayang-bayang itu berangsur-angsur memudar saat aku merasakan getaran beruntun dari ponsel yang kusimpan di saku jaket bepergianku, tapi aku sengaja berpura-pura tidak menyadarinya. Atau tidak peduli. Kurasa yang mana pun tidak masalah. Toh, aku memang sengaja pergi tanpa memberitahu siapa pun.

Hingga pertengahan tahun lalu, hanya Sean-lah yang masih tetap bertahan untuk merawat rumah masa kecil kami. Setelah aku memutuskan pergi, ayahku memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan di luar kota. Kali ini, giliran adikku yang melebarkan sayapnya untuk melanjutkan pendidikan. Segala urusan rumah kami akhirnya diserahkan pada Bibi pengurus rumah yang datang setiap dua sampai tiga kali seminggu, meski tak ada yang menempati.

Tidak apa-apa, pikirku. Tidak akan terjadi apa-apa.

Aku mengeratkan pegangan pada kotak kue di tanganku sebelum merogoh kunci dari saku celanaku. Aku membuka pintu dan menekan sakelar lampu untuk menerangi ruangan yang gelap gulita. Mataku mengawasi seisi ruangan dengan gusar. Serangan masa lalu kembali merasukiku, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan pertahananku meluruh, membebaskan pikiranku untuk bernostalgia.

Meja yang sama. Jumlah kursi yang sama. Tata ruangan yang sama. Bahkan aromanya juga masih serupa dengan yang kuingat. Segalanya berbau kenangan dan memori masa lalu. 

Aku berjalan menyeberangi ruang keluarga menuju dapur yang kelewat bersih dan meletakkan kotak kue di atas meja makan kosong. Aku bahkan tidak menginginkan kue, tetapi Nenek Margo, pemilik toko kue kecil di persimpangan dekat rumah tiba-tiba menghampiriku saat aku baru saja berjalan melewati pintu kaca tokonya. Keluarga kami dulu sangat menyukai kue-kue buatan Nenek Margo, dan sepanjang ingatanku, beliau juga memiliki ikatan pertemanan yang erat dengan Mama.

Sebelum aku menyadarinya, wanita tua itu telah menyodorkan sekotak kue tiramisu ke tanganku dan memberiku pelukan erat. Aku bisa menghirup aroma vanila dari pakaian yang dikenakannya—rasanya seperti sedang dipeluk oleh kue bolu super lembut. 

"Selamat ulang tahun, Suri,” katanya. 

Aku mendesah pelan, tidak percaya Nenek Margo masih mengingatnya. Sudah lama sekali aku tidak merayakan hari ulang tahunku sendiri. Bagiku, hari ini hanyalah hari peringatan kematian Mama. Hari yang membuatku rutin membeli seikat lili putih untuk diletakkan di atas batu nisannya. 

Tetapi, seperti pengulangan yang tidak berarti, kali ini pun roda kehidupanku masih berputar dengan lambat, terus berjalan entah sampai kapan. 

Belakangan, aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa setiap detik yang kulewati akan membawaku semakin dekat dengan kematian—semakin dekat dengan Mama.

Aku tidak yakin sudah berapa lama aku duduk di meja makan sambil melamun. Tanganku bergerak untuk mengeluarkan kue dari dalam kotaknya hanya agar ada sesuatu yang bisa kulakukan.

Dulu, aku selalu merayakan ulang tahunku dengan kue buatan Mama. Selain pandai memasak hidangan rumahan, ibuku juga cukup pandai membuat kue coklat yang dihias dengan lapisan krim dan potongan buah segar untuk membuatnya terlihat lebih ‘sehat’.

“Nyalakan lilinnya dan ucapkan permohonanmu.” Rasanya seolah aku bisa mendengar Mama berbisik dari tempat yang tak terlihat. Apakah Mama merasa sedih karena aku tidak pernah merayakan ulang tahunku lagi?

Lilin, ya…

Aku membuka-buka laci lemari dapur dan menemukan sebatang lilin kecil di dekat tumpukan kertas roti. Di hari kematian Mama, aku tak sempat menyalakan lilin di atas kueku karena ia tiba-tiba jatuh ke lantai. Ayahku langsung berlari ke arahnya dan berusaha melakukan pertolongan pertama. Tidak lama kemudian, ambulans datang dan Mama dibawa ke rumah sakit.

Hanya saja, Mama tak pernah kembali lagi ke rumah.

Aneurisme sialan itu telah merenggut nyawa ibuku dalam sekejap.

Aku menghela napas panjang sembari menancapkan satu-satunya lilin kecil yang berhasil kutemukan di atas lapisan teratas krim tiramisu lalu menyalakannya dengan korek api. Lilin itu berpendar dengan lemah, selemah harapanku. 

Aku mengatupkan kedua tanganku di depan dada, merapalkan satu-satunya permohonan paling mustahil yang kumiliki, “Aku ingin bertemu Mama.”

Kubiarkan cahaya mungil dari api memantul di mataku selama sesaat, baru saja hendak meniupnya ketika asap tipis dari ujung api mendadak berputar di udara. 

Kedua mataku mengerjap. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. 

Alih-alih menghilang, kepulan asap itu justru terlihat semakin pekat, semakin memadat, mula-mula membentuk sesuatu yang tampak mirip lelehan lilin, lalu menjadi semacam manekin, dan selagi aku mencoba memikirkan apa yang harus kulakukan—barangkali menghubungi Sean atau apalah, asap itu telah menjelma jadi sosok seseorang yang familiar.

Di tengah-tengah keterkejutanku, aku masih bisa mengenalinya—terlihat jauh lebih nyata daripada bayang-bayang samar ingatanku. 

Mama. 

***

Jantungku berdegup kencang. Tidak. Aku tidak percaya pada hantu. Atau siluman asap. Atau apa pun jenis perwujudan yang tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat. Tapi bahkan jika aku memercayainya, aku tak pernah bisa membayangkan ibuku menjadi salah satunya. 

"Mama?" bisikku parau. Ah, barangkali aku sedang berhalusinasi karena sudah lama tidak pulang ke rumah. Aku pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang. Barangkali aku baru saja tertidur dan memimpikan sesuatu yang amat konyol…

Perwujudan ibuku itu tersenyum. Senyum yang sama seperti yang terakhir kali kuingat hari itu, seolah ia tidak bertambah tua dalam beberapa tahun terakhir. 

Lalu, aku menyadarinya: ia tidak bisa bertambah tua karena ia sudah meninggal. 

“Selamat ulang tahun, Suri sayang,” katanya, sebelum menatapku lekat-lekat, seolah kami betul-betul bertemu kembali setelah lima tahun berlalu. "Kamu sudah makin dewasa, ya?"

Pandanganku mulai mengabur oleh air mata. Aku ingin berkata kalau aku benci menjadi dewasa tanpa dirinya di sisiku, bahwa aku juga ingin merayakan ulang tahunku tanpa merasa bersalah. Aku sangat ingin keluarga kami menjadi utuh kembali seperti sedia kala, tapi semua kata-kata itu tertahan di ujung lidahku. 

“Aku kangen Mama,” bisikku, sebelum terisak-isak seperti anak berusia lima tahun yang kehilangan sebungkus permen. “Kangen… banget…”

Mama menatapku dengan tatapan sendu, seolah-olah berkata: Mama juga menderita. Mama juga merasa sedih. Mama juga tidak ingin pergi. Aku memalingkan wajah karena tidak sanggup membalas tatapannya. Rasanya aku bisa memahami perasaan gadis korek api ketika melihat bayangan neneknya. 

“Suri…” panggilnya lembut. “Mama minta maaf ya?” bisiknya. 

“Mama nggak salah apa-apa,” kataku, sambil mengusap kedua pipiku yang basah dengan punggung tangan. “Mama pasti kecewa sama aku, ya?”

Mama menggeleng. “Mama nggak kecewa,” kilahnya. “Mana bisa Mama kecewa kalau kamu tumbuh dengan sebaik ini? Mama cuma berharap, kamu bisa berhenti merasa sendirian. Jangan lupa, masih ada Ayah dan Sean. Kamu juga masih punya banyak waktu untuk mengejar apa yang kamu inginkan…”

Aku terisak semakin keras. 

“Suri, Mama nggak bisa lama-lama di sini.” Ia mengerling ke arah lilin kecil di atas kue yang nyaris terbakar habis. Kata-kata itu membuatku memusatkan perhatian ke arahnya. “Terimakasih untuk bunga lilinya. Jangan sedih-sedih lagi, ya? Kita semua akan bertemu lagi suatu hari nanti, jadi… sembari menunggu, tolong lakukan hal-hal yang bikin kamu bahagia. Mama selalu berdoa supaya kamu bisa hidup tanpa penyesalan.”

“Iya, Ma. Aku… minta maaf.” Hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku bisa memahami ucapan Mama. Selama ini, aku-lah yang selalu sibuk menjauh dari rumah. Aku-lah yang selalu menghindari Ayah maupun Sean tanpa menyadari bahwa mereka juga berduka. 

Aku tahu kejadian ajaib ini akan segera berakhir. Barangkali Mama sengaja datang padaku untuk menyampaikan apa yang tidak bisa ia katakan lima tahun lalu di hari ulang tahunku. Untuk mengharapkan agar aku bisa menjalani hidup dengan bahagia.

“Sampai ketemu lagi ya, Ma?” kataku.

Mama tersenyum. “Sampai ketemu lagi, Suri.”

Lilin itu padam sebelum aku sempat membalas senyumnya. Mama kembali menghilang bersama dengan asap yang menyelinap keluar lewat celah-celah jendela. Kini, hanya ada aku dan kue tiramisuku di atas meja. 

Tapi, Mama benar. Aku tidak sendirian.

Besok, aku akan menelepon Ayah dan juga Sean. Aku harus memperbaiki semuanya sebelum terlambat. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)