Disukai
2
Dilihat
89
Perpustakaan Nyonya X
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator


Kali pertama aku mendengar rumor soal perpustakaan gaib itu, aku menganggap si penyebar gosip adalah orang sinting. 

Tentu saja selalu ada orang-orang aneh di internet yang hobinya menciptakan cerita khayalan atau konspirasi seram yang membuat bulu kuduk merinding. Anehnya, cerita semacam ini justru memiliki banyak pendukung. Tapi jujur saja, siapa yang bakal percaya kalau di dunia ini ada perpustakaan yang berpindah-pindah sesuka hati, yang setiap raknya terisi oleh buku-buku ajaib? Memangnya ada buku yang memilih pembacanya, buku yang harus dibuka dengan merapalkan kata sandi tertentu, buku yang bisa membawakanmu camilan dan teh buah…

Yah, aku bakal percaya kalau semua itu terjadi di sekolah sihir Hogwarts. Tapi bahkan Madam J.K Rowling sekali pun tak bisa menghidupkan imajinasi liarnya di dunia nyata—selain dari film-filmnya. Pokoknya tidak mungkin. 

Sampai malam terkutuk itu terjadi.

Ketika bosku, Bu Janis, tiba-tiba mengajakku bicara empat mata di kantornya yang serba tertutup seusai jam kerja, aku hanya bisa memikirkan dua kemungkinan: Satu, aku dalam masalah. Dua, aku akan naik jabatan menjadi pegawai tetap (yang seharusnya baru bisa kucapai setelah dua tahun bekerja), tapi kupikir belakangan ini aku nyaris tak pernah membuat kesalahan saat menyusun laporan atau saat bertemu klien, jadi aku berusaha berpikir positif. Perasaan itu berhasil bertahan selama beberapa saat sebelum aku melihat dokumen di atas meja Bu Janis dan pena yang tutupnya sudah dibuka, seakan-akan disiapkan untukku. 

“Melati,” sapanya. 

“Iya, Bu?” tanyaku. Firasatku sama sekali tidak enak. 

Wanita paruh baya dengan kacamata kotak itu menatapku sekilas sebelum menghela napas panjang. Saat itu, kesadaran menghantamku telak. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi bahkan sebelum kalimat berikutnya meluncur dari bibir tipis Bu Janis.

Aku kehilangan pekerjaanku.

***

Bulan yang menggantung di tengah-tengah langit berbentuk persis setengah lingkaran sementara aku mengawasinya dari balik jendela bus dengan wajah sembab. 

Biasanya aku tidak akan membiarkan perasaan remeh semacam ini menguasai diriku, tapi kali ini aku betul-betul merasa tidak karuan. Rencana jangka panjangku jelas tidak melibatkan kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba. Membayangkan untuk terjun ke dalam lubang pengangguran yang tak berujung membuatku ngeri. 

Aku kembali mengusap pipi dengan punggung tangan. Saat itulah bus berhenti dan beberapa orang turun dari bus. Setelah penumpang terakhir pergi dan pintu kembali menutup, sudut mataku menangkap pantulan wajah wanita di dekat kakiku dan aku nyaris menjerit keras kalau saja tanganku tidak membekap mulut sekuat tenaga. 

Yang kulihat bukanlah wajah betulan, hanya sampul buku yang tampaknya tak sengaja ditinggalkan pemiliknya. Aku membungkuk dengan susah payah untuk meraih buku itu dan menariknya ke atas. Keanehannya langsung terlihat dalam sekali pandang. Tidak ada judul apa pun di bagian sampulnya, hanya wajah seorang wanita bersanggul yang memakai kebaya hitam. Bahkan tak ada nama penulis. Saat aku membukanya, ada pesan pendek di sudut kanan bawah: Milik Perpustakaan Nyonya X. 

Aku berniat untuk menitipkannya pada supir bus saat tiba di halte tujuanku, tapi bapak itu justru berkata, “Bawa aja, Mbak. Coba cari alamat perpusnya di internet. Soalnya belum tentu saya ketemu lagi sama penumpangnya.”

Kesal, tapi tak bisa memikirkan alasan lain, aku memasukkan buku itu ke dalam tas yang tersampir di bahuku dan turun dari bus. Setelahnya aku masih harus berjalan kaki melewati deretan pertokoan. Manekin-manekin pria dan wanita tanpa kepala tampak bergaya dengan pakaian trendi dari balik partisi kaca, dan aroma rempah yang berasal dari kedai-kedai makanan yang masih buka berhasil membuat perutku keroncongan, tetapi aku berusaha menahannya sembari berbelok ke arah kanan dari persimpangan jalan raya menuju gang yang lebih kecil. 

Entah apakah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa langit jadi semakin gelap sampai-sampai aku nyaris tak bisa melihat bayanganku sendiri di aspal. Saat aku mendongak ke atas, awan tebal sudah menutupi bulan, yang membuat sumber penerangan kini hanya berasal dari lampu jalan dan jendela rumah-rumah. 

Aku tahu harusnya aku berjalan lebih cepat, tapi suasana hatiku yang buruk membuatku separuh menyeret langkah. Setelah berjalan lebih dari sepuluh menit, aku pun berhenti. Indekosku berada di ujung gang, tapi di tempat yang harusnya berdiri bagunan dua lantai dengan pagar besi tinggi, yang kulihat saat itu justru sesuatu yang lain—yang sama sekali berbeda. 

Bangunan itu berbentuk silinder dengan atap kerucut, mirip seperti menara milik Rapunzel tapi tidak terlalu tinggi. Mungkin hanya sekitar empat atau lima lantai, kalau melihat dari posisi jendelanya. Dindingnya berupa bata merah. Aku tak pernah melihat yang seperti itu sebelumnya, mungkin sekali di taman hiburan saat masih kecil, tapi skalanya sama sekali berbeda. 

“Apa-apaan?” desisku.

Mungkinkah aku sedang berhalusinasi? Stres akibat dipecat secara dadakan? Atau aku sebetulnya belum turun dari bus dan sebenarnya sedang bermimpi sambil bersandar di jendela? 

Lamunan sesaatku buyar saat kurasakan sentakan berulang dari tas di bahuku. Buru-buru kulempar tasku ke tanah dengan panik. Ada sesuatu di dalam yang sedang berusaha keluar. Seperti anak kucing atau apa. Tapi saat aku membukanya, bukan kucing yang muncul dari sana, melainkan buku bergambar wanita berkebaya yang meluncur ke atas dengan kecepatan penuh, seakan ada otot-otot tak kasat mata yang mengepakkan sampul depan dan sampul belakangnya seperti sepasang sayap. Lalu buku itu terbang masuk ke dalam menara lewat jendela yang terbuka, meninggalkanku terpaku di tempat dengan mulut menganga. 

 Belum sempat aku mengatasi keterkejutanku, pintu depan menara mendadak terbuka dan seorang wanita yang penampilannya sangat mirip dengan sosok di sampul buku berdiri di tengah-tengah pintu. Rambutnya ditata rapi ke dalam sanggul. Dia memakai kebaya hitam dan rok batik berwarna coklat. Dia menatap lurus ke arahku. 

“Sedang apa di situ?” tanyanya.

“Uh…” seharusnya aku sudah sampai di indekos, mandi, berganti pakaian, lalu bersiap tidur. Tapi indekosku tiba-tiba menghilang. 

“Cepat masuk,” titahnya.

Aku menatap ke arah kanan dan kiri, lalu memutar tumit ke belakang untuk melihat apakah ada orang lain yang juga menyaksikan fenomena aneh ini, tapi tak ada siapa pun. Andai aku kabur, andai aku berteriak sekencang-kencangnya, adakah yang akan mendengar?

“Cepat!”

Tahu-tahu, aku sudah berada di depan pintu, seolah ada tangan-tangan yang mendorong punggungku. Si wanita menyingkir memberiku jalan. Barulah saat itu aku melihat tulisan yang terukir di depan permukaan pintu kayu. 

Perpustakaan Nyonya X

Untuk ukuran perpustakaan, jelas itu adalah jenis yang tidak pernah kumasuki sebelumnya. Bagian dalam menara itu benar-benar aneh. Lantainya berbentuk lingkaran. Langit-langitnya juga berbentuk lingkaran. Rasanya seperti aku baru saja masuk ke dalam botol minum raksasa. Rak-rak yang menempel di dinding semuanya ikut melengkung. Penerangannya memiliki aksen kuning yang lembut dan anehnya aku seperti mendengar musik dari kejauhan. 

“Selamat datang di perpustakaan kami,” kata si wanita tadi. “Aku Nyonya X.”

Aku mengerjap. “Uh-oh… aku Melati.”

“Terima kasih sudah mengembalikan buku milik kami.”

Aku tidak merasa melakukannya. Buku itu terbang sendiri ke dalam. Tapi aku hanya meringis dan berkata, “Sama-sama.”

“Nikmati waktumu, aku akan menunggu di sini kalau kamu mau meminjam buku lain.” Nyonya X menunjuk ke arah meja di dekat pintu. Di sana, ada beberapa buku yang sedang berputar-putar seperti sedang menari. 

Aku pasti sudah gila. Meski tak ingin mengakuinya keras-keras, rumor soal perpustakaan gaib itu rupanya memang benar adanya. Mana bisa aku menolak untuk percaya saat buktinya sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri? Kalau sudah begini, lebih baik aku memanfaatkannya sekalian. 

Kuputuskan untuk pergi berkeliling. Saat aku mendekati rak yang berada paling dekat denganku, aku melihat semacam poster yang ditempelkan di dinding. 

Cara Meminjam Buku di Perpustakaan Nyonya X

  1. Pastikan buku itu BERSEDIA dipinjam
  2. Menulis nama lengkap di BUKU BESAR Nyonya X
  3. Waktu peminjaman berbeda untuk setiap buku, pastikan TIDAK menempatkan buku yang dipinjam di tempat tertutup 
  4. Pastikan TIDAK merusak buku dengan cara apa pun (hukuman akan ditentukan berdasarkan kerusakan yang menimpa buku)

P.S. Alamat Perpustakaan Nyonya X dapat berubah sewaktu-waktu

Meski tak bisa dipahami dengan akal sehat, toh aku tetap menyimpan informasi itu dalam hati. Aku mengerling ke arah Nyonya X, yang sekarang sedang mengajak buku di mejanya bicara dengan cara yang sama seperti dia bicara dengan bayi. Aku menelan ludah sebelum kembali menoleh ke arah barisan buku di depanku. Satu hal lain yang kusadari adalah: tak ada pengunjung lain di tempat ini. 

Aku berjalan melewati rak demi rak. Sesekali, aku akan berhenti saat mataku menangkap sesuatu yang menarik. Misalnya saja, ada buku yang tak mau disentuh. Wah, itu benar-benar menyentil harga diriku. Tapi ada buku lain yang tampaknya berusaha menonjolkan dirinya. Aku meraihnya dan melihat judulnya: Cara Kilat Untuk Menarik Perhatian Lawan Jenis.

Kuletakkan kembali buku itu di rak tanpa membaca isinya. Dan masih ada banyak lagi. Merawat Sayuran di Kebunmu Sendiri. Kisah-Kisah Penjelajah Tanah Jawa. Resep Kue Basah Impian. Aku yakin mendengar suara anak kucing dari buku Kucing-Kucing Negeri Bulan. Tapi buku yang benar-benar membuatku tertarik adalah Membaca Masa Depanmu: Hadapi Apa yang Sudah Kau Ketahui Lebih Awal

Aku menelan ludah. 

“Aku nggak akan mengambilnya kalau jadi kamu.” 

Dari balik bahuku, kurasakan bayangan seseorang mendekat. Suara Nyonya X terdengar lebih dalam dari sebelumnya, hampir terasa seperti dia sedang memberiku peringatan. 

“Kenapa nggak?” tanyaku. 

“Oh, menurutku kamu nggak ingin tahu apa yang ada di masa depan,” jawab Nyonya X. “Saat kamu tahu ada hal buruk yang akan terjadi padamu, kamu pasti akan melakukan apa pun untuk mencegahnya, kan?”

“Dan apa salahnya semua itu?” aku bersikeras. Maksudku, kalau saja aku tahu akan dipecat, aku pasti akan berusaha melakukan pekerjaanku dengan lebih baik. Atau paling tidak aku bisa menyiapkan hatiku. “Toh, masa depan belum terjadi.”

“Tapi, masa depan nggak bisa berubah,” kata Nyonya X. “Bagaimana kalau yang kamu lihat bukanlah hal kecil seperti dipecat dari pekerjaanmu—” aku terkesiap. Nyonya X terus bicara, “—melainkan sesuatu yang jauh lebih buruk? Misalnya saja…”

Nyonya X menatapku lurus-lurus. Dia ingin aku mengatakan apa? 

“Ambil buku lain,” katanya. Tidak menyelesaikan kata-katanya sebelumnya. 

Tapi, aku sudah kehilangan minat untuk mencari. Meski ada buku yang tiba-tiba jatuh di dekat kakiku, atau buku yang tiba-tiba mengepakkan sampul depan, aku hanya melewati mereka begitu saja. Begitu pula saat aku naik ke lantai atas. Dan atasnya lagi. Dan atasnya lagi. Di lantai terakhir, bahkan ada buku yang nekat mengikutiku dari belakang. 

Saat aku akhirnya kembali ke lantai dasar perpustakaan, Nyonya X menyadari aku tak membawa apa-apa di tanganku. Kedua alisnya mengkerut. “Nggak ada buku lain yang membuatmu tertarik?” tanyanya. 

Aku menggeleng. 

“Ambil ini.” Nyonya X mengulurkan sebuah buku ke arahku. “Tampaknya dia menyukaimu. Dia terus saja mengikutimu.”

Saat aku menerimanya, buku itu langsung mengepakkan sampul depannya. Aku membaca judulnya. Resep Teh Pilihan Untuk Menemani Harimu. Aku tak tahu bagaimana buku ini akan berguna untukku, tapi aku toh tetap menuliskan nama lengkapku di BUKU BESAR milik Nyonya X.

“Sampai jumpa lagi,” kataku. 

“Ya, sampai bertemu.”

Sesaat setelah aku melangkah ke luar, hal yang lebih mengejutkan terjadi di depan mataku. Menara itu perlahan-lahan menghilang, sebagai gantinya, aku melihat indekosku kembali seperti semula, seolah tak pernah menghilang sama sekali.

Wah, tidak bisa kupercaya.

Aku bisa saja menganggap semua itu adalah mimpi sesaat, tapi kehadiran buku yang kini berada di atas meja belajarku membuatnya mustahil kulakukan. Aku tak tahu bagaimana aku bisa tertidur di kasurku, tapi malam itu, mimpiku dipenuhi oleh Nyonya X. Buku yang menghantam kepalaku sekuat tenaga, dan aku yang terjebak di atap menara. 

Begitu terbangun, peluh sudah memenuhi pelipisku. Selama beberapa hari, aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, tidak benar-benar bergerak kecuali untuk makan dan pergi ke kamar mandi. Pada hari kesepuluh, atau kupikir begitu karena aku tidak benar-benar menghitung, kudapati buku itu mulai berpindah dengan sendirinya. Kadang di atas meja. Kadang di dalam lemari. Aku belum pernah membukanya sama sekali. 

Lalu suatu hari, hujan turun sepanjang waktu. Sejak pagi, titik-titik air sudah mengetuk kaca jendela kamarku. Suasana hatiku belum membaik sejak hari itu. Ratusan lamaran pekerjaan yang kukirimkan belum menuai hasil yang kuinginkan. Tak ada panggilan interview. Tak ada apa pun. 

Sudah pukul dua belas siang saat aku pergi ke dapur umum, kutemukan buku itu sudah terbuka lebar. Aku menunduk untuk membaca. 

Resep Teh Bunga Mawar. 

Lebih mengejutkannya lagi, semua bahan yang diperlukan sudah ada di sana. Seolah muncul dari ketiadaan. Teh. Bunga kering. Madu. Dan, sejumput bubuk ajaib. Yang perlu kulakukan hanya menyeduhnya dengan air panas dan menunggu sampai asap tipis beraroma manis memenuhi udara. 

Aku kembali ke kamar bersama cangkirku dan menatap ke luar jendela. Tegukan pertama teh itu begitu ajaib. Begitu menenangkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan kehangatan di dalam hatiku. Di dalam diriku. Seolah-olah setiap tetesnya punya kekuatan untuk meredakan keresahanku selama beberapa waktu terakhir.

Hujan masih turun dengan deras selama beberapa hari berikutnya, dan selama itu pula aku mencicipi racikan teh dari buku yang kupinjam. Teh madu yang manis dan menghangatkan dada, teh bunga telang yang segar dan membuat pikiranku lebih jernih, teh melati yang harumnya membuatku tenang. Teh daun mint yang membuatku merasa bersemangat…

Aku punya kekuatan yang cukup untuk berdiri lagi. Mencoba lagi. Terus mencoba sampai akhirnya aku berhasil mendapat pekerjaan baru. Bukan sesuatu yang muluk-muluk, hanya sebagai pegawai magang di sebuah kantor penerbitan. Tapi, itu sudah bagus, kan?

Saat aku kembali ke indekos, buku itu sudah menghilang. Tidak peduli meski aku sudah mencarinya ke mana-mana, aku tetap tidak bisa menemukannya. Pasti dia terbang ke luar dari jendela. Kembali ke Perpustakaan Nyonya X yang aneh. 

Padahal aku belum sempat mengucapkan terima kasih. Kutatap langit malam di luar jendela. Bulan purnama bersinar terang. Tampak sempurna. Di luar sana, pasti ada orang-orang sepertiku, yang diselamatkan oleh buku-buku Nyonya X.

Siapa gerangan wanita itu? Dimana aku bisa menjumpai perpustakaannya lagi?

Aku tak pernah tahu. 

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)