Kontak darurat. Dua kata yang tampaknya sederhana dan mudah bagi orang lain. Mereka tinggal menulis nama ibu, ayah, pasangan, kakak, teman, atau siapa saja yang akan mengangkat teleponnya ketika sesuatu terjadi. Namun bagiku, kolom itu terasa seperti pertanyaan yang terlalu jujur.
Kalau sesuatu terjadi padamu, siapa yang akan benar-benar datang?
Aku menatap lama formulir sewa apartemen di tanganku. Semua bagian sudah terisi, kecuali satu kolom di bagian paling bawah. Sebenarnya aku bisa saja menulis asal nama siapa pun. Lagi pula, tidak ada yang akan memeriksa kebenarannya. Namun, ada semacam harga diriku yang retak saat menyadari bahwa aku harus mengarang sebuah eksistensi, hanya agar tidak dikasihani oleh orang asing di balik meja administrasi.
Akhirnya jemariku menuliskan nama acak yang muncul di kepala, lalu di sebelahnya, kuisi dengan nomor teleponku sendiri yang sudah lama tidak aktif. Bukan karena ingin menipu, aku hanya tidak sanggup melihat kolom itu kosong lebih lama. Satpam itu menerima formulirku tanpa bertanya. Mungkin baginya, aku hanya penghuni baru. Namun bagiku, kertas itu adalah bukti bahwa aku berpindah ke tempat baru dengan membawa kesepian lama yang sama.
Unitku berada di lantai sebelas. Tidak besar, tapi cukup untuk satu orang. Satu kamar, satu lemari, dan satu meja makan kecil dengan dua kursi. Kursi satunya lebih sering kupakai untuk menaruh tas, jaket, atau pakaian yang belum sempat kulipat.
Menjadi sebatang kara adalah kemewahan sekaligus kutukan. Aku mencintai jam-jam bebas tanpa interogasi; mi instan berturut-turut, musik yang merajai ruangan, dan tidur di kasur yang berantakan tanpa perlu menimbang perasaan siapapun. Namun, sering kali sepi tidak datang dengan guntur dan badai air mata. Dia menyusup lewat layar ponsel yang gelap di samping piring makan, atau saat jemari refleks memeriksa aplikasi pesan, berharap ada keajaiban dari ruang kosong, lalu mendapati suhu tubuhmu merangkak naik sejak pagi, dan tidak ada satu jiwa pun yang tahu. Saat fisik melemah, ego manusia biasanya menyusut. Kita tidak butuh hal-hal mewah. Hanya suara parau yang berbisik, “aku buatkan bubur, ya?”
Sangat sederhana, dan aku tidak memiliki kemewahan seperti itu.
Suatu siang, Rani, temanku, pingsan di kantor. Semua orang panik mengambil minyak angin, menelepon ambulans, dan membereskan barang-barangnya. Aku ikut berdiri di sana, memegang tasnya supaya nanti mudah dibawa.
Lima belas menit kemudian, ayahnya datang dengan wajah pucat, bahkan sepasang sandal yang dikenakannya beda sebelah. Napasnya terengah-engah, namun matanya langsung mencari di mana Rani berada. Saat itu, rasanya ada yang menarik dadaku dari dalam. Aku melihat bagaimana ayah Rani menggenggam tangan anaknya, dan bagaimana Rani yang lemas langsung mengembuskan napas lega begitu mendengar suara ayahnya.
Di tengah riuh ruang kantor, aku justru mendengar keheningan yang pekak di kepalaku. Sandal ayah Rani yang tertukar adalah bentuk cinta paling bising. Dan aku terjebak menghitung jarak: jika aku yang tergeletak di sana, berapa lama waktu yang dibutuhkan dunia untuk menyadari hilangnya nyawaku? Ada banyak orang yang menyimpan nomor gawaiku untuk urusan pekerjaan, tetapi mungkin tidak ada yang akan mencari jika aku menguap dari bumi selama satu bulan penuh.
Beberapa minggu kemudian, semesta menguji ketakutan itu. Aku dihantam demam tinggi. pukul dua pagi, aku terbangun dengan pelipis berdenyut dan seluruh sendi terasa linu. Ketika mencoba merayap ke dapur untuk meraih segelas air, lantai di bawah kakiku seolah miring. Gelas di tanganku lolos.
Klontang!
Pecahan kaca itu berkilau di lantai, mengepung kakiku yang telanjang. Detik berikutnya, keheningan kembali merekat, menelan sisa dentang yang runtuh. Tidak ada gema langkah kaki yang panik atau pun suara cemas yang bertanya. Sunyi itu kembali utuh, seolah-olah aku dan seluruh laraku malam itu hanyalah ilusi. Di bawah temaram lampu dapur, aku dipaksa menelan kenyataan: aku benar-benar sendiri.
Keesokan paginya, dengan lutut yang gemetar, aku menyeret langkah ke rumah sakit terdekat. Petugas administrasi menyodorkan selembar kertas putih.
Nama, alamat, riwayat alergi, dan di baris bawah: kontak darurat.
Lagi-lagi labirin itu. Tanganku membeku. Kertas putih itu mendadak mengabur oleh lapisan bening yang mendesak di pelupuk mataku. Lucu sekali. Di kota yang padat merayap ini, ada manusia yang bingung harus menaruh nama siapa saat hidupnya berada di ambang batas. Aku menuliskan nama palsu yang sama, lalu pulang membawa sebungkus parasetamol dan sebuah kehampaan yang sulit didefinisikan.
Hari itu, aku sengaja tidak menyalakan televisi saat tiba di apartemen. Biasanya aku butuh suara bising sebagai latar agar ruangan tidak terasa terlalu mati. Namun pagi itu, aku membiarkan sunyi duduk di sebelahku. Aku mencoba berhenti memusuhinya.
Seminggu setelah pulih, aku mampir ke lapak tanaman di dekat halte. Aku membeli satu pot kecil sukulen.
“Jangan lupa disiram berkala ya, Mbak. Dia memang tahan, tapi kalau dibiarkan terlalu lama, akarnya bisa mati,” pesan si penjual.
Aku membawanya pulang dan meletakkannya di ambang jendela kamar. Benda sekecil itu pun menuntut atensi agar tidak membusuk.
Besok paginya, aku membuka tirai. Cahaya matahari masuk perlahan, menyentuh dedaunan hijau yang masih basah oleh sisa siraman. Tidak ada mukjizat yang instan setelahnya. Ponselku masih sepi, malam-malamku masih senyap. Namun, aku mulai memaksa diriku memotong jarak. Aku mulai membalas pesan basa-basi dari grup alumni, dan sesekali mengiyakan ajakan minum kopi setelah jam kantor usai. Manusia mungkin pulih dengan cara merangkak.
Hingga beberapa bulan kemudian, divisi HRD meminta pembaruan data karyawan via formulir digital. Jemariku mengetik dengan ritme konstan, sampai kursor berhenti di bagian akhir: kontak darurat.
Aku tertegun di depan layar monitor. Kali ini, sebuah nama melintas. Bukan nama acak karangan yang muncul di kepala, melainkan nama seseorang yang belakangan ini kerap menggeser kursinya lebih dekat saat jam makan siang, menaruh sekotak susu hangat di mejaku saat aku lembur, dan yang selalu memastikan aku tidak pulang kehujanan.
Dua hari lalu, saat kami mengaduk es kopi di kedai bawah kantor, aku sempat memberanikan diri.
"Kalau namamu kutulis di kolom kontak daruratku... boleh?"
Ia meletakkan sedotannya, menatapku lurus tanpa jeda ragu. “Boleh banget.”
Jawabannya terlalu cepat sampai membuatku gugup. "Maksudku, kalau repot atau... kamu keberatan, tidak apa-apa."
"Kenapa harus keberatan?" Ia tersenyum, jenis senyuman yang membuat dadaku hangat tanpa alasan. "Tulis saja. Tapi, jangan tunggu darurat dulu baru menghubungiku, ya."
Kini, di depan formulir digital itu, aku mengetikkan namanya huruf demi huruf. Akhirnya, ada satu nama nyata yang berhak berada di sana tanpa membuatku merasa sedang berbohong pada dunia.
Di luar jendela kantor, langit senja mulai meluruhkan warna jingganya. Saat aku merapikan meja kerja, ponsel di saku kemejaku bergetar singkat
Sudah mau turun?
Aku menatap layar itu, merasakan sesuatu yang sudah lama hilang kembali berdegup di dadaku.
Iya, ini baru matikan komputer.
Balasannya datang sebelum aku sempat menyampirkan tas di pundak: Aku tunggu di lobi. Kita cari makan malam bareng.
Aku melangkah menuju lift dengan perasaan yang lebih ringan. Di bawah sana, ada seseorang yang dengan sadar sedang meluangkan waktu dan ruang hidupnya untukku. Kesepianku tidak lantas menguap begitu saja, tetapi malam ini, dia tidak lagi terasa mencekik.