Tahun 2126, Kota Malang tidak pernah benar-benar gelap.
Menjelang pagi, saat langit masih kelabu tipis, garis-garis cahaya sudah merambat di antara gedung-gedung tinggi. Sementara kendaraan udara melintas dengan dengung rendah menuju pusat kota, lalu lenyap di balik kabut polusi. Dari jendela apartemen lantai tujuh puluh satu, Malang tampak seperti mesin raksasa yang tidak pernah tidur.
El betah berdiri di sana, memandangi kota yang bergerak tanpa jeda. Ia suka menebak jalur mana yang akan lebih dulu mencapai menara pusat kota dan memperhatikan bagaimana jendela-jendela kaca menangkap sisa cahaya pagi. Di saat-saat seperti itu, kota selalu terlihat sempurna.
Namun belakangan, pemandangan itu tak lagi cukup untuk membuatnya tenang.
Setiap pagi pukul enam, sensasi hangat yang sama muncul di pangkal lehernya. Hangat itu menyebar pelan ke belakang kepala, lalu berhenti dengan ketukan kecil dari dalam. Itu tanda chip pembelajar miliknya selesai bekerja. Dalam hitungan detik, pelajaran hari itu mengalir masuk: tanggal penting, istilah ilmiah, rumus, sejarah kota, potongan bahasa asing, dan daftar materi lainnya yang sudah dijadwalkan oleh sistem.
Cepat. Rapi. Efisien.
Semua anak seusianya tumbuh seperti itu.
Siaran di televisi juga bilang bahwa itu memudahkan hidup.
Tapi sekarang El tidak yakin. Kalau semua berjalan sebagaimana mestinya, kenapa setelah aliran itu selesai, yang tersisa justru rasa penuh yang aneh?
Pagi itu, setelah dinding kamar menampilkan ringkasan materi yang baru selesai masuk, El keluar ke ruang tengah dan mendapati Aki sudah duduk di kursi goyang kayunya. Kursi itu selalu terasa ganjil di apartemen mereka. Di antara meja logam, kaca pintar, dan panel suara, kursi kayu itu tampak seperti benda yang tersesat dari masa lain. Kadang, jika rumah sedang terlalu hening, El bisa mendengar derit halusnya bahkan dari kamar.
Aki menoleh. “Sudah masuk pelajarannya?”
El mengangguk, lalu berdiri di dekat jendela. Ia memandang kota sebentar. Kota di luar tetap bergerak. Jalur cahaya menyala, kabut menutup sebagian menara, semuanya tampak baik-baik saja.
“Aki.”
“Hmm?” sahut Aki.
El masih menatap kota. “Kenapa aku tahu banyak, tapi rasanya kosong?” katanya lirih.
Aki tidak langsung menjawab. Kursinya berhenti bergoyang. Ia hanya memandang El cukup lama dengan senyum tipis yang sulit El artikan.
“Kemarilah,” katanya akhirnya.
El kemudian duduk di karpet, dekat kaki kursi. Dari tempat itu ia bisa melihat tangan Aki yang kurus dan sedikit gemetar ketika membuka laci kecil pada meja kayu di sampingnya. Laci itu membuatnya penasaran dari dulu. Tidak ada bunyi pengenal sidik jari, tidak ada sensor, hanya kayu kusam, gagang bundar, dan bunyi seret pelan setiap kali dibuka.
Dari dalamnya, Aki mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain berwarna cokelat. Saat kain itu dibuka perlahan, tampak sebuah benda persegi panjang bersampul hijau tua terbaring di pangkuannya.
“Ini buku, El,” kata Aki sambil mengusap sampulnya.
El mendekat tanpa sadar. Ia pernah melihat gambar serupa di modul sejarah dasar, tetapi hanya sekilas. Di sekolah, guru menjelaskannya sebagai media bacaan lama yang digunakan sebelum sistem chip pembelajar dianggap lebih praktis. Benda itu bagian dari masa lalu yang katanya sudah tidak lagi penting untuk kota.
“Coba pegang,” kata Aki.
El menyentuh sampulnya dengan ujung jari. Ia sedikit terkejut oleh teksturnya yang terasa kasar. Permukaannya berserat dan hangat. Tidak dingin seperti panel kaca. Tidak licin seperti layar.
Aki kemudian membuka salah satu bagian dalamnya perlahan. Terdengar suara tipis yang menenangkan telinga El. Bukan seperti bunyi notifikasi atau dengung mesin yang biasa memenuhi hari-harinya.
El mengangkat kepala. “Itu bunyi apa?”
“Halaman,” jawab Aki.
Lalu ada aroma samar yang ikut terlepas dari sela-sela kertas. El spontan menahan napas. Bau itu tidak seperti apa pun yang pernah dikenalnya. Bukan bau logam, bukan bau pembersih udara, bukan juga bau hujan buatan dari taman vertikal.
“Kenapa baunya begini?”
“Bau kertas lama,” kata Aki, lalu terkekeh. “Mungkin karena umurnya lebih panjang dari benda-benda di rumah ini.”
El belum benar-benar paham, tetapi ia tidak ingin buru-buru bertanya lagi. Ia memandang cara Aki memegang buku itu. Sangat hati-hati, seolah memegang sesuatu yang hidup, dan membuat El turut diam.
“Aki dulu bacanya pakai ini?”
“Bukan cuma baca.” Aki mengusap sampul hijau itu dengan ibu jari. “Aki dulu penjaga perpustakaan kota.”
El menoleh cepat. Tidak biasanya Aki bicara soal masa mudanya.
“Perpustakaan yang isinya buku seperti ini?”
Aki mengangguk. “Dulu orang datang ke sana bukan cuma buat pinjam buku,” kata Aki. “Kadang mereka cuma mau duduk tenang. Kadang ya… cuma butuh tempat.”
El memandangi buku di hadapannya.
“Aki masih punya banyak?”
Aki diam sebentar. “Tidak.”
El melihat wajah Aki berubah sedikit saat mengatakan kalimat itu. Ia merasa Aki ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi memilih diam. El pun tidak bertanya lebih jauh.
“Buku ini milik siapa?” tanyanya, mencoba mengubah suasana.
“Milik nenekmu,” kata Aki pelan. “Dia yang paling sering membacakan isinya untuk ibumu waktu kecil.”
El hampir tersenyum. Ia tidak pernah sempat mengenal neneknya. Tetapi untuk pertama kalinya sosok itu terasa sedikit lebih dekat, bukan lagi sekadar wajah lama dalam satu foto tua di ruang kerja Aki.
Aki menepuk sisi karpet. “Mau dengar satu cerita?”
El mengangguk tanpa ragu.
Lalu suara Aki yang tua mulai mengalir. Suaranya tidak halus seperti narator sistem. Kadang terlalu pelan, kadang serak, dan kadang berhenti untuk mengambil napas. Namun justru di antara jeda itu, ia merasa ditemani.
Cerita itu tentang robot kecil yang tersesat di dalam hutan setelah kompas digitalnya rusak. Robot itu sudah terbiasa bergerak mengikuti peta dan koordinat, jadi ketika semua penunjuk arah hilang, ia tidak tahu harus ke mana. Mau tak mau ia berjalan pelan, mendengarkan angin, meraba lumut di batang pohon dan bebatuan, mengikuti bunyi air, dan memperhatikan jejak-jejak kecil yang tertinggal di tanah.
El mendengarkan tanpa banyak bergerak.
Tidak ada hologram, tidak ada ilustrasi, tidak ada simulasi.
Untuk pertama kalinya, El bisa melihat hutan itu tanpa bantuan layar. Ia bisa membayangkan hutan dan tanah gelap. Ia bisa mendengar suara angin yang bergesekan dengan dedaunan. Dan juga bisa melihat robot kecil itu berjalan ragu menyusuri pohon-pohon yang tinggi, sendirian dan bingung.
“Aki,” bisiknya pelan ketika cerita berhenti sejenak, “kenapa robot itu tidak panggil bantuan saja?”
Aki menahan halaman dengan satu jari. “Mungkin dia mau cari jalannya sendiri.”
Entah kenapa, El terus memikirkan robot kecil itu.
Setelahnya, malam menjadi bagian hari yang paling El tunggu.
Pagi harinya tetap diisi aliran pelajaran dari chip pembelajar. Siang tetap dengan sekolah, tugas-tugas, dan simulasi. Lalu ketika langit mulai gelap, ia selalu menanti Aki membuka laci kayunya.
Kadang ceritanya lucu, tentang seorang gadis yang ingin jadi permaisuri meski rambutnya cuma tinggal tiga helai. Kadang sedih, tentang sebutir nasi yang menangis karena tak dihabiskan. Kadang juga aneh sekali, seperti cerita ikan yang ingin merasakan hujan.
Justru bagian itu yang El suka. Tidak semua cerita langsung selesai begitu Aki menutup buku. Kadang ia baru paham bagian lucunya besok siang, dan kadang ada kalimat yang baru terasa aneh atau sedih dua hari kemudian. Rasanya seperti cerita-cerita itu diam dulu di kepalanya, lalu muncul lagi saat ia sedang tidak siap.
Sekali waktu, saat jam istirahat, ia mencoba bercerita pada temannya tentang robot kecil dan hutan.
Temannya mengerutkan dahi. “Ngapain dengar cerita yang lama begitu? Tinggal unduh simulasi hutan, kan lebih lengkap.”
El tidak membalas. Ia menunduk pura-pura merapikan bajunya, padahal sebenarnya ia sedang menahan sesuatu yang aneh, antara malu dan kesal. Sepanjang sisa hari itu, El jadi malas bicara. Barulah malam harinya ia menceritakan semuanya pada Aki.
Aki mendengarkan sampai selesai sambil membersihkan kacamatanya dengan ujung baju. Setelah itu ia memakainya lagi.
“Dulu juga banyak yang bilang begitu,” katanya. “Waktu perpustakaan mulai sepi, orang-orang menganggap buku lambat, rak makan tempat, dan penjaga perpustakaan cuma menjaga barang usang.”
“Apa itu salah?” tanya El.
Aki tersenyum kecil. “Nggak selalu. Tapi nggak semua yang cepat itu lebih bagus, dan yang pelan juga belum tentu tertinggal.”
El mengangguk pelan. Ia tidak yakin sudah benar-benar mengerti, tetapi ia suka cara kalimat itu terdengar di telinganya. Setelah itu, malam-malam bersama Aki terus berlangsung sampai hari ketika seluruh kota mendadak padam.
El sedang menyelesaikan tugas ketika cahaya apartemen mati serempak. Tidak meredup lebih dulu, tidak berkedip dua kali seperti gangguan biasa. Beberapa detik kemudian, alarm kota melengking nyaring. Dinding apartemen yang biasanya memantulkan data berubah hitam. Meja layar mati. Pendingin ruangan berhenti berdengung. Dari balik kaca, gedung-gedung yang biasanya bercahaya kini tinggal bayangan besar.
Pangkal leher El mendadak terasa dingin, lalu nyeri tipis menjalar sampai ke pelipisnya.
“Aki!” suaranya pecah. “Aki!”
Ia melangkah cepat ke ruang tengah dalam gelap, menabrak sisi meja, lalu meraba-raba dinding. Untuk sesaat ia merasa bodoh. Semua yang biasanya bisa ia akses seketika lenyap begitu saja. Peta darurat. Panduan gangguan sistem. Nomor bantuan.
Napasnya mulai pendek. Tangannya dingin. “Aki!”
“El.” Suara Aki muncul dari dekat. “Aki di sini.”
Ada cahaya kecil di ujung ruangan. Bukan putih terang seperti lampu rumah, melainkan pendar kuning lembut dan sedikit bergoyang. Dalam temaram itu, Aki berdiri sambil memegang lampu kecil yang sebelumnya belum pernah ia lihat.
“Duduk sini,” katanya.
El menurut, meski dadanya masih sesak.
“Bagaimana kalau sistem pusat rusak? Bagaimana kalau—”
“Pelan-pelan,” kata Aki sambil mengelus kepalanya. “Kamu takut apa sekarang?”
El membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingin menjawab karena gelap, karena alarm terus berbunyi, karena chip-nya tidak bekerja. Namun yang keluar justru, “Aku… aku nggak tahu harus ngapain,” kalimatnya masih bergetar.
Aki tampak mengangguk. “Baik,” kata Aki. “Coba kita mulai dari yang masih kamu ingat.”
“Aku tidak bisa akses apa-apa, Aki.”
“Bukan dari chip,” kata Aki. “Dari kamu sendiri. Coba pejamkan mata.”
El ragu beberapa detik, menarik napas, lalu memejam.
“Masih bisa lihat robot kecil itu?” tanya Aki.
Beberapa detik kemudian, El mengangguk. Awalnya yang terdengar hanya alarm kota dan detak jantungnya sendiri. Lalu, sangat pelan, sesuatu muncul lagi di kepalanya. Pohon-pohon. Tanah gelap. Dan robot kecil yang berdiri sendirian.
El membuka mata.
“Aku masih bisa lihat,” bisiknya, hampir tidak percaya.
“Nah,” kata Aki. “Berarti tidak semua yang kamu punya ikut padam.”
Kalimat itu menenangkan El lebih daripada apa pun.
Di bawah nyala lampu kecil, Aki mulai bercerita lagi. Suaranya tetap serak, tetap tidak rata, tetapi kini justru El merasa seperti sedang dipegangi agar tidak terseret panik. Halaman demi halaman, napasnya mulai lebih panjang, jantungnya sudah tidak lagi melompat-lompat seperti tadi.
Mungkin saat itu seluruh kota sedang panik. Namun di samping Aki, El hanya mendengar cerita. Ia sempat tertidur di bahu Aki, lalu terbangun lagi saat suara tua itu masih berlanjut.
Ketika jaringan akhirnya kembali menjelang pagi, cahaya putih memenuhi apartemen begitu mendadak hingga matanya menyipit. Panel rumah menyala. Pendingin ruangan hidup lagi. Tengkuknya tidak lagi terasa dingin.
Kota Malang hidup lagi. El memandangi cahaya kota yang pelan-pelan kembali berlari di antara gedung-gedung, seolah malam kemarin tak pernah terjadi.
“Aki,” katanya pelan, “aku ingin bisa bercerita.”
Tidak ada jawaban langsung. El menoleh dan melihat mata Aki basah.
“Cerita tentang apa?” tanya Aki dengan suara sedikit bergetar.
El menarik napas. “Cerita yang malam tadi, dan sekolah, dan… entahlah. Semuanya.”
Aki tersenyum, lalu membuka laci kayunya sekali lagi. Ia mengambil secarik kertas kosong dan sebatang kayu kecil berujung hitam, benda yang belum pernah El sentuh sebelumnya.
Lalu Aki meletakkannya di depan El.
“Coba mulai dari sini,” kata Aki.
El menatap benda kecil itu beberapa saat sebelum menggenggamnya. Jemarinya masih kaku, terlalu terbiasa pada sentuhan layar dan perintah suara. Aki duduk kembali di samping El, lalu membetulkan posisi jarinya, menuntunnya hingga ujung hitam itu menyentuh permukaan kertas.
Garis pertama yang dibuat El miring dan goyah. Jauh dari kata rapi. Huruf pertamanya bahkan harus diulangnya beberapa kali karena bentuknya aneh. Aki tidak menertawakan. Ia hanya duduk di samping El, menemani.
Di luar, Kota Malang kembali sibuk seperti biasa. Namun kali ini El tidak tergoda untuk memandangnya terlalu lama. Matanya tertahan pada kertas di pangkuannya. Ia menulis lagi, pelan-pelan, dengan huruf yang masih miring.
Sejak pagi itu, sebelum pelajaran dari chip mulai masuk, El menulis lebih dulu. Belum banyak. Kadang hanya satu kalimat. Kadang dua. Kadang setengah halaman yang penuh coretan. Huruf-hurufnya masih sering turun ke bawah. Beberapa kata terlalu rapat, beberapa lainnya terlalu renggang.
Aki selalu bilang tidak apa-apa.
Yang penting, itu datang dari El sendiri.