POV KALA
Lima tahun. Tahu-tahu sudah lima tahun aku tinggal bareng sama kamu. Rasanya baru kemarin acara lamaran kita ya. Terus kita debat mau hari Sabtu atau Senin untuk acara pernikahannya nanti. Kamu bilang, hari Senin aja biar ga macet. Tapi aku mau hari Sabtu karena biasanya pernikahan itu di hari sabtu. Lucu rasanya kalau aku ingat tentang itu. Aku masih ingat kalau Doni harus keliling kota buat cari mawar biru sesuai keinginan kamu. Biru. Ketika kebanyakan orang mengenakan baju tema putih untuk akad dan kamu memilih warna biru. Untuk hal hal yang sangat spesial, warna yang dipilih juga harus yang spesial. Begitu kata kamu. Aku yang awalnya takut bude bude nanti protes malah dibuat bangga karena ternyata mereka semua malah suka sama ide unik kamu. Bikin mata seger katanya, pagi pagi liat warna biru langit yang kamu pilih. Cerah. Seperti senyum kamu hari itu. Tahu ga, hari itu rasanya hari paling Bahagia seumur hidup aku. Aku sangat bersyukur karena kamu memilih aku. Makasih sayang. Makasih juga sudah bersedia menerima segala kekuranganku. Aku banyak kurangnya ya? Maaf ya.
Walau dijalani dengan orang yang paling kita sayang, bukan berarti akan berjalan mudah kan? Sungguh rasanya aku mau mengutuk alam untuk hal-hal buruk yang menimpamu. Untuk harapan tentang malaikat kecil yang kamu nantikan namun ternyata Tuhan punya kehendak lain. Jujur saja, aku tidak suka melihatmu murung berkepanjangan. Aku benar-benar akan menukar apapun yang aku punya daripada aku harus melihat kamu menangis diam-diam di kamar mandi setiap malam. Tapi kamu bilang, aku gak boleh bilang Tuhan jahat sama takdir yang dikasih ke kita. Aku nurut. Aku tidak jadi mengutuk alam dan marah pada Tuhan. Benar saja, kemudian Dia benar menitipkan hati mungil yang kamu bawa selalu selama sembilan bulan lebih beberapa hari.
Sayang, semoga aku selalu bisa memenuhi tangki cinta kamu ya. Aku pastikan tangkinya ga akan kosong. Sungguh. Kamu mau minta aku jalan kaki keliling Indonesia asal kamu bahagia juga aku ga akan bisa. Susah sayang. Boleh ganti yang lain aja gak permintaannya? Hehe. Kayla sayang, terima kasih sudah bersedia hadir dalam hidup manusia kikuk kayak aku ini ya. Terima kasih bersedia luluh sama cowo pemain basket yang sudah berhasil mengalahkan Sekolah kamu ini, dulu. Kirain aku kesana cuma akan bawa piala juara, ternyata berhasil bawa jodoh juga. Hehe. Aku berhutang banyak sama Sinta yang berhasil membuat nona mageran kayak kamu keluar kelas ditengah terik matahari.
Sayang, kamu benar. Tuhan terlalu baik buat aku. Dia membuat kamu jatuh cinta sama aku. Membuat kamu menghabiskan banyak waktu yang kamu punya sama aku. Membuat kamu melahirkan sosok mungil tercantik kedua yang pernah aku lihat di muka Bumi ini. Nomer satunya tentu kamu. Hehe.
Apa itu alasannya Dia mengambil kamu? Kamu terlalu cantik untuk ada di bumi ya? Surga butuh kamu disana. Padahal surga tidak kekurangan manusia cantik, kan? Aku lebih butuh kamu kan, sayang? Kamu kenapa tiba-tiba ninggalin aku gini? Kalau aku tidak mau kamu pergi, bagaimana? Ini aku harus negosiasi sama siapa biar kamu gak jadi pergi? Kamu saja bernegosiasi dengan dokter Dodi sebelum melahirkan, masa aku tidak boleh bernegosiasi juga?
Sayang, ini aku gimana? Kamu ga ada.
-----------
Maaf karena baru berani mengunjungimu sayang. Kamu tahu, butuh waktu lama untuk aku belajar Ikhlas menerima ini semua. Bahkan setelah lima tahun kamu pergi, aku masih kepayahan jalanin hari aku tanpa kamu. Terima kasih sudah menghadirkan kayla untuk aku sayang. Sayang, kayla kita sudah besar sekarang. Sudah lima tahun usianya. Hari ini aku mau merayakan hari ulang tahunnya sama kamu.
“Ayah, ini kuburannya siapa? Kok ada nama Kayla di batu nisannya.”
“Kayla, ini makam Mama. Nama Mama juga Kayla, nak.”
“Akhirnya Kayla ketemu Mama. Hai Mama, ini Kayla anak Mama."
_____________________________________
POV KAYLA
Hai sayang, terima kasih sudah memilihku. Aku bersyukur suamiku adalah kamu. Kalau suamiku Vino G. Bastian, pasti aku akan jadi Wanita paling sombong. Hehe. Terima kasih sudah bersedia mengusahakan semua mau ku. Terima kasih selalu memenuhi tangki cintaku. Kita lama juga ya hidup bareng. Pernikahan kita memang baru lima tahun, tapi aku sudah mengenal kamu jauh sebelum itu. Kalau waktu itu aku tidak menemani Sinta nonton pertandingan basket di Lapangan lawan sekolah kamu, mungkin kita ga akan sampai sejauh ini. Kamu harus berterima kasih sama Sinta untuk takdir kita ya! Aku yang mageran ini, rela panas-panasan ke Lapangan buat nemenin Sinta nonton pacarnya bertanding. Kirain cuma dapat panas doang, ehh ternyata dapat jodoh juga. Lucu juga kalau ingat hari itu.
Sayang, aku banyak kurangnya ya? Maaf karena butuh waktu lama untuk aku menghadiahkan malaikat mungil ditengah keluarga kita. Aku tahu betapa kamu sangat menantikan hadirnya tangis bayi ditengah heningnya rumah kita. Kamu pasti capek ya, setiap hari selalu mencari ide untuk membuat aku bangkit setelah aku harus kehilangan harapan itu. Sayang, bukan maksudku menyusahkanmu. Aku kesal sama diriku yang payah buat kamu. Berkat kamu yang ga pernah capek itu, aku jadi ga mau terus berlarut.
Sayang, untuk tiap susah yang kita jalani, Tuhan bukan sedang mengabaikan kita. Dia sedang rindu sama kita. Mungkin kita kurang ngobrol sama Tuhan. Mungkin dalam perjalan hari kita, kita mulai terlalu jauh berjarak. Libatkan Dia selalu ya sayang! Libatkan Tuhan untuk segala harap yang kamu inginkan. Kamu tahu gak, hari dimana aku mendengar detak jantung berdenyut milik hati mungil kita, sungguh tidak ada kata yang bisa gambarin perasaan itu. Harapan itu datang lagi. Tuhan percayakan lagi sama kita. Setiap detik aku selalu bernegosiasi dengan Tuhan agar hadirkan bayi ini ke bumi. Dia harus tahu akan memiliki ayah sehebat kamu. Kamu akan jadi ayah yang hebat buat dia kan, sayang?
Maaf ya. Maaf karena aku bernegosiasi dengan dokter Dodi diam-diam. Sayang, jangan marah sama dokter Dodi untuk yang aku putuskan ya. Jangan mengutuk takdir juga. Jangan juga marah sama Tuhan seperti waktu itu. Ini mau ku. Gapapa ya?
Sayang, ini aku ga ada. Kamu gapapa, kan?
------
“Sayang, kalau anak kita perempuan, kamu mau kasih nama siapa?”
“Kayla!”
“Lohh namanya sama kayak nama aku dong?”
“Iya! Soalnya aku bersyukur Tuhan hadirkan kamu dihidup aku.”
“Ihh gombal… kalau gitu, kalau nanti anak kita laki-laki namanya Kala ya?”
“karena kamu bersyukur Tuhan hadirkan aku dihidup kamu?”
“kalau aku kasih nama Vino G. Bastian nanti kamu cemburu. Hahahaha”
End.