Kontrakan yang Rahman tinggali berada tepat di seberang sebuah sekolah dasar. Lingkungannya pun ramai dengan orang yang lalu-lalang. Di depan sekolah dasar tersebut, tiap-tiap sore di bulan ramadhan dijadikan tempat berjualan oleh para pedagang takjil. Dari posisi duduknya ini lah, Rahman dapat melihat dengan jelas para pedagang itu.
Tepat di depan gerbang sekolah yang berwarna hitam, seorang ibu yang menjual es campur sedang sibuk memecahkan es batu. Ke sebelah kiri agak sedikit, seorang perempuan muda berjilbab cokelat sedang menyusun gorengan di atas sebuah wadah yang terbuat dari plastik. Tepat di sebelahnya, ada pula seorang perempuan yang sedang sibuk menyerut mentimun. Di paling pojok ada juga sepasang laki bini penjual gorengan yang setiap hari dagangannya selalu saja bersisa.
Di antara keramaian dan kesibukan orang-orang itu, Rahman justru melayangkan pikirannya jauh-jauh ke seberang Pulau Jawa. Mengangan-angankan dirinya tengah berada di rumah. Sedang duduk di ambang pintu dapur demi melihat ibunya memasak makanan untuk berbuka. Sementara bapaknya di waktu-waktu seperti ini biasanya masih duduk-duduk di masjid dengan pak garin, seorang tua yang telah lama tinggal di masjid kampungnya. Nanti kalau sudah dekat waktu berbuka, barulah bapaknya pulang, tetapi biasanya hanya untuk mandi dan membatalkan puasanya dengan segelas air. Setelah itu bapaknya akan kembali ke masjid untuk sholat maghrib dan baru kembali selepas sholat tarawih.
Ibu Rahman dikenal sebagai orang yang pandai memasak. Saat ada acara-acara seperti pernikahan nama ibunya lah yang pertama kali diingat orang saat hendak memanggil orang untuk memasak. Itulah sebabnya Rahman suka sekali duduk di ambang pintu dapur sebab dari situ dia dapat mencium aroma bumbu yang ditumis ibunya di atas kuali yang pantatnya telah gosong karena sering dipakai. Sementara bapaknya adalah seorang buya yang setiap malam kerjanya mengajar agama.
Rahman dan bapaknya seringkali berdebat perihal bagaimana laki-laki seharusnya menghabiskan waktu di bulan ramadhan. Menurut Rahman, ketika bulan puasa bapaknya seharusnya banyak berada di rumah. Sementara menurut bapaknya bukan dengan cara itu laki-laki menghabiskan waktunya di bulan puasa. Laki-laki seharusnya banyak berada di masjid untuk beribadah. Bukan di depan pintu dapur melihat para perempuan menggesek-gesek kuali dan memotong bawang.
Perdebatan antara Rahman dan bapaknya itu berlangsung setiap hari di bulan puasa. Kadang terjadi di waktu berbuka. Kadang juga terjadi di waktu siang saat keduanya sudah mulai lemas dan terkantuk-kantuk. Hanya di waktu sahur keduanya tidak pernah berdebat. Mereka memang hanya akur di waktu-waktu tertentu saja. Sementara dengan ibunya, Rahman begitu dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama terutama ketika hari libur.
Pada waktu-waktu seperti sekarang ini, para perantau biasanya sudah mulai bepergian meninggalkan ibukota. Menjadikan tempat-tempat tertentu seperti terminal dan stasiun padat oleh manusia yang menggendong kerinduannya kepada kampung halaman masing-masing. Namun, Rahman bukan salah satu dari orang banyak itu. Terhitung sudah tiga tahun sejak terakhir kali Rahman mudik ke kampungnya di Padang Panjang. Terhitung sudah tiga tahun juga Rahman mengangan-angankan merayakan lebaran bersama ibu bapaknya sembari melahap sepiring lontong sayur.
Tiga tahun lalu, Rahman yang sudah pergi merantau selama dua tahun pulang ke rumah orang tuanya di Padang Panjang. Ia sampai di rumahnya tepat ketika orang-orang kampung sedang sibuk merayakan malam takbiran. Kampung begitu ramai malam itu. Para perantau yang baru kembali tumpah ke jalan-jalan kampung. Mereka merayakan takbiran dengan menyalakan obor dan berkeliling kampung. Sementara ibunya sedang sibuk di dapur memasak gulai ketupat dan rendang untuk disantap besok hari. Namun malam itu Rahman tidak bertemu bapaknya. Pukul 10 malam Rahman sudah tertidur karena tidurnya tidak lelap selama di perjalanan, sedangkan bapaknya baru kembali dari masjid tepat tengah malam.
Keesokan harinya selepas sholat idul fitri, mereka bertiga duduk satu meja. Ketupat dengan gulai pakis, rendang, dan kue lebaran telah dihidangkan. Mereka makan ditemani perdebatan antara Rahman dan ayahnya. Perdebatan yang dimulai dari pertanyaan sederhana yang sering dikeluarkan orang-orang ketika lebaran.
“Susah benar hidup kau di rantau itu, man? Sampai-sampai baru sekarang sempat kau tengok ibu dan bapakmu ini?”
“Tidak susah, pak. Tapi tidak makmur juga.”
“Kalau tidak makmur, buat apa jauh-jauh merantau? Baik kau di sini saja mengajar anak-anak mengaji dengan bapak.”
“Di rantau juga bisa mengajar anak-anak mengaji, pak.”
Perkataan Rahman tadi belum sempat ditanggapi oleh bapaknya, tetapi perdebatan harus terhenti karena tiba-tiba pintu rumah diketuk oleh Tek Yur. Perempuan yang merupakan kakak dari bapaknya itu datang dengan suami dan dua anaknya. Mereka kemudian bergabung dengan Rahman dan kedua orang tuanya. Melahap masing-masing sepiring ketupat sembari mengobrol. Porsi Rahman adalah porsi yang paling besar di antara mereka bertujuh. Haidar, anak pertama Tek Yur, meledek Rahman karena hal itu.
“Wah, kau seperti belum makan selama satu minggu, man.” ucap Haidar cekikikan.
“Ah, uda jangan begitu. Porsi makan uda akan begini juga kalau tidak makan masakan Tek Yur selama 2 tahun.”
Mendengar Rahman bercanda begitu, bapaknya dengan nada datarnya yang khas pun masuk ke dalam obrolan.
“Memang porsi makan kau saja yang banyak.”
“Porsi makan kan turun dari bapak.” balas Rahman tepat sebelum memasukan sendok berisi sepotong ketupat dan kuah gulai pakis ke mulutnya.
Setelah semua orang tertawa mendengar jawaban dari Rahman, Tek Yur pun ikut masuk ke dalam obrolan yang hangat itu.
“Ini semua salahmu, mar. Kau masak terlalu enak. Sampai membuat porsi makan mereka menjadi besar.”
Mardiati hanya tersenyum mendengar pujian dari iparnya itu. Pujian itu sudah biasa dia dengar setiap kali lebaran datang sehingga hal itu tidaklah membuat hatinya menjadi senang benar. Kepulangan Rahman dari perantauannya di ibukota jauh lebih menyenangkan hatinya untuk saat ini. Rahman pun merasakan hal yang serupa. Pertemuan dengan kedua orang tuanya dan memakan masakan ibunya jauh lebih menyenangkan hatinya dibanding pujian-pujian yang diberikan orang-orang kampung kepadanya.
Hal-hal seperti itulah yang dirindukan Rahman selama tiga tahun ke belakang. Kedekatan yang tidak ditemukannya di ibukota. Di ibukota juga tidak ada gulai pakis seenak buatan ibunya. Di ibukota tidak ada Tek Yur dan anak-anaknya yang suka bercanda. Tidak ada juga bapaknya yang datar dan senang melawannya dalam perdebatan-perdebatan kecil.
Rahman sebenarnya ingin sekali pulang ke Padang Panjang. Apalagi kalau mengingat dia sudah lama tidak pulang untuk menjenguk orang tuanya. Namun, ekonominya saat ini memang sedang susah. Pasar sedang sepi pembeli. Jangankan untuk pulang kampung, dapat untuk bayar kontrakan dan makan saja sudah bersyukur. Tiket pulang pun harganya tidak menenggang orang-orang yang ekonominya sedang merosot. Sekarang ke Sumatera memang sudah ada jalan tol, tetapi jalan pulang justru menjadi semakin jauh untuk Rahman.
Lamunan Rahman yang jauh itu tiba-tiba dibuyarkan oleh suara keras dari dalam kontrakannya. Suara yang telah dia kenali betul sebab sudah sejak lama suara itu dia jadikan nada dering ponselnya. Sembari membetulkan posisi sarungnya yang telah berantakan karena duduk, Rahman bergegas masuk ke dalam untuk mengangkat ponselnya. Awalnya dia pikir yang menelepon adalah Fadil, temannya yang beberapa waktu lalu bilang akan mudik ke Palembang hari ini. Ternyata yang ada di balik telepon itu adalah ibunya.
Rahman mengetahui itu dari suaranya.
“Assalammualaikum, nak. Apa kabar?”
Lama Rahman terdiam mendengar suara ibunya itu. Tidak sampai hatinya untuk mematahkan hati ibunya sekali lagi karena ketidakmampuannya untuk mudik di tahun ini. Kemudian sekali lagi ibunya memanggilnya.
“Assalammualaikum, Rahman Aidil Fikra.” ucap ibunya dengan lembut.
“Waalaikumsalam, baik, bu. Ibu apa kabar” Rahman sedikit kaget ibunya memanggilnya ulang dengan nama lengkap.
“Baik. Tanggal berapa kau pulang, man? Ibu tadi pagi sudah selesai berbelanja. Nanti lebaran ibu mau buat gulai pakis kesukaanmu itu loh.”
Mendengar perkataan ibunya tersebut, air mata Rahman jatuh dengan sendirinya. Perasaannya begitu sedih. Rasanya dia telah berdosa karena telah membuat ibu dan bapaknya menanggung rindu selama bertahun-tahun. Namun, kejujuran harus dia sampaikan. Sebagaimana yang telah diajarkan bapaknya selama ini.
“Ma... Maaf, bu.”
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Rahman. Kalimat yang keluar dengan suara yang berat dan terbata-bata sebab orang yang mengutarakannya sedang menahan kesedihan. Kemudian keduanya sama-sama diam. Sampai pada akhirnya Rahman kembali mengatakan sesuatu.
“Nanti lebaran haji Rahman usahakan pulang ya, bu. Sekarang baiknya kita tahan dulu keinginan untuk bertemu. Biar nanti kalau sudah waktunya, pertemuan itu akan jauh lebih menyenangkan daripada apapun.”
Begitulah keduanya mengakhiri percakapan sore itu. Dingin dan dipenuhi kesedihan.