Aku terlahir tak sempurna. Aku gundul. Tak ada sehelai rambut di kepalaku. Kalian jangan tertawa. Ini bukan lelucon. Ini bukan masalah sepele. Bagiku, ini adalah masalah yang serius. Saat kecil, aku mewajarkan hal ini, karena mungkin dari segi keturunan seperti masalah hormon dan genetika membuat pertumbuhan rambutku terlambat. Mengingat bahwa ayah, kakek, dan buyutku hanya memiliki sedikit rambut. Sedikit bukan tak punya.
Dan lagi, anak kecil dengan kepala gundul sungguh menggemaskan. Apalagi jika dikombinasikan dengan pipi bulat. Bisa dipastikan, orang dewasa yang melihat akan terkesima dan terhipnotis. Mereka akan mengecup, mencium bahkan mengendus kepala dan pipi bulat itu. Semua yang kita inginkan akan berusaha mereka penuhi. Sungguh, anak kecil berkepala gundul bak raja sesungguhnya. Namun sayang, masa-masa indah itu lenyap seiring waktu.
Beberapa tahun setelahnya, aku beranjak dewasa dan berharap ada yang tumbuh di kepalaku. Sayangnya, tetap tak ada rambut. Sehelai pun tak ada. Sungguh pelit, Tuhan sungguh pelit—pikirku saat itu. Aku tak terima begitu saja keadaanku. Aku berkonsultasi ke dokter. Naasnya, aku dipaksa menerima kondisiku karena aku divonis mengidap Alopecia Areata Totalis.
Nama aneh apa itu? Itu bukan nama hewan, juga bukan nama tumbuhan. Itu adalah nama dari sebuah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut. Itulah mengapa tak pernah ada sehelai rambut di kepalaku. Dokter mengatakan, penyakit ini permanen, yang artinya tak dapat disembuhkan.
Aku dibuat loyo setelah mendengarnya. Air mataku terjun bebas dari pelupuk mataku. Tak ingin kalah, ingusku juga ikut-ikutan terjun dari lubang hidungku. Dokter yang melihatnya, berusaha menahan tawa. Menyadari itu, aku yang terkejut berusaha mencegah ingusku terjun dengan bebas. Namun ingusku terus saja memberontak, berulang kali aku menyedot ingusku masuk, tapi tetap saja ingusku membelot keluar.
Terdengar konyol, tapi aku melakukannya karena tak ingin malu disaat kondisi keterpurukanku. Saat tanganku hendak menyeka ingusku, dokter yang terpingkal karena tak sanggup lagi menahan tawanya, menawarkan sebuah tisu kepadaku dan berkata, ”secara teori memang mustahil rambutmu akan tumbuh, tak ada obat untuk penyakitmu, tapi percayalah bahwa selalu ada keajaiban, jangan menyerah.” Perkataannya memercikkan api harapan dalam jiwaku.
Aku sudah mencoba segala cara untuk menumbuhkan sehelai rambut di kepalaku. Mulai dari penumbuh rambut tradisional sampai sesuatu yang modern, yakni implan rambut. Semuanya gagal. Aku memakai berbotol-botol penumbuh rambut setiap hari, hasilnya nihil. Dan berbicara tentang implan, rambut yang ditanam di kepalaku hanya bertahan lima jam saja, setelah lima jam, rambut yang telah ditanam akan berguguran. Aku tak frustasi, aku tak marah, hanya sedikit jengkel.
Ada satu solusi agar aku memiliki rambut, meskipun itu hanya sesaat dan bersifat menipu. Solusi itu adalah mengenakan rambut palsu. Aku sudah cukup lama mengenakan rambut palsu, namun bukannya merasa aman, semakin banyak yang merundungku, mencercaku dan mencaciku. Solusi itu juga tak efektif karena rambut palsuku kerap disembunyikan, dicuri, bahkan dibakar. Miris sekaligus tragis. Perundungan yang paling aku benci adalah ketika mereka mencoret-coret kepala mulusku dengan spidol permanen. Sungguh sangat menjengkelkan, aku ditertawakan satu sekolah, orang-orang yang melihatku saat dalam perjalanan pulang, bahkan keluargaku sendiri menertawaiku.
Mereka merundungku, baik secara sengaja atau tidak. Berbicara tentang perundungan, hampir di seluruh dunia hal ini kerap terjadi dan masih diperbolehkan, syaratnya lucu dengan batasan tertentu. Masalahnya, batasan ini bersifat subjektif dan bias. Jika mereka ditanya apakah mereka merundungku, tentu mereka akan menjawab tidak. Mereka akan menjawab hanya bercanda. Perundungan adalah sesuatu yang lucu bagi pelaku perundungan, tapi bagi korban itu adalah sesuatu yang traumatis. Kini, perundungan atas nama candaan telah dinormalisasi. Seperti yang aku alami. Dan sekarang, aku memutuskan untuk tetap mengenakan rambut palsu, ya setidaknya aku telah berusaha.
*
Aku berusia 29 tahun, dan sebentar lagi usiaku genap 30 tahun. Sekarang, aku sedang meratapi kepalaku yang gundul permanen, tepat di bawah jembatan yang terletak tak jauh dari kantor dan rumahku. Dengan bertumpu pada telapak kaki, aku melipat kedua kakiku, sambil melihat pantulan wajahku pada air yang mengalir bersama hujan. Seperti biasa, aku melakukan hal ini sehabis dirundung habis-habisan oleh teman-teman kantorku bahkan keluargaku sendiri. Terdengar sederhana, namun hal ini adalah salah satu caraku untuk menetralisir semua gejolak hatiku. Amarah, kesedihan, penderitaan aku luapkan semuanya di sini.
Terkadang aku berteriak sekencang-kencangnya. Melempar kerikil di atas air sungai. Bahkan aku pernah berenang. Tapi hari ini, aku hanya berjongkok, merenungi nasib. Aku mendongak, menatap langit. Ternyata tidak hanya aku, langit juga sedang tidak baik-baik saja. Entah apa penyebabnya, prediksi cuaca selalu salah. Badan cuaca memprediksi bahwa seminggu ini matahari akan bekerja dengan optimal. Tetapi seminggu ini matahari sedang malas-malasan. Langit selalu menangis.
Hari makin gelap namun hujan tak kunjung reda, tetapi aku harus pulang. Jadi mau tak mau aku harus rela kehujanan. Aku tak membawa payung juga jas hujan. Aku melindungi kepala gundulku dengan tas, lalu berlomba dengan hujan. Akhirnya aku sampai di rumah. Ketika aku masuk, banyak ember di dalam rumahku. Banyak titik kebocoran pada atap rumahku yang sebelumnya baik-baik saja. Nampak pula ibu dan adikku sibuk menggaruk-garuk kepalanya sendiri, sampai-sampai rambutnya berguguran secara perlahan. Hanya ibu dan adikku yang memiliki rambut sangat lebat di keluargaku. Aku sangat heran, karena jarang melihat mereka dengan kepala gatal. Apalagi mereka menggaruk kepala mereka secara intens. Sepengetahuanku mereka memiliki rambut indah, lebat, dan sehat karena perawatan rambut mereka cukup mahal.
Aku penasaran, namun aku bergegas ke kamarku untuk mandi tanpa berkata apa-apa. Kebetulan kamarku terletak di lantai dua, beriringan dengan balkon. Aku berganti pakaian dan menjemur pakaianku yang basah, juga mengamankan barang elektronik seperti ponsel dari dalam tasku. Ada yang aneh, aku menatap langit lalu melihat sebuah bayangan hitam yang bergerak dengan kelap-kelip cahaya bintang. Tak percaya dengan apa yang kulihat. aku bergegas meletakkan ponselku di meja lalu mengambil teropong bintangku, memastikannya sekali lagi. Dan benar saja, nampak bayangan hitam yang bergerak perlahan dengan ukuran raksasa. Hujan pun ikut bergerak. Seperti jatuh dari bayangan hitam yang bergerak itu. UFO?
Tak lama kemudian kepala gundulku merasakan sesuatu yang sangat tak wajar. Tanpa kusadari, tanganku sudah bergerak menggaruk-garuk kepalaku, seperti yang dilakukan ibu dan adikku. Bedanya, tak ada rambut di kepalaku. Secara mendadak tubuhku menggigil hebat. Rasa gatal di kepala gundulku juga semakin tak wajar. Tubuhku panas dingin, aku merasa sangat lemas, kepalaku pening, pandanganku kabur. Aku menggeletakkan tubuhku di ranjang. Meraih dan menenggelamkan seluruh tubuhku dalam selimut. Gelap, pandanganku semakin gelap, aku menghilang.
*
Tubuhku terasa berat, aku terbangun dari tidurku. Namun tubuhku terasa lebih bugar dari biasanya. Pikiranku pun terasa segar, seperti terlahir kembali. Aku beranjak dari tempat tidurku, merapikannya, dan bergegas ke sebuah cermin. Aku melihat rambut di kepalaku, tetapi itu mustahil karena aku divonis gundul permanen. Sepertinya aku masih memakai rambut palsu, walau seingatku aku tak memakainya terakhir kali. Atau aku sedang berhalusinasi? Ya, bisa jadi.
Aku beralih ke meja kerjaku, meraih ponselku, melihat jam dan kalender. Mataku terbelalak, karena tiga hari telah berlalu setelah aku tertidur dengan badan menggigil dan kepala gatal. Aku kembali ke cermin. Mustahil sungguh mustahil! Aku memiliki rambut dan bukan rambut palsu? Aku mencoba menarik sehelai rambutku, dan itu membuatku meringis. Jadi beginikah sensasinya saat rambut dipaksa hengkang dari kepala. Terasa sakit namun nikmat! Mungkin ini alasan ibuku meminta adikku mencabut ubannya. Sekarang aku percaya, bahwa aku benar-benar memiliki rambut asli. Seketika aku menangis bahagia.
Akhirnya, hari ini impianku terwujud. Seperti yang dokter pernah katakan padaku dulu, bahwa selalu ada keajaiban. Hari ini, tepat di ulang tahunku yang ke-30 tahun, tumbuh rambut di kepalaku. Entah bagaimana caranya, yang pasti aku bahagia. Aku ingin menjerit dan memamerkan ke seluruh dunia, bahwa aku memiliki rambut! Aku tak lagi gundul!
Ususku melilit, lalu menjerit. Lapar. Aku pergi ke lantai bawah hendak mengambil makan. Semakin banyak rambut rontok berserakan di lantai. Juga nampak dua orang gundul di sebuah meja makan. Bahunya nampak tak asing, seperti bahu ibu dan adikku. Aku ingin memastikannya namun aku mengurungkan niatku, mungkin hanya imajinasiku. Aku bergegas hendak makan.
“Mari makan bersama,” ucap ibuku dengan suara lirih.
Aku mengangguk sambil menggeledah kulkas yang terletak di ujung ruang makan. Mengambil sebotol air mineral dan satu buah apel. Lalu menutup pintu kulkas sembari menengok ke meja makan. Benar saja, dua orang berkepala gundul itu bukan ilusiku semata. Mereka adalah keluargaku. Tak ada sehelai rambut di kepala mereka. Aku terdiam sembari mengamati, apa yang sebenarnya terjadi.
Tanpa aba-aba, mata ibuku menatapku lalu diiikuti dengan adikku. Seketika suasana yang sebelumnya tenang menjadi tegang. Ibuku menendang kursi, tangannya menghamburkan makanan di atas meja makan lalu merayap di atasnya, bersiap meloncat menerkamku. Sedangkan adikku berdiri dan berjalan perlahan seperti mayat hidup ke arahku. Mata mereka bukan menatap wajah, badan, atau benda di sekitarku, yang mereka tatap adalah rambut di kepalaku. Zombie?
Suasana menjadi tegang namun perutku yang semula memberontak seketika terdiam. Semua terjadi begitu saja. Tubuhku membatu, menunggu otakku mencerna apa yang sedang terjadi. Di saat yang bersamaan, adikku berjalan semakin dekat ke arahku, sementara ibuku hendak menerjangku. Postur tubuhnya bak belalang sembah yang siap melompat tinggi. Ibuku menghentakkan kaki, suara itu membuatku terkejut lalu panik. Tanpa sadar tangan kiriku menarik tangan adikku kemudian mendorongnya ke arah ibuku. Mereka saling bertabrakan, berakhir tumpang tindih.
Tanpa pikir panjang lagi, aku berlari ke atas menuju kamarku, mengunci pintu, kemudian berjalan menuju cermin. Aku melihat pantulanku sendiri sembari berusaha menerima kenyatan bahwa ini sungguh benar-benar terjadi. Bukan ilusi. Apa yang sebenarnya terjadi? Ibuku gundul? Adikku gunsdul? Aku tak lagi gundul? Aku yang semula gundul mendadak memiliki rambut? Aku mengulang-ulang pertanyaan itu dalam kepalaku, berharap menemukan jawaban.
Aku penasaran, bagaimana dengan orang-orang lainnya? Aku pergi ke balkon lalu memeriksa sekitar. Mataku hanya disajikan pemandangan yang sepi. Untuk sementara, aku menyimpulkan bahwa ibu dan adikku bereaksi ketika melihat adanya rambut di kepalaku. Jadi aku ingin mengujinya sekali lagi. Aku mengenakan topi dan jaket bertudung, Kembali turun ke bawah. Dengan gugupnya aku menghampiri ibu dan adikku yang masih dalam keadaan tumpang tindih.
Sampai pada akhirnya mereka menatapku sejenak, lalu bereaksi normal seperti tak terjadi apa-apa. Tepat seperti kondisi sebelum mereka gundul. Aku lega. Aku membantu mereka berdiri, lalu kami duduk di meja makan dan menyantap sarapan sambil bercakap-cakap. Selesai sarapan aku memutuskan untuk berkeliling memeriksa situasi sekitar. Aku berjalan menuju pusat kota, sambil mengamati sekeliling.
Dan ya, beberapa kali aku melihat orang-orang yang berpapasan denganku berkepala gundul. Namun sikapnya layaknya manusia normal pada umumnya. Langkahku terhenti tepat di jembatan yang biasa aku gunakan untuk melampiaskan segala perasaanku. Aku menatap Gedung yang menjulang tinggi di bawah langit yang tak stabil. Ya, tak stabil. Setelah mendung beberapa saat, hujan, lalu akan cerah kemudian, begitu seterusnya. Seketika itu aku terpikir untuk pergi ke kantorku, karena gedung kantorku cukup tinggi, sehingga aku dapat mengamati lebih jelas dari atas sana.
Aku penasaran. Dari lobi gedung aku bergegas menuju lift, ya, banyak orang berkepala gundul sedang mengantri. Sambil menunggu pintu lift terbuka, dapat dipastikan bahwa seluruh pegawai di kantorku pun gundul. Security gundul. Resepsionis gundul. Semua gundul. Tapi, tidak dengan atasanku. Atasanku yang sebelumnya gundul sepertiku tetap gundul. Pintu lift terbuka, aku masuk, lantai paling atas menjadi tujuanku.
Di dalam lift, aku terjebak terhimpit orang-orang gundul. Aku membayangkan, apa yang akan terjadi kepadaku apabila aku melepas topiku? Mati? Mungkin, mereka akan menggerayangi dan menggerogoti rambutku jika aku melepas topiku. Lamunanku terhenti bersamaan dengan lift. Satu per satu orang-orang gundul keluar. Dan hanya aku yang tersisa. Lift sampai di lantai paling atas, pintu terbuka, aku melangkah ke luar.
Dan ya, pemandangan yang dapat kulihat dari lantai paling atas di gedung kantorku adalah orang-orang berkepala gundul. Aku berteriak sekencang-kencangnya, lalu orang-orang berkepala gundul yang mendengarkanku berhenti sejenak dan menatapku. Tak terjadi apa-apa, mereka meneruskan aktifitas mereka lagi. Aku mencoba sekali lagi, namun dengan melepas topi dan tudung jaketku. Mereka yang mendengarku berhenti sejenak, menatapku, lalu seketika berubah menjadi liar berusaha lari ke arahku. Aku memakai topiku, mereka terhenti. Oh, jadi seperti ini kondisi yang terjadi saat ini. Seluruh orang di kotaku gundul dan akan berubah seperti zombie saat melihat orang yang memiliki rambut.
Lalu terlintas pertanyaan dalam kepalaku, apakah orang-orang di seluruh dunia juga gundul? Aku segera melihat berita yang disiarkan secara langsung melalui ponselku. Aku telusuri berita hampir di seluruh negara. Dan benar saja, semua pembawa berita yang aku lihat gundul. Aku masih tak percaya. Pada akhirnya aku hanya bisa berdiri di bawah langit yang tak biasa. Sambil menatap langit aku bertanya, “lalu apa bedanya kondisiku sekarang dibanding kondisiku sebelumnya, jika pada akhirnya, hanya aku satu-satunya orang di dunia yang memiliki rambut?”