Hujan selalu turun di sore hari, seolah sekolah itu terkutuk untuk selalu basah ketika jam pulang tiba. Atap seng lorong belakang berbunyi seperti dentuman jantung yang tidak teratur. Di sanalah aku pertama kali melihatnya—duduk sendirian di bangku panjang yang catnya mengelupas, memeluk tas hitam lusuh, menatap halaman sekolah dengan mata kosong.
Namanya Alya.
Aku tidak tahu apa yang membuatku memperhatikannya hari itu. Mungkin karena semua orang berlarian menghindari hujan, sementara dia tetap diam, seakan hujan bukan sesuatu yang perlu dihindari. Rambutnya hitam, sedikit bergelombang, basah di ujung-ujungnya. Seragamnya rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang duduk sendirian di tempat sepi.
Aku mendekat tanpa alasan yang jelas.
“Kamu nggak pulang?” tanyaku, bodoh dan canggung.
Dia menoleh. Senyumnya kecil, nyaris tidak ada. “Nunggu reda.”
Padahal hujan seperti itu tidak pernah benar-benar reda.
Sejak hari itu, kami sering bertemu. Kadang di lorong belakang, kadang di perpustakaan lantai dua yang jarang dikunjungi, kadang di kelas kosong saat jam istirahat. Alya bukan tipe siswi yang mudah didekati. Dia tidak banyak bicara, tidak tertawa keras, dan selalu menghindari topik tentang keluarganya.
Tapi bersamanya, aku merasa tenang. Seolah dunia yang biasanya berisik bisa dimatikan volumenya.
Aku mulai menyukainya tanpa sadar.
Sekolah kami terkenal keras. Bukan soal fisik, tapi mental. Persaingan nilai, tekanan orang tua, bisik-bisik di belakang, dan guru-guru yang lebih peduli angka daripada manusia. Alya sering jadi bahan gosip. Katanya dia aneh. Katanya dia sombong. Katanya dia “bermasalah”.
Aku tahu itu tidak benar.
Dia hanya lelah.
Suatu hari aku menemukan Alya di UKS, duduk di ranjang dengan wajah pucat. Tangannya gemetar saat mencoba menutup botol obat.
“Kamu sakit?” tanyaku.
“Biasa,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.
Aku melihat pergelangan tangannya. Ada bekas luka tipis, samar, seperti garis yang sudah lama mencoba disembunyikan.
Aku tidak bertanya.
Dan itu adalah kesalahan terbesarku.
Kami resmi pacaran tanpa pernah benar-benar mengucapkan kata “pacaran”. Kami hanya selalu bersama. Pulang bareng. Makan bareng. Diam bareng. Alya jarang menyentuhku, tapi ketika tangannya menggenggam lenganku, rasanya seperti pegangan seseorang yang takut tenggelam.
“Aku takut malam,” katanya suatu kali.
“Kenapa?”
“Karena di malam hari, pikiranku lebih berisik.”
Aku ingin bilang aku akan selalu ada. Tapi kata-kata itu terasa terlalu besar untuk diucapkan oleh anak SMA yang bahkan belum mengerti dirinya sendiri.
Aku hanya menjawab, “Kalau malam berisik, dengarkan hujan.”
Dia tersenyum. Senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.
Nilai Alya mulai turun. Guru BK memanggilnya berkali-kali. Orang tuanya datang ke sekolah dengan wajah keras dan suara tinggi. Aku melihat Alya berdiri di lorong, kepala tertunduk, seperti terdakwa yang sudah diputuskan bersalah bahkan sebelum bicara.
“Kamu baik-baik saja?” tanyaku setelahnya.
Dia mengangguk. Tapi air matanya jatuh ke lantai.
“Aku capek,” katanya pelan. “Capek hidup.”
Aku panik. Aku tertawa kecil, mencoba meringankan. “Kita semua capek. Tapi nanti juga lewat.”
Dia menatapku lama.
“Kalau nanti nggak pernah datang, gimana?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Hari terakhir aku melihat Alya adalah hari Jumat. Langit mendung, tapi tidak hujan. Dia terlihat lebih tenang dari biasanya. Terlalu tenang.
“Aku mau bolos,” katanya.
“Kamu sakit?”
Dia menggeleng. “Aku cuma mau istirahat.”
Kami duduk di bangku lorong belakang. Tempat pertama kami bertemu.
“Kamu percaya nggak,” katanya, “kalau ada orang yang kehadirannya cuma numpang lewat di hidup orang lain?”
Aku mengerutkan kening. “Maksudmu?”
“Aku,” jawabnya singkat.
Aku tertawa kecil. “Kamu penting buat aku.”
Dia tersenyum. Kali ini berbeda. Lebih lembut. Lebih… final.
“Makanya aku minta maaf.”
Aku hendak bertanya, tapi bel berbunyi. Dia berdiri lebih dulu.
“Sampai ketemu,” katanya.
Aku tidak tahu bahwa itu berarti selamat tinggal.
Berita itu datang Senin pagi.
Alya ditemukan meninggal di kamarnya. Bunuh diri.
Dunia berhenti.
Suara guru menjadi dengung tak berarti. Teman-teman berbisik. Aku duduk kaku di bangku kelas, menatap papan tulis yang penuh angka, sementara pikiranku dipenuhi satu kalimat:
Aku seharusnya melakukan sesuatu.
Pemakaman dihadiri banyak orang yang tidak pernah benar-benar mengenalnya. Mereka menangis, mengucapkan betapa “baiknya” Alya, betapa “kehilangannya” mereka. Aku berdiri di depan nisan, tidak menangis, tidak bergerak.
Tanganku gemetar.
Aku trauma.
Setiap hujan turun, aku muntah. Setiap lorong sepi membuat dadaku sesak. Setiap melihat bangku kosong, aku berharap itu Alya yang duduk di sana, menungguku datang terlambat.
Aku berhenti sekolah selama dua minggu.
Aku bermimpi tentangnya setiap malam. Dalam mimpi, dia selalu menatapku dan bertanya, “Kenapa kamu nggak tinggal sedikit lebih lama?”
Butuh waktu berbulan-bulan untukku berani kembali ke lorong belakang. Bangkunya masih ada. Catnya semakin mengelupas.
Aku duduk di sana sendirian, di bawah hujan.
“Aku minta maaf,” bisikku. “Aku bodoh. Aku nggak ngerti.”
Hujan jatuh ke wajahku, bercampur air mata.
Untuk pertama kalinya sejak Alya pergi, aku menangis.
Penerimaan tidak datang seperti cahaya terang. Ia datang perlahan, seperti fajar yang ragu-ragu. Aku mulai berbicara tentang Alya, bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tapi untuk mengingatnya sebagai manusia—bukan tragedi.
Aku belajar bahwa cinta tidak selalu cukup untuk menyelamatkan seseorang. Bahwa kadang, seseorang sudah terlalu lelah untuk bertahan, dan itu bukan sepenuhnya salah siapa pun.
Di hari kelulusan, hujan turun lagi.
Aku berdiri di lorong belakang, mengenakan seragam terakhirku. Untuk sesaat, aku bisa membayangkan Alya duduk di sana, tersenyum kecil, menatap hujan tanpa ingin pergi.
“Aku hidup,” kataku pelan. “Dan aku akan membawa ingatanmu bersamaku.”
Hujan tetap turun.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lari darinya.
MORAL CERITA
Tidak Semua Luka Terlihat, dan Tidak Semua Diam Berarti Baik-baik Saja.
Alya mengajarkan bahwa seseorang bisa terlihat tenang, tersenyum, bahkan “baik-baik saja”, sambil sebenarnya sedang tenggelam. Cerita ini mengingatkan bahwa diam bukan tanda kuat, dan sering kali justru jeritan yang paling sunyi. Kata-Kata Bisa Menjadi Penopang, Tapi Juga Bisa Menjadi Penutup
Kalimat sederhana seperti “nanti juga lewat” atau “kamu boleh istirahat” terdengar menenangkan, namun bagi seseorang yang rapuh, kata-kata itu bisa terasa seperti izin untuk menyerah.
Penerimaan Bukan Berarti Melupakan
Raka tidak pernah benar-benar “sembuh”, tapi ia belajar hidup berdampingan dengan kenangan. Penerimaan bukan tentang menghapus masa lalu, melainkan membiarkan kenangan menjadi bagian dari diri tanpa menghancurkan diri sendiri.Terkadang, yang dibutuhkan seseorang bukan solusi—melainkan kehadiran yang sungguh-sungguh. Inti dari keseluruhan, Jangan menunda untuk mendengar. Jangan meremehkan luka yang tidak kamu lihat, Dan jangan menyalahkan diri seumur hidup atas sesuatu yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalimu.
-Thanks for reading-
By : takatsuki sen